![]() |
| Gobah Daik Tuanku Kuniang di komplek Masjid Tawakal Taluak Balibi, Pungguang Kasiak Lubuk Alung. |
MU-ONLINE, Padang Pariaman, -- Daik Tuanku Kuniang adalah ulama yang memegang memangku dua jabatan di tengah masyarakat Pungguang Kasiak Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. Daik adalah nama yang diberikan oleh kedua orangtuanya. Setelah lama mengaji di banyak tempat, dikukuhkan jadi Tuanku Kuniang di Surau Balenggek Balah Hilie Lubuk Alung. Aktif di kampungnya, diangkat pula oleh masyarakat jadi Labai Nagari Pungguang Kasiak Lubuk Alung.
Labai ia tuanku ia pula. Tapi, di depan pintu masuk Masjid Tawakal Taluak Balibi, Pungguang Kasiak hanya dituliskan "Gobah Tuanku Kuniang". Beliau dimakamkan di suraunya yang kini sudah beralih fungsi jadi Masjid Tawakal Taluak Balibi.
Banyak tokoh masyarakat setempat yang tidak tahu nama lengkapnya. Tapi, masyarakat yang tahu kehebatan beliau Tuanku Kuniang ini masih banyak. Surau Taluak, begitu orang menyebut, dulunya semasa Tuanku Kuniang ada, adalah tempat membangun peradaban.
Tempat mengaji anak siak. Yang mengajar anak siak itu H. Marjohan Tuanku Khatib Mudo. Yang meletakkan H. Marjohan Tuanku Khatib Mudo adalah Tuanku Kuniang ini. Surau Taluak merupakan surau kaum yang dipimpin Tuanku Kuniang ini.
Anak siak mengaji di Surau Taluak itu mulai 1972, setelah H. Marjohan Tuanku Khatib Mudo pindah dari Surau Kapunduang Pasa Kandang. Sebelum itu, Surau Taluak banyak digunakan sebagai tempat wirid pengajian Tarekat Syattariyah bersama Tuanku Kuniang ini. Di Pungguang Kasiak dulunya orang akan jadi labai, belajar ke Tuanku Kuniang.
Sebagai Labai Nagari Pungguang Kasiak, Tuanku Kuniang ini adalah pemimpin para labai yang ada di seluruh surau yang ada di nagari ini. Tuanku Kuniang termasuk ulama yang sehat, karena tiap hari banyak melakukan olah tubuh. Kalau Jumat, dari Taluak Balibi ke Kampung Tangah, tempat Masjid Raya Pungguang Kasiak, beliau berjalan kaki saja.
Termasuk wirid sekali sepekan ke Surau Balenggek Balah Hilie, beliau dan murid bersama jemaahnya berjalan kaki saja pulang dan pergi. Makanya, kalau ke Balah Hilie, Surau Balenggek itu, sebelum Magrib masuk beliau dan rombongan sudah muncul di Surau Balenggek. Pulangnya, itu sudah tengah malam.
Drs. H. Ali Jastar, salah seorang tokoh masyarakat Pungguang Kasiak Lubuk Alung merasakan dan tahu banyak tentang pergolakan Surau Taluak masa saisuak itu. Pulang kampung dari Malalo, Ali Jastar justru mengulang kaji dan bermalam di Surau Taluak ini.
Rukun 13 Kampung
Urang siak kampung yang merupakan gabungan dari labai, bilal, garin, khatib dan lainnya. Setiap nagari punya kearifan lokalnya masing-masing. Ada yang mempopulerkan dengan istilah urang siak baranam, ada pula yang mashur dengan istilah urang siak salapan. Untuk bisa jadi urang siak, di Pungguang Kasiak, banyak orang mengaji dulu dengan Tuanku Kuniang ini.
Disebut mengaji rukun 13. Rukun 13 ini lazim dan familiar dalam shalat. Karena rukun shalat itu ada 13. Nah, untuk jadi urang siak pun menguasai rukun 13 kampung. Poinnya, rukun 13 kampung itu pakai syariat, tarekat, hakikat dan makrifat.
Bagi Tuanku Kuniang janji selalu ditepati. Makanya, kalau hari baik bulan baik, nyaris waktunya untuk masyarakat. Kalau sudah janjian mendoa hari itu juga, tengah malam beliau turut ke rumah masyarakat. Itu pula sebabnya, masyarakat selalu betah menunggu giliran mendoa di rumahnya, sampai Subuh menjelang.
Zaman Tuanku Kuniang terkenal juga, para urang siak adalah orang-orang yang ikhlas beramal. Artinya, di masa Tuanku Kuniang, sedekah mengaji kematian, mengaji bulan Syakban, itu tidak punya tarif. Berapa ikhlasnya tuan rumah. Terkenal masa itu, saketek bagi bacacah, banyak bagi baonggok.
Kondisi eksistensi urang siak zaman kini dengan zaman Tuanku Kuniang itu berbanding terbalik 180 derajat. Sekarang, urang siak malah menyebutkan kalau sedekah sebanyak ini dan itu, karena urang siak sebanyak ini dan itu pula.
Banyak Tempat Mengaji
Tuanku Kuniang termasuk ulama yang punya banyak guru. Banyak tempat mengaji yang didatanginya. Di samping Surau Balenggek Balah Hilie dengan Syekh Yusuf, beliau dikabarkan pernah mengaji di Bintungan Tinggi bersama Syekh Abdurrahman, pernah di Ampalu Tinggi dengan Syekh Muhammad Yatim Mudiak Padang Tuanku Ampalu.
Malah dari anak kandungnya, Zainulis menyebutkan kalau Tuanku Kuniang pernah menuntut ilmu di Malaysia dan Thailand. Anggapan ini ada juga benarnya. Disebut demikian, Ali Jastar berkisah kalau Tuanku Kuniang pernah mencoba naik haji dengan berjalan kaki dari kampung ini.
"Dua kali beliau berjalan kaki jauh itu. Tapi tak pernah tiba di Mekkah. Hanya sampai India, ada yang menyebut sampai Afganistan. Mungkin, dalam perjalanan jauh inilah beliau singgah dan mengaji di Malaysia dan Thailand," sebut Ali Jastar.
Sementara, H. Abdul Rahman Tuanku Labai Nan Basa menyebutkan, Tuanku Kuniang gemar makan gulai kambing. "Tiap pekan, ada saja kegiatan makan gulai kambing ini di Surau Taluak. Beliau Tuanku Kuniang termasuk ulama yang ditakuti banyak orang," katanya.
"Hampir tak ada masyarakat yang membantah beliau. Di Surau Taluak Balibi ini pula H. Marjohan Tuanku Khatib Mudo bisa sampai akhir hayatnya mengabdi. Tuanku Kuniang mempertaruhkan segalanya demi Marjohan Tuanku Khatib Mudo ini bisa betah tinggal dan mengajar, meneruskan peradaban Pungguang Kasiak Lubuk Alung yang dirintisnya," cerita Abdul Rahman Tuanku Labai Nan Basa.
Ada orang yang mencemoohkan beliau, baik secara berhadapan maun main belakang, banyak tersua orang itu mengalami sakit jiwa, rusak mental dan lain sebagainya. Di sini, banyak orang lain menyebut kalau Tuanku Kuniang itu orangnya sakti.
Keluarga
Dari istrinya, Dariah, Tuanku Kuniang dikaruniai lima orang anak, yakni Taharuddin, Dahlinar, Darwis, Zainulis, dan Zakirman. Dari istrinya satu lagi yang tidak ketahui namanya oleh Zainulis, Tuanku Kuniang tidak punya keturunan.
Catatan:
Narasi ini hadir setelah wawancara dengan Drs. H. Ali Jastar. Salah seorang tokoh masyarakat Pungguang Kasiak Lubuk Alung, Jumat 22 Mei 2026 di Tembok, Nagari Sintuak, Kecamatan Sintuak Toboh Gadang. Ali Jastar pernah mengaji di MTI Malalo 1970-1977, bergelar Tuanku Nan Sati. Gelar itu tak familiar, lantaran Ali Jastar berkecimpung di Muhammadiyah Lubuk Alung, dan sempat jadi Kepala Sanawiyah Muhammadiyah Lubuk Alung. Sewaktu mengaji di Malalo, Ali Jastar berulang kaji di Surau Taluak dengan Tuanku Kuniang dan H. Marjohan Tuanku Khatib Mudo ini.
Kemudian wawancara dengan H. Abdul Rahman Tuanku Labai Nan Basa, Kamis 4 Juni 2026 di kediamannya, Kayu Gadang Lubuk Alung. Abdul Rahman Tuanku Labai Nan Basa adalah ulama yang jadi murid langsung dari H. Marjohan Tuanku Khatib Mudo sejak dari Surau Kapunduang. Dia disuruh oleh H. Marjohan Tuanku Khatib Mudo menunggui Surau Ambacang Pungguang Kasiak, dan di sana dikukuhkan jadi Tuanku Labai Nan Basa. "Tuanku Kuniang wafat dalam usia sekitar 85 tahun pada 1990," katanya.
Terakhir, wawancara dengan Zainulis, anak kandung Tuanku Kuniang, Kamis 4 Juni 2026 di kediamannya, Titian Aka, Nagari Buaiyan Lubuk Alung, Kecamatan Batang Anai.
