![]() |
| Muhammad Nur Tuanku Imam |
Padang Pariaman, -- Waktu lahir 27 September 1959, ayah ibunya, Buya H. Mursyid Tuanku Mudo dan Hj. Nurani memberikan nama Muhammad Nur. Nama yang bagus, mengacu kepada Nabi Muhammad Saw. Putra sulung, yang sejak dalam kandungan sudah dibina dengan agama dan nilai-nilai. Buya Mursyid Tuanku Mudo adalah ulama besar yang dari usia kecil sampai akhir hayatnya, menghabiskan waktunya dengan umat di surau.
Masa Pendidikan
Sebagai putra sulung, anak jolong tersua, setelah sekian tahun pernikahan Buya Mursyid Tuanku Mudo dan Hj. Nurani, tentunya ilmu agama pertama kali didapatkan Muhammad Nur langsung dari ayahnya. Sambil juga sekolah umum di Sungai Buluah, sekolah dasar. Muhammad Nur lahir dan besar di Salisikan, kini masuk Nagari Sungai Buluah Timur, Kecamatan Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat.
Tamat sekolah dasar di Sungai Buluah, Muhammad Nur diantar mengaji ke Padang Magek. Luhak Nan Tuo ini adalah tempat Buya Mursyid Tuanku Mudo belajar dan mengajar dulunya. Yakni Pondok Pesantren Darul Ulum Padang Magek dengan Buya Salim Tuanku Malin Kuniang (1917-1987). Sejak zaman dulu, anak-anak dari Padang Pariaman terkenal banyak mengaji di Padang Magek ini. Terutama dari Ambuang Kapua Sungai Sariak, Padang Sago dan nagari lainnya di VII Koto Sungai Sariak, menjadikan Padang Magek sebagai tempat menuntut ilmu.
H. Kakan, adik oleh Buya Mursyid Tuanku Mudo, lama mengaji di situ, sampai tinggal dan membuat surau. Surau Tabiang namanya, terletak di perbatasan Padang Magek dengan Rambatan. Kelak, di surau Tabiang ini anak-anak dari Sungai Buluah dan VII Koto Sungai Sariak tinggal sekaligus asrama Pondok Pesantren Darul Ulum Padang Magek.
Sanak kemenakan dan urang kampung Buya Mursyid Tuanku Mudo, banyak direkomendasikan untuk mengaji ke Padang Magek. Termasuk masyarakat Sungai Buluah yang ingin mengaji ke surau, langsung diantar oleh Buya Mursyid Tuanku Mudo ke Padang Magek ini.
Dari Padang Magek, Muhammad Nur pindah mengaji ke Tapakih, Padang Pariaman. Terkenal dengan ulama besar dan hebat, yakni Syekh Musa Tapakih. Tak lama di Tapakih, Muhammad Nur melanjutkan pendidikan secara formal ke Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) Batang Kabung, Padang. Sampai tamat di situ dengan Syekh H. Salif Tuanku Sutan yang terkenal dengan Buya Batang Kabung.
Setamat di Batang Kabung, nama Muhammad Nur bertambah menjadi Muhammad Nur Tuanku Imam. Sejarah Tuanku Imam yang dilekatkan ke Muhammad Nur, di samping beliau anak sulung, juga mengacu ke gelar kemenakan Buya Mursyid Tuanku Mudo, yakni Gazali Tuanku Imam.
Muhammad Nur termasuk anak siak yang disayang Buya Batang Kabung. Muhammad Nur terkenal sebagai anak siak pintar, cerdas, gagah ia pula. Sama dengan Prof. Duski Samad Tuanku Mudo yang juga termasuk santri kesayangan Buya Batang Kabung.
Keluarga
1985, Muhammad Nur Tuanku Imam menikahi Maryulis, perempuan cantik Salisikan, Sungai Buluah yang sudah lama dikenalnya. Dari perkawinannya itu, Muhammad Nur dikaruniai empat orang putra dan putri, yakni M. Jamil Labai Sutan S. Pd. I, Abdul Jamal, M. Pd. I Tk. Imam Bandaro Sati, Mursydah Nuraini, S. Pd, dan Rifa'atul Mahmudah, S. Pd.
Setelah nikah, dengan sendirinya Muhammad Nur Tuanku Imam memulai kehidupan baru. Fondasi dasar ilmu agama dalam dirinya, lumayan hebat, bersentuhan langsung dengan ulama hebat dan terkenal, yakni Syekh Salim Tuanku Malin Kuniang, Syekh Musa Tapakih dan Syekh Salif Tuanku Sutan Batang Kabung, dan ayahnya sendiri, Buya Mursyid Tuanku Mudo, menjadikan Muhammad Nur terasa ringan saja menjalani hidup dan kehidupan ini.
Meski sudah berkeluarga, pengabdiannya ke kedua orangtuanya tak pernah surut. Apalagi ayahnya, Buya Mursyid Tuanku Mudo, di samping orangtua kandung, adalah guru pertama Muhammad Nur. Kemana saja Buya Mursyid Tuanku Mudo memenuhi undangan masyarakat atau ingin pulang kampung dari Salisikan, Muhammad Nur selalu siap dan lekas mengantar dan mendampingi ayahnya itu.
Muhammad Nur adalah seorang ulama dan dai yang cukup berpengaruh dalam masyarakat Sungai Buluah dan Padang Pariaman. Disamping ulama, beliau juga dai dan pendakwah yang menguasai kajian kitab kuning, pandai mengaji Tarekat Syattariyah, sebagai tempat bertanya bagi masyarakat. Beliau banyak membimbing, mengayomi masyarakat terutama dalam bidang dan masalah keagamaan yang menggantikan ayahnya.
Rantau Ikil, Jambi dan Pelabuhan Ratu, Jawa Barat
Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Rantau Ikil terletak di Dusun Rantau Ikil, Kecamatan Jujuhan, Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi. Pada tahun 1980-an, keberadaan madrasah ini sangat dipengaruhi oleh semangat swadaya masyarakat, arus transmigrasi Orde Baru, serta kuatnya budaya religius lokal di wilayah Jambi dan perbatasan Sumatra Barat itu. Setelah kawin, Muhammad Nur ikut mengajar dan jadi guru di MIS ini.
MIS Rantau Ikil pada era 1980-an: 1. Basis Keagamaan Masyarakat yang Kuat. Pendidikan Berbasis Agama: Berdasarkan catatan historis daerah Jambi awal 1980-an, masyarakat di kawasan ini mayoritas beragama Islam dan memiliki kecenderungan kuat untuk memasukkan anak-anak mereka ke sekolah yang bernafaskan keagamaan daripada sekolah umum.
Sistem Swadaya: MIS Rantau Ikil tumbuh dan bertahan berkat gotong royong serta swadaya masyarakat setempat yang ingin mempertahankan nilai-nilai religius pada generasi muda. Kaitan Tradisi: Wilayah Rantau Ikil sejak lama menjadi daerah perlintasan dan pusat pengajaran agama, termasuk adanya keterikatan historis dengan jaringan surau serta tarekat dari wilayah Sumatra Barat.
2. Pengaruh Geografis dan Transmigrasi (Era Pelita)
Dampak Program Pelita: Pada tahun 1980-an (masa Pembangunan Lima Tahun/Pelita Orde Baru), wilayah Kabupaten Bungo Tebo (sekarang Bungo) kedatangan banyak program transmigrasi. Perkembangan Infrastruktur: Kedatangan para transmigran ikut memicu pembukaan lahan perkebunan karet dan sawit di sekitar Jujuhan. Hal ini secara tidak langsung meningkatkan jumlah penduduk usia sekolah di Rantau Ikil dan menambah kebutuhan akan fasilitas pendidikan seperti madrasah.
Kondisi Fasilitas dan Pengajaran Kurikulum: Sebagai Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) di bawah naungan Departemen Agama (sekarang Kemenag), kurikulum 1980-an mengombinasikan pendidikan dasar umum (seperti SD) dengan porsi pendidikan agama Islam yang lebih tebal (Fiqih, Akidah Akhlak, Sejarah Kebudayaan Islam, dan Bahasa Arab).
Keterbatasan Fasilitas: Seperti sekolah swasta pedesaan pada era Orde Baru, bangunan madrasah umumnya masih sangat sederhana (sebagian besar bermaterial kayu) dengan fasilitas belajar-mengajar yang terbatas dan bergantung pada iuran sukarela wali murid.
Setelah dua tahun Muhammad Nur mengajar di Rantau Ikil, beliau pindah dan memperjauh perantauan. Beliau pindah ke Pelabuhan Ratu, Provinsi Jawa Barat. Di Jawa Barat ini, beliau tak pula lama di situ. Pulang kampung setelah beberapa tahun di Pelabuhan Ratu, selanjutnya aktif mengisi wirid pengajian di sejumlah masjid dan surau di Kabupaten Padang Pariaman.
Terutama mengisi wirid pengajian yang dirintis oleh ayahnya, Buya Mursyid Tuanku Mudo. Termasuk di Surau Al Azhar Salisikan, Muhammad Nur banyak menghabiskan waktunya dari surau ke surau.
Bagi beliau Muhammad Nur, dalam menjalankan wirid pengajian, melakukan dakwah di tengah masyarakat, tak ada istilah halangan. Makanya, dalam kondisi hujan, pulang dari wirid tengah malam, adalah rintangan yang harus dilaluinya dengan sempurna.
Pulang wirid dari jauh, tengah malam sampai di Pasa Usang, beliau istirahat sampai pagi di Masjid Jannatus Salam Pasa Usang. Di situ, pengurus masjid memberikan sebuah kunci kamar, tempat istirahat pulang wirid, sekaligus beliau diangkat jadi Imam Masjid Jannatus Salam. Pulang wirid tengah malam, tak mungkin untuk pulang ke rumah di Salisikan, beliau istirahat di masjid ini.
Muhammad Nur wafat 2008, dimakamkan di kampungnya, Padang Bungo, Nagari Koto Dalam Selatan, Kecamatan Padang Sago.
Referensi:
1. Diolah dari Wikipedia
2. Makalah Drs. Mal Amri, Biografi Buya H. Mursyid Tuanku Mudo, Ulama dan Guru Panutan yang Disegani di Kenagarian Sungai Buluah, Kecamatan Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman, 2022
2. Diskusi dengan Abdul Jamal Tuanku Imam, M. Pd dan Labai Jamil, S. Pd, Jumat 29 Mei 2026 dan Ahad 7 Juni 2026 di Sungai Buluah Utara. Jamal Tuanku Imam dan Labai Jamil adalah anak kandung dari M. Nur Tuanku Imam, tentunya cucu dari Buya Mursyid Tuanku Mudo.
