![]() |
MU-ONLINE, Padang Pariaman, -- Namanya Muaro. Nama yang tentunya diberikan oleh kedua orangtuanya ketika lahir ke dunia. Labai nagari ini kelak menyandang gelar "Tuanku Mudo", setelah sekian lama mengaji dengan Syekh Abdurrahman Bintungan Tinggi. Bahkan, beliau tersebut sebagai Khalifah Syekh Bintungan Tinggi di Gunuang Basi, Nagari Pauh Kambar.
Asal-usul
Muaro Tuanku Mudo adalah anak siak dari kecil. Lahir 1872 di Gunuang Basi dari lingkungan agama yang taat. Makanya, sejak usia muda sekali beliau diberi amanah jadi Labai Surau Gunuang Basi. Setelah resmi jadi Labai Nagari, yakni tempat pegangan bagi labai dan urang siak di Nagari Pauh Kambar. Beliau merasa berkekurangan. Ilmu agama hanya secuil, sementara jabatan di tengah masyarakat terasa berat, maka beliau Muaro Tuanku Mudo ini memutuskan untuk mengaji dengan Syekh Abdurrahman Bintungan Tinggi.
Syekh Abdurrahman Bintungan Tinggi (1827-1926), adalah ulama besar, Khalifah Syekh Burhanuddin. Mendirikan surau di Kampung Tangah, Padang Bintungan, tak jauh dari Gunuang Basi, Nagari Pauh Kambar. Kedua nagari itu hanya dibelah oleh Sungai Batang Ulakan. Besar kemungkinan, Muaro Tuanku Mudo ini sering bolak-balik Gunuang Basi - Padang Bintungan.
Lama mengaji, terasa penting dan butuhnya diri ini dengan ilmu syariat, tarekat, hakikat dan makrifat, kehadiran Muaro Tuanku Mudo kian menjadi anak siak yang luar biasa. Namanya sering disebut oleh Syekh Abdurahman yang dikenal dengan Syekh Bintungan Tinggi.
Waktu berjalan, Syekh Abdurrahman Bintungan Tinggi bertambah usia. Muaro Tuanku Mudo pun ikut mendampingi gurunya dalam belajar mengajar di lingkungan Surau Bintungan Tinggi. Sementara, kepemimpinan Surau Gunuang Basi juga menjadi kunci oleh Muaro Tuanku Mudo.
Terkenal sejak itu, masyarakat yang akan membuat labai di suraunya, datang dulu mengaji dengan Muaro Tuanku Mudo, sebelum mengambil fawatiah ke Bintungan Tinggi. Terkenal dengan istilah, fawatiah di Bintungan Tinggi, silsilah di Gunuang Basi. Orang siak kampung yang akan diangkat jadi labai oleh korong dan kaumnya, harus mengaji dulu ke Gunuang Basi dengan Muaro Tuanku Mudo, setelah itu baru minta kaji fawatiah ke Bintungan Tinggi.
Rapat Besar Ulama Minangkabau 1919
Suatu ketika, pada 1919, Syekh Abdurrahman Bintungan Tinggi menerima undangan rapat besar ulama Minangkabau di Padang Panjang. Di rantau Piaman, perguruan Surau Syekh Abdurrahman Bintungan Tinggi ini terkenal. Lantaran sudah sepuh, Syekh Abdurrahman Bintungan Tinggi merekomendasikan Muaro Tuanku Mudo untuk ikut rapat besar itu.
Pertemuan penting ulama se-Sumatera Barat yang diadakan di Padang Panjang sebelum kemerdekaan Indonesia adalah Rapat Besar Ulama Minangkabau 1919. Pertemuan akbar ini diselenggarakan di Surau Jembatan Besi, Padang Panjang, sebuah lembaga pendidikan tradisional yang menjadi pusat pergerakan Kaum Muda.
Fakta penting mengenai pertemuan bersejarah tersebut, fokus utama pertemuan adalah mendirikan PGAI: Pertemuan ini secara resmi menginisiasi pembentukan Persatuan Guru Agama Islam (PGAI), organisasi perkumpulan ulama yang fokus memajukan bidang pendidikan dan kesejahteraan para guru agama.
Modernisasi Pendidikan: Pertemuan ini mempertemukan ide-ide pembaharuan untuk mengubah sistem halaqah tradisional menjadi sistem madrasah yang lebih terstruktur.
Tokoh-tokoh utama: Dihadiri oleh figur kunci pembaharu Islam Minangkabau seperti, Dr. H. Abdullah Ahmad, Syekh Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul), Prof. Dr. H. Mahmud Yunus yang kala itu hadir mewakili gurunya.
Dampak Sejarah
Melahirkan madrasah modern pertama dan mendirikan sekolah pencetak guru seperti Normal Islam School (Kulliyatul Mu'allimin al-Islamiyyah) pada 1931. Menjadi jembatan bagi lahirnya organisasi pelajar legendaris Sumatera Thawalib yang kelak ikut membidani gerakan politik kemerdekaan.
Dalam pertemuan itu, Muaro Tuanku Mudo mempresentasikan kajian hisab dan rukyah. Sebab, rantau Piaman zaman itu, untuk memulai dan mengakhiri Ramadhan dengan rukyatul hilal, yang langsung dengan mata kepala.
Tentu, sebelum berangkat ke Padang Panjang, Muaro Tuanku Mudo sudah punya ilmu pengetahuan soal tanggung jawab Syekh Bintungan Tinggi yang diundang resmi dalam rapat besar itu. Yang agak sama kajian dari Bintungan Tinggi, adalah Syekh Sulaiman Arrasuli (1871-1970) dari Canduang, Agam.
Keistimewaan
Muaro Tuanku Mudo terkenal sebagai ulama yang takzim ke guru. Amanah gurunya, Syekh Bintungan Tinggi selalu dijaga dan dirawat dengan baik. Perintah guru harus dituruti. Dari awal, pergaulan Muaro Tuanku Mudo ini sering jadi ujung tombak bagi Syekh Bintungan Tinggi. Sampai ijazah dan kitab tulisan tangan langsung Syekh Bintungan Tinggi, didapatkan oleh Muaro Tuanku Mudo ini.
Bagi beliau Muaro Tuanku Mudo, kitab demikian yang juga disebut sebagai manuskrip itu, adalah amanah, sekaligus meneguhkan kedudukannya di Gunuang Basi sebagai Khalifah Syekh Abdurrahman Bintungan Tinggi. Khalifah Syekh Abdurrahman Bintungan Tinggi ini terkenal banyak. Di samping Muaro Tuanku Mudo, khalifah yang membidangi tasawuf, di Batu Mengaum, Nagari Kuranji Hulu, Kecamatan Sungai Geringging juga ada Khalifah Syekh Abdurrahman Bintungan Tinggi, yakni Syekh Angku Tuo (1850-1955). Di Bunguih Taluak Kabuang, Padang juga ada Khalifah Syekh Abdurrahman Bintungan Tinggi.
Kitab yang diwarisi Muaro Tuanku Mudo ini memang tak sembarang. Bukan kajian umum, sepertinya kitab itu punya keistimewaan tersendiri. Pernah suatu kali Gunuang Basi banjir. Luapan Sungai Batang Ulakan sampai masuk ke Surau Gunuang Basi. Semua peralatan dalam surau pada basah dan terendam air, tapi kitab yang terletak di atas meja di mihrab surau, justru berjalan sendiri. Berjalan ke tempat yang agak tinggi. Dengan kejadian itu, hanya meja dan isinya kitab demikian yang tidak direndam banjir.
Di musim yang lain, Surau Gunuang Basi terpanggang. Api membubung tinggi, dan menghanguskan isi surau bersama surau yang terbuat dari kayu itu. Hebatnya, lagi-lagi kitab yang langsung dibawa Muaro Tuanku Mudo dari Bintungan Tinggi itu selamat dari amukan sijago merah. Atas kejadian demikian, nama Muaro Tuanku Mudo kian melambung tinggi. Terkenal dengan keramat, alim dan menjadi rujukan oleh masyarakat di Nan Sabaris, Kabupaten Padang Pariaman.
Kenapa kitab itu diberikan ke Muaro Tuanku Mudo oleh Syekh Abdurrahman Bintungan Tinggi? Di samping Muaro Tuanku Mudo terkenal sebagai anak siak pintar dan cerdas, hebat ia pula, Muaro Tuanku Mudo ini adalah cucu oleh Syekh Ibnu Muttaqin yang mashur dengan Syekh Tabbat Yada. Sementara, Syekh Abdurrahman Bintungan Tinggi adalah anak kandung dari Syekh Tabbat Yada ini. Garis lurus sanad keilmuan Muaro Tuanku Mudo, tak diragukan lagi, kalau beliau mewarisi trah ulama hebat dan pintar dulunya.
Keluarga
Muaro Tuanku Mudo adalah ulama bernama, mewarisi trah besar Bintungan Tinggi. Dengan ini, beliau dengan mudahnya diterima oleh orang lain. Sehingga, beliau tersebut sebagai ulama yang punya sejumlah istri. Istrinya di Tanjung Medan, Ulakan Piak Banun namanya. Dari perkawinannya dengan Piak Banun, Muaro dikaruniai anak, yakni Piak Apuak, Majid, H. Nazir Tuanku Bagindo.
Di Toboh Olo ada pula istrinya. Di Padang Kandang juga ada istrinya. Di Padang Kandang itu, anak Muaro Tuanku Mudo bernama Sari, Najan, Khatik Pakiah, dan Rasyid. Di Gunuang Basi sendiri juga ada istrinya. Di Pinang Gadang juga ada istrinya. Di Sato-Sato Pauh Kambar juga tersebut ada istri beliau Muaro Tuanku Mudo.
Wafat di Gunuang Basi
Muaro Tuanku Mudo wafat di suraunya di Gunuang Basi, diperkirakan 1938. Tahun wafat beliau Muaro Tuanku Mudo ini mengacu pada usia anaknya, H. Nazir Tuanku Bagindo yang berusia enam tahun. H. Nazir Tuanku Bagindo lahir 1932.
Referensi:
1. Diolah dari Wikipedia
2. Wawancara dengan Mulyadi Tuanku Mudo, Jumat 12 Juni 2026 di Jiraik, Kapalo Koto, Kecamatan Nan Sabaris. Mulyadi Tuanku Mudo adalah anak dari H. Nazir Tuanku Bagindo. Otomatis, Mulyadi Tuanku Mudo adalah cucu dari Muaro Tuanku Mudo. Mulyadi Tuanku Mudo adalah Penyuluh Agama Kecamatan Nan Sabaris, juri MTQ tingkat Kabupaten Padang Pariaman. Mulyadi Tuanku Mudo pernah mengaji di MTI Batang Kabung Padang, dan tamat di Pondok Pesantren Madrasatul 'Ulum Lubuak Pua pada 2003.
