![]() |
| H. Marjohan Tuanku Khatib Mudo |
MU-ONLINE, Padang Pariaman, -- Namanya Marjohan. Nama yang diberikan orangtuanya saat lahir 1940 di Jorong Kandang Diguguak, Nagari Koto Laweh, Kabupaten Tanah Datar. Ayahnya Saleh.
Masa Kanak-kanak
Marjohan masa kecilnya sama dengan kebanyakan anak Nagari Koto Laweh. Sentuhan ilmu Al-Qur'an langsung ia pelajari dari ayahnya, Saleh yang juga pemuka masyarakat dan tokoh adat di nagari. Selain itu, Marjohan tentu disuruh pula mengaji ke surau oleh orangtuanya.
Zaman sebelum Indonesia merdeka itu, surau masih menjadi lembaga pendidikan utama di Minangkabau ini. Di surau, di samping belajar mengaji, Marjohan juga belajar adat, belajar karakter. Sampai beranjak remaja, Marjohan banyak menghabiskan waktunya di surau.
Merantau ke Padang Pariaman
Beranjak remaja, Marjohan diantar mengaji ke Padang Pariaman, tepatnya ke Lubuk Pandan. Di sana sudah terkenal nama Buya Abdullah Aminuddin Tuanku Shaliah. Oleh ayah Marjohan, nama Abdullah Aminuddin yang dikenal dengan Buya Ungku Shaliah Lubuk Pandan ini sudah lama dikenalnya. Sebab, awal mulai mengajar setelah selesai di MTI Jaho Padang Pariaman, Buya Ungku Shaliah Lubuk Pandan ini mengajar di Koto Laweh, kampungnya Marjohan.
Rupanya, di Lubuk Pandan, zaman itu masih bernama Surau Kapalo Sawah, tempat Buya Ungku Shaliah Lubuk Pandan ini mengajar. Sekarang sudah beralih nama menjadi Pondok Pesantren Madrasatul 'Ulum. Terbilang lama Marjohan mengaji di situ. Dari waktu ke waktu, orang Koto Laweh dan Singgalang pun bertambah banyak, setelah Marjohan menetap di Lubuk Pandan.
Lama mengaji, Marjohan tiba saatnya jadi marapulai kaji. Tamat marapulai kaji yang kalau di tarbiyah lebih akrab dengan tamat kelas tujuh. Setelah tamat marapulai, Marjohan diberi gelar Tuanku Khatib Mudo. Tentunya, gelar itu kesepakatan niniak mamak dan orang Koto Laweh dengan Buya Ungku Shaliah Lubuk Pandan.
Setelah lekat gelar, orang Koto Laweh dan Singgalang pun bertambah banyak mengaji di Lubuk Pandan. Oleh Buya Ungku Shaliah, Marjohan Tuanku Khatib Mudo disuruh pindah tinggal bersama sejumlah anak siak ke Surau Kandang Itiak. Masih di Lubuk Pandan, tak jauh dari Surau Kapalo Sawah.
Zaman itu, 1960 an, hampir seluruh surau yang ada di Lubuk Pandan, disisi oleh anak siak asuhan Buya Ungku Shaliah Lubuk Pandan ini. Setelah sekian lama belajar dan mengajar di Lubuk Pandan, Marjohan Tuanku Khatib pindah dan diminta oleh masyarakat tinggal di Surau Pompa, Kabun Kopi Lubuk Alung. Ada sekitar 15 orang anak siak dari Lubuk Pandan ikut pindah bersama Marjohan Tuanku Khatib Mudo ini ke Lubuk Alung.
Hanya tujuh bulan sebelum G.30.S/PKI 1965 meletus, Marjohan Tuanku Khatib Mudo pindah dari Kabun Kopi ke Pasa Kandang. Masih di Lubuk Alung. Hanya persoalan kecil, anak siak asuhan Marjohan Tuanku Khatib Mudo dituduh maling sandal masyarakat yang hilang di surau. Perasaan dituduh itu, membuat Marjohan Tuanku Khatib Mudo resah dan gelisah, merasa kurang nyaman tinggal di Kabun Kopi.
Peristiwa hangat dan gencarnya gerakan PKI, Marjohan Tuanku Khatib Mudo bersama seluruh anak siak yang banyak berasal dari Singgalang dan Koto Laweh, pindah dan diminta oleh masyarakat tinggal di Pasa Kandang, tepatnya di Surau Kapunduang.
Masa Transisi
Di Surau Kapunduang, Marjohan Tuanku Khatib Mudo agak lebih lama. Anak siak yang diangkutnya dari Lubuk Pandan, tetap ikut bersamanya. Di sini, Marjohan Tuanku Khatib Mudo terhitung dari 1965-1972. Disebut masa transisi, di Surau Kapunduang, Marjohan Tuanku Khatib tidak sendiri lagi. Dia sudah berumah tangga.
Surau Kapunduang terasa hidup dan bergairah. Di samping ada pengajian tetap anak siak tiap pagi dan malam, anak mengaji Al Qur'an juga lumayan ramai. Shalat berjemaah tiap waktu tentunya menjadi khas tersendiri, karena itu kelaziman yang dibawa Marjohan Tuanku Khatib Mudo dari Lubuk Pandan.
Di samping itu, sejak Marjohan Tuanku Khatib Mudo tinggal dan mengabdi di Surau Kapunduang, kegiatan rutin wirid gadang sekali seminggu di Surau Balenggek Balah Hilie juga menjadi agenda rutinnya.
Disebut wirid gadang, karena yang hadir umumnya para tuanku dan ulama dari Padang Pariaman dan darek. Wiridnya diawali dengan Magrib berjemaah. Tentu anak siak yang senior asuhan Marjohan Tuanku Khatib Mudo ikut pula mendampinginya ke Surau Balenggek itu.
Wirid kajian fiqh dan tarekat. Buya Haji Yusuf yang memimpin Surau Balenggek terkenal malin dan hebat fiqh dan tasawuf. Umumnya para tuanku yang memimpin surau di Lubuk Alung hadir dan ikut wirid pengajian demikian bersama Buya Haji Yusuf Surau Balenggek ini.
Terakhir di Taluak Balibi
Yang namanya tinggal di surau masyarakat, pasti banyak masalah. Apalagi pakai anak siak pula. Ada-ada saja masalah dan persoalan yang timbul. Marjohan Tuanku Khatib Mudo yang tinggal di Surau Kapunduang, Pasa Kandang, Balah Hilie Lubuk Alung juga mengalami masalah. Marjohan Tuanku Khatib Mudo ini terkesan dengan ulama dan tuanku yang tak ingin punya masalah.
Beliau ingin, kegiatan mengajar anak siak dan masyarakat kampung itu, berjalan sesuai alurnya. Punya masalah dengan perasaan, beliau lebih memilih mengalah. Masalahnya kecil. Hanya pidato seorang tokoh masyarakat sebelum wirid bulanan, yang menyebutkan, bahwa tuanku sudah kita tetapkan di surau, tapi masyarakat Pasa Kandang belum semua yang mau ke surau.
Mendengar kata-kata demikian, Marjohan Tuanku Khatib Mudo merasa kurang nyaman. Beliau mengambil kebijakan untuk melengangkan surau barang sebentar. Anak siak disuruhnya pulang kampung sebagian. Masa lengang surau itu, beliau Marjohan Tuanku Khatib ini diminta oleh Tuanku Kuniang tinggal dan mengajar di Taluak Balibi.
Maka, ajakan itu beliau terima. Tinggallah Marjohan Tuanku Khatib Mudo bersama anak siaknya di Taluak Balibi. Sebuah surau yang kini sudah jadi Masjid Tawakal Taluak Balibi, Nagari Pungguang Kasiak Lubuk Alung.
Di Taluak Balibi, Marjohan Tuanku Khatib Mudo lebih lama. Bahkan sampai akhir hayatnya. Ketokohan Tuanku Kuniang ini mampu membuat Marjohan Tuanku Khatib Mudo kerasan dan betah di Taluak Balibi. Bahkan, seluruh surau yang ada di Pungguang Kasiak terasa hidup dan bergairah, karena dihidupkan oleh anak siak asuhan Marjohan Tuanku Khatib Mudo, terutama anak siak senior.
Keluarga dan Naik Haji
Tahun 2000, dalam usia 60 tahun, Marjohan Tuanku Khatib Mudo dan istrinya, Jasma pergi ke Mekkah. Naik haji, menunaikan rukun Islam kelima. Tentu kuasa yang diberikan oleh Allah SWT, membuat Marjohan Tuanku Khatib Mudo dan istrinya merasa bersyukur. Apalagi, impian untuk bisa naik haji tersimpan erat dalam hati dan pikirannya.
Dari istrinya Hj. Jasma, H. Marjohan Tuanku Khatib Mudo dikaruniai enam putra dan putri, yakni Nurmali, Nurlin, Nizamuddin, Zulkifli, Nuraifin, Nurniati.
Tahun 2003, istrinya, Hj. Jasma mengalami stroke. Oleh Marjohan Tuanku Khatib Mudo diantar ke kampungnya, Kandang Diguguak. Sejak tahun itu, keaktifan Marjohan Tuanku Khatib Mudo ini pun berkurang di Taluak Balibi. Hanya sesekali. Sering bolak balik ke kampung dari Taluak Balibi, Pungguang Kasiak Lubuk Alung ini.
Marjohan Tuanku Khatib Mudo wafat di kampungnya, Kandang Diguguak, 23 Juni 2005, 22 hari setelah istrinya, Hj. Jasma meninggal dunia.
Catatan: Narasi dan riwayat beliau Marjohan Tuanku Khatib Mudo ini hadir setelah wawancara khusus dengan H. Abdul Rahman Tuanku Labai Nan Basa, Kamis 4 Juni 2026 di kediamannya, Kayu Gadang Lubuk Alung. Abdul Rahman Tuanku Labai Nan Basa adalah anak siak asuhan Marjohan Tuanku Khatib Mudo sejak dari Surau Kapunduang Pasa Kandang.
Abdul Rahman Tuanku Labai Nan Basa lahir 30 Juni 1956 di Singgalang, Tanah Datar. Dia menyelesaikan pendidikan surau bersama Marjohan Tuanku Khatib Mudo, dikukuhkan jadi Tuanku Labai Nan Basa di Surau Ambacang, Pungguang Kasiak. Tahun 1985, Abdul Rahman Tuanku Labai Nan Basa ini, salah seorang Qori dewasa yang menjadikan Lubuk Alung juara umum MTQ tingkat Kabupaten Padang Pariaman.
