![]() |
Oleh: Duski Samad
Ketua PW DMI Priode 2020-2025
Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, manusia menghadapi berbagai tantangan yang tidak ringan. Kemajuan teknologi menghadirkan kemudahan, tetapi juga melahirkan kegelisahan. Media sosial membuka ruang komunikasi tanpa batas, tetapi pada saat yang sama sering menumbuhkan budaya pencitraan, individualisme, dan kegemaran mengejar pengakuan. Kemajuan ekonomi meningkatkan kesejahteraan sebagian masyarakat, tetapi tidak selalu diikuti oleh kemajuan moral dan spiritual.
Dalam situasi seperti itu, masjid sesungguhnya memiliki peran yang semakin penting. Masjid bukan sekadar tempat melaksanakan salat berjamaah, melainkan pusat pembinaan manusia seutuhnya. Masjid adalah sekolah karakter, pusat pembentukan mentalitas, dan ruang lahirnya gaya hidup Islami yang beradab.
Sejak zaman Rasulullah SAW, masjid menjadi jantung peradaban Islam. Dari masjid lahir para ulama, pemimpin, pendidik, saudagar yang amanah, pejuang kemanusiaan, dan masyarakat yang memiliki integritas moral tinggi. Karena itu, kemajuan suatu umat sesungguhnya dapat dilihat dari sejauh mana masjid hidup dan memengaruhi kehidupan masyarakat di sekitarnya. Allah SWT menegaskan: "Katakanlah, sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya." (QS. Al-An'am: 162–163)
Ayat ini memberikan pesan bahwa seorang Muslim tidak memisahkan antara ibadah ritual dengan kehidupan sosial. Salat, pekerjaan, keluarga, pendidikan, ekonomi, bahkan seluruh perjalanan hidup harus menjadi bagian dari pengabdian kepada Allah. Masjid menjadi tempat menanamkan kesadaran tersebut sehingga seluruh aktivitas manusia bernilai ibadah.
Kemuliaan masjid juga ditegaskan dalam firman Allah: "Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, mendirikan salat, menunaikan zakat, dan tidak takut selain kepada Allah." (QS. At-Taubah: 18). Ayat ini menunjukkan bahwa kemuliaan seseorang bukan ditentukan oleh kekayaan, jabatan, atau popularitasnya, melainkan oleh kedekatannya kepada Allah dan kontribusinya dalam memakmurkan rumah-Nya. Mereka yang menjadikan masjid sebagai pusat aktivitas hidup akan memperoleh kemuliaan spiritual yang tidak dapat dibeli dengan materi apa pun.
Lebih dari itu, masjid adalah tempat lahirnya karakter mulia. Di dalam masjid seseorang belajar disiplin melalui salat berjamaah yang terikat waktu. Ia belajar kebersihan melalui tuntunan bersuci. Ia belajar kejujuran melalui amanah yang diemban. Ia belajar kesetaraan karena semua berdiri dalam satu saf tanpa membedakan pangkat, suku, warna kulit, maupun status sosial.
Masjid juga membentuk karakter peduli dan empati sosial. Dari masjid umat diajarkan berzakat, berinfak, bersedekah, membantu fakir miskin, menyantuni anak yatim, dan memperhatikan nasib sesama. Karena itu, masjid yang hidup bukan hanya ramai dengan jamaah salat, tetapi juga menjadi pusat pelayanan dan pemberdayaan masyarakat.
Karakter yang terbentuk dalam masjid kemudian melahirkan mentalitas yang kuat. Mentalitas warga masjid adalah mentalitas pengabdian, bukan mentalitas mencari keuntungan pribadi. Mereka bekerja karena amanah, bukan karena pujian. Mereka berjuang karena tanggung jawab, bukan karena kepentingan sesaat.
Masjid juga melahirkan mentalitas istiqamah. Lima kali sehari seorang Muslim dipanggil untuk kembali kepada Allah. Rutinitas ini mendidik manusia agar tidak mudah menyerah, tidak mudah putus asa, dan tidak mudah tergoda oleh perubahan yang menyesatkan. Dalam bahasa Al-Qur'an, istiqamah adalah salah satu jalan menuju keberkahan hidup.
Selain itu, masjid membentuk mentalitas kebersamaan. Islam mengajarkan bahwa kekuatan umat terletak pada jamaah. Karena itu, masjid mendidik manusia untuk hidup dalam semangat musyawarah, gotong royong, saling menghormati, dan saling membantu.
Dalam kearifan Minangkabau dikenal pepatah:"Ringan samo dijinjiang, barek samo dipikua." Nilai ini sesungguhnya sejalan dengan semangat berjamaah yang diajarkan masjid. Persoalan bersama diselesaikan bersama, kemajuan dicapai bersama, dan keberhasilan dirasakan bersama.
Karakter dan mentalitas yang dibangun masjid akhirnya melahirkan gaya hidup tersendiri. Gaya hidup warga masjid bukan gaya hidup yang berorientasi pada kemewahan, melainkan pada keberkahan. Mereka bekerja keras tetapi tetap menjaga kejujuran. Mereka mencari rezeki tetapi tidak melupakan ibadah. Mereka memanfaatkan teknologi tetapi tidak kehilangan nilai-nilai moral. Mereka aktif dalam kehidupan dunia tetapi tetap mengingat akhirat.
Gaya hidup seperti inilah yang dibutuhkan masyarakat modern saat ini. Ketika banyak orang mengalami krisis makna hidup, masjid menawarkan ketenangan. Ketika banyak orang terjebak dalam budaya konsumtif dan hedonistik, masjid mengajarkan kesederhanaan dan rasa syukur. Ketika banyak orang mengalami kesepian di tengah keramaian dunia digital, masjid menghadirkan persaudaraan dan kebersamaan.
Namun demikian, Al-Qur'an juga mengingatkan bahwa masjid tidak boleh dijadikan alat kepentingan kelompok, sarana perpecahan, atau tempat membangun konflik dan permusuhan. Allah SWT mengecam mereka yang mendirikan masjid untuk tujuan merusak persatuan umat sebagaimana disebutkan dalam QS. At-Taubah ayat 107.
Ayat ini turun berkenaan dengan Masjid Dhirar, yaitu masjid yang dibangun bukan untuk ibadah dan kemaslahatan umat, melainkan untuk kepentingan politik, perpecahan, dan agenda tersembunyi. Peristiwa ini menjadi pelajaran sepanjang zaman bahwa yang dinilai Allah bukan hanya bangunan masjidnya, tetapi juga tujuan dan niat di balik pengelolaannya.
Dalam konteks kekinian, ancaman terhadap masjid tidak selalu berbentuk pembangunan fisik seperti Masjid Dhirar. Ancaman itu dapat muncul dalam bentuk penggunaan masjid untuk kepentingan pribadi, kelompok, organisasi, bisnis, maupun politik praktis yang berpotensi memecah belah jamaah.
Masjid harus berada di atas semua golongan. Jamaah masjid terdiri dari berbagai latar belakang pendidikan, profesi, organisasi, pilihan politik, suku, dan tingkat ekonomi. Ketika masjid dipersempit menjadi alat kepentingan satu kelompok, maka fungsi pemersatu umat akan melemah.
Karena itu, pengurus masjid perlu memiliki kesadaran bahwa mereka adalah pelayan jamaah, bukan pemilik masjid. Amanah mengelola masjid adalah amanah umat dan amanah Allah. Pengurus boleh memiliki pandangan pribadi, afiliasi organisasi, atau pilihan politik tertentu, tetapi masjid tidak boleh dijadikan sarana untuk memaksakan kepentingan tersebut kepada jamaah.
Masjid harus menjadi ruang yang nyaman bagi semua umat Islam yang berpegang pada prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah dan menghormati perbedaan yang dibenarkan syariat. Mimbar masjid harus digunakan untuk menyampaikan ilmu, memperkuat akhlak, membangun persatuan, dan menyelesaikan persoalan umat, bukan untuk menyebarkan kebencian atau permusuhan.
Di sisi lain, transparansi dan akuntabilitas juga menjadi benteng penting agar masjid tidak dikuasai oleh kepentingan tertentu. Pengelolaan keuangan, program kerja, aset wakaf, dan berbagai kegiatan masjid perlu dilakukan secara terbuka dan profesional. Semakin transparan pengelolaan masjid, semakin kecil peluang munculnya konflik dan penyalahgunaan amanah.
Masjid juga harus menjaga independensinya. Bekerja sama dengan pemerintah, dunia usaha, organisasi sosial, atau lembaga filantropi adalah sesuatu yang baik selama bertujuan memakmurkan masjid dan memberdayakan umat. Namun kerja sama tersebut tidak boleh menghilangkan fungsi masjid sebagai rumah bersama yang terbuka bagi seluruh jamaah.
Dalam tradisi Minangkabau, surau dan masjid sejak dahulu menjadi pusat pendidikan dan persatuan masyarakat. Di surau, anak-anak belajar mengaji, pemuda belajar adat dan agama, serta para ninik mamak dan alim ulama bermusyawarah menyelesaikan persoalan nagari. Fungsi ini dapat berjalan karena surau tidak dijadikan alat perebutan pengaruh, melainkan tempat memperkuat kebersamaan.
Pepatah Minangkabau mengatakan: "Bulek aia dek pambuluah, bulek kato dek mufakat." Artinya, persoalan umat harus diselesaikan melalui musyawarah dan kebersamaan, bukan melalui dominasi kelompok tertentu. Nilai ini sangat relevan dalam pengelolaan masjid pada masa kini.
Masjid yang sehat adalah masjid yang mampu melahirkan karakter mulia, mentalitas pengabdian, dan gaya hidup yang berorientasi pada keberkahan. Sebaliknya, masjid yang dijadikan alat kepentingan akan kehilangan daya pemersatunya dan berpotensi melahirkan konflik di tengah umat.
Oleh sebab itu, setiap pengurus, khatib, imam, mubalig, dan jamaah memiliki tanggung jawab bersama untuk menjaga kesucian fungsi masjid. Jangan sampai rumah Allah menjadi arena persaingan kepentingan. Jangan sampai mimbar dakwah berubah menjadi mimbar permusuhan. Jangan sampai jamaah terpecah karena ambisi segelintir orang.
Masjid harus tetap menjadi tempat yang menghadirkan ketenangan, persaudaraan, ilmu, dan kemaslahatan. Sebab ketika masjid dijaga dari kepentingan sempit, maka masjid akan tetap menjadi sumber kemuliaan, pusat peradaban, dan benteng moral umat sepanjang zaman.
Karena itu, masjid harus menjadi rumah bersama bagi umat. Masjid harus menjadi pusat persatuan, pusat pendidikan, pusat dakwah, pusat pemberdayaan ekonomi, dan pusat pembinaan moral masyarakat. Masjid harus mampu menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Apabila masjid hidup, maka kehidupan masyarakat akan hidup. Apabila masjid makmur, maka keberkahan akan turun kepada masyarakat. Dan apabila nilai-nilai masjid menjadi karakter, mentalitas, serta gaya hidup umat, maka akan lahir generasi yang kuat aqidahnya, mulia akhlaknya, cerdas pikirannya, sehat jiwanya, dan kokoh komitmennya terhadap agama, bangsa, dan kemanusiaan.
Karena itu, memakmurkan masjid sesungguhnya bukan hanya membangun bangunan fisik, melainkan membangun manusia. Dari masjid lahir kemuliaan pribadi, keharmonisan keluarga, kekuatan masyarakat, dan kemajuan peradaban.
Dalam falsafah Minangkabau disebutkan: "Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah." Syarak mengajarkan nilai-nilai kehidupan, dan masjid menjadi tempat nilai-nilai itu ditanamkan. Maka, siapa yang dekat dengan masjid akan dekat dengan kemuliaan. Siapa yang memakmurkan masjid akan dimuliakan Allah. Dan siapa yang menjadikan masjid sebagai pusat pembinaan hidupnya akan memperoleh kebahagiaan di dunia dan keselamatan di akhirat.
Masjid bukan hanya tempat sujud, tetapi sumber kemuliaan. Dari sanalah lahir karakter yang kuat, mentalitas yang tangguh, dan gaya hidup yang membawa keberkahan bagi umat dan bangsa. ds. 05062026
