![]() |
| Manshurddin Tuanku Sidi |
MU-ONLINE, Padang Pariaman, -- Manshurddin Tuanku Sidi dinilai ulama yang menjembatani puncak kesuksesan hubungan guru murid, jemaah VII Koto dengan Koto Tuo. Di samping mendirikan Surau Ketek di Kampung Baru Ampalu, Nagari Lareh Nan Panjang, beliau tersebut sebagai guru panutan di banyak surau di seputaran VII Koto.
Masa Muda dan Kepribadian
Manshurddin lahir 1 Januari 1942, merupakan anak sulung pasangan Labai Husin dan Kasuma. Tiga tahun menjelang proklamasi kemerdekaan Indonesia, beliau lahir membawa harapan bagi keluarga dan masyarakat. Di lingkungan surau, karena ayahnya seorang labai di Surau Koto Runciang, Nagari Lurah Ampalu. Maka, pendidikan agama pertama kali didapatkan Manshurddin, langsung dari orangtuanya.
Tiga tahun sebelum Indonesia merdeka (tahun 1942), wilayah Lareh Nan Panjang, Kecamatan VII Koto Sungai Sariak, Padang Pariaman berada di bawah awal masa Pendudukan Militer Kekaisaran Jepang. Pada masa itu, struktur administrasi modern seperti "Kecamatan VII Koto Sungai Sariak" ataupun "Nagari Lareh Nan Panjang" belum terbentuk seperti sekarang, melainkan masih berupa wilayah adat atau bagian dari struktur pemerintahan bentukan penjajah.
Peralihan Kekuasaan ke Tangan Jepang
Runtuhnya Kolonial Belanda: Pada Maret 1942, tentara Hindia Belanda menyerah tanpa perlawanan berarti di wilayah Sumatera Barat. Tentara Angkatan Darat ke-25 Jepang langsung mengambil alih kekuasaan sepenuhnya. Perubahan Pemerintahan: Jepang menghapus sistem administrasi Belanda. Seluruh wilayah pesisir barat, termasuk Padang Pariaman, dimasukkan ke dalam wilayah pemerintahan militer bernama Sumatora Nishi Kaigan Shū (Provinsi Pantai Barat Sumatra).
Status Wilayah Lareh Nan Panjang dan Sungai Sariak
Belum Ada Pemekaran: Pada tahun 1942, Lareh Nan Panjang belum menjadi nagari mandiri. Wilayah ini masih menyatu di bawah Nagari Induk Ampalu. Kehidupan Komunitas: Kehidupan masyarakat di wilayah ini berpusat pada sektor pertanian, perkebunan kelapa (sebagai bahan baku kopra), serta jalur perdagangan tradisional yang menghubungkan wilayah pedalaman Minangkabau (Luhak) menuju pesisir Pariaman.
Dampak Awal Pendudukan bagi Masyarakat
Eksploitasi Sumber Daya: Mulai pertengahan hingga akhir tahun 1942, Jepang gencar melakukan mobilisasi tenaga kerja (romusha) dan menyita hasil bumi seperti beras dan kelapa untuk kepentingan logistik perang mereka. Pembangunan Bunker Militer: Garis pantai Pariaman hingga area penyangga di sekitarnya mulai disurvei oleh militer Jepang untuk dibangun benteng pertahanan tanah (bunker atau pillbox) guna mengantisipasi serangan balik pasukan Sekutu.
Setelah kemerdekaan, Manshurddin Tuanku Sidi memasuki masa remaja dan pemuda. Sudah mulai tahu, apa sebenarnya yang melanda negeri ini. Dan persoalan negara dan bangsa itu sering jadi diskusi sejumlah tokoh masyarakat, di surau. Tentu duski yang tersembunyi. Kisah perang, hubungan pribumi dengan penjajah, dinilai diskusi yang masih terbatas.
Masa muda itu, Manshurddin aktif bersama pemuda lainnya, di Ampalu itu. Kesenian anak nagari, seperti indang, tambua tasa masih terbatas. Belum semeriah sekarang. Artinya, di zaman itu masih dalam perintisan. Pemuda Manshurddin Tuanku Sidi ini ikut pula merintis permainan anak nagari, tambua tasa ini. Sampai pandai, dan ikut bersama-sama membangun kesenian tersebut.
Masa ketika permainan itu sedang semangat dan giat-giatnya di Ampalu, Manshurddin Tuanku Sidi dilaporkan dicari oleh orang-orang yang tidak ingin kesenian itu sukses. Manshurddin Tuanku Sidi dianggap tokoh muda yang menggerakkan hal itu di Kampung Baru, Ampalu. Oleh orangtuanya, Manshurddin Tuanku Sidi disuruh pindah dari kampung. Ampalu dinilai tak aman, dan tidak mungkin pula untuk melanjutkan peningkatan pendidikannya.
Saudara ayahnya, Tuanku Sidi sedang mengajar di surau di Palembayan, Sintuak. Manshurddin Tuanku Sidi diangkut ke Sintuak ini, demi keamanan dari incaran orang-orang yang tidak ingin aktivitasnya berkembang di Ampalu.
Pada tahun 1950-an, situasi dan kondisi pendidikan surau di Sintuak, Padang Pariaman berada dalam fase transisi kritis, ditandai oleh pemulihan pascaperang, kuatnya tradisi tarekat, dan tekanan modernisasi sistem sekolah formal. Sintuak memiliki ikatan sejarah yang sangat kuat dengan tradisi surau karena merupakan tempat kelahiran Syekh Burhanuddin, ulama besar yang pertama kali membawa dan menyebarkan sistem pendidikan surau di Minangkabau.
Memasuki awal tahun 1950-an, masyarakat dan surau-surau di Sintuak baru saja melewati trauma akibat Peristiwa Surau Batu Sintuak yang terjadi pada 7 Juni 1949. Dalam peristiwa berdarah tersebut, tentara Belanda membantai 37 pejuang kemerdekaan tepat di area Surau Batu.
Kondisi ini membuat fungsi surau pada awal 1950-an berfokus pada pemulihan psikologis masyarakat dan penataan kembali sarana fisik yang sempat rusak akibat konflik kemerdekaan.
Dominasi Pengajaran Tarekat Syattariyah
Sebagai tanah kelahiran Syekh Burhanuddin, surau-surau di Sintuak pada tahun 1950-an masih menjadi benteng utama Tarekat Syattariyah di Padang Pariaman. Sistem Halaqah: Proses belajar-mengajar tidak menggunakan meja dan papan tulis, melainkan sistem halaqah (murid duduk melingkar mengelilingi guru atau tuanku).
Materi Utama: Pembelajaran berfokus pada pembacaan Al-Quran, kajian kitab-kitab kuning (fikih, tauhid, tasawuf), serta praktik ibadah tarekat.
Pendidikan Karakter dan Adat: Surau tetap berfungsi ganda untuk mengajarkan nilai-nilai sosial, pembentukan akhlak, dan pelestarian adat istiadat Minangkabau.
Arus Modernisasi dan Tantangan Sekolah Klasikal
Tantangan terbesar pendidikan surau tradisional di Sintuak pada dekade ini adalah lahirnya sistem sekolah modern (klasikal). Surau mulai kehilangan sebagian murid remajanya karena masyarakat mulai beralih mengirimkan anak-anak mereka ke sekolah umum, madrasah, atau pesantren modern yang menggunakan sistem kelas dan kurikulum berjenjang.
Di wilayah Padang Pariaman sendiri, beberapa tokoh agama mulai mengadopsi bahasa asing (Inggris/Belanda) dan ilmu umum untuk bersaing dengan sekolah bentukan pemerintah. Hal ini membuat surau tradisional di Sintuak yang murni mengajarkan agama mulai terdesak ke pinggiran.
Pergeseran Fungsi Sosial Budaya
Sebelum tahun 1950-an, surau adalah tempat wajib bagi pemuda Minang yang belum menikah untuk tidur (lalok di surau), belajar silat, dan bermusyawarah. Namun, pada tahun 1950-an tradisi pemuda tidur di surau mulai mengalami pemudaran secara bertahap. Aktivitas surau lebih didominasi oleh anak-anak kecil yang belajar mengaji pada sore/malam hari, serta kaum tua (lansia) yang melakukan ibadah "sembahyang empat puluh hari" atau zikir tarekat.
Secara keseluruhan, pendidikan surau di Sintuak pada tahun 1950-an adalah potret surau tradisional yang mencoba bertahan di tengah arus perubahan zaman, berjuang mempertahankan identitas Islam-tarekat di tengah modernisasi pendidikan nasional yang baru seumur jagung.
Di Surau Palembayan, tempat Tuanku Sidi mengajar itu, Manshurddin Tuanku Sidi ini kian merasakan pentingnya arti sebuah ilmu agama. Tuanku Sidi ini saudara ayah Manshurddin Tuanku Sidi, sehingga rasa mengaji agak berkurang. Di tambah pula kondisi sosial politik di Sintuak terasa menegang masa agresi Belanda kedua itu.
Beberapa tahun di Sintuak, Manshurddin Tuanku Sidi pindah ke darek. Tepatnya di Batu Taba, Tanah Datar, di situ Gazali Tuanku Imam mengajar di surau. Gazali Tuanku Imam adalah orang Ambuang Kapua Sungai Sariak sama bersuku Mandailing pula dengan Manshurddin Tuanku Sidi. Sayang, faktor berdunsanak ini, sepertinya membuat Manshurddin Tuanku Sidi kurang merasa betah.
Kondisi pendidikan surau di Batu Taba, Batipuh, Kabupaten Tanah Datar mengalami guncangan hebat dan penurunan drastis selama periode pergolakan PRRI (1958–1961) dan PKI/G30S (1965). Dua peristiwa politik besar ini mengubah fungsi surau dari pusat peradaban ilmu dan karakter Minangkabau menjadi episentrum konflik, trauma, dan kecurigaan politik.
Masa Pergolakan PRRI (1958–1961)
Ketika gerakan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) pecah, wilayah Tanah Datar dan sekitarnya menjadi salah satu medan pertempuran utama antara tentara pusat (APRI) dan pasukan PRRI. Dampaknya terhadap pendidikan surau meliputi: Berhentinya Kegiatan Belajar Mengaji: Suasana perang dan baku tembak membuat kondisi tidak aman. Orang tua melarang anak-anak mereka pergi ke surau pada malam hari karena adanya jam malam dan ancaman salah sasaran oleh militer.
Fungsi Surau yang Beralih: Surau-surau di Batu Taba tidak lagi digunakan untuk belajar Al-Quran, adat, atau bela diri. Surau beralih fungsi menjadi tempat pengungsian warga sipil, pos penjagaan, atau tempat persembunyian logistik dan pasukan.
Trauma Psikologis: Kedatangan tentara pusat (APRI) yang melakukan operasi pembersihan menyisakan trauma mendalam. Kehidupan religius surau lumpuh karena masyarakat dicekam ketakutan akan interogasi dan penangkapan.
Masa Ketegangan Ideologi PKI (Hingga 1965)
Setelah PRRI mereda, ketegangan beralih ke ranah politik ideologis dengan menguatnya pengaruh Partai Komunis Indonesia (PKI) di tingkat nasional dan lokal, yang kemudian berujung pada peristiwa G30S 1965.
Polarisasi Politik di Lingkungan Surau: Di Minangkabau, kaum ulama dan pemuda surau umumnya berafiliasi dengan partai Islam (seperti Masyumi sebelum dibubarkan, atau PERTI). Hal ini memicu gesekan tajam dengan simpatisan PKI. Surau yang seharusnya menjadi tempat pendidikan netral berubah menjadi basis pertahanan ideologi Islam untuk membendung arus komunisme.
Stigmatisasi dan Kecurigaan: Aktivitas berkumpulnya pemuda di surau sering kali diawasi secara ketat dan dicurigai oleh kelompok kiri sebagai gerakan politik kontra-revolusioner. Sebaliknya, masyarakat surau melihat aktivitas PKI sebagai ancaman nyata terhadap tatanan adat dan agama (Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah).
Pembersihan Pasca-1965: Setelah peristiwa G30S/PKI meletus, terjadi pembersihan besar-besaran terhadap elemen PKI di seluruh Indonesia, termasuk di Tanah Datar. Meski surau kembali difungsikan, suasananya diselimuti ketakutan dan ketidakpastian politik yang membuat fokus pendidikan agama dan karakter anak-anak nagari belum bisa berjalan optimal seperti sedia kala.
Secara keseluruhan, periode PRRI dan PKI menjadi salah satu titik terendah (fase kelam) dalam sejarah dinamika surau di Batu Taba dan Minangkabau pada umumnya. Trauma fisik dari masa PRRI serta trauma ideologis dari masa PKI membuat institusi surau kehilangan kestabilannya sebagai ruang aman untuk mentransfer ilmu agama dan adat kepada generasi muda.
Di tengah ancaman keamanan itu pula sebabnya, Manshurddin Tuanku Sidi dari Batu Taba pindah ke sekolah formal, Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) Padang Karambia, Payakumbuh. Di sana, tentunya pengajian lebih terukur dan terstruktur dengan perpaduan ala surau dan madrasah. Buya Ruslan Nur, nama guru besar dan Syaikhul Ma'had MTI itu. Lama Manshurddin Tuanku Sidi di sini. Sampai tamat tahun 1972.
Informasi mendetail mengenai keberadaan Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) Padang Karambia secara spesifik di era 1970-an sangat terbatas dalam catatan digital publik. Namun, lokasi geografis institusi tersebut tercatat jelas dalam data resmi wilayah.
Kampus MTI Padang Karambia berlokasi di Kelurahan Padang Karambia, Kecamatan Payakumbuh Selatan, Kota Payakumbuh. Fasilitas ini bahkan kerap dijadikan sebagai lokasi fasilitas publik, salah satunya sebagai tempat pemungutan suara (TPS) Pemilu di wilayah tersebut.
Hubungan dengan MTI Koto Panjang (Lampasi): Pesantren MTI tertua dan paling terkenal di Payakumbuh adalah MTI Koto Panjang yang didirikan oleh Syekh Mukhtar Angku Lakuang. MTI Koto Panjang telah berdiri jauh sebelum era 1970-an (berdiri sekitar tahun 1935) dan menjadi pusat pendidikan Tarbiyah Islamiyah utama di Payakumbuh.
Perkembangan Cabang Tarbiyah: Pada era 1970-an, gerakan Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti) banyak mendirikan madrasah cabang atau surau-surau pengajian berstatus MTI di berbagai kelurahan/nagari di Payakumbuh dan Limapuluh Kota untuk memperluas akses pendidikan kitab kuning. Kampus MTI di Padang Karambia merupakan salah satu wujud persebaran lembaga tersebut.
Aktivitas Keagamaan Masyarakat: Nama MTI di tingkat kelurahan di Payakumbuh saat ini juga melekat pada organisasi pembina majelis taklim, seperti kelompok wirid yasinan, pengajian sarak/adat, dan gerakan dakwah berbasis persatuan tarbiyah di surau-surau lokal.
Keluarga dan Menetap di VII Koto
Manshurddin Tuanku Sidi setelah tamat MTI Padang Karambia, berselang setahun mempersunting perempuan Payakumbuh, Warni namanya. Di MTI Padang Karambia, Warni terbilang adik kelas oleh Manshurddin Tuanku Sidi. Dari perkawinan itu, dikaruniai empat orang putra dan putri, yakni Marwayani, Zulhiyarmi, Muhammad Nizaf Tuanku Sidi, Ahmad Nazif Tuanku Sidi.
Pulang dari MTI Padang Karambia dan berumah tangga, Manshurddin Tuanku Sidi lebih banyak menetap di kampungnya, Ampalu dan di Surau Koto Runciang, tempat ayahnya, Labai Husin jadi labai.
Berulang Mengaji dengan Gazali Tuanku Sidi Tukang
Sepulang dari Payakumbuh, tiba di kampung, Manshurddin Tuanku Sidi lebih disibukkan dengan belajar dan mengajar. Menetap di Surau Koto Runciang, Lurah Ampalu, di Kampung Baru, Ampalu itu sendiri, beliau buat dan dirikan surau. Sementara, dengan ulama yang seangkatan atau di bawahnya sedikit, membuat kesatuan, mengaji bersama dengan Gazali Tuanku Sidi Tukang di Apa, Lurah Ampalu.
Karena Gazali Tuanku Sidi Tukang sudah berusia lanjut, wirid pengajiannya yang banyak surau dan tempat, sebagiannya diturut oleh Manshurddin Tuanku Sidi ini. Tiap malam, Manshurddin Tuanku Sidi ini berada di lingkungan jemaah surau, memberikan pengajian yang diwarisinya dari Gazali Tuanku Sidi Tukang.
Hampir semua wirid Ungku Tukang, dijalankan oleh Manshurddin Tuanku Sidi. Termasuk memimpin jemaah ke Koto Tuo, setiap bulan Rajab, dan ke Ulakan setiap bulan Syakban, Manshurddin Tuanku Sidi yang memimpin.
Manshurddin Tuanku Sidi wafat 6 September 2006 di suraunya, Kampung Baru, Ampalu, Nagari Lareh Nan Panjang. Dimakamkan di halaman surau itu. (AD)
Referensi:
1. Wawancara dengan H. Muhammad Nizaf Tuanku Sidi, Kamis 18 Juni 2026 di Limpato Sungai Sariak. Muhammad Nazif adalah anak kandung Manshurddin Tuanku Sidi. Setelah sekolah di Ambuang Kapua, Muhammad Nizaf Tuanku Sidi mengaji di Pondok Pesantren Darul Ulum Padang Magek, Tanah Datar.
2. https://id.wikipedia.org](https://id.wikipedia.org/wiki/Madrasah_Tarbiyah_Islamiyah_Koto_Panjang
3. https://hiburan.tvrinews.com](https://hiburan.tvrinews.com/berita/tmvvp0y-surau-lubuak-bauk-cagar-budaya-bersejarah-di-tanah-datar)
4. https://id.wikipedia.org](https://id.wikipedia.org/wiki/Peristiwa_Surau_Batu_Sintuak)
5. https://id.wikipedia.org](https://id.wikipedia.org/wiki/Sungai_Sariak,_VII_Koto_Sungai_Sarik,_Padang_Pariaman)
