![]() |
Oleh: Duski Samad
Dunia sedang memasuki babak baru peradaban manusia. Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), robotika, internet super cepat, realitas virtual, dan teknologi digital telah mengubah cara manusia belajar, bekerja, berkomunikasi, bahkan berpikir. Anak-anak yang lahir hari ini tidak lagi mengenal dunia tanpa gawai, internet, dan teknologi pintar.
Mereka adalah Generasi Alfa dan Generasi Beta.
Generasi Alfa adalah mereka yang lahir sekitar tahun 2010 hingga 2024, sementara Generasi Beta adalah generasi yang lahir mulai tahun 2025 dan akan tumbuh hingga pertengahan abad ke-21. Mereka diprediksi menjadi generasi paling terdidik, paling terkoneksi, dan paling akrab dengan teknologi dibandingkan generasi mana pun sebelumnya.
Namun di balik berbagai kemajuan itu muncul sebuah pertanyaan besar: apakah mereka juga akan menjadi generasi yang paling waras secara mental?
Pertanyaan ini penting diajukan karena berbagai fenomena sosial menunjukkan adanya paradoks peradaban. Teknologi semakin canggih, tetapi kecemasan juga meningkat. Informasi semakin mudah diperoleh, tetapi kebijaksanaan semakin sulit ditemukan. Manusia semakin terkoneksi melalui jaringan digital, tetapi semakin banyak yang merasa kesepian.
Banyak anak dan remaja hari ini hidup dalam dunia yang dipenuhi layar. Mereka dapat berkomunikasi dengan siapa saja di berbagai belahan dunia, tetapi sering kesulitan membangun komunikasi yang hangat dengan orang tua, guru, atau lingkungan sekitarnya. Mereka memiliki ribuan teman di media sosial, tetapi tidak sedikit yang kehilangan tempat berbagi ketika menghadapi masalah kehidupan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kesehatan mental tidak selalu berjalan seiring dengan kemajuan teknologi.
Sesungguhnya manusia tidak hanya membutuhkan informasi, tetapi juga makna. Tidak hanya membutuhkan kecerdasan, tetapi juga kebijaksanaan. Tidak hanya membutuhkan keterampilan, tetapi juga ketenangan batin.
Dalam perspektif Islam, kewarasan mental bukan sekadar sehat secara psikologis. Kewarasan mental adalah keadaan ketika akal, hati, jiwa, dan perilaku berjalan dalam keseimbangan.
Islam memandang manusia sebagai makhluk yang terdiri dari jasad, akal, dan ruh. Ketika salah satu unsur ini diabaikan, maka keseimbangan hidup akan terganggu.
Karena itu Al-Qur'an mengingatkan: «"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd: 28)»
Ayat ini menunjukkan bahwa ketenangan jiwa tidak hanya lahir dari kecukupan materi, tetapi juga dari kedekatan spiritual kepada Allah SWT.
Hari ini banyak orang memiliki segala fasilitas kehidupan, tetapi kehilangan ketenteraman. Mereka memiliki rumah yang besar tetapi hati yang sempit. Mereka memiliki akses informasi tanpa batas tetapi kehilangan arah hidup. Mereka memiliki banyak hiburan tetapi sulit menemukan kebahagiaan.
Di sinilah tantangan terbesar Generasi Alfa dan Beta.
Mereka tumbuh dalam budaya instan. Segala sesuatu tersedia dalam hitungan detik. Jawaban dapat diperoleh melalui mesin pencari. Video dapat ditonton kapan saja. Kebutuhan dapat dibeli hanya dengan sentuhan jari.
Kemudahan ini tentu membawa manfaat besar. Namun jika tidak diimbangi dengan pendidikan karakter, kemudahan dapat melahirkan generasi yang kurang sabar menghadapi proses, kurang tahan menghadapi kegagalan, dan mudah mengalami frustrasi ketika harapan tidak sesuai dengan kenyataan.
Padahal kehidupan tidak selalu berjalan sesuai keinginan. Kesuksesan membutuhkan proses.
Ilmu membutuhkan kesungguhan. Karakter membutuhkan latihan.
Dan kedewasaan membutuhkan pengalaman.
Karena itu, pendidikan masa depan tidak cukup hanya mengajarkan kecerdasan akademik. Pendidikan harus mampu melahirkan manusia yang sehat secara mental, matang secara emosional, kuat secara sosial, dan kokoh secara spiritual.
Dalam konteks Minangkabau, sesungguhnya para leluhur telah mewariskan sistem pembentukan mental yang sangat kuat. Surau bukan hanya tempat belajar agama, tetapi juga tempat membentuk karakter. Anak-anak belajar disiplin, kebersamaan, tanggung jawab, dan penghormatan kepada guru.
Demikian pula keluarga besar dalam sistem adat Minangkabau memberikan dukungan sosial yang sangat penting bagi pertumbuhan mental anak. Kehadiran orang tua, mamak, bundo kanduang, alim ulama, dan cadiak pandai menciptakan lingkungan yang membuat seseorang tidak merasa sendirian menghadapi kehidupan.
Falsafah:
Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah
sesungguhnya bukan hanya sistem budaya, tetapi juga sistem penguatan mental dan spiritual masyarakat.
Ketika anak kehilangan arah, agama menjadi kompas.
Ketika anak kehilangan harapan, keluarga menjadi tempat pulang.
Ketika anak menghadapi masalah, masyarakat menjadi tempat bertanya.
Ketika hati gelisah, surau menjadi tempat menenangkan jiwa.
Inilah warisan yang perlu dihidupkan kembali dalam menghadapi era digital.
Karena itu, tugas orang tua hari ini bukan sekadar menyediakan gawai yang canggih atau sekolah yang mahal. Yang lebih penting adalah menyediakan waktu untuk mendengar, membimbing, dan menemani anak-anak bertumbuh.
Tugas guru bukan hanya mengajar pelajaran, tetapi juga menjadi teladan kehidupan.
Tugas pemimpin bukan hanya membangun infrastruktur, tetapi juga membangun ketahanan moral dan kesehatan mental masyarakat.
Generasi Alfa dan Beta akan hidup di zaman yang jauh berbeda dari generasi sebelumnya. Mereka akan berhadapan dengan kecerdasan buatan, otomatisasi, dan perubahan sosial yang sangat cepat. Namun secanggih apa pun teknologi yang mereka kuasai, masa depan mereka tetap ditentukan oleh kemampuan mengelola diri, mengendalikan emosi, menjaga hubungan sosial, dan mempertahankan kedekatan dengan Allah SWT.
Sebab pada akhirnya, kemajuan teknologi dapat melahirkan manusia yang lebih pintar, tetapi hanya nilai-nilai agama, keluarga, pendidikan, dan spiritualitas yang mampu melahirkan manusia yang tetap waras.
Kita memerlukan generasi yang bukan hanya cerdas menggunakan teknologi, tetapi juga cerdas memahami kehidupan.
Bukan hanya kuat secara intelektual, tetapi juga kuat secara spiritual.
Bukan hanya mampu menciptakan kecerdasan buatan, tetapi juga mampu menjaga kejernihan hati dan kewarasan jiwa.
Karena masa depan peradaban tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, melainkan oleh kualitas manusia yang menggunakannya.
Teknologi dapat mempercepat kehidupan, tetapi iman, akhlak, dan keluarga yang akan menjaga manusia tetap waras dalam menjalani kehidupan. DS.050626.
