![]() |
Oleh: Duski Samad
Kajian Subuh Mubarakah DMI Kampung Lapai di Masjid Muttaqin Lapai
Dunia hari ini sedang menghadapi berbagai guncangan yang tidak ringan. Konflik geopolitik antarnegara, perang yang berkepanjangan, krisis energi, ketidakpastian ekonomi global, inflasi, perubahan iklim, disrupsi teknologi, hingga ancaman kecerdasan buatan terhadap lapangan pekerjaan telah melahirkan kecemasan baru dalam kehidupan manusia.
Di tingkat nasional dan lokal, masyarakat juga menghadapi persoalan yang tidak kalah berat: biaya hidup yang meningkat, pengangguran, korupsi, menurunnya kepercayaan publik, krisis moral, keretakan keluarga, kecanduan media sosial, hingga meningkatnya gangguan kesehatan mental.
Akibatnya, banyak orang hidup dalam keadaan cemas. Tidur tidak nyenyak, hati tidak tenang, pikiran dipenuhi ketakutan akan masa depan. Manusia modern semakin maju secara teknologi, tetapi tidak selalu semakin damai secara psikologis dan spiritual.
Di tengah situasi seperti ini, Islam menawarkan fondasi yang kokoh, yaitu bersandar kepada Allah SWT melalui tauhid yang benar.
Primordial Keilahian Manusia
Pada hakikatnya manusia adalah makhluk yang membawa fitrah ketuhanan. Sejak awal penciptaannya, manusia telah mengakui keesaan Allah dan menjadikan-Nya sebagai tempat kembali.
Karena itu, ketika manusia terlalu bergantung kepada kekuatan ekonomi, politik, teknologi, atau kekuasaan, ia akan mudah terguncang ketika semua itu berubah.
Pasar saham dapat jatuh. Nilai mata uang dapat melemah. Jabatan dapat berakhir. Kekuasaan dapat berpindah tangan. Teknologi dapat menjadi usang.
Tetapi Allah tetap Maha Hidup dan Maha Mengatur seluruh alam semesta.
Inilah sebabnya mengapa hati hanya akan menemukan ketenangan ketika bersandar kepada Allah.
Keselarasan Dunia dan Akhirat
Allah SWT berfirman:
«"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia." (QS. Al-Qashash: 77)»
Ayat ini memberikan panduan yang sangat relevan dalam menghadapi krisis global.
Islam tidak mengajarkan pelarian dari realitas dunia. Islam mengajarkan keterlibatan aktif dalam pembangunan ekonomi, pendidikan, politik, dan peradaban. Namun semua itu harus ditempatkan dalam kerangka pengabdian kepada Allah.
Dunia dicari, tetapi akhirat tidak dilupakan. Ekonomi dibangun, tetapi moral tetap dijaga. Teknologi dikembangkan, tetapi kemanusiaan tidak dikorbankan. Kekuasaan dipegang, tetapi amanah tidak dikhianati.
Deklarasi Tauhid Kehidupan
Allah SWT berfirman:
«"Katakanlah: Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam." (QS. Al-An'am: 162)»
Ayat ini merupakan deklarasi total seorang mukmin.
Dalam situasi apa pun, orientasi hidupnya tetap Allah.
Ketika ekonomi membaik, ia bersyukur. Ketika ekonomi sulit, ia bersabar.
Ketika dipuji, ia tidak terbang. Ketika dicela, ia tidak tumbang.
Ketika memperoleh kekuasaan, ia tetap amanah. Ketika kehilangan jabatan, ia tetap bermartabat.
Karena pusat kehidupannya bukan dunia, melainkan Allah.
Bersandar kepada Allah di Tengah Krisis Geopolitik
Perubahan geopolitik dunia sering menimbulkan ketakutan kolektif. Perang, konflik kawasan, rivalitas ekonomi, dan perebutan sumber daya global memengaruhi harga pangan, energi, dan stabilitas sosial.
Namun seorang mukmin memahami bahwa sejarah manusia berada dalam genggaman Allah.
Tauhid melahirkan optimisme. Bukan optimisme kosong, tetapi optimisme yang lahir dari keyakinan bahwa Allah adalah sebaik-baik pengatur kehidupan.
Karena itu, seorang mukmin tidak hidup dalam ketakutan yang berlebihan. Ia membaca realitas dengan akal, tetapi menghadapi masa depan dengan iman.
Bersandar kepada Allah di Tengah Krisis Mental
Salah satu penyakit terbesar abad ini adalah kecemasan.
Orang takut kehilangan pekerjaan. Takut miskin. Takut gagal. Takut tidak dihargai. Takut masa depan anak-anaknya. Takut tertinggal oleh perkembangan teknologi.
Media sosial bahkan memperbesar kecemasan itu melalui budaya perbandingan, pencitraan, dan kompetisi tanpa akhir.
Islam mengajarkan bahwa ketenangan bukan berasal dari banyaknya yang dimiliki, tetapi dari kuatnya hubungan dengan Allah.
Allah berfirman:
«"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd: 28)»
Semakin jauh manusia dari Allah, semakin mudah ia dikuasai ketakutan. Sebaliknya, semakin dekat ia kepada Allah, semakin besar ketenangan yang dirasakannya.
Bersandar, Bukan Menyerah
Bersandar kepada Allah bukan berarti pasrah tanpa usaha.
Islam mengajarkan:
- Ikhtiar yang maksimal.
- Perencanaan yang matang.
- Kerja keras yang sungguh-sungguh.
- Tawakal yang sempurna.
Para ulama tasawuf mengingatkan:
«"Gunakan sebab, tetapi jangan bergantung kepada sebab."»
Bekerjalah seakan-akan semuanya bergantung pada usaha. Berdoalah seakan-akan semuanya bergantung pada Allah. Karena hakikatnya memang demikian.
Dzikir Penguat Tawakal
Ketika kecemasan datang, hati perlu diikat dengan dzikir.
Hasbunallah wa Ni'mal Wakil
حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
"Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Dia sebaik-baik Pelindung."
Dzikir ini mengajarkan bahwa Allah adalah tempat bergantung yang paling kokoh.
La Haula wa La Quwwata Illa Billah
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ
"Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah."
Dzikir ini mengingatkan bahwa kemampuan manusia terbatas, sedangkan kekuatan Allah tidak terbatas.
Ya Hayyu Ya Qayyum
يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ
"Wahai Yang Maha Hidup dan Maha Berdiri Sendiri, dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan."
Dzikir Tauhid
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ
"Tiada Tuhan selain Allah."
Inilah inti dari seluruh kehidupan ruhani. Semakin kuat tauhid seseorang, semakin ringan beban hidup yang dirasakannya.
Doa Bersandar kepada Allah
Rasulullah SAW mengajarkan:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ، وَوَجَّهْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ
"Ya Allah, aku menyerahkan diriku kepada-Mu, menghadapkan wajahku kepada-Mu, menyerahkan seluruh urusanku kepada-Mu, dan menyandarkan punggungku kepada-Mu."
Demikian pula doa keteguhan hati:
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ
"Wahai Dzat Yang Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu."
Munajat di Tengah Kecemasan Zaman
Ya Allah, di tengah perubahan geopolitik dunia, krisis ekonomi global, persaingan teknologi, kecemasan sosial, dan berbagai ujian kehidupan, jangan Engkau biarkan hati kami bergantung kepada selain-Mu.
Teguhkan tauhid kami, kuatkan tawakal kami, lapangkan dada kami, tenangkan jiwa kami, dan jadikan Engkau satu-satunya tempat kami bersandar.
Jika dunia menjauh dari kami, jangan Engkau jauh dari kami. Jika manusia mengecewakan kami, jangan Engkau tinggalkan kami.
Cukuplah Engkau menjadi Penolong, Pelindung, Pembimbing, dan Penjaga kehidupan kami.
Rabbana, jadikanlah salat kami, ibadah kami, hidup kami, perjuangan kami, dan kematian kami hanya untuk-Mu, Rabb semesta alam. Aamiin Ya Rabbal 'Alamin.
Penutup
Dunia akan terus berubah. Geopolitik akan bergeser. Ekonomi akan naik turun. Teknologi akan terus berkembang. Krisis akan datang dan pergi.
Tetapi satu hal yang tidak berubah adalah kekuasaan Allah atas seluruh alam semesta.
Karena itu, di tengah kecemasan global, ketidakpastian ekonomi, kegelisahan sosial, dan krisis spiritual manusia modern, kita membutuhkan satu pegangan yang kokoh:
Bersandar kepada Allah.
Ketika hati bersandar kepada Allah, dunia tidak lagi menjadi sumber ketakutan, melainkan ladang pengabdian. Dari sanalah lahir ketenangan, keberanian, harapan, ketangguhan, dan kenyamanan hidup yang hakiki.Naskah ini sudah menyatu antara refleksi tauhid, analisis krisis global, pendekatan tasawuf, dzikir, doa, dan munajat sehingga cocok sebagai artikel opini keislaman untuk media, khutbah, pengajian, atau buku Investasi Peradaban pada tema Nutrisi Ruhani dan Klinik Hati.
