![]() |
Oleh: Duski Samad
Pembina Majelis Profetik Indonesia
Dakwah yang berhasil mengubah sejarah bukanlah dakwah yang hanya berbicara dari mimbar ke mimbar, melainkan dakwah yang hadir di tengah kehidupan manusia. Dakwah yang menyentuh hati, memahami budaya, membangun hubungan, dan menggerakkan perubahan. Inilah yang dapat disebut sebagai Dakwah Profetik Transformatif, yaitu dakwah yang meneladani metode para nabi dalam mengubah individu, keluarga, masyarakat, dan peradaban.
Al-Qur'an menunjukkan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari lingkaran terdekat. Rasulullah ï·º tidak memulai dakwah kepada seluruh dunia sekaligus. Orang pertama yang menerima dakwah beliau adalah istrinya, Sayyidah Khadijah r.a. Kemudian sahabat terdekatnya, Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a., dan sepupunya, Ali bin Abi Thalib r.a.
Fakta sejarah ini mengandung pelajaran penting bahwa perubahan sosial dimulai dari perubahan personal dan keluarga. Karena itu Allah berfirman:
«"Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat."
(QS. Asy-Syu'ara: 214)»
Ayat ini menjadi dasar bahwa dakwah harus dimulai dari keluarga, kerabat, sahabat, dan lingkungan terdekat. Dalam perspektif sosiologi modern, keluarga merupakan agen sosialisasi primer yang paling menentukan pembentukan nilai, keyakinan, dan karakter seseorang.
Setelah fondasi keluarga terbentuk, dakwah bergerak kepada masyarakat yang lebih luas. Rasulullah ï·º kemudian menyampaikan risalah secara terbuka kepada kaum Quraisy dan masyarakat Makkah. Beliau menghadapi berbagai penolakan, namun tetap mengedepankan kesabaran, hikmah, dan akhlak mulia.
Allah berfirman:
«"Jadilah engkau pemaaf, suruhlah orang mengerjakan yang makruf, dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh."
(QS. Al-A'raf: 199)»
Ayat ini mengajarkan bahwa dakwah bukan sekadar menyampaikan kebenaran, tetapi juga seni mengelola perbedaan dan menghadapi penolakan secara bijaksana.
Dalam perkembangan sejarah Islam, metode dakwah kemudian berkembang sesuai konteks sosial masyarakat. Jamaah Tabligh, misalnya, dikenal dengan pendekatan dakwah dari rumah ke rumah. Mereka mendatangi masyarakat secara langsung, membangun hubungan personal, mengajak kepada shalat, dzikir, dan perbaikan akhlak.
Pendekatan ini memiliki kekuatan besar karena komunikasi interpersonal merupakan bentuk komunikasi yang paling efektif dalam mengubah sikap dan perilaku seseorang. Para ahli komunikasi menyebutnya sebagai face to face communication effect, yaitu pengaruh yang muncul dari interaksi langsung antar manusia.
Di dunia modern, pendekatan yang mirip dilakukan oleh para pembaharu Islam. Salah satunya adalah Hasan al-Banna, pendiri gerakan Ikhwanul Muslimin. Ia dikenal aktif berdialog dengan masyarakat di warung kopi, kedai, pasar, dan tempat-tempat berkumpulnya rakyat.
Meskipun sering disebut sebagai pelopor gerakan Islam modern di Mesir, perlu dicatat bahwa Hasan al-Banna bukanlah tokoh Pakistan. Ia lahir dan berjuang di Mesir. Namun metode dakwahnya memberikan inspirasi bagi banyak gerakan Islam di berbagai negara.
Hasan al-Banna memahami bahwa masyarakat tidak selalu datang ke masjid atau ruang kuliah. Karena itu dakwah harus hadir di tempat masyarakat berada. Dalam perspektif sosiologi agama, ruang-ruang informal seperti kedai kopi, lapau, pasar, dan komunitas lokal merupakan arena penting pembentukan opini publik dan nilai sosial.
Jauh sebelum itu, filsuf Yunani kuno, Sokrates, telah memperlihatkan pentingnya dialog publik. Ia tidak membangun sekolah besar atau istana ilmu. Ia berdialog dengan para pedagang, pemuda, dan masyarakat di pasar-pasar Athena. Metode tanya jawab yang digunakannya melahirkan tradisi berpikir kritis yang berpengaruh hingga sekarang.
Meskipun berbeda dalam aqidah dan tujuan, pendekatan dialogis Sokrates menunjukkan bahwa perubahan pemikiran manusia sering lahir melalui percakapan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Di Minangkabau, metode dakwah yang sangat menarik dilakukan oleh Syekh Burhanuddin Ulakan. Beliau memahami karakter budaya masyarakat lokal. Dakwah tidak dilakukan dengan memusuhi adat, tetapi dengan mengislamisasikan budaya yang tidak bertentangan dengan syariat.
Berbagai riwayat lokal menyebutkan bahwa beliau ikut hadir dalam aktivitas sosial masyarakat, termasuk permainan anak nagari dan kegiatan budaya. Beliau memulai dengan "Bismillah", menyisipkan nilai tauhid, akhlak, dan pendidikan secara bertahap. Metode ini sejalan dengan prinsip Islam:
«"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah, pelajaran yang baik, dan debatlah mereka dengan cara yang terbaik." (QS. An-Nahl: 125)»
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa dakwah yang efektif bukanlah dakwah yang memutus hubungan dengan budaya masyarakat, tetapi dakwah yang mentransformasikan budaya menjadi sarana pendidikan dan penguatan iman.
Dalam kajian ilmu sosial modern, pendekatan ini dikenal sebagai cultural engagement, yaitu keterlibatan aktif dalam kehidupan budaya masyarakat untuk mendorong perubahan sosial dari dalam, bukan dari luar.
Hari ini dunia telah memasuki era digital. Cara manusia berkomunikasi berubah drastis. Jika dahulu pasar menjadi pusat interaksi, kini media sosial menjadi pasar baru. Jika dahulu lapau menjadi tempat bertukar gagasan, kini ruang digital menjadi lapau global.
Karena itu dakwah profetik tidak boleh berhenti pada metode konvensional semata. Dakwah harus mampu memanfaatkan teknologi, kecerdasan buatan, media sosial, podcast, video pendek, televisi digital, dan berbagai platform komunikasi modern.
Majelis Profetik Indonesia berupaya mengakumulasi seluruh pendekatan tersebut. Dakwah keluarga, dakwah komunitas, dakwah dialogis, dakwah kultural, dakwah pendidikan, dan dakwah digital dipadukan menjadi satu gerakan yang saling menguatkan.
Tujuannya bukan sekadar memperbanyak ceramah, tetapi melahirkan transformasi kehidupan. Dakwah harus mampu memperbaiki akhlak, memperkuat keluarga, mengurangi kemiskinan, meningkatkan literasi, memperkuat toleransi, membangun kepemimpinan yang amanah, dan menghadirkan kemaslahatan bagi umat.
Hakikat dakwah profetik adalah melanjutkan misi para nabi sebagaimana firman Allah:
«"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri."
(QS. Ar-Ra'd: 11)»
Karena itu, dakwah masa depan bukan sekadar dakwah yang terdengar, tetapi dakwah yang mengubah. Bukan sekadar dakwah yang ramai, tetapi dakwah yang memberi makna. Bukan sekadar dakwah di mimbar, tetapi dakwah yang hadir di rumah-rumah, di lapau-lapau, di pasar-pasar, di kampus-kampus, di kantor-kantor, dan di ruang digital.
Inilah hakikat Dakwah Profetik Transformatif: menghadirkan nilai-nilai kenabian untuk membangun manusia, masyarakat, dan peradaban yang beriman, berilmu, berakhlak, dan berkemajuan.ds. 09062026
