![]() |
| Gobah Syekh Angku Tuo, Khalifah Syekh Abdurrahman Bintungan Tinggi di Batu Mengaum, Nagari Kuranji Hulu, Kecamatan Sungai Geringging. |
MU-ONLINE, Padang Pariaman, Syekh Angku Tuo Batu Mengaum adalah salah satu ulama besar dan penyebar Islam di wilayah Sungai Geringging, Padang Pariaman, Sumatera Barat. Beliau dikenal sebagai salah satu khalifah (penerus/murid utama) dari Syekh Bintungan Tinggi (Syekh Abdurrahman), yang silsilah keilmuannya bermuara pada Syekh Burhanuddin Ulakan, pelopor Tarekat Syattariyah di Minangkabau.
Silsilah Keilmuan dan Hubungan dengan Syekh Bintungan Tinggi
Sebagai seorang khalifah, Syekh Angku Tuo memegang peranan penting dalam menyebarkan jaringan tarekat dan pendidikan Islam tradisional di Padang Pariaman.
Jaringan Syattariyah: Ilmu agama dan ijazah tarekat yang diperoleh Syekh Angku Tuo berasal langsung dari Syekh Bintungan Tinggi. Syekh Bintungan Tinggi sendiri merupakan ulama kharismatik yang memiliki pengaruh luas, sehingga para khalifahnya—termasuk Syekh Angku Tuo—diberi mandat untuk membuka wilayah dakwah baru.
Penyebaran ke Pedalaman: Setelah menyelesaikan pendidikan agamanya di Bintungan Tinggi, Syekh Angku Tuo bergerak menuju wilayah utara Padang Pariaman, tepatnya ke kawasan Sungai Geringging, untuk mengembangkan ajaran Islam dan membangun basis komunitas muslim di sana.
Peran Dakwah di Sungai Geringging
Di tempat rintisannya yang baru, Syekh Angku Tuo mendirikan pusat penyiaran agama yang berpusat pada sistem surau.
Pusat Pendidikan (Surau): Beliau mendirikan surau sebagai tempat mengaji, belajar kitab kuning, dan mengamalkan zikir-zikir Tarekat Syattariyah. Surau ini menjadi magnet bagi para penuntut ilmu dari berbagai pelosok nagari di sekitar Sungai Geringging.
Pendekatan Kultural: Seperti guru-gurunya, Syekh Angku Tuo berdakwah dengan pendekatan yang santun dan membaur dengan adat masyarakat setempat (Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah), sehingga ajaran Islam dengan cepat diterima dengan baik oleh anak nagari.
Situs Makam dan Tradisi Ziarah "Batu Mengaum"
Nama "Batu Mengaum" kini melekat erat dengan identitas kewalian beliau dan menjadi nama lokasi tempat makamnya berada di Kecamatan Sungai Geringging.
Makam Keramat: Makam Syekh Angku Tuo Batu Mengaum dirawat dengan baik oleh ahli waris dan masyarakat setempat sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasa spiritual beliau.
Tradisi Ziarah (Basapa): Makam beliau menjadi salah satu destinasi ziarah penting bagi jemaah Tarekat Syattariyah di Minangkabau. Selain berziarah ke Makam Syekh Burhanuddin di Ulakan dan Makam Syekh Bintungan Tinggi, para jemaah atau peziarah lokal sering kali melanjutkan rangkaian ziarah mereka ke Makam Syekh Angku Tuo di Sungai Geringging untuk berdoa, berzikir, dan mengenang keteladanan hidup beliau.
Hingga saat ini, warisan spiritual dan kultural yang ditinggalkan oleh Syekh Angku Tuo Batu Mengaum tetap hidup dan menjadi bagian dari identitas keagamaan yang kuat bagi masyarakat Sungai Geringging.
Informasi sejarah tertulis yang mencatat secara spesifik mengenai tahun lahir dan tahun wafat Syekh Angku Tuo Batu Mengaum, Sungai Geringging (Kabupaten Padang Pariaman) sangat terbatas dan belum terdokumentasi dalam literatur sejarah digital publik secara rinci.
Namun, berdasarkan catatan sejarah lokal dan silsilah ulama-ulama tarekat di Minangkabau, berikut adalah konteks sejarah mengenai keberadaan beliau: Identitas dan Lokasi: Beliau merupakan salah satu ulama lokal terpandang di wilayah Korong Batu Mengaum, Nagari Kuranji Hulu, Kecamatan Sungai Geringging, Padang Pariaman.
Afiliasi Tarekat: Masyarakat di wilayah Batu Mengaum dan Sungai Geringging secara turun-temurun dikenal sebagai basis penganut Tarekat Syattariyah. Jamaah dari daerah ini memiliki tradisi kuat yang merujuk pada poros silsilah keilmuan Islam di Nusantara, salah satunya dengan rutin mengadakan tradisi ziarah ke makam Syekh Abdul Rauf as-Singkili di Aceh.
Oleh karena itu, penentuan angka tahun pasti (Masehi maupun Hijriah) mengenai masa hidup beliau umumnya dijaga melalui catatan silsilah internal (ijazah tarekat) lisan atau manuskrip kuno yang disimpan oleh ahli waris atau para khalifah (penerus) tarekat di surau beliau.
Kisah Syekh Angku Tuo Batu Mengaum sangat erat kaitannya dengan sejarah dan legenda penamaan wilayah di Korong Batu Mengaum, Nagari Kuranji Hulu, Kecamatan Sungai Geringging, Kabupaten Padang Pariaman.
Menurut cerita rakyat setempat, nama "Batu Mengaum" berasal dari sebuah batu besar di daerah tersebut yang konon sering mengeluarkan suara bergemuruh atau mengaum. Suara tersebut diyakini oleh masyarakat sebagai suara gaib atau karomah yang terpancar dari keberadaan dan ketokohan seorang ulama besar penyebar agama Islam yang menetap serta mengajarkan ilmu agama di sana.
Sosok ulama yang dikenal sebagai Syekh Angku Tuo Batu Mengaum ini adalah salah satu figur sufi yang dihormati. Hingga saat ini, jejak peninggalan dan makam beliau menjadi salah satu pusat sejarah dan wisata religi.
Di kawasan Batu Mengaum terdapat Surau Ungku Sidi Batu Mengaum, tempat di mana nilai-nilai Islam dahulunya disebarkan dan diajarkan. Kisah ini juga memperkaya sejarah lokal Kecamatan Sungai Geringging—yang secara etimologis berawal dari nama tanaman pohon geringging—dan menjadikannya salah satu titik penting penyebaran syiar Islam di pedalaman wilayah Padang Pariaman.
Nama Syekh Angku Tuo
Syekh Angku Tuo adalah nama yang sangat masyhur di tengah masyarakat sejak dulunya. Saking masyhurnya nama itu, oleh masyarakat pun dibuat jelas-jelas di gerbang masuk ke Surau Angku Tuo itu. Ditulis dengan jelas "Surau Angku Tuo, Khalifah Syekh Bintungan Tinggi".
Kini, surau itu dipimpin oleh Azwar Tuanku mudo. Sejak 1990, setelah ayahnya, Nurdin Tuanku Sidi wafat, maka kelanjutan wirid pengajian diteruskan oleh Azwar Tuanku Mudo ini. Saat Syekh Angku Tuo wafat 1955, Azwar Tuanku Mudo berusia tujuh tahun.
Tapi, banyaknya jemaah yang ikut wirid dengan beliau Syekh Angku Tuo, sering diintip oleh Azwar Tuanku Mudo. "Ada dua kali wirid dalam sepekan. Pertama wirid Kamis siang menjelang Zuhur. Ini pesertanya umumnya banyak dari kalangan yang tua-tua dan para alim ulama. Lalu Sabtu juga wirid, tapi pesertanya lebih banyak dari hari Kamis. Tetap siang menjelang Zuhur. Ini disebut wirid umum, karena banyak pengikutnya dari campuran, yang tua-tua dan yang muda-muda," katanya.
Wirid pengajian umum dan wirid pengajian Tarekat Syattariyah, tak pernah dilakukan malam hari oleh beliau Syekh Angku Tuo. Kabarnya, sejak awal beliau di kampung, sepulang mengaji dari Bintungan Tinggi, selalu wirid di siang hari.
Syekh Angku Tuo, nama aslinya adalah Muhammad Zakir, gelar Tuanku Saliah, tapi masyhur Tuanku Tuo. Termasuk gelar Tuanku Saliah yang diberikan Syekh Bintungan Tinggi, tak dikenal masyarakat. Nama Muhammad Zakir itu diberikan oleh ayahnya, Sata, Suku Piliang, seorang "Pangulu Mukim" di Sungai Lawai, Sungai Geringging. Pangulu Mukim adalah urang siak yang banyak mengurus masjid dan menyelenggarakan Fardu Kifayah orang meninggal.
Saat lahir 1850, Syekh Angku Tuo ini hidup di lingkungan urang siak. Maka pendidikan pertama Syekh Angku Tuo langsung dengan ayahnya. Setelah remaja, beliau lama mengaji di Bintungan Tinggi yang zaman itu Syekh Abdurrahman Bintungan Tinggi sedang punya nama besar dan ulama hebat. Dari mendengar nama Syekh Bintungan Tinggi ini, Syekh Angku Tuo berjalan kaki saja ke Nan Sabaris itu dari Sungai Geringging ini.
Beliau pernah pula mengaji di tempat lain, selain di Bintungan Tinggi. Tapi, di Bintungan Tinggi beliau lebih lama. Bahkan, sudah tinggal di kampung, menghidupkan wirid pengajian, tetap saja berulang ke Bintungan Tinggi. Sepertinya, beliau dapat tempat tersendiri di Bintungan Tinggi ini. Maka, sanad keilmuan beliau langsung disebutnya Syekh Abdurrahman Bintungan Tinggi.
Tersebut sebagai Khalifah Syekh Abdurrahman Bintungan Tinggi itu pun diakui oleh Bintungan Tinggi. Tak pernah ada bantahan atau sanggahan dari pihak Bintungan Tinggi, ketika masyarakat menetapkan beliau Syekh Angku Tuo sebagai Khalifah Syekh Abdurrahman Bintungan Tinggi. Beliau mengaji dengan Syekh Abdurrahman Bintungan Tinggi itu sampai selesai.
Sampai Syekh Abdurrahman berpindah alam, baru beliau Syekh Angku Tuo jarang berulang ke Bintungan Tinggi itu.
Beliau wafat 1955 dalam usia yang cukup sepuh, mencapai 105 tahun. Azwar Tuanku Mudo menyebutkan, bahwa tahun lahir beliau Syekh Angku Tuo itu ada banyak perbedaan. Namun, riwayat tahun lahir yang disebutkan tadi, diwarisi oleh Azwar Tuanku Mudo dari ayahnya, Nurdin Tuanku Sidi yang tahun 1955 itu awal menjabat Khalifah Syekh Angku Tuo Batu Mengaum, Nagari Kuranji Hulu.
Beliau Syekh Angku Tuo wafat, meninggalkan dua orang istri dan lima orang anak. Anaknya, Syamsuddin, Jarum, Jawari, Janiar, dan Sawiyar. Janiar adalah ibu kandung dari Azwar Tuanku Mudo.
Referensi:
1. Diolah dari Wikipedia
2. Wawancara dengan Azwar Tuanku Mudo, Selasa 9 Juni 2026 di Ajuang, Sungai Sirah Kuranji Hulu, Kecamatan Sungai Geringging. Azwar Tuanku Mudo lahir 1948. Selain mengaji dengan ayahnya, Nurdin Tuanku Sidi di Surau Syekh Angku Tuo, Azwar Tuanku Mudo juga lama mengaji dengan Syekh Dawamad Ungku Panjang Ujuang Gunuang. Sejak 1990, Azwar Tuanku Mudo jadi Khalifah Syekh Angku Tuo hingga sekarang.
