![]() |
| Komplek makam Syekh Mato Aie. Di komplek ini pula Buya Ungku Andah Pakandangan dimakamkan. |
MU-ONLINE, Padang Pariaman, -- Ungku Andah Pakandangan (juga dikenal sebagai Buya Anku Andah atau Buya Andah) adalah seorang ulama, buya, dan tokoh intelektual Islam tradisional dari Pakandangan, Padang Pariaman, Sumatera Barat. Ia dikenal luas sebagai salah satu penyusun dan penjaga silsilah keilmuan Tarekat Syattariyah di Minangkabau.
Peran dan Kontribusi Utama
Penyusun Silsilah Tarekat Syattariyah: Bersama ulama terkemuka lainnya, seperti Syekh Mato Aia Pakandangan, Ungku Andah berkontribusi penting dalam menulis dokumen silsilah Tarekat Syattariyah. Catatan ini menjadi rujukan validasi sanad keilmuan Islam tradisional yang bersumber dari Syekh Burhanuddin Ulakan hingga Syekh Abdurrahman Lubuk Ipuh.
Pelestari Manuskrip Islam: Dokumen silsilah dan catatan keagamaan yang ditulis serta dirawat oleh Ungku Andah kini menjadi bagian dari koleksi penting naskah kuno Minangkabau. Manuskrip-manuskrip ini sebagian besar tersimpan dengan baik di wilayah skriptorium Padang Pariaman, seperti di kawasan Surau Syekh Ismail Kiambang.
Tokoh Pendidikan Tradisional: Sebagai seorang "Buya" atau "Ungku", ia mendedikasikan hidupnya untuk mengajar ilmu syariat, tarekat, serta gramatika bahasa Arab (nahwu sharaf) di lingkungan surau sekitar Pakandangan, yang dahulunya menjadi kiblat pendidikan bagi banyak ulama besar Minangkabau.
Awaluddin Datuak Pamuncak Majolelo dan Awaluddin Tuanku Mudo Mato Aie, Rabu 3 Juni 2026 menyebutkan, Buya Ungku Andah nama aslinya tertulis Tk. Handar. Ungku Andah masyhur beliau di tengah masyarakat.
Hebatnya, Buya Ungku Andah ini segala baju termuat dan terpakai sama beliau. Tak ada istilah baju yang lapang atau baju yang sempit bagi beliau. Ungku Andah ini sejak awal hanya mengaji dengan beliau Syekh Mato Aie, yakni Muhammad Aminullah bin Abdullah yang populer dengan Syekh Haji Mato Aie (1789-1926).
Buya Ungku Andah lahir 1893 M di Jambak Pakandangan. Mengaji di Surau Mato Aie, banyak orang menyebutkan kalau Buya Ungku Andah ini sering diangkut oleh Syekh Mato Aie dulunya. Buya Ungku Andah sempat dan lama mengajar di Kamumuan Sungai Limau. Tercatat, dari 1925-1950, Buya Ungku Andah ini ulama yang digemari anak siak. Masa itu, Kamumuan punya peradaban tersendiri, punya banyak anak siak yang mengaji dengan Buya Ungku Andah ini.
Wafat 1978, Buya Ungku Andah ini meninggal dunia dalam usia 85 tahun. Selepas memimpin Kamumuan, Buya Ungku Andah ini menghabiskan waktunya di Surau Jambak Pakandangan. Sampai akhir hayatnya di situ, beliau di makamkan di komplek makam Syekh Mato Aie di Sarang Gagak, Pakandangan, tak jauh dari Surau Jambak tempat beliau menyebarkan ilmu pengetahuan agama, dengan syariat, tarekat, hakikat dan makrifat.
Di kalangan ulama Padang Pariaman, Buya Ungku Andah ini terkenal sebagai ulama keramat. Punya keistimewaan yang tak lazim dilakukan kebanyakan orang. "Sering beliau Ungku Andah ini dijemput oleh orang siak lain untuk ikut maulid dengan sepeda dayung, beliau selalu tidak mau. Hebatnya, di tempat maulid beliau duluan tibanya dari kawan beliau yang meminta membonceng tadi," kisah yang diterima Awaluddin Datuak Pamuncak Majolelo.
Suatu kali dan malah sering Sungai Batang Ulakan ini membesar, terutama di musim hujan. Orang banyak pada takut menyeberang. Tapi beliau Ungku Andah ini santai saja menyeberang. Meski air sungai itu besar di malam hari, kalau beliau ke seberang, tetap saja dilakukannya.
Keluarga
Sayang, pelanjut trah Syekh Mato Aie, Awaluddin Datuak Pamuncak Majolelo dan Awaluddin Tuanku Mudo Mato Aie tak tahu banyak keluarga beliau Ungku Andah ini. "Yang kami ketahui, Buya Haji Zubir Tuanku Kuniang adalah menantunya. Istri pertama Buya Zubir Tuanku Kuniang ini adalah anak kandung Buya Ungku Andah," katanya.
Ceritanya, beliau Ungku Andah menerima dan meminang Buya Zubir Tuanku Kuniang yang sedang mengaji di Tapakih dengan Syekh Musa Tapakih. Umi Baidah. Itu nama anak beliau, istri pertama Buya Zubir Tuanku Kuniang ini.
Informasi mengenai nama spesifik ayah dan ibu kandung dari Buya Ungku Andah Pakandangan sangat terbatas dalam catatan sejarah publik maupun dokumen digital akademis yang saat ini tersedia. Dalam catatan transmisi keilmuan Islam di Minangkabau, nama beliau umumnya ditulis sebagai Buya Anku Andah (atau Ungku Andah) yang bersanding dengan tokoh ulama besar lainnya seperti Buya Mato Aia Pakandangan. Nama beliau tercatat resmi di dalam dokumen penting seperti naskah silsilah Tarekat Syattariyah.
Jaringan Transmisi Keilmuan
Buya Ungku Andah merupakan tokoh ulama sentral dalam perkembangan Tarekat Syattariyah di Padang Pariaman. Beliau bertindak sebagai salah satu penyusun sekaligus simpul rantai silsilah (sanad) keilmuan yang menghubungkan ajaran para ulama terdahulu hingga ke generasi setelahnya di kawasan Pakandangan dan sekitarnya.
Hubungan Kekerabatan (Zuriat)
Meskipun nama kedua orang tuanya tidak terdokumentasi secara luas di literatur umum, jejak keturunan beliau masih terjaga dengan baik secara lisan dan kultural oleh pihak keluarga.
Basapa
Tradisi Basapa (bersafar) merupakan ritual ziarah massal khas jamaah Tarekat Syattariyah di Padang Pariaman yang dilaksanakan setiap bulan Safar dalam kalender Hijriah. Meskipun pusat utama tradisi Basapa berada di Makam Syekh Burhanuddin di Ulakan, rangkaian ziarah ini juga mencakup Makam Syekh Mato Aie di Pakandangan, Kecamatan Enam Lingkung. Syekh Mato Aie (Muhammad Aminullah) merupakan salah satu pilar utama (kiblat) pencetak ulama-ulama besar Minangkabau.
Rangkaian Kegiatan Basapa di Pakandangan Ziarah Silsilah Keilmuan: Para peziarah mendatangi makam ini untuk mendoakan dan mengenang jasa Syekh Mato Aie sebagai bagian dari jaringan ulama Tarekat Syattariyah.
Membaca Dzikir dan Berdoa: Jamaah berkumpul di area komplek makam untuk melafalkan wirid, dzikir tarekat, serta membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an secara khusyuk.
Silaturahmi Antar-Surau: Momen ini mempertemukan berbagai kelompok jamaah surau dari wilayah Darek (pedalaman) maupun Pasisia (pesisir).
Wisata Religi dan Sejarah: Selain beribadah, para peziarah juga mempelajari jejak sejarah Surau Mato Aie yang dahulunya menjadi pusat pendidikan Islam ternama.
Kamis pertama bulan Syafar itu Basapa di komplek makam Syekh Mato Aie. Pada umumnya, jaringan Syekh Mato Aie dan Buya Ungku Andah datang berziarah ke Sarang Gagak ini.
Adalagi menyongsong, yakni saat perpisahan Syafar dengan Rabiul Awal. Ini adalah kegiatan badikie di komplek makam Syekh Mato Aie yang melibatkan orang kampung.
Referensi:
1. Wikipedia
2. Mereka yang Terlupakan Tuanku Menggugat, 2008
3. Wawancara dengan Awaluddin Datuak Pamuncak Majolelo dan Awaluddin Tuanku Mudo Mato Aie, Rabu 3 Juni 2026 di komplek makam Syekh Mato Aie
