![]() |
| H. Basyaruddin Tuanku Basa |
Padang Pariaman, -- H. Basyaruddin Tuanku Basa, adalah anak siak yang ditunjuk dan ditugaskan oleh Syekh Dawamad Ungku Panjang memimpin Surau Ujuang Kubu, yang nama formalnya Perguruan Islam Dinul Ma'ruf, saat Ungku Panjang hendak ke ke Mekkah, menunaikan rukun Islam kelima tahun 1968. Kenapa Basyaruddin Tuanku Basa yang diberikan estafet oleh Ungku Panjang? Padahal, Jurir Tuanku Sidi menjabat Wakil Kepala Perguruan Islam Dinul Ma'ruf saat itu? Begitu juga, anak siak senior juga banyak? Di sini kisah keramat Ungku Panjang itu dilihat oleh anak siaknya sendiri.
Anak Siak Cerdas
Basyaruddin bin Muhammad Sjarif. Begitu nama yang jelas tertulis di Ijazah Basyaruddin. Ijazah yang ditandatangani Ungku Panjang sebagai Kepala Perguruan Islam Dinul Ma'ruf dan Jurir Tuanku Sidi, Wakil Kepala Perguruan Islam Dinul Ma'ruf. Ijazah tanda tamat itu diterimanya tahun 1948. Sementara, Basyaruddin lahir di Kampung Guci, Lubuk Pandan tahun 1930. Artinya, di usia 18 tahun, Basyaruddin diberi gelar Tuanku Basa oleh gurunya, Ungku Panjang.
Kondisi pendidikan di Perguruan Islam Dinul Ma'ruf, Surau Ujuang Gunuang, Sungai Durian, Padang Pariaman) pada tahun 1969 merupakan era keemasan pendidikan Islam tradisional (halaqah) berbasis tarekat di bawah asuhan langsung ulama kharismatik, Ungku Saliah (Syekh Kiramatullah).
Pada tahun 1969—lima tahun sebelum wafatnya Ungku Saliah pada tahun 1974—surau dan perguruan tersebut menjadi salah satu pusat spiritual dan pendidikan Islam paling berpengaruh di wilayah Padang Pariaman.
Sistem dan Metode Pembelajaran
Metode Halaqah tradisional: Sistem pendidikan belum beralih sepenuhnya ke klasikal (sekolah modern dengan meja/papan tulis), melainkan menggunakan sistem halaqah. Para santri duduk melingkari Ungku Saliah untuk mendengarkan pembacaan, penjabaran, dan penafsiran kitab.
Fokus Kurikulum: Materi utama berkisar pada ilmu-ilmu dasar Islam, seperti Fikih (mazhab Syafi'i), Tauhid (Asy'ariyah), Nahu, Saraf, dan pendalaman kitab-kitab kuning lainnya.
Pusat Pengembangan Tarekat Syattariyah
Sebagai seorang mursyid atau pemimpin spiritual, Ungku Saliah menjadikan Surau Ujuang Gunuang sebagai pusat Tarekat Syattariyah. Pendidikan di tahun 1969 tidak hanya berfokus pada kecerdasan intelektual hukum Islam (eksoteris), melainkan juga pada bimbingan spiritual (ezoteris) seperti praktik zikir, tasawuf, dan suluk.
Kehadiran dan Mobilisasi Santri
Daya Tarik Ulama: Karena reputasi keilmuan dan karamah Ungku Saliah yang sangat dihormati masyarakat, surau ini ramai dikunjungi santri dari berbagai pelosok Padang Pariaman dan wilayah Minangkabau lainnya.
Sistem Merantau (manggaleh dan mengaji): Pemuda-pemuda setempat dan wilayah tetangga menjadikan surau ini tempat tinggal utama. Sesuai tradisi Minangkabau, mereka belajar agama di surau pada malam hari dan membantu ekonomi atau bertani pada siang hari.
Lingkungan dan Sarana Prasarana
Kondisi fasilitas pendidikan saat itu sangat sederhana dengan arsitektur kayu khas surau Minangkabau. Surau berfungsi ganda sebagai tempat ibadah, tempat belajar, sekaligus asrama tempat menginap bagi para santri pria (anak nagari). Surau ini juga menjadi pusat sosial masyarakat. Di tengah ketidakstabilan politik paska-1965 di Indonesia, surau menjadi ruang aman bagi masyarakat untuk meminta nasihat hidup, pengobatan alternatif, serta berkonsultasi kepada Ungku Saliah.
Pada tahun 1968, Pondok Pesantren / Perguruan Islam Dinul Ma'ruf yang terletak di Sungai Durian, Patamuan, Padang Pariaman, Sumatra Barat mengalami momen transisi sejarah yang sangat penting. Tahun 1968 merupakan tahun wafatnya sang pendiri, yaitu Syekh Dawamad Ungku Panjang (1886–1968). Kepergian beliau ke Mekkah pada periode tersebut tercatat sebagai perjalanan ibadah sekaligus akhir dari masa khidmat panjang beliau dalam memimpin pesantren secara langsung.
Fase Transisi Kepemimpinan
Wafatnya Sang Pendiri: Syekh Dawamad Ungku Panjang wafat pada tahun 1968. Keberangkatan atau keberadaan beliau di tanah suci Mekkah menandai akhir dari era kepemimpinan generasi pertama yang telah merintis surau tua dan lembaga tersebut sejak awal abad ke-20.
Estafet ke Generasi Penerus: Sepeninggalan Ungku Panjang, pengelolaan lembaga pendidikan berbasis salafiyah/tradisional ini dilanjutkan oleh para kader, murid, dan keluarga (khususnya para Tuanku Mudo dan ulama lokal di Sungai Durian) untuk menjaga agar aktivitas pengajian kitab kuning tidak terputus.
Kondisi Sistem Pendidikan dan Kurikulum
Berbasis Salafiyah Tradisional: Pada masa itu, Dinul Ma'ruf beroperasi murni sebagai lembaga pendidikan Islam tradisional (Salafiyah) dengan format Surau yang berukuran cukup besar. Fokus Pengajaran: Pembelajaran berpusat pada penguasaan kitab-kitab standar (kitab kuning), hukum fikh madzhab Syafi'i, ilmu alat (Nahwu-Sharaf), dan akidah Asy'ariyah yang menjadi ciri khas silsilah keilmuan ulama-ulama besar Padang Pariaman.
Dampak Terhadap Keberlangsungan Lembaga
Meskipun kehilangan figur sentralnya yang kharismatik pada tahun 1968, fondasi yang dibangun oleh Syekh Dawamad Ungku Panjang terbukti kokoh. Perguruan Islam Dinul Ma'ruf tetap bertahan melewati dekade-dekade berikutnya dan berkembang menjadi salah satu pondok pesantren resmi yang terdaftar di Kementerian Agama hingga saat ini.
Ungku Shaliah dan Ungku Panjang, merupakan dua ulama hebat dan terkenal keramat. Mereka berdua seangkatan. Ungku Shaliah sering bersua di banyak tempat, sedangkan Ungku Panjang tersebut sebagai ahli bela diri, jago silek. Di saat Ungku Panjang ke Mekkah, Ungku Shaliah ikut berkontribusi luar biasa di Surau Ujuang Kubu ini.
Persoalan kajian kitab, itu dipimpin Basyaruddin Tuanku Basa dan Jurir Tuanku Sidi. Sementara, kaji Tarekat Syattariyah dengan Ungku Shaliah. Ungku Shaliah tersebut, dulu itu pernah menanam sebatang kayu di tepi Sungai Batang Katiak, yang mengalir di depan Surau Ujuang Kubu. Kayu itu masih ada sampai sekarang. Setelah kayu itu ditanam, Surau Ujuang Kubu tak pernah kena banjir, luapan sungai ini.
Kiprah di Surau Ujuang Kubu, H. Basyaruddin Tuanku Basa memegang peran sentral sebagai pusat rujukan keilmuan Islam, khususnya dalam paham Ahlussunnah wal Jama'ah (Aswaja) dengan mazhab Syafi'i. Terutama setelah tahun 1968 hingga 2001. Beliau ditunjuk langsung oleh Ungku Panjang, Khalifah Ungku Panjang ia pula.
Sepertinya, Ungku Panjang melihat lahir dan batin, bahwa Basyaruddin Tuanku Basa adalah anak siak yang cerdas, sejak usia kecil mengaji di Ujuang Kubu. Alim ia pula, ibadahnya banyak. Beliau konsisten mempertahankan sistem pendidikan surau (halaqah), di mana para santri atau anak siak duduk melingkar mendengarkan pembacaan, penjabaran, dan bedah kitab-kitab klasik Arab (kitab kuning) meliputi bidang Fikih, Ushul Fikih, Tauhid, Tafsir, hingga Tasawuf.
Istiqamah
Basyaruddin Tuanku Basa tersebut pula sebagai ulama yang istiqamah. Ilmunya tidak sekedar diajarkan ke murid dan jemaah, tapi beliau sendiri istiqamah mengamalkan ilmu. Proses awal sampai selesai shalat, itu memakan waktu yang cukup panjang. Berwudhu lama, bacaan ayat dalam shalat, jelas makrajul hurufnya. Terus zikir setelah shalat panjang dan lama.
Demikian itu, tak sekali dua. Berketerusan. Setiap mengerjakan shalat wajib dan sunat. Ilmu bagi Basyaruddin Tuanku Basa, bukan sekedar kewajiban, melainkan beliau menjadikan ilmu sebagai pakaian sehari-hari.
Keluarga
Basyaruddin Tuanku Basa wafat, Rabu 16 Mei 2001, bersamaan dengan 21 Syafar 1422 H. Beliau dimakamkan di komplek Perguruan Islam Dinul Ma'ruf Surau Ujuang Kubu, Sungai Durian. Meninggalkan tiga orang istri. Istrinya ada di Pakandangan, Kurai Taji dan di Sungai Durian itu sendiri. Sekaligus meninggalkan anak siak yang banyak. (AD)
Referensi:
1. Wawancara dan diskusi dengan Januarlis Tuanku Sidi, Sudirman Tuanku Imam, Bakhtiar Tuanku Mudo, Kamis 18 Juni 2026 di Surau Ujuang Kubu. Ketiga tuanku ini adalah alumni Perguruan Islam Dinul Ma'ruf. Wawancara langsung dan lewat telpon. Januarlis Tuanku Sidi juga pegawai PPPK, mengajar di SDN Sungai Durian. Sedangkan Sudirman Tuanku Imam kini aktif di kampungnya, Kecamatan IV Koto Aur Malintang, dan sedang maju menjadi calon Walinagari Balai Baiak Malai III Koto periode 2026-2034. Bakhtiar Tuanku Mudo aktif di kampungnya di Limau Puruik. Saat Khalifah Surau Ujuang Kubu ke Mekkah, Bakhtiar Tuanku Mudo ini yang menjalankan proses belajar mengajar di Dinul Ma'ruf.
2. [https://id.wikipedia.org](https://id.wikipedia.org/wiki/Ungku_Saliah)
3. [https://validnews.id](https://validnews.id/kultura/berkah-dan-karomah-ungku-saliah)
