![]() |
| Komplek makam Aminullah Syekh Balinduang di Sibaruas, Nagari Pilubang, Kecamatan Sungai Limau. |
MU-ONLINE, Padang Pariaman, -- Aminullah yang berasal dari Marunggi, Kurai Taji ini adalah anak siak yang mengaji dengan Syekh Burhanuddin (1646-1704 M) di Surau Gadang Tanjung Medan. Aminullah yang mashur sebagai Syekh Balinduang ini merupakan utusan Syekh Burhanuddin, menyebarkan kebaikan, mengajak masyarakat ke jalan yang benar di Pilubang Sungai Limau.
Aminullah ini dari kecil mengaji di Surau Gadang Tanjung Medan, Ulakan. Disuruh mengajar ke Pilubang oleh Syekh Burhanuddin, lantaran adanya permintaan niniak mamak dan tokoh masyarakat Pilubang ke Syekh Burhanuddin.
Nagari Pilubang, Kecamatan Sungai Limau, Kabupaten Padang Pariaman, Provinsi Sumatera Barat, merupakan nagari yang lumayan luas. Wilayah ini terbentang dari Selatan hingga ke Utara. Sebagian wilayahnya berada di pinggir pantai Samudera Hindia. Sebagian lagi di daratan yang terdapat lahan pertanian dan perkebunan rakyat.
Di Pilubang yang berkuasa itu adalah niniak mamak penghulu nan gadang basa batuah. Niniak mamak tersebut berhimpun dalam delapan penghulu yang menjadi pemimpin di dalam Nagari Pilubang. Delapan penghulu itu sesuai pula dengan pembagian Nagari Pilubang ke kampung-kampung yang ada. Pertama, Padang Galo dengan penghulunya Datuak Basa yang bersuku Caniago.
Kedua, Pinjauan dengan penghulunya Datuak Rajo Bijayo bersuku Sikumbang. Ketiga, Durian Daun, penghulunya, Datuk Bandaro Kuniang dari suku Koto. Keempat, Sibaruas dengan penghulunya, Datuak Marajo Sati bersuku Mandahiliang. Kelima, Sungai Sirah dengan penghulunya, Datuak Marajo Lelo bersuku Tanjung. Keenam, Lembak Pasang dengan penghulunya Datuak Rangkayo Hitam bersuku Mandahiliang. Ketujuh, Kampung Jua dengan penghulunya, Datuak Mudo bersuku Caniago. Kedelapan, Pasir Baru dengan niniak mamaknya, Datuak Maruhun bersuku Sikumbang. Delapan penghulu inilah yang menjadi pemuka masyarakat di Nagari Pilubang.
Aminullah diperkirakan lahir 1666, wafat 1754, berusia 86 tahun. Wafat setelah 50 tahun Syekh Burhanuddin wafat.
Oleh niniak mamak dan tokoh masyarakat Pilubang, Aminullah diberikan tanah seluas 80X80 meter, untuk dijadikan bangunan surau sebagai tempat mendidik anak-anak dan masyarakat. Tanah itu terletak di Sibaruas, Nagari Pilubang.
Syekh Balinduang
Lama kelamaan tinggal di surau yang dibangunnya bersama pemuka masyarakat, Aminullah pun diangkat jadi Tuanku Kadhi. Kabarnya, Syekh Burhanuddin sendiri yang menobatkan Aminullah ini jadi Tuanku Kadhi Pilubang. Pengukuhan Kadhi Pilubang ini bersamaan dengan Tuanku Kadhi VII Koto, Lubuk Ipuah dan Kadhi Nagari Ulakan.
Tak hanya mengajar anak-anak kampung Pilubang pandai mengaji, Aminullah ini juga aktif mengajar masyarakat, orang tua anak, serta punya anak yang tinggal bersamanya di surau itu. Bahkan, masyarakat menjadikan Aminullah sebagai tempat "berlindung" dari berbagai masalah dan persoalan hidup dan kehidupan.
Masyarakat mau ke sawah, datang dulu ke Aminullah ini, bertanya kapan hari baik untuk bisa turun ke sawah. Begitu juga, ketika ada yang sakit, sering keluarganya minta tolong dan minta perlindungan ke beliau Aminullah ini. Lama kelamaan, nama Aminullah ini mulai hilang. Masyarakat lebih sering menyebut Syekh Balinduang.
Lengkap dan komprehensif pengajian yang digelar di surau yang kelak berubah nama menjadi Pondok Pesantren Syekh Balinduang itu. Ada dan banyak anak-anak kampung yang mengaji dasar Quran di situ, masyarakat yang tua-tua pun mengulang mingguan di suraunya itu. Kajian syariat, tarekat, hakikat dan makrifat.
Di samping tafakkuh fiddin di surau, Syekh Balinduang ini juga seorang Tuanku Kadhi di tengah masyarakat Pilubang. Artinya, persoalan nikah kawin masyarakat, bermula dari Tuanku Kadhi ini. Setiap ada peristiwa pernikahan anak nagari, dilaporkan ke Tuanku Kadhi.
Syekh Balinduang seringkali menjadi tempat orang banyak meminta obat, terutama orang yang sedang ditimpa penyakit atau demam. Dulu, sebagaimana biasanya para ulama yang alim dan banyak paham agama Islam, dianggap memiliki kemampuan menyembuhkan penyakit setelah diberikan sesuatu ramuan, doa, benda atau nasihat saja.
Suatu kali datang seseorang ke tempat tinggal Syekh Balinduang, meminta obat untuk penyembuhan demam yang dideritanya. Ternyata sesampai di rumah Syekh Balinduang, Syekh Balinduang sendiri tengah berada di seberang sungai yang hanya beberapa puluh meter dari rumahnya. Kala itu air sungai lagi meluap, sehingga Syekh Balinduang tidak bisa langsung pulang. Setelah disampaikan dari seberang sungai maksud kedatangan menemui Syekh Balinduang hanya meminta obat, maka dari seberang sungai Syekh Balinduang hanya bersorak dari seberang, “Sudah obatnya, pulanglah lagi.”
Pondok Pesantren Syekh Balinduang terletak di Korong Sibaruas, Nagari Pilubang, Kecamatan Sungai Limau, Kabupaten Padang Pariaman. Lembaga ini dipimpin oleh Buya H. Sa'ali, seorang ulama besar yang mendedikasikan hidupnya untuk melestarikan pendidikan Islam tradisional di wilayah pesisir Padang Pariaman.
Sejarah Perkembangan Madrasah 1985: Buya Sa'ali mendirikan dan membenahi madrasah (surau) ini untuk mulai membimbing anak-anak pakiah (sebutan tradisional bagi santri di Minangkabau yang mendalami ilmu agama). Awalnya madrasah ini membimbing sekitar 20 anak pakiah. Seiring waktu, santri tidak hanya datang dari Pilubang, tetapi juga dari wilayah luar seperti Malalo di pinggiran Danau Singkarak, Kabupaten Tanah Datar.
Pembangunan Pondok: Karena banyaknya santri yang berdatangan dari berbagai area, masyarakat dan pengelola membangun pondok-pondok kayu di sekeliling surau sebagai tempat bermukim para santri selama menuntut ilmu.
Tradisi pakiah dan mamakiah. Pesantren Syekh Balinduang Pilubang menjadi salah satu benteng pertahanan kebudayaan Islam tradisional Minangkabau yang menjaga tradisi mamakiah: kegiatan para santri berjalan berkeliling ke tengah masyarakat untuk mengumpulkan sedekah atau sumbangan amal. Kegiatan mamakiah di Pesantren Syekh Balinduang ini dijadwalkan khusus selama dua hari dalam seminggu, yaitu Kamis dan Jumat. Hasil sumbangan digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok harian santri yang kurang mampu (seperti membeli makanan dan kitab), serta membantu biaya pembangunan fisik pondok. Tradisi ini mendidik para santri agar memiliki mental yang kuat, mengajarkan nilai keikhlasan, kesabaran, serta membumi dengan masyarakat.
Eksistensi lembaga ini diakui secara luas oleh pemerintah daerah. Pada Maret 2021, Bupati Padang Pariaman secara resmi menghadiri acara pengukuhan gelar "Tuanku" bagi para lulusan ulama muda di Pesantren Syekh Balinduang. Lembaga ini terus mempertahankan model pendidikan surau kuno yang berpadu dengan struktur madrasah modern hingga saat ini.
Referensi:
1. Makalah Pakiah dan Kontinuitas Pesantren Syekh Balinduang di
Sibaruas, Pilubang 1985-2023 Oleh
Andika Rahman dan Suriani, UIN Bukittinggi
2. https://www.sitinjausumbarnews.com/2023/05/syekh-balinduang-di-nagari-pilubang.html
