![]() |
| Foto bersama para ulama dan tokoh masyarakat, usai berhalaqah di Pondok Pesantren Syekh Muhammad Yatim Mudiak Padang Tuanku Ampalu. |
Padang Pariaman, -- Perjalanan Muhammad Yatim ke Ampalu terus berlanjut. Oleh Syekh Talawi, Muhammad Yatim ini sepertinya anak siak yang istimewa. Pandai mengaji, pintar bermasyarakat. Sebelum Syekh Talawi wafat, beliau berwasiat agar Surau Kalampaian diteruskan oleh Muhammad Yatim. Syekh Talawi 39 tahun lamanya membina anak siak Kalampaian ini. Yakni, dari 1841-1880.
Dalam catatan sejarah ringkas Kalampaian Ampalu Tinggi 1977, tersebut bahwa murid atau anak siak yang mengaji terus mengalami peningkatan. Masa peralihan dari Syekh Sunda Katapiang ke Syekh Talawi, Kalampaian ini punya anak siak 134 santri. Semuanya laki-laki, tak seorang pun santri dari kalangan perempuan.
39 tahun Syekh Talawi berkhidmat di Kalampaian, tentu anak siak kian bertambah. Anak siak bertambah dan pembangunan surau juga di tingkatkan. Peralihan masa transisi dari Syekh Talawi ke Syekh Muhammad Yatim, pun Surau Kalampaian Ampalu Tinggi menjadi tambah berjaya.
Syekh Muhammad Yatim memimpin Surau Kalampaian Ampalu Tinggi ini tercatat dari 1880-1950, yakni 70 tahun. Periode kepemimpinan Muhammad Yatim terasa luar biasa. Tak hanya asrama anak siak yang ditambah, tapi bangunan surau juga ditambah. Bahkan, Masjid Kalampaian Ampalu Tinggi resmi berdiri dan menjadi sidang Jumat 1926, masa Muhammad Yatim mengendalikan tampuk kepemimpinan di Ampalu Tinggi.
Dalam masa memimpin Surau Kalampaian itu, Muhammad Yatim juga membagi waktunya untuk Pesantren Madinatul Ilmi Islamiyah Buluah Kasok, Sungai Sariak. Tepatnya, 1907-1910 Muhammad Yatim dicatat oleh sejarah pesantren Sungai Sariak sebagai pemimpin dan Syaikul Ma'had. Artinya, kepemimpinan Muhammad Yatim bisa menjalankan "pembangunan pendidikan" di dua pesantren.
Melihat dinamika kepemimpinan ulama Muhammad Yatim yang dinilai sebagai ulama hebat, pintar jadi anak siak, punya keluarga yang mampu di bidang ekonomi, malah di zaman beliau memimpin itu, tak hanya di dua tempat itu jejaknya. Di Surau Mudiak Padang, surau yang pembangunannya dimulai oleh Syekh Talawi, Muhammad Yatim juga memimpin anak siak yang banyak.
Rentang 1880-1950, sepertinya kepemimpinan Muhammad Yatim berjalan aktif di tiga surau itu. Yakni Surau Kalampaian Ampalu Tinggi, Surau Mudiak Padang dan Surau Buluah Kasok. Namun, Kalampaian mencatat, masa itu adalah tonggak kepemimpinan dipegang oleh Muhammad Yatim.
Sedangkan Madinatul Ilmi Islamiyah Buluah Kasok juga punya riwayat, rentang 1907-1910, pesantrennya dipimpin Muhammad Yatim. Bisa jadi pagi beliau di Ampalu Tinggi, siang di Buluah Kasok, lalu malam di Mudiak Padang.
Jarak tiga tempat itu tak terlalu dalam ukuran kendaraan kuda yang dipunyai Muhammad Yatim. Badannya berdegap ringan saja oleh kuda, kemana saja beliau hendak pergi. Dari Ampalu Tinggi ke Mudiak Padang agak lumayan jauh, tapi kudanya tak merasa lelah berjalan sambil diduduki Muhammad Yatim.
1950, Hj. Kidih datang ke Kalampaian Ampalu Tinggi. Kidih ke Muhammad Yatim memanggil Mak Dang. "Mak Dang mulai kini, harus menetap di Mudiak Padang. Itu pasan urang kampung dan banyak tokoh masyarakat yang ambo sampaikan," begitu kira-kira Kidih menyampaikan ke Muhammad Yatim di Ampalu Tinggi.
Kondisi Muhammad Yatim tahun itu sudah tua dan lanjut usia, yang kurang elok dilihat masih menunggang kuda. Pun istri pertama Muhammad Yatim orang kampungnya, Mudiak Padang ini.
Yakni di Lubuak Laweh istri pertamanya, punya anak, namanya H. Sidun, Tuanku Nurbai, Rabiah, Aisyah, Maimunah. Istri kedua di Ampalu. Dari Ampalu, beliau beristri ke Cimpago, terakhir atau yang keempat, Muhammad Yatim beristri ke Lubuk Alung.
Syekh Muhammad Yatim Mudiak Padang Tuanku Ampalu wafat 27 Maret 1950 di Mudiak Padang, kampungnya sendiri.
Referensi:
1. Wawancara dengan Buya Syofyan Marzuki Tuanku Bandaro, Kamis 21 April 2026 di Puncuang Anam, Tandikek Selatan
2. Catatan Sejarah Kalampaian Ampalu Tinggi, ditulis Na'ali Ibrahim Tuanku Majolelo 1977
3. Armaidi Tanjung, Mereka yang Terlupakan, Tuanku Menggugat 2008
