![]() |
| Masjid Raya Balah Aie di Lubuak Pua. Jumat 22 Mei 2026 penulis mendatangi masjid itu setelah dari Kalampaian Ampalu Tinggi. |
Padang Pariaman, -- Masjid Raya Balah Aie di Lubuak Pua dan Pondok Pesantren Luhur Kalampaian Ampalu Tinggi memang berada di dua tempat. Namun, keduanya punya historis dan sejarah panjang dalam pembangunan peradaban Islam di Ampalu.
Mulai berdiri keduanya, Pesantren Luhur Kalampaian Ampalu Tinggi dan Masjid Raya Balah Aie ini 1687 M. Nama besar Syekh Burhanuddin dan Syekh Oesman seperti tertikam kuat di masjid dan pesantren demikian.
1687 ini, Ampalu Tinggi dan Balah Aie belum bernama nagari. Kedua kampung ini masih tergabung dalam Nagari Ampalu. Tahun itu, Syekh Oesman pulang kampung ke Lubuak Pua, setelah sekian lama merantau ke darek, menuntut ilmu dengan Syekh Pamansiangan.
Oleh Datuak Pono Intan, Syekh Oesman ini dikasih sebidang tanah di Ampalu Tinggi. Lalu, di atas tanah itu Syekh Oesman mendirikan pondok, yang kelak dinamakan Pondok Pesantren Luhur Kalampaian Ampalu Tinggi.
Sebelum pondok pesantren itu ramai oleh anak siak, Masjid Raya Balah Aie sudah tegak. Sehingga, tempat Shalat Jumat anak siak Ampalu Tinggi di Masjid Raya Balah Aie ini.
Dilaporkan, Masjid Raya Balah Aie ini sama hadir dengan pondok Kalampaian Ampalu Tinggi. Masjid ini batu pertamanya diletakkan oleh Syekh Burhanuddin. 1687 itu merupakan enam tahun menjelang wafatnya Syekh Burhanuddin.
Kenapa tak dinamakan dengan Masjid Raya Syekh Burhanuddin? Tentu erat kaitannya dengan peradaban Islam dan rasa berkampung dan bernagari. Di tahun 18 an, Balah Aie mandiri. Berdiri sendirinya, berpisah dari induknya, Ampalu.
Kabarnya, kehadiran Syekh Burhanuddin yang memulai pembangunan Masjid Raya Balah Aie ini, adalah saran dan keinginan kuat dari Syekh Oesman. Syekh Oesman, anak Lubuak Pua baru pulang mengaji. Mengaji dengan muridnya Syekh Burhanuddin, yakni Syekh Pamansiangan, Koto Laweh.
Bagi Syekh Oesman, kehadiran Syekh Burhanuddin di Lubuak Pua, memulai pembangunan masjid, tempat ibadah dan pembangunan nagari, menjadi kebanggaan tersendiri. Begitu juga oleh masyarakat Balah Aie. Kebersamaan Masjid Raya Balah Aie dan Pesantren Luhur Kalampaian Ampalu Tinggi hanya dipisahkan oleh Sungai Batang Mangoi.
Dulu itu, sungai jadi sumber kehidupan masyarakat. Di sungai itu pula masyarakat mandi, mencuci, termasuk menjadikan air sungai sebagai aliran irigasi. Masyarakat yang akan shalat di masjid pun menggunakan air sungai itu untuk berwudhu.
Lama sekali masjid itu dijadikan oleh masyarakat Ampalu Tinggi sebagai tempat Shalat Jumat. Masjid Kalampaian Ampalu Tinggi baru hadir 1926, semasa Pesantren Luhur Kalampaian dipimpin oleh Syekh Muhammad Yatim Mudiak Padang Tuanku Ampalu.
Ada cerita yang menyebutkan, bahwa Pesantren Luhur Kalampaian juga dimulai oleh Syekh Burhanuddin, agaknya informasi yang keliru. Yang ada, batu pertama pembangunan Masjid Raya Balah Aie ini yang dilakukan Syekh Burhanuddin.
Sementara, pesantren Syekh Oesman dan niniak mamak Ampalu Tinggi yang memulai. Hanya saja keduanya, masjid dan pesantren terletak di Ampalu. Lubuak Pua dan Ampalu Tinggi masih dalam wilayah Ampalu masa itu.
Sumber:
1. Sejarah ringkas Pesantren Luhur Kalampaian, catatan tahun 1977
2. Diskusi dengan Buya Khaidir Tuanku Sutan dan Iswandi Tuanku Sutan, Jumat 22 Mei 2026 di Kalampaian Ampalu Tinggi.
