![]() |
Oleh: Duski Samad
Majelis Profetik Indonesia @series26.06052026
Di tengah derasnya arus digitalisasi yang mengubah hampir seluruh wajah kehidupan manusia modern, Kota Padang sedang mencoba menghadirkan satu langkah yang patut diapresiasi: menghidupkan kembali surau sebagai pusat pembinaan generasi muda dan penguatan peradaban masyarakat.
Langkah strategis itu tampak dalam sinergi antara Pemerintah Kota Padang dan Kementerian Agama Kota Padang melalui Program Unggulan (Progul) Smart Surau yang digagas Wali Kota Padang Fadly Amran. Program ini bukan sekadar menghadirkan fasilitas digital di lingkungan rumah ibadah, tetapi mengandung visi besar: menjadikan surau kembali sebagai pusat pendidikan, pembinaan karakter, dan penguatan sosial masyarakat Minangkabau.
Dalam sejarah Minangkabau, surau memiliki posisi yang sangat penting. Surau bukan hanya tempat salat. Ia adalah pusat pembentukan manusia. Di surau lahir ulama, pemimpin adat, saudagar, pejuang, dan tokoh masyarakat. Surau adalah sekolah peradaban.
Di tempat itulah generasi muda belajar: ilmu agama,
akhlak, adat, kepemimpinan,
seni bela diri, hingga nilai-nilai tanggung jawab sosial.
Karena itu, ketika surau melemah, sesungguhnya yang ikut melemah adalah fondasi karakter masyarakat.
Hari ini tantangannya jauh lebih berat dibanding masa lalu. Generasi muda hidup dalam dunia yang sangat terbuka, cepat, dan tanpa batas. Teknologi digital menghadirkan kemudahan, tetapi sekaligus membawa ancaman serius:
narkoba, judi online,
pornografi,
budaya flexing,
individualisme,
kekerasan verbal di media sosial, hingga krisis mental dan kehilangan arah hidup.
Anak muda hari ini sangat terkoneksi secara digital, tetapi sering mengalami keterasingan secara sosial dan spiritual. Mereka kaya informasi, tetapi miskin keteladanan. Mereka aktif di media sosial, tetapi sering kehilangan kedalaman nilai dan makna hidup.
Dalam konteks inilah Program Smart Surau menjadi sangat relevan.
Program seperti:
Subuh Mubarakah,
Remaja Masjid Reborn,
Rumah Tahfiz,
ruang belajar digital,
Wi-Fi gratis, dan pembaruan kurikulum TQA serta MDTW,
menunjukkan bahwa Pemerintah Kota Padang sedang mencoba menjawab tantangan zaman dengan pendekatan yang berakar pada tradisi lokal dan nilai-nilai Islam.
Ini penting ditegaskan: digitalisasi tidak boleh memutus generasi muda dari akar budaya dan spiritualitasnya. Teknologi harus menjadi alat membangun peradaban, bukan instrumen penghancur moral.
Karena itu, Smart Surau tidak boleh dipahami hanya sebagai program penyediaan internet di rumah ibadah. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana surau dihidupkan kembali sebagai: pusat literasi, pusat pembinaan pemuda,
pusat pendidikan karakter,
ruang kreativitas,
dan benteng moral masyarakat.
Di sinilah program pembinaan pemuda Kota Padang menemukan relevansinya.
Pemuda tidak cukup hanya diberi kegiatan seremonial dan slogan motivasi. Mereka membutuhkan:
ruang tumbuh, ruang berkarya, ruang belajar, ruang berdialog, dan ruang menemukan identitas dirinya.
Surau harus kembali menjadi: rumah besar pembinaan generasi muda.
Surau harus hidup:
dengan halaqah ilmu,
diskusi intelektual,
pelatihan literasi digital,
olahraga dan seni Islami,
pembinaankewirausahaan, hingga pendidikan ruhani dan terapi sosial.
Sesungguhnya inilah wajah modern dari filosofi Minangkabau:
Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.
Dulu pemuda Minangkabau ditempa di surau agar memiliki:
akhlak, keberanian, kecerdasan, ketangguhan, dan kepedulian sosial.
Kini model itu perlu dihidupkan kembali dalam bentuk baru:
surau yang religius, modern, digital, tetapi tetap humanis dan berakar pada nilai-nilai Islam.
Langkah Wali Kota Padang menggandeng Kementerian Agama menunjukkan kesadaran penting bahwa pembangunan kota tidak cukup hanya dengan infrastruktur fisik. Kota akan maju jika manusianya maju. Dan manusia akan kuat jika akhlak dan spiritualitas generasinya dibangun.
Karena itu, Smart Surau sesungguhnya adalah strategi pembangunan peradaban.
Jika dikelola secara serius dan berkelanjutan, program ini dapat menjadi model nasional bagaimana rumah ibadah dihidupkan kembali sebagai pusat transformasi sosial dan pendidikan generasi muda.
Ke depan, Smart Surau bahkan dapat dikembangkan lebih luas:
pusat konten kreatif Islami,
pelatihan AI dan teknologi,
cyber dakwah, inkubasi bisnis pemuda masjid, pusat konseling remaja, hingga eco-surau berbasis ekoteologi.
Sebab tantangan terbesar generasi muda hari ini bukan hanya persoalan ekonomi atau pendidikan, tetapi krisis makna hidup.
Dan surau—jika dihidupkan kembali dengan visi besar—dapat menjadi tempat generasi muda menemukan: ilmu, akhlak, identitas, persaudaraan, dan masa depan mereka.
Mungkin inilah momentum penting bagi Kota Padang untuk membuktikan bahwa modernitas tidak harus mematikan tradisi. Justru dari surau yang hidup, Kota Padang dapat melahirkan generasi digital yang cerdas, religius, berbudaya, dan berdaya saing global. DS.
