![]() |
Oleh: Duski Samad
Wakil Ketua Umum Pimpinan Pusat Perti
Menjaga Akar, Menjawab Zaman, Menggerakkan Peradaban.
Di tengah arus modernisasi yang bergerak cepat—sering kali mengguncang nilai, mengaburkan identitas, dan melahirkan krisis makna—pendidikan Islam dihadapkan pada pilihan besar: bertahan dengan cara lama atau berubah tanpa arah. Dalam situasi ini, pendidikan Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI) memiliki posisi yang unik: ia mewarisi tradisi keulamaan yang kokoh, tetapi juga dituntut untuk menjawab tantangan zaman.
Karena itu, arah pendidikan PERTI tidak cukup hanya satu dimensi. Ia harus berdiri di atas tiga kekuatan utama: istiqamah, adaptif, dan lincah. Tiga karakter ini bukan sekadar konsep, tetapi jalan peradaban.
Istiqamah adalah fondasi. Pendidikan PERTI sejak awal dibangun untuk melahirkan generasi tafaqquh fiddin—mereka yang mendalami agama secara serius dan bertanggung jawab. Al-Qur’an menegaskan pentingnya keberadaan kelompok yang fokus memperdalam ilmu agama dan kembali membimbing umat (QS. At-Taubah: 122). Di sinilah letak jantung pendidikan PERTI: menjaga kesinambungan ulama sebagai pewaris ilmu dan penjaga moral masyarakat.
Lebih dari itu, Al-Qur’an juga menegaskan bahwa yang benar-benar takut kepada Allah adalah para ulama (QS. Al-Fathir: 28). Ini memberi makna bahwa ulama bukan hanya cerdas, tetapi memiliki kedalaman ruhani dan integritas moral. Maka pendidikan PERTI tidak boleh hanya melahirkan kecerdasan intelektual, tetapi harus membentuk kesadaran ilahiah—ilmu yang melahirkan ketundukan, bukan kesombongan.
Istiqamah berarti menjaga akar: kitab kuning tetap diajarkan, sanad keilmuan tetap dijaga, adab tetap ditanamkan. Tanpa istiqamah, pendidikan akan kehilangan ruh dan arah.
Namun dunia tidak berhenti. Perubahan datang tanpa kompromi. Di sinilah pendidikan PERTI harus bersikap adaptif. Allah mengingatkan agar manusia mencari kebahagiaan akhirat tanpa melupakan bagian dunia (QS. Al-Qashash: 77). Ini adalah prinsip keseimbangan—bahwa kehidupan tidak boleh timpang antara spiritualitas dan realitas.
Dalam konteks pendidikan, adaptif berarti berani membuka diri terhadap ilmu pengetahuan modern tanpa meninggalkan prinsip. Kitab kuning tetap menjadi fondasi, tetapi harus diiringi dengan pemahaman ilmu sosial, teknologi, komunikasi, dan kepemimpinan. Santri tidak cukup hanya memahami teks, tetapi juga harus mampu membaca konteks.
Adaptif juga berarti menyiapkan generasi yang mampu hidup di dunia nyata: bekerja, memimpin, berinteraksi, dan berkontribusi. Pendidikan PERTI harus melahirkan manusia yang utuh—saleh secara pribadi, sekaligus bermanfaat secara sosial.
Namun lebih dari itu, zaman hari ini menuntut kelincahan. Dunia tidak hanya berubah, tetapi berubah dengan cepat dan sering tidak terduga. Krisis moral, krisis identitas, krisis ekonomi, hingga disrupsi teknologi menuntut respons yang cepat dan tepat.
Di sinilah pendidikan PERTI harus lincah. Lincah berarti mampu membaca realitas dengan jernih dan bertindak dengan cerdas. Santri tidak hanya diajarkan memahami hukum, tetapi juga dilatih untuk menjadi pemecah masalah. Mereka harus mampu menjawab tantangan zaman dengan pendekatan yang bijak, kreatif, dan solutif.
Kelincahan juga berarti kemampuan memanfaatkan teknologi. Dakwah tidak lagi hanya di mimbar, tetapi juga di layar. Ilmu tidak lagi hanya di kitab, tetapi juga di platform digital. Pendidikan PERTI harus masuk ke ruang ini tanpa kehilangan jati diri.
Jika istiqamah menjaga akar, adaptif menjaga keseimbangan, maka lincah adalah kemampuan bergerak cepat menuju solusi. Ketiganya harus berjalan bersama. Tanpa istiqamah, pendidikan kehilangan identitas. Tanpa adaptif, ia tertinggal. Tanpa kelincahan, ia tidak mampu menjawab masalah.
Pendidikan PERTI memiliki modal besar: tradisi keilmuan yang kuat, jaringan ulama yang luas, dan nilai spiritual yang mendalam. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk mengelola warisan itu secara tepat.
Pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang masa kini, tetapi tentang masa depan. Pendidikan PERTI harus melahirkan generasi yang mampu menjaga iman di tengah godaan, menjaga akhlak di tengah krisis, dan menjaga peradaban di tengah perubahan.
Dengan istiqamah dalam ilmu, adaptif dalam kehidupan, dan lincah dalam menghadapi realitas, pendidikan PERTI dapat kembali tampil sebagai kekuatan penting dalam membangun bangsa.
Karena pada hakikatnya, peradaban tidak dibangun oleh mereka yang hanya tahu, tetapi oleh mereka yang mampu menjaga nilai, membaca zaman, dan bergerak memberi solusi.ds.03052026
