![]() |
Oleh: Duski Samad
Majelis Profetik Indonesia @series130.07052026
Di tengah dunia modern yang dipenuhi kompetisi tanpa batas, manusia semakin akrab dengan kemewahan tetapi semakin jauh dari ketenangan. Teknologi berkembang luar biasa, namun kegelisahan juga meningkat. Gedung-gedung tinggi berdiri megah, tetapi hati manusia sering runtuh oleh kecemasan, kerakusan, dan kehilangan makna hidup.
Peradaban modern melahirkan banyak kemajuan, tetapi sekaligus menghadirkan krisis baru: hedonisme, materialisme, dan kekuasaan yang menindas manusia atas nama keuntungan. Ukuran keberhasilan tidak lagi ditentukan oleh akhlak dan pengabdian, melainkan oleh angka kekayaan, popularitas, dan pengaruh.
Di tengah situasi itu, Islam menghadirkan qurban bukan sekadar ritual tahunan, tetapi terapi spiritual untuk menyelamatkan manusia dari perbudakan dunia.
Allah menegaskan: “Daging dan darah hewan qurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah taqwa kalian.” (QS. Al-Hajj: 37)
Ayat ini menjadi penegasan bahwa inti qurban bukan pada darah yang mengalir, tetapi pada perubahan jiwa manusia.
Qurban adalah pendidikan ruhani agar manusia tidak diperbudak oleh hawa nafsunya sendiri.
Al-Qur’an merekam qurban pertama dalam sejarah manusia melalui kisah Habil dan Qabil (QS. Al-Ma’idah: 27–30). Habil memahami pesan ilahi bahwa qurban adalah persembahan terbaik kepada Tuhan. Karena itu ia memberikan hewan ternak terbaik miliknya. Sebaliknya, Qabil hanya memberikan hasil pertanian yang buruk dan tidak layak.
Di sinilah awal tragedi kemanusiaan dimulai. Ketika qurbannya tidak diterima, Qabil dikuasai iri hati dan akhirnya membunuh saudaranya sendiri.
Pesan kisah ini sangat relevan hari ini: kerakusan yang tidak dikendalikan akan melahirkan kekerasan.
Wajah Qabil modern hadir dalam berbagai bentuk: korupsi yang merampas hak rakyat, eksploitasi alam tanpa batas, manipulasi ekonomi, monopoli kekuasaan, hingga budaya konsumtif yang mempertontonkan kemewahan di tengah penderitaan sosial.
Manusia modern sering hidup dalam perlombaan tanpa akhir. Yang kaya ingin semakin kaya. Yang berkuasa ingin terus menguasai. Yang populer ingin semakin viral. Akibatnya, manusia kehilangan kemampuan menikmati hidup secara sederhana.
Secara ilmiah, banyak penelitian psikologi modern menunjukkan bahwa orientasi hidup yang terlalu materialistik berhubungan dengan meningkatnya stres, kecemasan, depresi, dan kehampaan hidup. Fenomena burnout, krisis mental, dan kesepian sosial yang meningkat di era digital menunjukkan bahwa kemajuan materi tidak otomatis menghadirkan kebahagiaan.
Karena itu qurban sesungguhnya adalah terapi spiritual.
Ia mendidik manusia untuk memberi, bukan hanya mengambil. Mengorban kan ego, bukan memperturutkan hawa nafsu. Membebaskan diri dari kerakusan, bukan tenggelam dalam kenikmatan dunia.
Kisah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam menjadi simbol puncak loyalitas kepada Allah. Dalam QS. Ash-Shaffat ayat 102–107, Ibrahim diperintahkan mengorbankan putranya, Ismail—sesuatu yang paling dicintainya.
Makna terdalam qurban Ibrahim bukan semata penyembelihan, tetapi penghancuran “berhala-berhala batin”.
Jika dahulu manusia menyembah patung, maka manusia modern sering menyembah: uang, jabatan, popularitas, dan kekuasaan.
Tidak sedikit manusia rela kehilangan integritas demi mempertahankan status sosial. Banyak pemimpin menindas rakyat demi kekuasaan. Banyak orang kehilangan nurani demi gaya hidup mewah dan pencitraan.
Dalam perspektif tasawuf, manusia seperti ini diperbudak oleh hubbu الدنيا—cinta dunia berlebihan. Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa cinta dunia yang melampaui batas adalah sumber kerusakan hati dan awal kehancuran peradaban.
Qurban hadir untuk memutus rantai perbudakan itu.
Saat seseorang menyerahkan hewan terbaiknya untuk disembelih, sesungguhnya ia sedang belajar bahwa tidak semua yang dicintai harus dimiliki. Ada saatnya manusia harus melepaskan demi membersihkan hati.
Nabi Muhammad SAW kemudian menyempurnakan makna qurban sebagai jalan pembebasan sosial dan spiritual. Dalam Surat Al-Kautsar ayat 2, Allah memerintahkan: “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berqurbanlah.”
Ayat ini turun ketika Nabi dihina dan diremehkan. Namun Allah tidak memerintahkan balas dendam, melainkan ibadah dan qurban.
Di sinilah letak keagungan Islam. Ketika dunia modern dipenuhi kompetisi citra dan pertarungan kepentingan, Islam justru mengajarkan pengorbanan, kepedulian, dan kesederhanaan.
Qurban bukan sekadar ibadah mahdhah, tetapi gerakan penyembuhan peradaban.
Ia mengajarkan: keikhlasan Habil, loyalitas Ibrahim, dan kesederhanaan Nabi Muhammad SAW.
Di tengah dunia yang semakin rakus, manusia modern sesungguhnya tidak hanya membutuhkan kecerdasan teknologi, tetapi juga kejernihan hati.
Karena krisis terbesar manusia hari ini bukan kekurangan harta— melainkan kehilangan taqwa.
Qurban sejati bukan hanya memotong hewan, tetapi memotong kesombongan, mengalahkan egoisme, dan membebaskan manusia dari perbudakan dunia.ds.
