![]() |
Oleh: Duski Samad
Majelis Profetik Indonesia aedisi25. 03052026
Tulisan ini diinspirasi dua hari belakangan ini bahagian kaki terasa sakit. Pagi ini diterapi ahli totok saraf. Percakapan dengan sang terapis menyadarkan seringkali amanah sehat terabaikan.
Setelah ada gangguan kesehatan sadarlah diri bahwa ada batas yang mesti dipatuuhi. Diri kita bukan milik kita, dirimu ada haknya..
Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, manusia sering mengukur kebahagiaan dengan harta, jabatan, dan popularitas. Namun ada satu nikmat yang paling mendasar, paling dekat, sekaligus paling sering dilupakan: sehat. Ironisnya, kita baru menyadari nilainya ketika ia mulai hilang—saat tubuh melemah, saat langkah terasa berat, atau ketika rasa sakit mengunci aktivitas yang dulu terasa biasa.
Islam sejak awal telah menempatkan kesehatan bukan sekadar kebutuhan biologis, tetapi amanah ilahiah. Tubuh bukan sepenuhnya milik kita; ia adalah titipan Allah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Maka merawatnya bukan pilihan, melainkan kewajiban moral dan spiritual.
Al-Qur’an memberi peringatan tegas: “Janganlah kamu menjatuhkan dirimu ke dalam kebinasaan” (QS. Al-Baqarah: 195). Ayat ini bukan hanya berbicara tentang peperangan, tetapi juga tentang segala bentuk perilaku yang merusak diri—termasuk gaya hidup yang abai terhadap kesehatan. Dalam ayat lain, Allah menegaskan: “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan” (QS. Al-A’raf: 31). Ini adalah prinsip dasar kesehatan sepanjang zaman: keseimbangan.
Nabi Muhammad ï·º bahkan menempatkan sehat sebagai nikmat yang sering dilalaikan. Dalam hadis riwayat Imam Bukhari disebutkan: “Dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya: sehat dan waktu luang.” Kata “tertipu” di sini sangat kuat—menunjukkan bahwa manusia sadar memiliki sehat, tetapi tidak sadar memanfaatkannya. Seolah-olah sehat itu abadi, padahal ia rapuh dan sementara.
Lebih jauh, Rasulullah ï·º memberikan ukuran kebahagiaan yang sangat sederhana namun mendalam: siapa yang bangun pagi dalam keadaan aman, sehat, dan memiliki makanan hari itu, maka seakan dunia telah diberikan kepadanya. Ini adalah revolusi cara pandang: kesehatan bukan pelengkap hidup, tetapi inti kehidupan itu sendiri.
Apa yang diajarkan wahyu ini ternyata selaras dengan ilmu pengetahuan modern. World Health Organization mendefinisikan kesehatan sebagai keadaan sejahtera fisik, mental, dan sosial, bukan sekadar bebas dari penyakit. Artinya, sehat adalah kondisi utuh—bukan hanya tubuh yang kuat, tetapi juga pikiran yang jernih dan jiwa yang tenang.
Namun realitas hari ini menunjukkan arah yang mengkhawatirkan. Penyakit tidak menular seperti jantung, diabetes, dan hipertensi meningkat tajam. Penyebabnya bukan semata faktor genetik, tetapi pola hidup: makan berlebihan, kurang bergerak, stres berkepanjangan, dan minimnya kesadaran menjaga diri. Kita hidup di zaman di mana manusia menukar sehat dengan uang, lalu ketika sakit, menukar uang untuk membeli kembali sehatnya.
Di sinilah letak krisis sesungguhnya: bukan krisis medis, tetapi krisis kesadaran. Kita tahu apa yang benar, tetapi tidak melakukannya. Kita paham pentingnya olahraga, tetapi memilih diam. Kita mengerti bahaya berlebihan, tetapi tetap melampaui batas. Pengetahuan tidak lagi cukup; yang dibutuhkan adalah kesadaran profetik—kesadaran bahwa setiap nikmat akan dimintai pertanggungjawaban.
Dalam perspektif Islam, sehat memiliki tiga dimensi yang harus dijaga secara utuh. Pertama, sehat jasadiyah: tubuh yang dirawat dengan makanan halal dan baik, aktivitas fisik, serta istirahat yang cukup. Kedua, sehat aqliyah: pikiran yang jernih, terbebas dari stres berlebihan, dan terisi dengan ilmu. Ketiga, sehat ruhaniyah: hati yang hidup dengan dzikir, ibadah, dan kedekatan kepada Allah. Ketiganya tidak bisa dipisahkan; rusaknya satu akan memengaruhi yang lain.
Karena itu, menjaga kesehatan bukan sekadar urusan pribadi, tetapi juga tanggung jawab sosial dan peradaban. Umat yang lemah secara fisik dan mental tidak akan mampu membangun masa depan yang kuat. Sebaliknya, umat yang sehat akan melahirkan energi, kreativitas, dan ketahanan menghadapi tantangan zaman.
Maka sudah saatnya kita mengubah cara pandang: dari melihat sehat sebagai “kondisi biasa” menjadi melihatnya sebagai amanah luar biasa. Dari sekadar menikmati menjadi menjaga. Dari menunda menjadi bertindak.
Sebab pada akhirnya, sehat bukan hanya tentang hidup lebih lama—tetapi tentang hidup lebih bermakna.
Sehat itu amanah.
Menjaganya adalah ibadah.
Mengabaikannya adalah kelalaian yang mahal.ds.
