![]() |
Oleh: Duski Samad
Khutbah 05052026 Masjid Al Muhajirin Pasir Putih
Di tengah gegap gempita pembangunan, kita sering terpesona oleh angka-angka: pertumbuhan ekonomi, investasi, proyek strategis. Semua tampak bergerak. Semua terlihat maju. Namun diam-diam, ada yang runtuh—perlahan, senyap, tetapi pasti: etika.
Kita menyaksikan sebuah ironi besar. Di satu sisi, gedung-gedung menjulang, jalan-jalan dibangun, dan teknologi berkembang. Di sisi lain, keadilan terasa menjauh, kejujuran menjadi barang langka, dan kepercayaan publik terkikis. Ini bukan sekadar masalah teknis. Ini adalah krisis moral yang sistemik.
Al-Qur’an telah lama memberi peringatan melalui QS. Al-A‘rāf: 85—sebuah ayat yang sering dibaca, tetapi jarang dijadikan fondasi. Dalam ayat itu, Nabi Syu‘aib menyeru kaumnya: sempurnakan timbangan, jangan kurangi hak manusia, dan jangan merusak bumi setelah diperbaiki.
Seruan ini sederhana, tetapi dahsyat. Ia bukan hanya tentang jual beli. Ia adalah arsitektur etika kehidupan.
Hari ini, kita hidup dalam dunia transaksi yang kehilangan ruh. Kejujuran sering kalah oleh strategi. Kecurangan tidak lagi dianggap dosa, tetapi kecerdikan. Dalam sistem seperti ini, keuntungan diperoleh bukan dari nilai, tetapi dari manipulasi.
QS. Al-Muṭaffifīn telah memperingatkan: celakalah orang-orang yang curang. Namun siapa yang merasa celaka hari ini? Mereka yang mengurangi timbangan secara kasat mata—atau mereka yang mengurangi hak rakyat melalui kebijakan yang tersembunyi?
Kita tahu jawabannya.
Tetapi sering kali kita memilih diam.
Krisis etika juga merembes ke dalam birokrasi. Kekuasaan yang seharusnya menjadi amanah berubah menjadi alat kepentingan. Jabatan tidak lagi dipandang sebagai tanggung jawab, tetapi sebagai peluang. Dalam kondisi seperti ini, hukum bisa tajam ke bawah dan tumpul ke atas.
Padahal Al-Qur’an telah mengingatkan: jangan membuat kerusakan di bumi setelah diperbaiki. Kerusakan hari ini bukan hanya soal lingkungan. Ia adalah kerusakan sistem—ketika aturan dibuat untuk dilanggar, dan keadilan dinegosiasikan.
Di titik ini, kita harus jujur:
yang rusak bukan hanya sistem, tetapi manusianya.
QS. Al-Isrā’: 84 menegaskan bahwa setiap manusia bertindak sesuai dengan karakternya. Artinya, kualitas sistem tidak akan pernah melampaui kualitas moral manusia yang mengelolanya.
Lebih jauh, krisis etika juga tampak dalam relasi manusia dengan alam. Kita mengeksploitasi bumi tanpa batas, seolah-olah ia tidak memiliki hak untuk dijaga. Hutan ditebang, sungai dicemari, udara dikotori—semua atas nama pembangunan.
Padahal dalam pandangan Islam, manusia bukan pemilik bumi. Ia hanya khalifah—penjaga amanah. Ketika amanah itu dikhianati, maka yang terjadi bukan kemajuan, melainkan kehancuran yang ditunda.
Yang paling mengkhawatirkan adalah ketika krisis etika ini terjadi di tengah kehidupan beragama. Ritual tetap berjalan, simbol tetap dijaga, tetapi akhlak mulai ditinggalkan. Kita menyaksikan paradoks: semakin banyak orang berbicara tentang agama, tetapi semakin sedikit yang mencerminkan nilai-nilainya.
Nabi ﷺ telah menegaskan bahwa misi utamanya adalah menyempurnakan akhlak. Ini berarti, ukuran keberagamaan bukan hanya pada ibadah, tetapi pada perilaku.
Jika akhlak runtuh, maka agama kehilangan maknanya. Dan jika agama kehilangan makna, maka peradaban kehilangan arah.
Pada akhirnya, semua krisis yang kita hadapi hari ini—ekonomi, politik, sosial, lingkungan—berakar pada satu hal: krisis etika.
Kita sibuk membangun sistem, tetapi lupa membangun karakter. Kita mengejar kemajuan, tetapi mengabaikan nilai. Kita ingin sejahtera, tetapi meninggalkan fondasi yang melahirkannya.
QS. Al-A‘rāf: 85 seakan berbicara kembali kepada kita hari ini: jangan kurangi hak manusia, jangan rusak bumi, dan kembalilah kepada iman yang melahirkan keadilan.
Jika kita ingin kesejahteraan yang nyata, maka jalannya bukan hanya melalui kebijakan, tetapi melalui pembenahan moral.
Transaksi harus jujur.
Kekuasaan harus amanah.
Alam harus dijaga.
Dan manusia harus berakhlak.
Tanpa itu, semua kemajuan hanyalah ilusi.
Dan kesejahteraan yang kita banggakan tidak lebih dari bayangan yang mudah runtuh.
Sejarah telah mengajarkan:
peradaban tidak hancur karena kekurangan harta, tetapi karena kehilangan etika.
Kini, pilihan ada di tangan kita: melanjutkan jalan tanpa nilai—menuju kehancuran, atau kembali kepada etika—menuju kesejahteraan yang hakiki.
Etika bukan pelengkap kehidupan. Ia adalah porosnya. Ds
