![]() |
Oleh: Duski Samad
Guru Besar Ilmu Tasawuf pada UIN Imam Bonjol
Di tengah ledakan informasi digital hari ini, manusia modern merasa semakin mudah memperoleh ilmu agama. Ceramah tersedia di mana-mana, kutipan hadis beredar setiap detik, tafsir dapat diakses hanya melalui telepon genggam, bahkan fatwa diproduksi secara instan melalui media sosial. Namun di balik kemudahan itu, muncul krisis besar yang mulai menggerogoti tradisi keilmuan Islam: hilangnya sanad, melemahnya adab, dan runtuhnya hubungan ruhani antara guru dan murid.
Fenomena ini sesungguhnya telah diingatkan oleh Allah SWT dalam Surah Al-A'raf ayat 6: “Maka sungguh Kami akan menanyai umat-umat yang telah diutus rasul kepada mereka, dan sungguh Kami akan menanyai para rasul.”
Ayat ini mengandung pesan mendalam bahwa ilmu, dakwah, dan amanah agama tidak pernah bebas dari pertanggungjawaban. Bukan hanya umat yang ditanya tentang apa yang mereka ikuti, tetapi juga para pembawa ilmu akan ditanya tentang apa yang mereka sampaikan.
Di sinilah letak urgensi sanad dalam Islam.
Sanad bukan sekadar daftar nama guru atau simbol tradisi klasik. Ia adalah rantai amanah, mekanisme validasi, dan sistem keamanan ilmu agar agama tidak dipermainkan oleh hawa nafsu, popularitas, atau kesombongan intelektual.
Karena itu Abdullah ibn al-Mubarak menegaskan: “Al-isnād minad dīn.”
“Sanad adalah bagian dari agama.”
Ungkapan ini sangat relevan di era sekarang. Ketika siapa saja dapat berbicara atas nama agama melalui media digital, sanad menjadi pembeda antara ilmu yang diwarisi dengan ilmu yang hanya dibangun dari potongan informasi.
Dalam tradisi Islam, ilmu tidak lahir dari ruang kosong. Ia diwariskan melalui: talaqqi, musyafahah, halaqah, dan hubungan adab antara guru dan murid.
Karena itu ulama klasik tidak hanya belajar isi kitab, tetapi juga belajar:
cara berpikir, akhlak, ketulusan, dan kehati-hatian dalam berbicara.
Mereka memahami bahwa ilmu bukan sekadar pengetahuan, tetapi cahaya.
Dalam dunia tasawuf, hubungan guru dan murid bahkan lebih mendalam lagi. Ia bukan sekadar relasi akademik, tetapi hubungan ruhani untuk membersihkan jiwa dan menundukkan ego manusia.
Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Pewarisan itu bukan hanya transfer informasi, tetapi pewarisan: adab, hikmah, keikhlasan, dan keteladanan hidup.
Karena itu seorang murid dalam tradisi surau dan pesantren tidak hanya duduk mendengar pelajaran, tetapi juga belajar merendahkan hati, mengendalikan ego, dan menghormati guru sebagai pembimbing jalan menuju Allah SWT.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin menjelaskan bahwa manusia sering tidak mampu melihat penyakit hatinya sendiri. Ego merasa benar, hawa nafsu merasa suci, dan kesombongan sering menyamar sebagai kecerdasan.
Karena itu seorang guru ruhani diperlukan untuk:
membimbing mujahadah,
menjaga keseimbangan syariat dan hakikat,
serta menghindarkan murid dari ilusi kesalehan.
Tradisi:
Tarekat Syattariyah
Tarekat Naqsyabandiyah
menjaga sanad ruhani dengan sangat ketat karena diyakini bahwa perjalanan menuju Allah tidak cukup hanya dengan kecerdasan intelektual, tetapi membutuhkan bimbingan akhlak dan latihan jiwa.
Sayangnya, era digital melahirkan budaya serba instan.
Banyak orang merasa cukup membaca kutipan singkat lalu berani berbicara agama. Ada yang baru mengenal beberapa istilah Arab tetapi sudah mudah menyalahkan ulama besar. Ada pula yang belajar tasawuf dari potongan video tanpa pernah menjalani tazkiyah dan disiplin ruhani.
Akibatnya muncul:
fanatisme dangkal,
budaya menghakimi,
kehilangan adab,
dan krisis penghormatan terhadap otoritas ilmu.
Padahal tradisi Islam sejak awal dibangun di atas kesadaran bahwa ilmu adalah amanah yang akan dipertanyakan di hadapan Allah SWT.
Dalam tradisi Minangkabau dikenal ungkapan: “Bajanjang naiak, batanggo turun.”
Ilmu memiliki tahapan. Tidak semua orang boleh melompat tanpa pondasi. Sebab ilmu tanpa adab akan melahirkan kesombongan, sedangkan semangat agama tanpa bimbingan mudah berubah menjadi ekstremisme.
Karena itu hubungan guru dan murid dalam Islam bukan kultus individu, melainkan sistem pendidikan peradaban. Guru bukan untuk disembah, tetapi dihormati karena menjadi perantara ilmu dan penjaga arah ruhani. Murid bukan kehilangan daya kritis, tetapi belajar tawadhu’, disiplin, dan etika pencarian ilmu.
Di tengah dunia yang semakin gaduh oleh opini dan algoritma, Islam sesungguhnya mengajarkan ketenangan metodologis: verifikasi sebelum berbicara, belajar sebelum mengajar, dan adab sebelum ilmu.
Karena itu krisis terbesar umat hari ini mungkin bukan kekurangan informasi, tetapi hilangnya keberkahan ilmu akibat putusnya sanad dan runtuhnya adab.
Tanpa sanad, agama mudah berubah menjadi opini. Tanpa guru, ilmu mudah berubah menjadi ego. Tanpa ruhaniyah, kecerdasan mudah kehilangan cahaya ketuhanan.
Maka menjaga sanad bukan sekadar mempertahankan tradisi lama, tetapi menjaga masa depan peradaban Islam itu sendiri.
