![]() |
Oleh: Duski Samad
Khutbah Idul Adha 1447 H/ 27 Mei 2026 di Masjid Al Hakim Padang
Era digital membawa perubahan yang sangat cepat dan mendasar dalam kehidupan manusia. Teknologi berkembang luar biasa, kecerdasan buatan meluas, informasi bergerak tanpa batas, dan dunia seakan berada dalam genggaman tangan manusia. Namun di balik kemajuan itu, manusia modern justru menghadapi krisis terdalam: krisis spiritual, krisis empati, dan krisis ketahanan jiwa.
Banyak manusia cerdas tetapi gelisah. Banyak manusia kaya tetapi kehilangan ketenangan. Banyak manusia terhubung secara digital, tetapi terasing secara sosial dan ruhani.
Karena itu Idul Adha sesungguhnya bukan sekadar ritual tahunan, melainkan pendidikan besar tentang resiliensi spiritual — kemampuan manusia bertahan, bangkit, dan tetap bermakna di tengah tekanan kehidupan modern. Al-Qur’an menegaskan:
> “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan semesta alam.”
(QS. Al-An‘am: 162)
Ayat ini melahirkan konsep manasik kehidupan total — kehidupan yang seluruh orientasinya diarahkan kepada Allah SWT. Bukan hanya ibadah ritual, tetapi seluruh aspek kehidupan: pekerjaan, perjuangan, pengorbanan, kepemimpinan, ekonomi, keluarga, bahkan penderitaan sekalipun bernilai ibadah apabila diarahkan karena Allah.
Dalam perspektif tasawuf, inilah makna at-taḍḥiyah al-kulliyyah dan at-taslīm al-kāmil — pengorbanan dan kepasrahan total kepada Allah.
Karena itu Nabi Ibrahim AS menjadi simbol tertinggi manusia tangguh secara spiritual. Ketika diperintahkan mengorbankan Ismail AS, beliau tidak melawan dengan ego, tidak membantah dengan logika duniawi, dan tidak dikendalikan rasa takut kehilangan. Beliau memilih taat.
Al-Qur’an menggambarkan:
> “Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipisnya.”
(QS. Ash-Shaffat: 103)
Ayat ini bukan sekadar kisah keluarga nabi, tetapi pelajaran psikologi spiritual paling mendalam. Bahwa manusia yang dekat kepada Allah akan memiliki kestabilan emosi, kekuatan makna hidup, dan daya tahan mental dalam menghadapi ujian.
Psikologi modern menyebut bahwa manusia yang memiliki meaning of life lebih kuat menghadapi stres, kecemasan, dan trauma sosial. Viktor Frankl menyatakan bahwa manusia mampu bertahan dalam penderitaan apabila menemukan makna hidupnya. Islam jauh sebelumnya telah mengajarkan bahwa makna hidup tertinggi adalah pengabdian kepada Allah.
Karena itu qurban bukan sekadar menyembelih hewan. Qurban adalah proses menyembelih egoisme, keserakahan, kesombongan, cinta dunia berlebihan, dan hawa nafsu yang merusak kemanusiaan.
Kisah Habil dan Qabil dalam Surat Al-Māidah menunjukkan bahwa kualitas hidup manusia ditentukan oleh kualitas taqwanya.
> “Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Al-Māidah: 27)
Habil menghadirkan qurban terbaik karena hati dan ketaatannya lurus kepada Allah. Sedangkan Qabil gagal karena iri, dengki, dan egoisme menguasai dirinya.
Di era media sosial hari ini, manusia sering terjebak dalam budaya perbandingan hidup. Melihat keberhasilan orang lain, membandingkan kekayaan, popularitas, dan penampilan, lalu kehilangan rasa syukur dan ketenangan jiwa. Karena itu taqwa bukan hanya konsep teologis, tetapi juga mekanisme kesehatan spiritual dan kesehatan mental.
Taqwa melahirkan:
ketenangan batin,
pengendalian diri, empati sosial, kejujuran, dan keberkahan hidup.
Surat Al-Kautsar kemudian menghubungkan shalat dengan qurban:
> “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berqurbanlah.”
(QS. Al-Kautsar: 2)
Ayat ini menunjukkan bahwa spiritualitas Islam tidak berhenti pada hubungan vertikal dengan Allah, tetapi harus melahirkan solidaritas sosial.
Shalat menguatkan ruhani.
Qurban menguatkan kemanusiaan.
Dalam perspektif sosiologi, masyarakat modern menghadapi ancaman individualisme ekstrem. Hubungan sosial semakin rapuh, keluarga makin renggang, dan empati sosial menurun. Émile Durkheim menyebut kondisi ini sebagai anomie — keadaan masyarakat yang kehilangan arah moral dan nilai bersama.
Karena itu Idul Adha menjadi momentum membangun kembali solidaritas sosial dan kepedulian kemanusiaan.
Daging qurban bukan sekadar konsumsi, tetapi simbol distribusi kasih sayang dan keadilan sosial.
Islam mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak boleh hanya beredar di kalangan tertentu. Al-Qur’an mengingatkan:
> “Agar harta itu tidak hanya beredar di antara orang-orang kaya saja.”
(QS. Al-Hasyr: 7)
Karena itu qurban adalah pendidikan sosial tentang berbagi, kepedulian, pemerataan, dan persaudaraan kemanusiaan.
Hari ini manusia hidup di tengah banjir informasi, budaya instan, kompetisi tanpa batas, dan tekanan psikologis yang terus meningkat. Banyak manusia kehilangan arah karena terlalu sibuk mengejar citra, popularitas, dan validasi sosial.
Padahal kebahagiaan sejati tidak lahir dari pengakuan manusia, tetapi dari kedekatan kepada Allah.
Karena itu Idul Adha sesungguhnya adalah madrasah besar pembentukan manusia tangguh.
Shalat melatih disiplin ruhani. Qurban melatih kepedulian sosial. Dzikir melahirkan ketenangan jiwa. Syukur melahirkan optimisme hidup.
Semua itu membentuk resiliensi spiritual — kemampuan bertahan menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan iman, akhlak, dan kemanusiaan.
Di sinilah makna terdalam manasik kehidupan total.
Bahwa hidup bukan sekadar mencari kenyamanan dunia, tetapi perjalanan menuju Allah SWT.
Dan manusia terbaik bukanlah yang paling banyak memiliki, tetapi yang paling banyak memberi manfaat, paling tulus berkorban, dan paling kuat menjaga iman di tengah ujian kehidupan. 27052026
دعاء الخطبة الثانية لعيد الأضحى ١٤٤٧ هـl
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ
سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ
وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِي هٰذَا الْيَوْمِ الْمُبَارَكِ
يَوْمِ عِيْدِ الْأَضْحَى
أَنْ تَجْعَلَنَا مِنْ عِبَادِكَ الْمُخْلِصِيْنَ
وَمِنْ أَهْلِ الطَّاعَةِ وَالتَّقْوَى
اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا إِخْلَاصَ إِبْرَاهِيْمَ
وَطَاعَةَ إِسْمَاعِيْلَ
وَصَبْرَ هَاجَرَ
وَمَحَبَّةَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ قُرْبَانَنَا
وَصَالِحَ أَعْمَالِنَا
وَاجْعَلْ حَيَاتَنَا مَبَارَكَةً فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ
وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ
وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ
اللَّهُمَّ وَحِّدْ قُلُوبَنَا
وَأَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا
وَاجْعَلْهُمْ مِنَ الْعَادِلِيْنَ الْأُمَنَاءِ
الَّذِيْنَ يَخْدِمُوْنَ شُعُوبَهُمْ بِالصِّدْقِ وَالْإِخْلَاصِ
اللَّهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا
مِنَ الْفِتَنِ وَالْبَلَايَا وَالزَّلَازِلِ وَالْمِحَنِ
وَأَنْزِلْ عَلَيْنَا الْأَمْنَ وَالسَّلَامَ
وَالرَّحْمَةَ وَالْبَرَكَةَ
اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ
وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً
وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً
وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
