![]() |
MU-ONLINE, Padang Pariaman,-- Kone Tuanku Khatib terkenal sebagai ulama yang tafakkuh fiddin. Kemana saja beliau berjalan dan dimana saja berada selalu pakai sarung dan selembar salameri tersandang di bahunya. Pakaian seperti demikian tentu menjadi khasnya seorang ulama dan urang siak di tengah masyarakat Padang Pariaman.
Masa Kecil
Lahir di Ladang Rimbo 1934, oleh ayah ibunya diberi nama Kone. Kini, Ladang Rimbo masuk dalam Nagari Sungai Sirah Kuranji Hulu, Kecamatan Sungai Geringging. Masa kanak-kanak, Kone menghabiskan waktunya di Surau Tangah Padang.
Di Surau Tangah Padang, Ali Umar Tuanku Mudo mashur dengan Buya Tangah Padang mengajar dan memimpin surau itu. Sejak mulai mengaji alif, ba, ta sampai pengajian untuk yang tua-tua diikuti banyak orang di Surau Tangah Padang.
Di seantero Sungai Geringging, nama Buya Tangah Padang ini cukup terkenal. Nama beliau harum, tersebut sebagai ulama hebat. Tak ada pula ulama Sungai Geringging yang tidak mengaji dengan beliau.
Ada yang masa kecilnya mengaji dengan beliau Buya Tangah Padang, ada pula yang setelah jadi tuanku di tempat lain, berulang kaji dengan Buya Tangah Padang ini.
Kone barangkali termasuk kelompok yang masa kecilnya dengan Buya Tangah Padang ini. Setamat sekolah rakyat di kampung, oleh Buya Tangah Padang, Kone dianjurkan mengaji ke Mudiak Padang, Tandikek.
Dasar dari kecil diajarkan ilmu agama, pendidikan surau, beranjak remaja itu Kone bersemangat mengaji ke Mudiak Padang. Beliau Kone sempat mengaji dengan Syekh Muhammad Yatim, yang di zaman itu mashur dengan sebutan Tuanku Sutan.
Syekh Muhammad Yatim Mudiak Padang Tuanku Ampalu (1868-1950) adalah ulama hebat, terkenal mahir memimpin surau. Di Surau Kalampaian Ampalu Tinggi beliau tersebut lama memimpin, tercatat selama 72 tahun. Lalu di Pondok Pesantren Madinatul Ilmi Islamiyah Buluah Kasok, beliau juga tercatat pernah memimpin selama tiga tahun. Lalu, di kampungnya, Mudiak Padang, sepulang mengaji mendirikan surau. Kini suraunya itu bernama Pondok Pesantren Syekh Muhammad Yatim.
Sebelum wafat Syekh Muhammad Yatim, Kone dapat amanah untuk meneruskan mengaji ke Lubuk Pandan dengan muridnya Syekh Muhammad Yatim, yakni Syekh Abdullah Aminuddin Tuanku Shaliah.
Jadi Tuanku dan Mendirikan Surau Manggih
Kone tak lama mengaji dengan Syekh Muhammad Yatim Mudiak Padang Tuanku Ampalu. Namun, semangat mengaji dan menuntut ilmu tambah tinggi. Setelah disuruh ke Lubuk Pandan, Kone langsung saja berpindah tempat mengaji.
Belajar sambil juga mengajar. Lazim di pendidikan surau, anak siak yang senior membina yang yunior. Ketika Kone sudah mengaji di atas anjung, masanya beliau mendampingi anak siak yunior. Terkenal dengan mengaji dasar.
Lama mengaji, belajar dan mengajar, sampai menjalani tes akhir di Lubuk Pandan, dengan ikut kelas tujuh atau kelas marapulai kaji. Kone pun diangkat jadi tuanku.
Ketek banamo, gadang bagala. Masa kecilnya beliau bernama Kone. Nama yang dilekatkan saat lahir oleh kedua orangtuanya. Lama mengaji, mulai dari kampungnya dengan Buya Tangah Padang, lanjut dengan Syekh Muhammad Yatim Mudiak Padang Tuanku Ampalu, dan berlabuh di Pondok Pesantren Madrasatul 'Ulum Lubuk Pandan dengan Syekh Abdullah Aminuddin Tuanku Shaliah, Kone pun digelari dengan Tuanku Khatib.
Sekali aia gadang sekali pula tepian berubah. Orang kampung yang banyak menyapanya dulu dengan sapaan pakiah, perlahan-lahan berubah menyapa beliau dengan tuanku. Oleh masyarakat kampungnya, Sungai Geringging, Kone Tuanku Khatib juga sering ditampilkan dalam kegiatan wirid pengajian di surau dan masjid.
Sering wirid, mengisi pengajian di berbagai surau dan masjid, Kone Tuanku Khatib berniat dan bermaksud mendirikan sebuah surau. Niat dan keinginan itu dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa, Surau Manggih pun tegak. Di situ dijadikan sebagai tempat menyempurnakan ibadah masyarakat. Tempat mengaji anak-anak, wirid mingguan dan musiman, serta yang tak kalah penting itu adalah tempat shalat berjemaah tiap waktu. Termasuk juga sebagai tempat pengajian yang tua-tua atau wirid Tarekat Syattariyah dan sembahyang empat puluh hari.
Keluarga
Dari pernikahan Kone Tuanku Khatib dengan Zainun, beliau dikaruniai delapan orang anak putra dan putri. Yakni Alizar, Mawi, Usmawati, Bataruddin, Azizah, Akirman Tuanku Mudo, Kartini dan Martina.
Di Februari 2008, di tengah usia lanjut, Kone Tuanku Khatib ke istrinya minta ditemani ke tempat berwudhu dari kamarnya. Selesai berwudhu, suami istri ini langsung menggelar tahlil, sesuatu kebiasaan yang dilaziminya setiap kali punya keinginan untuk itu.
Dalam zikir dan tahlil yang panjang itu, sampai istrinya Zainun tak tahu, Kone Tuanku Khatib, imamnya, suaminya dan ayah dari delapan orang putra dan putrinya sudah tak lagi bersuara. Hening dan diam, disapa tak menyahut. Itulah akhir hayat Kone Tuanku Khatib.
Catatan, narasi ini hadir setelah wawancara dan diskusi panjang dengan anak kandung beliau, Akirman Tuanku Mudo, Kamis 28 Mei 2026 di Pariaman
