![]() |
Oleh: Duski Samad
Wakil Ketua Umum PP PERTI
Taushiyah Silaturahim PC dan Jamaah Perti Kabupaten Pasaman Barat Rabu, 03 Juni 2026.
Istiqamah adalah salah satu ajaran terpenting dalam Islam. Banyak orang mampu memulai perjuangan, tetapi tidak semua mampu bertahan dalam perjuangan. Banyak yang bersemangat ketika keadaan lapang, tetapi sedikit yang tetap teguh ketika menghadapi ujian dan perubahan zaman.
Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: Tuhan kami adalah Allah, kemudian mereka istiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka seraya berkata: Janganlah kamu takut dan janganlah kamu bersedih hati." (QS. Fussilat: 30)
Dalam konteks organisasi dan perjuangan umat, istiqamah tidak cukup dilakukan secara individual. Istiqamah memerlukan jamaah, kebersamaan, persaudaraan, dan komitmen kolektif. Sebab itu Rasulullah SAW mengajarkan pentingnya hidup berjamaah karena di dalamnya terdapat keberkahan, perlindungan, dan kekuatan.
Bagi keluarga besar PERTI, nilai istiqamah dalam berjamaah memiliki makna yang sangat mendalam. PERTI lahir dari rahim Ranah Bundo Kanduang pada tanggal 5 Mei 1928. Dua tahun lagi, insya Allah, PERTI akan memasuki usia satu abad. Sebuah usia yang panjang bagi sebuah organisasi keagamaan, pendidikan, dan kemasyarakatan yang lahir dari surau dan tumbuh bersama umat.
Perjalanan hampir seratus tahun itu bukan perjalanan yang mudah. PERTI didirikan, dibesarkan, dan diperjuangkan oleh para ulama, syekh, tuanku, guru, dan tokoh masyarakat yang memiliki pandangan jauh ke depan. Mereka membangun pendidikan, dakwah, kaderisasi ulama, serta penguatan umat melalui surau, madrasah, pesantren, dan lembaga pendidikan Islam yang tersebar di berbagai daerah.
PERTI tidak lahir dari ruang kekuasaan, tetapi dari ruang ilmu. Tidak tumbuh dari kekuatan modal, tetapi dari kekuatan keikhlasan. Tidak dibangun oleh kepentingan sesaat, tetapi oleh cita-cita besar untuk melahirkan umat yang berilmu, berakhlak, dan berdaya guna bagi agama, bangsa, dan negara.
Sejak awal, PERTI memiliki identitas keagamaan yang jelas dan kokoh, yaitu berpaham Ahlussunnah wal Jamaah, berakidah Asy'ariyah dan Maturidiyah, bermazhab Syafi'i, serta mengembangkan pendidikan ruhani melalui tasawuf dan tarekat mu'tabarah. Karakter inilah yang menjadikan PERTI mampu menjaga keseimbangan antara syariat dan hakikat, antara ilmu dan akhlak, antara tradisi dan kemajuan.
Ulama, Dai, Ninik Mamak, dan Penggerak Umat: Tulang Punggung PERTI
Kekuatan terbesar PERTI sejak dahulu hingga sekarang terletak pada manusia-manusia pengabdi yang bekerja di tengah umat. Mereka adalah ulama, dai, ninik mamak, guru surau, cerdik pandai, saudagar, perantau, dan berbagai penggerak umat yang menjadi tulang punggung perjuangan PERTI.
Ulama menjaga ilmu dan akidah umat. Dai menyampaikan risalah Islam dengan hikmah dan kebijaksanaan. Ninik mamak menjaga adat, marwah kaum, dan kearifan sosial Minangkabau. Sedangkan penggerak umat menghidupkan organisasi melalui kerja-kerja pendidikan, sosial, ekonomi, dan kemasyarakatan.
Tanpa ulama, umat kehilangan arah. Tanpa dai, dakwah kehilangan suara. Tanpa ninik mamak, adat kehilangan marwah. Tanpa penggerak umat, organisasi kehilangan tenaga. Karena itu kebangkitan PERTI menuju satu abad harus dimulai dengan memperkuat seluruh elemen yang menjadi fondasi perjuangan tersebut.
Ciri Khas Jamaah PERTI
Selain memiliki manhaj keagamaan yang jelas, PERTI juga memiliki karakter jamaah yang khas yang diwariskan dari tradisi surau dan pendidikan ulama.
Pertama, taat kepada agama. Jamaah PERTI menjadikan Al-Qur'an, Sunnah Rasulullah SAW, dan pandangan ulama sebagai pedoman dalam kehidupan. Agama tidak hanya dipahami sebagai ritual, tetapi juga sebagai pedoman akhlak, muamalah, dan pengabdian sosial.
Kedua, patuh dan hormat kepada ulama. Dalam tradisi PERTI, ulama dipandang sebagai pewaris nabi (waratsatul anbiya'). Karena itu hubungan dengan ulama dibangun atas dasar adab, penghormatan, dan kecintaan kepada ilmu. Jamaah PERTI memahami bahwa keberkahan ilmu tidak hanya diperoleh dari banyaknya pengetahuan, tetapi juga dari kemuliaan adab kepada guru.
Ketiga, mengikuti aturan pemerintah yang ma'ruf dan konstitusional. Sejak dahulu para ulama PERTI mengajarkan pentingnya menjaga ketertiban, persatuan bangsa, dan stabilitas negara. Cinta kepada agama berjalan seiring dengan cinta kepada tanah air dan tanggung jawab kebangsaan.
Keempat, hidup dalam silaturahim yang tulus. Persaudaraan dalam PERTI tidak dibangun atas dasar kepentingan sesaat, tetapi atas dasar ukhuwah, ilmu, dan perjuangan bersama. Silaturahim menjadi kekuatan sosial yang mempersatukan jamaah di kampung maupun di rantau.
Kelima, menjaga persahabatan sapaguruan. Dalam tradisi PERTI, sahabat sapaguruan memiliki ikatan yang kuat karena dipersatukan oleh guru yang sama, ilmu yang sama, dan nilai perjuangan yang sama. Hubungan ini melahirkan solidaritas, saling membantu, dan rasa persaudaraan yang mendalam.
Keenam, memelihara hubungan murid dan guru yang didasari keikhlasan. Guru mengajar karena Allah dan mengabdikan ilmu untuk umat. Murid belajar dengan penuh hormat dan ketulusan. Hubungan seperti ini melahirkan sanad keilmuan yang berkelanjutan dan keberkahan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Inilah salah satu kekuatan utama PERTI yang tidak selalu tampak secara kasat mata, tetapi hidup dalam budaya organisasi dan perilaku jamaahnya. Hubungan antara guru dan murid, antara ulama dan umat, antara sesama sahabat sapaguruan, telah menjadi modal sosial yang menjaga keberlangsungan PERTI selama hampir satu abad.
Menyongsong Abad Kedua PERTI
Hari ini tantangan yang dihadapi PERTI tentu berbeda dengan masa para pendiri. Era digital menghadirkan perubahan besar dalam cara berpikir, cara belajar, cara berkomunikasi, bahkan cara beragama. Arus informasi yang begitu deras sering kali melahirkan polarisasi, individualisme, dan melemahnya ikatan jamaah.
Karena itu pesan istiqamah dalam berjamaah menjadi semakin relevan. Kekuatan PERTI tidak terletak pada banyaknya perdebatan, tetapi pada kokohnya ukhuwah. Tidak pada besarnya klaim, tetapi pada besarnya karya. Tidak pada siapa yang paling menonjol, tetapi pada kemampuan berjalan bersama menuju tujuan yang sama.
Menjelang satu abad PERTI tahun 2028, seluruh keluarga besar PERTI perlu memperkuat empat agenda utama:
1. Istiqamah menjaga manhaj Ahlussunnah wal Jamaah, mazhab Syafi'i, tasawuf, dan tarekat mu'tabarah.
2. Istiqamah mengembangkan pendidikan dan kaderisasi ulama.
3. Istiqamah memperkuat jamaah, silaturahim, dan ukhuwah Islamiyah.
4. Istiqamah membangun kemandirian umat dalam bidang sosial, ekonomi, dakwah, dan kebudayaan.
PERTI besar bukan semata-mata karena sejarahnya, tetapi karena jamaahnya. Jamaah yang taat kepada agama, hormat kepada ulama, patuh kepada aturan yang ma'ruf, hidup dalam silaturahim yang tulus, menjaga persahabatan sapaguruan, dan memelihara hubungan guru dan murid yang dibangun atas dasar keikhlasan.
Apabila nilai-nilai ini tetap hidup, maka PERTI tidak hanya akan memasuki usia satu abad, tetapi juga akan memasuki abad kedua perjuangannya dengan penuh optimisme, tetap menjadi rumah besar umat, benteng Ahlussunnah wal Jamaah, serta pusat kaderisasi ulama, dai, ninik mamak, dan penggerak umat.
PERTI boleh memasuki usia satu abad, tetapi ruh perjuangannya harus tetap muda: kuat dalam akidah, kokoh dalam jamaah, luhur dalam akhlak, dan istiqamah dalam pengabdian.ds.29052026.
