![]() |
Oleh: Duski Samad
Pegiat umat sejak 1980
Di tengah ketegangan geopolitik dunia yang semakin kompleks, muncul harapan ketika negara-negara Islam mulai menunjukkan keberanian untuk berbicara dengan suara sendiri, menjaga martabat bangsa, dan mengedepankan kepentingan perdamaian dunia.
Salah satu fenomena menarik adalah semakin intensnya komunikasi dan kedekatan diplomatik antara Pakistan dan Iran dalam menghadapi berbagai dinamika global. Bagi sebagian kalangan, hal ini dipandang sebagai tanda lahirnya kembali kemandirian politik dunia Islam setelah sekian lama terjebak dalam tarik-menarik kepentingan kekuatan besar dunia.
Tentu setiap negara memiliki kepentingan nasionalnya masing- masing. Namun ada pelajaran penting yang dapat dipetik oleh umat Islam dari perkembangan tersebut: bahwa bangsa yang kuat bukanlah bangsa yang selalu mengikuti kehendak pihak lain, tetapi bangsa yang mampu berdiri tegak dengan identitas, prinsip, dan kepentingannya sendiri.
Diplomasi Bukan Permusuhan
Dalam Islam, diplomasi bukanlah seni menciptakan musuh, melainkan seni menjaga kemaslahatan.
Rasulullah SAW adalah diplomat ulung. Perjanjian Hudaibiyah menjadi contoh bagaimana strategi, kesabaran, dan kecerdasan politik mampu menghasilkan kemenangan besar tanpa peperangan.
Karena itu dunia Islam perlu keluar dari pola pikir yang selalu melihat politik global sebagai pertarungan hitam-putih antara kawan dan lawan.
Yang diperlukan adalah diplomasi bermartabat (dignified diplomacy), yaitu kemampuan berinteraksi dengan siapa pun tanpa kehilangan prinsip dan identitas.
Pelajaran dari Iran
Banyak pihak mengakui bahwa Iran memiliki daya tahan nasional yang luar biasa.
Puluhan tahun menghadapi tekanan politik, embargo ekonomi, dan berbagai bentuk isolasi internasional tidak membuat negara itu kehilangan kepercayaan diri.
Kekuatan tersebut lahir dari beberapa faktor: kepercayaan pada kemampuan sendiri, investasi besar dalam pendidikan dan teknologi, kepemimpinan yang memiliki visi jangka panjang, serta kemampuan membangun semangat kolektif masyarakat.
Terlepas dari berbagai kritik terhadap kebijakan tertentu, ada pelajaran penting bahwa suatu bangsa tidak akan dihormati jika tidak menghormati dirinya sendiri terlebih dahulu.
Pelajaran dari Pakistan
Pakistan juga memberikan pelajaran berharga.
Sebagai negara yang memiliki kemampuan nuklir dan populasi Muslim yang besar, Pakistan terus berusaha memainkan peran sebagai jembatan dialog antara berbagai kekuatan dunia.
Di sinilah pentingnya kecerdasan diplomatik.
Dunia Islam tidak cukup hanya memiliki kekuatan militer atau sumber daya alam. Dunia Islam memerlukan diplomat, intelektual, ilmuwan, ekonom, dan pemimpin yang mampu membaca arah perubahan global.
Bahaya Politik Adu Domba
Sejarah menunjukkan bahwa kelemahan terbesar dunia Islam bukan karena kekurangan sumber daya, tetapi karena perpecahan internal.
Banyak konflik berkepanjangan terjadi karena politik divide et impera yang membuat sesama negara Muslim saling curiga, saling melemahkan, bahkan saling berhadapan.
Al-Qur'an telah mengingatkan: "Dan janganlah kamu berbantah-bantahan yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu." (QS. Al-Anfal: 46)
Ketika dunia Islam sibuk bertikai, pihak lain menikmati keuntungan ekonomi, politik, dan strategis dari perpecahan tersebut.
Rekomendasi untuk Dunia Islam
Pertama, memperkuat persatuan strategis antarnegara Muslim tanpa harus menghilangkan perbedaan mazhab, budaya, maupun sistem politik.
Kedua, mengembangkan diplomasi perdamaian yang aktif dalam menyelesaikan konflik internasional dan regional.
Ketiga, mengutamakan investasi pada pendidikan, riset, teknologi, dan kecerdasan generasi muda, karena masa depan tidak ditentukan oleh jumlah penduduk semata, tetapi oleh kualitas sumber daya manusia.
Keempat, mengurangi ketergantungan ekonomi dan teknologi melalui kerja sama perdagangan, industri, dan inovasi antarnegara Islam.
Kelima, membangun kepemimpinan yang berintegritas, cerdas, berakhlak, dan memiliki visi peradaban jangka panjang.
Menuju Kebangkitan Peradaban
Dunia Islam sesungguhnya memiliki semua modal untuk bangkit.
Lebih dari satu miliar penduduk, sumber daya alam yang melimpah, posisi geografis yang strategis, serta warisan intelektual yang luar biasa merupakan kekuatan besar yang belum sepenuhnya dimanfaatkan.
Yang dibutuhkan hari ini bukan sekadar retorika persatuan, melainkan kerja sama nyata, kepemimpinan yang visioner, dan diplomasi yang bermartabat.
Jika negara-negara Islam mampu menjadikan perdamaian, keadilan, ilmu pengetahuan, dan kemanusiaan sebagai fondasi bersama, maka dunia Islam tidak hanya akan menjadi kekuatan politik, tetapi juga menjadi rahmat bagi peradaban dunia.
Sebagaimana firman Allah SWT:"Dan demikianlah Kami jadikan kamu umat pertengahan agar kamu menjadi saksi atas manusia." (QS. Al-Baqarah: 143)
Menjadi ummatan wasathan bukan berarti lemah, tetapi menjadi umat yang kuat, adil, berwibawa, dan mampu menghadirkan keseimbangan bagi dunia yang semakin kehilangan arah.ds.30052026.
