![]() |
Oleh: Duski Samad
Guru Besar Ilmu Tasawuf UIN Imam Bonjol Padang
Dunia modern sedang menghadapi paradoks ekonomi yang kian nyata. Di satu sisi, kekayaan global meningkat, teknologi berkembang pesat, dan produksi melimpah. Namun di sisi lain, ketimpangan sosial makin lebar, korupsi meluas, keserakahan pasar menguat, dan kegelisahan hidup justru semakin dalam. Manusia modern tampak semakin kaya secara material, tetapi sering kali semakin rapuh secara moral dan spiritual. Perusahaan makin besar, tetapi kepercayaan justru makin kecil. Kemajuan ekonomi tidak otomatis melahirkan ketenteraman jiwa.
Di sinilah letak masalah paling mendasar dari ekonomi modern: ia terlalu sering bertumpu pada pertumbuhan, tetapi kurang memberi perhatian pada makna; terlalu serius mengejar keuntungan, tetapi sering lalai pada keberkahan; terlalu fokus pada sistem, tetapi kurang membina jiwa manusia sebagai pelaku ekonomi. Karena itu, ketika dunia berbicara tentang masa depan ekonomi, sesungguhnya yang dibutuhkan bukan hanya model bisnis baru, tetapi juga paradigma peradaban baru.
Dalam berbagai forum ekonomi nasional, arah ekonomi Indonesia sepuluh tahun ke depan sering disebut akan bertumpu pada empat sektor utama: ekonomi kreatif, ekonomi digital, ekonomi hijau (green economy), dan ekonomi wellness. Keempat sektor ini memang mencerminkan arah baru ekonomi dunia. Namun jika keempatnya hanya dibaca sebagai instrumen pertumbuhan, maka kita berisiko mengulang krisis lama dengan wajah baru. Ekonomi kreatif tanpa akhlak bisa melahirkan komersialisasi budaya. Ekonomi digital tanpa etika bisa berubah menjadi ruang penipuan, manipulasi, dan eksploitasi data. Green economy tanpa kesadaran ruhani bisa jatuh menjadi slogan tanpa komitmen. Wellness economy tanpa fondasi spiritual dapat berubah menjadi industri gaya hidup yang dangkal.
Karena itu, keempat sektor ini membutuhkan ruh etik dan fondasi nilai. Dalam konteks inilah gagasan Tasawuf-nomic menjadi relevan.
Tasawuf-nomic adalah cara pandang ekonomi yang menempatkan manusia bukan hanya sebagai makhluk ekonomi, tetapi juga makhluk spiritual. Ia bukan ajakan meninggalkan dunia, bukan pula sikap anti-pasar atau anti-kekayaan. Tasawuf-nomic justru mengajarkan bahwa dunia harus dikelola, tetapi dikelola dengan akhlak; kekayaan boleh dicari, tetapi tidak dengan keserakahan; teknologi boleh dikembangkan, tetapi tidak dengan kehilangan nurani.
Al-Qur’an memberikan fondasi yang sangat kuat dalam hal ini: “Carilah dengan apa yang Allah berikan kepadamu kebahagiaan akhirat, tetapi jangan lupakan bagianmu di dunia” (QS al-Qashash: 77). Ayat ini sesungguhnya mengandung prinsip ekonomi yang amat maju: keseimbangan antara material dan spiritual, antara produktivitas dan tanggung jawab, antara pertumbuhan dan kemuliaan moral. Dengan demikian, Tasawuf-nomic dapat dipahami sebagai ekonomi yang dibangun di atas amanah, kejujuran, maslahat, keadilan, dan kesadaran Ilahiah. Ia adalah, dalam bahasa sederhana, ekonomi dengan hati.
Jika kapitalisme menekankan kebebasan pasar dan efisiensi, tetapi kerap terjerumus pada materialisme dan ketimpangan, dan jika sosialisme menekankan pemerataan tetapi sering tersandera birokrasi dan lemahnya inovasi, maka Tasawuf-nomic menawarkan jalan tengah. Ia tidak menolak pasar, tetapi menolak keserakahan. Ia tidak menolak peran negara, tetapi menolak dominasi yang mematikan daya hidup masyarakat. Ia tidak memusuhi kekayaan, tetapi menegaskan bahwa kekayaan harus dipandu oleh nilai. Dalam kapitalisme manusia kerap direduksi menjadi economic man; dalam sosialisme ia cenderung dipandang sebagai unit sosial; sedangkan dalam Tasawuf-nomic manusia diposisikan sebagai makhluk ekonomi sekaligus makhluk ruhani.
Karena itu, Tasawuf-nomic tidak berhenti pada kritik, tetapi menawarkan pilar-pilar nilai yang konkret.
Pilar pertama adalah tazkiyah, yakni pembersihan jiwa dan pembersihan ekonomi dari korupsi, manipulasi, dan kerakusan. Banyak masalah ekonomi bangsa bukan semata karena kurang sumber daya, melainkan karena kurang integritas. Sistem yang bersih tidak akan lahir dari jiwa yang kotor.
Pilar kedua adalah qana’ah, yaitu sikap anti-serakah. Qana’ah bukan berarti pasif atau menolak kemajuan, melainkan mengendalikan nafsu memiliki agar ekonomi bertumbuh secara sehat dan berkelanjutan.
Pilar ketiga adalah amanah, yaitu memandang bisnis, jabatan, kekayaan, dan kekuasaan sebagai titipan yang harus dipertanggungjawabkan.
Pilar keempat adalah ihsan, yakni bekerja dengan kualitas terbaik seolah-olah dilihat oleh Allah. Dari ihsan lahir profesionalisme, keunggulan, dan pengawasan diri.
Pilar kelima adalah tawazun, keseimbangan antara dunia dan akhirat, antara manusia dan alam, antara kepentingan individu dan kepentingan sosial.
Dari kerangka ini, empat arah ekonomi masa depan dapat dibaca ulang secara lebih mendalam.
Pertama, ekonomi kreatif. Ekonomi ini bertumpu pada ide, imajinasi, desain, budaya, dan kemampuan menciptakan nilai dari kekayaan intelektual. Dalam perspektif tasawuf, kreativitas adalah amanah akal. Kreativitas bukan sekadar menghasilkan sesuatu yang laku, tetapi sesuatu yang bernilai. Di sini konsep ihsan menjadi penting. Pekerjaan bukan hanya harus selesai, tetapi juga harus bermutu, bermanfaat, dan memperindah kehidupan. Dalam konteks Minangkabau, ekonomi kreatif dapat tumbuh dari kuliner halal, fashion muslim, sastra, seni tradisi, pendidikan surau, manuskrip keulamaan, wisata budaya, hingga narasi sejarah ulama. Artinya, budaya bukan sekadar warisan yang dikenang, tetapi juga modal ekonomi yang bisa diolah dengan ilmu dan martabat.
Kedua, ekonomi digital. Inilah ekonomi yang bergerak melalui internet, platform, kecerdasan buatan, perdagangan elektronik, dan jejaring teknologi. Ekonomi digital membuka peluang besar, termasuk bagi anak muda di nagari yang jauh dari pusat kota. Namun tasawuf mengingatkan bahwa teknologi yang maju harus disertai hati yang lebih maju. Tanpa etika, dunia digital melahirkan hoaks, judi daring, penipuan, eksploitasi data, dan budaya instan yang merusak. Karena itu Tasawuf-nomic menuntut adanya etika digital: kejujuran digital, tanggung jawab informasi, dan bisnis online yang berintegritas. Prinsip tabayyun dalam QS al-Hujurat: 6 sangat relevan di sini. Ekonomi digital tidak cukup dibangun dengan infrastruktur, tetapi juga harus dijaga dengan akhlak.
Ketiga, green economy. Dunia sedang bergerak dari pola ekonomi yang eksploitatif menuju ekonomi yang berkelanjutan. Tasawuf sebenarnya sangat dekat dengan semangat ini, karena tasawuf memandang alam bukan objek kerakusan, tetapi amanah Tuhan. Al-Qur’an menegaskan larangan membuat kerusakan di bumi (QS al-A’raf: 56). Dalam tasawuf dapat dikenali semacam etos zuhud ekologis, yaitu tidak rakus terhadap alam, tidak menjadikan bumi sekadar alat pemuas nafsu ekonomi. Dalam konteks Sumatera Barat, green economy dapat berkembang melalui pertanian organik, energi mikrohidro, konservasi hutan nagari, wisata alam berbasis masyarakat, dan tata kelola lingkungan yang menghormati falsafah alam takambang jadi guru. Dengan demikian, ekonomi hijau bukan sekadar proyek pembangunan, tetapi ibadah peradaban.
Keempat, wellness economy. Inilah ekonomi yang bertumpu pada kesehatan, ketenangan hidup, pencegahan penyakit, kesehatan jiwa, terapi, dan gaya hidup yang lebih manusiawi. Setelah pandemi dan krisis mental global, dunia mulai menyadari bahwa manusia tidak cukup hanya sehat fisik, tetapi juga harus tenang batin. Di sinilah tasawuf memiliki relevansi yang sangat kuat. Tasawuf telah lama berbicara tentang tazkiyatun nafs, dzikir, muraqabah, muhasabah, dan pengobatan hati. Tasawuf bukan hanya ritual, tetapi juga psikologi spiritual. Jika dikembangkan dengan serius, wellness economy di Indonesia dapat bertumpu pada pesantren healing, terapi sufistik, wisata spiritual, konseling keluarga Islami, pengobatan herbal, dan pusat-pusat pembinaan ruhani. Dalam konteks ini, tasawuf bukan hanya warisan keilmuan, tetapi juga dapat menjadi sumber inovasi ekonomi yang sangat manusiawi.
Dengan demikian, Tasawuf-nomic sesungguhnya dapat menjadi fondasi etik bagi ekonomi masa depan. Ekonomi kreatif memberi ruang bagi inovasi. Ekonomi digital memberi daya jangkau. Green economy menjaga keberlanjutan. Wellness economy memulihkan keseimbangan jiwa. Tetapi Tasawuf-nomic memberi semuanya ruh, arah, dan batas moralnya. Tanpa itu, empat ekonomi masa depan bisa saja tumbuh, tetapi tumbuh tanpa hikmah.
Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan model ini. Sebagai bangsa yang religius, berbudaya gotong royong, memiliki tradisi pesantren, serta mempunyai instrumen zakat, wakaf, filantropi, dan ekonomi umat, Indonesia berpotensi menghadirkan model ekonomi spiritual yang khas.
Sumatera Barat bahkan lebih potensial lagi. Falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah adalah bentuk kultural dari integrasi moral agama, sistem sosial, dan perilaku ekonomi. Dari sini bisa lahir model zakat produktif, wakaf pendidikan, ekonomi surau, UMKM halal, pesantren entrepreneur, koperasi berbasis nagari, hingga pusat wellness Islami. Sumatera Barat berpeluang menjadi laboratorium Tasawuf-nomic Indonesia.
Pada akhirnya, krisis ekonomi modern sesungguhnya bukan hanya krisis sistem, tetapi krisis jiwa. Korupsi adalah persoalan jiwa sebelum menjadi persoalan hukum. Ketimpangan adalah persoalan kerakusan sebelum menjadi persoalan statistik. Karena itu, pembaruan ekonomi tidak cukup hanya dengan regulasi, insentif, dan teknologi. Ia harus disertai revolusi kesadaran.
Di sinilah Tasawuf-nomic menemukan urgensinya. Ia mengembalikan manusia ke pusat ekonomi, bukan manusia sebagai pemburu laba semata, tetapi manusia sebagai khalifah yang memakmurkan bumi dengan iman, ilmu, dan akhlak. Ia mengingatkan bahwa masa depan ekonomi bukan semata ditentukan oleh siapa yang paling kaya, tetapi oleh siapa yang paling siap secara moral, intelektual, dan spiritual.
Al-Qur’an menegaskan bahwa Allah meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu (QS al-Mujadilah: 11). Ini berarti masa depan ekonomi sesungguhnya adalah masa depan manusia berkarakter. Maka benar kiranya jika dikatakan: ekonomi tanpa hati akan melahirkan krisis, tetapi ekonomi dengan hati akan melahirkan peradaban.
Tasawuf-nomic karena itu bukan sekadar istilah. Ia dapat menjadi tawaran jalan ketiga—di antara kapitalisme yang terlalu rakus dan sosialisme yang terlalu kaku—menuju ekonomi yang maju, bersih, adil, berkelanjutan, dan bermakna. Sebab pada akhirnya, ekonomi bukan hanya soal pertumbuhan, melainkan juga soal martabat manusia.
