![]() |
| Sambutan Gubernur Mahyeldi |
Oleh: Duski Samad
(Refleksi Arahan Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah dalam Subuh Mubarak, Ahad, 5 April 2026)
Perubahan zaman selalu membawa perubahan suasana kehidupan. Arus informasi semakin deras, gaya hidup semakin cepat berubah, dan nilai-nilai tradisional semakin diuji oleh dinamika modernitas. Dalam situasi seperti ini, kekuatan individu saja tidak cukup untuk menjaga kualitas iman dan akhlak. Yang dibutuhkan adalah lingkungan yang mendukung kebaikan, atau dalam istilah Islam disebut bi’ah salihah.
Karena sesungguhnya manusia sangat dipengaruhi oleh lingkungannya. Apa yang sering didengar akan membentuk cara berpikirnya. Apa yang sering dilihat akan membentuk sikapnya. Dan apa yang sering dibiasakan akan membentuk karakternya.
Dalam kegiatan Subuh Mubarak, Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah mengingatkan pentingnya menghadirkan suasana di mana pesan-pesan kebaikan terus didengar oleh masyarakat. Ini bukan sekadar kegiatan seremonial keagamaan, tetapi bagian dari usaha membangun iklim moral masyarakat.
Sebab kebaikan yang tidak dibiasakan akan mudah hilang, tetapi kebaikan yang dibudayakan akan menjadi kekuatan sosial.
Islam sendiri sejak awal telah menekankan pentingnya membangun suasana kebaikan. Rasulullah SAW membangun masyarakat Madinah bukan hanya dengan ceramah, tetapi dengan menciptakan lingkungan yang mendukung lahirnya akhlak mulia. Masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi pusat pendidikan, pusat musyawarah, pusat solidaritas sosial, dan pusat pembinaan karakter umat.
Dalam konteks Minangkabau, konsep ini sebenarnya sudah lama hidup dalam filosofi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Agama tidak hanya ditempatkan sebagai ajaran pribadi, tetapi menjadi ruh budaya. Surau dahulu bukan hanya tempat mengaji, tetapi juga tempat membentuk mental, akhlak, dan kepemimpinan generasi muda.
Karena itu, ketika kita berbicara tentang berbudaya dengan Islam, yang dimaksud bukanlah menjadikan agama sebagai simbol formal, tetapi menjadikan nilai Islam sebagai kebiasaan sosial.
Membiasakan kebaikan adalah langkah penting. Ibadah yang dilakukan sesekali mungkin memberi kesan spiritual, tetapi ibadah yang dibudayakan akan melahirkan karakter. Ketika wirid menjadi rutinitas, silaturrahim menjadi tradisi, dan kepedulian menjadi kebiasaan, maka masyarakat tidak lagi merasa berat untuk berbuat baik.
Karena pada hakikatnya manusia lebih mudah mengikuti kebiasaan daripada mengikuti nasihat.
Oleh sebab itu, penting agar kebaikan tidak berhenti pada konsep, tetapi diwujudkan dalam praktik nyata. Misalnya dengan memperkuat kegiatan wirid, memperluas silaturrahim, membiasakan saling mengunjungi, memperhatikan sahabat, dan menciptakan ruang-ruang sosial yang menghidupkan nilai agama.
Agama akan terasa hidup jika ia hadir dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya dalam forum ceramah.
Hal yang tidak kalah penting adalah pesan bahwa pemimpin tidak boleh hanya pandai memberi nasihat, tetapi harus siap menerima nasihat. Ini adalah prinsip kepemimpinan yang sangat dalam. Kepemimpinan sejati bukan terletak pada kemampuan memerintah, tetapi pada kesediaan mendengar.
Pemimpin yang hanya ingin didengar akan kehilangan kepercayaan. Pemimpin yang mau mendengar akan mendapatkan kepercayaan.
Dalam perspektif tasawuf, kemampuan menerima nasihat adalah tanda jiwa yang matang. Sebab kesombongan lahir dari perasaan selalu benar, sedangkan kebijaksanaan lahir dari kesediaan untuk belajar.
Seorang pemimpin yang baik bukan yang paling banyak berbicara, tetapi yang paling siap memperbaiki diri.
Karena itu, arahan agar organisasi perangkat daerah menciptakan program yang memberi ruang bagi tumbuhnya kebaikan adalah langkah strategis. Pembangunan tidak cukup hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi atau pembangunan fisik. Yang lebih penting adalah pembangunan manusia.
Sebab sejarah menunjukkan bahwa peradaban tidak runtuh karena kurangnya bangunan megah, tetapi karena runtuhnya nilai. Tidak hancur karena kekurangan teknologi, tetapi karena lemahnya moral.
Jika ruang sosial dipenuhi oleh kegiatan yang menguatkan nilai, maka masyarakat akan lebih mudah menjaga akhlak. Tetapi jika ruang sosial didominasi oleh hiburan tanpa arah, budaya instan, dan gaya hidup konsumtif, maka nilai akan perlahan terkikis.
Karena itu, membangun bi’ah salihah sebenarnya adalah kerja peradaban. Ia membutuhkan keterlibatan semua pihak: pemerintah, ulama, pendidik, ninik mamak, tokoh masyarakat, dan keluarga.
Minangkabau sejak dahulu memahami hal ini melalui falsafah kebersamaan:
ringan samo dijinjiang, berat samo dipikua.
Artinya, membangun masyarakat tidak bisa sendiri. Ia harus menjadi tanggung jawab kolektif.
Pada akhirnya, berbudaya dengan Islam berarti menghadirkan agama sebagai nilai hidup, bukan hanya identitas. Ketika kejujuran menjadi kebiasaan, itu Islam. Ketika amanah menjadi karakter, itu Islam. Ketika kepedulian menjadi tradisi, itu Islam. Ketika musyawarah menjadi jalan, itu Islam.
Karena Islam sejatinya bukan hanya ajaran ibadah, tetapi ajaran membangun manusia.
Dan manusia yang baik tidak lahir hanya dari teori, tetapi dari lingkungan yang membiasakan kebaikan.
Di situlah pentingnya bi’ah salihah: menciptakan suasana di mana berbuat baik terasa alami, dan menyimpang terasa asing.
Jika lingkungan seperti ini terbangun, maka masyarakat tidak perlu selalu diingatkan untuk berbuat baik, karena kebaikan telah menjadi budaya.
Dan ketika kebaikan sudah menjadi budaya, di situlah peradaban menemukan kekuatannya.
Karena pada akhirnya, peradaban besar tidak dibangun oleh kekuatan ekonomi semata, tetapi oleh kekuatan nilai yang dijaga bersama.
