![]() |
Oleh: Duski Samad
STP#series67.03042026
Sejarah sering mencatat tokoh besar, tetapi jarang mengingat guru pertama mereka. Padahal dalam tradisi pendidikan Islam, justru guru pertama itulah yang membuka pintu ilmu, menanamkan adab, dan mengarahkan jalan hidup seorang murid.
Dalam sejarah Islam Minangkabau, nama Syekh Burhanuddin Ulakan dikenal luas sebagai ulama besar penyebar Islam dan pengembang sistem pendidikan surau. Namun tidak banyak yang mengetahui bahwa sebelum beliau menjadi ulama besar, ada seorang guru awal yang memperkenalkan dasar-dasar ilmu agama kepadanya, yaitu Syekh ‘Arif Billah yang dikenal sebagai Syekh Madinah.
Nama ini mungkin tidak seterkenal Syekh Burhanuddin, bahkan makamnya pun tidak diketahui. Namun dalam perspektif sejarah pendidikan Islam, beliau memiliki posisi penting sebagai mata rantai awal lahirnya tradisi keilmuan Ulakan.
Jaringan Ulama dari Madinah ke Minangkabau
Tradisi ulama Syattariyah menyebutkan bahwa Syekh ‘Arif Billah pernah belajar di Madinah bersama Syekh Abdur Rauf as-Singkili kepada ulama besar Syekh Ahmad al-Qusyasyi. Ini menunjukkan bahwa sejak awal, Islam di Minangkabau sudah terhubung dengan jaringan ulama internasional, khususnya Haramain (Makkah dan Madinah).
Ini sekaligus membuktikan bahwa peradaban Islam Minangkabau tidak tumbuh secara terisolasi, tetapi merupakan bagian dari jaringan intelektual dunia Islam.
Al-Qur’an sendiri memberikan dasar penting bagi tradisi keilmuan ini:
"Tidak sepatutnya bagi orang mukmin itu semuanya pergi (berjihad). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap kelompok beberapa orang untuk memperdalam ilmu agama…”
(QS. At-Taubah: 122)
Ayat ini menjelaskan pentingnya keberadaan ulama yang memperdalam ilmu, kemudian menjadi penerang masyarakatnya.
Dalam konteks ini, Syekh ‘Arif Billah dapat dilihat sebagai bagian dari generasi ulama penghubung antara pusat ilmu Islam dengan daerah-daerah yang sedang tumbuh kesadaran keagamaannya.
Ulama Pengembara yang Membuka Jalan
Riwayat lokal menyebutkan bahwa Syekh Madinah hanya sekitar enam bulan berada di Ulakan. Beliau dikenal sebagai pedagang yang juga berdakwah dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain.
Dalam sejarah Islam Asia Tenggara, model ulama seperti ini bukan hal baru. Banyak ulama datang sebagai pedagang, tetapi yang mereka bawa bukan hanya barang dagangan, melainkan juga nilai, akhlak, dan ilmu agama.
Mereka tidak membangun kekuasaan, tetapi membangun kesadaran. Mereka tidak membawa pedang, tetapi membawa keteladanan.
Karena itu, walaupun Syekh ‘Arif Billah tidak lama di Ulakan, perannya sebagai pembuka jalan pendidikan tetap memiliki arti historis.
Pepatah Minangkabau mengingatkan:
“Nan dahulu ditinggikan, nan tuo dihormati.”
Artinya, siapa yang lebih dahulu berjasa tetap memiliki tempat dalam sejarah, walaupun perannya tidak panjang.
Surau Kecil yang Melahirkan Peradaban Besar
Tradisi Ulakan menyebutkan bahwa Surau Syekh Madinah di kawasan Sungai Gimba menjadi tempat awal Syekh Burhanuddin belajar agama. Bahkan disebutkan pula bahwa Surau di Sungai Tiram Tapakih merupakan tempat pertama Syekh Madinah mendarat.
Hal ini memperlihatkan satu fakta penting:
Peradaban besar sering dimulai dari tempat kecil.
Bukan dari gedung megah.
Bukan dari institusi besar.
Tetapi dari surau sederhana, guru yang ikhlas, dan murid yang haus ilmu.
Dalam sejarah pendidikan Islam Minangkabau, surau memang bukan sekadar tempat ibadah. Ia adalah:
sekolah, asrama, pusat kaderisasi ulama, dan pusat pembinaan karakter.
Di surau inilah lahir ulama-ulama yang kemudian membangun peradaban Minangkabau berbasis falsafah:
Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.
Guru Pertama Menentukan Arah Seorang Ulama
Dalam perspektif pendidikan, guru pertama memiliki pengaruh psikologis yang besar. Ia membentuk cara berpikir, etika belajar, dan orientasi hidup seorang murid.
Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa pendidikan sejati dimulai dari adab sebelum ilmu.
Al-adab qabla al-ilm.
Bisa jadi, dari Syekh Madinah inilah Syekh Burhanuddin pertama kali belajar:
mencintai ilmu,
menghormati guru,
dan memahami makna perjalanan mencari ilmu.
Tanpa pendidikan awal ini, mungkin perjalanan intelektual Syekh Burhanuddin tidak akan seperti yang dikenal hari ini.
Menghargai Guru yang Tidak Tercatat
Salah satu kelemahan historiografi kita adalah terlalu fokus pada tokoh besar, tetapi kurang memberi perhatian pada mata rantai awal yang membentuk mereka.
Padahal dalam Islam, menghormati guru merupakan bagian dari keberkahan ilmu.
Ulama bahkan mengingatkan:
“Barang siapa tidak menghormati gurunya, ia tidak akan merasakan keberkahan ilmunya.”
Karena itu, mengenang Syekh Madinah bukan hanya soal sejarah, tetapi juga soal etika keilmuan: menghargai mereka yang membuka jalan, walaupun tidak dikenal luas.
Pelajaran untuk Pendidikan Islam Hari Ini
Kisah Syekh Madinah memberikan pelajaran penting bagi dunia pendidikan Islam saat ini.
Bahwa: Ulama besar lahir dari pendidikan dasar yang kuat. Peradaban tidak dibangun secara instan.
Guru awal memiliki peran strategis.
Surau kecil bisa melahirkan tokoh besar.
Ini juga menjadi kritik halus bagi dunia pendidikan modern yang sering lebih fokus pada gedung daripada guru, lebih fokus pada administrasi daripada pembinaan karakter.
Padahal sejarah menunjukkan:
Yang melahirkan peradaban bukan fasilitas, tetapi manusia yang dididik dengan nilai.
Penutup: Mengingat Mata Rantai Peradaban
Syekh ‘Arif Billah atau Syekh Madinah mungkin tidak meninggalkan karya besar, tidak memiliki makam yang dikenal, dan tidak lama tinggal di Ulakan. Tetapi beliau meninggalkan sesuatu yang jauh lebih penting:
Seorang murid yang kemudian menjadi ulama besar.
Dalam perspektif peradaban, ini adalah kontribusi yang sangat besar.
Karena itu, sejarah Syekh Madinah mengajarkan satu pesan penting:
Peradaban besar selalu dimulai dari guru yang ikhlas, murid yang sungguh-sungguh, dan surau yang sederhana.
Al-Qur’an menegaskan:
"Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat."
(QS. Al-Mujadilah: 11)
Maka mengenang Syekh Madinah sejatinya bukan sekadar mengenang seorang ulama yang terlupakan, tetapi menghormati mata rantai awal lahirnya peradaban Islam Minangkabau.
Dan mungkin di situlah letak kebesaran beliau: tidak dikenal, tetapi melahirkan orang besar.
