![]() |
Oleh: Ridwan Arif, S.Fil.I, M.I.S, Ph.D, Tk. Bandaro
DATA PRIBADI DAN KELUARGA
Nama kecilnya ialah Dumin. Setelah memiliki ilmu agama, oleh gurunya yaitu Syekh Aminullah, beliau dianugerahi gelar Labai. Oleh guru beliau yang terakhir, beliau dianugerahi gelar Tuanku ‘Aluma. Di kalangan pengikut Tarekat Syathariyah beliau masyhur dengan panggilan Syekh ‘Aluma Koto Tuo. Selanjutnya dalam tulisan ini ditulis Syekh ‘Aluma. Tidak Syekh ‘Aluma didilahirkan di sebuah kampung di kaki Gunung Singgalang yaitu Nagari Koto Tuo, Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam. Tidak ditemukan catatan sejarah yang menyebutkan tahun kelahirannya secara pasti. Diperkirakan beliau lahir pada paruh ke-2 abad ke-16. Dalam sistem kekerabatan minangkabau beliau berasal dari suku Sikumbang.
Syekh Aluma memiliki empat orang istri:
Zainab, di Galudur, Kampung Selayan, Nagari Koto Tuo;
Sidah, di Jambak, Nagari Koto Tuo;
Tuo Kimah, juga di di Jambak, Nagari Koto Tuo;
Tuo Rokan, di Lurah, Nagari Koto Tuo;
Dengan isteri pertama beliau dianugerahi 13 orang anak, di antaranya:
Zainul Abidin, Tuanku Mansur;
Khadijah;
Unaijah;
Tuanku Modo Ismail (w. 1994);
Kiah;
Dengan isteri kedua beliau dikaruniai seorang anak yaitu Tuanku Mahmud
Dengan isteri ketiga dan keempat, beliau tidak dianugerahi anak.
RIWAYAT PENDIDIKAN
Setelah menyelesaikan pendidikan membaca al-Qur’an dengan orang tua dan surau di kampungnya, Syekh ‘Aluma mempelajari ilmu-ilmu keislaman kepada seorang ulama’ besar di Koto Tuo yaitu Syekh Aminullah Tuanku Sutan. Sang guru adalah seorang Mursyid Tarekat Syathariyyah terkemuka pada masa itu khususnya di kawasan dataran tinggi Minangkabau (wilayah darek). Sebagai bentuk penghormatan atas ilmu yang telah dimilikinya, beliau diberi gelar Labai oleh sang guru. Kemudian Syekh Aminullah meminta Syekh ‘Aluma untuk melanjutkan pengajian kepada Syekh Yusuf di Tilatang Kamang, juga di Kabupaten Agam. Syekh ‘Aluma melanjutkan pengajian dengan Syekh Yusuf ini setelah menikah.
Diceritakan oleh cucunya, Buya Tuanku Mudo Ismet, keberangkatan Syekh ‘Aluma untuk belajar (mengaji) ke Tilatang Kamang beliau diantar oleh keluarga dan kerabat, termasuk mertua dengan membawa perbekalan seperti beras. Perjalanan ke Tilatang Kamang melalui kawasan Ngarai Sianok. Satu peristiwa aneh terjadi dalam perjalanan tersebut. Setibanya rombongan di kawasan Ngarai Sianok, tiba-tiba rombongan kehilangan sosok Syekh ‘Aluma. Namun rombongan tetap melanjutkan perjalanan. Setibanya rombongan di Surau Syekh Yusuf, anggota rombongan menyaksikan Syekh ‘Aluma aluma sudah berada di dalam surau, sedang duduk bersama Syekh Yusuf. Ini adalah salah satu bentuk karamah Syekh ‘Aluma. Pada waktu itu Syekh Yusuf berkata kepada Syekh Aluma, “Tidak usah menetap di sini, datang sekali-sekali saja”. Karena itu Syekh ‘Aluma tidak pernah menginap di surau Syekh Yusuf. Beliau datang ke Tilatang Kamang pada pagi hari, malamnya ia akan kembali ke Koto Tuo. Biasanya jam 10 malam beliau sudah sampai lagi di Koto Tuo.
Satu peristiwa aneh terjadi lagi ketika beliau dalam perjalanan dari Tilatang Kamang menuju Koto Tuo. Dalam perjalanan ini beliau diiringi oleh sosok harimau, kemudian harimau tersebut berubah bentuk menjadi sapi putih, dan sesampainya di rumah sosok tadi berubah bentuk menjadi manusia. akhirnya sosok tersebut bersalaman dengan Syekh ‘Aluma. Menurut Buya H. Yunaidi Tuanku Simarajo, berdasarkan riwayat yang ia terima, sosok tersebut ialah Nabi Khidir.
Setelah berguru dengan Syekh Yusuf, Syekh ‘Aluma mempelajari Tarekat Syathariyyah dengan Syekh Djinang Tuanku Limopuluah yang dikenal dengan Uwai Limopuluah, yang mengajar di suraunya di Malalo, Kabupaten Tanah Datar. Berdasarkan silsilah yang penulis terima dari guru, Syekh ‘Aluma menerima Tarekat Syathariyah dari dua orang guru yaitu Syekh Aminullah Tuanku Sutan dan Syekh Tuanku Limopuluah. Dengan demikian dalam hal silsilah keilmuan Tarekat Syathariyyah, di antara mursyid Tarekat Syathariyyah di Minangkabau, Syekh ‘Aluma menempati posisi yang unik. Ketika kebanyakan mursyid Tarekat Syathariyah hanya memiliki satu jalur silsilah tarekat yang bermuara kepada syekh Burhanuddin Ulakan, Syekh ‘Aluma memiliki satu lagi silsilah yang tidak melalui Syekh Burhanuddin, yaitu silsilah yang bermuara kepada Syekh Muhammad Saman di Aceh, melalui gurunya Syekh Aminullah Tuanku Sutan. Bagaimanapun, bagi murid-murid beliau yang di Kabupaten Padang Pariaman, di antara dua jalur silsilah ini, penekanan lebih diberikan kepada silsilah yang bermuara kepada Syekh Burhanuddin melalui Syekh Uwai Limopuluah Malalo.
PAHAM KEAGAMAAN
Sebagai seorang ulama dan mursyid Tarekat Syathariyah, dalam pandangan keagamaan Syekh ‘Aluma mengikuti paham keagamaan guru-guru beliau yang bersilsilah kepada Syekh Burhanuddin Ulakan dan Syekh ‘Abdul Ra’uf al-Fanshuri al-Singkili yaitu mengikuti aliran Ahl Sunnah wal-Jama’ah dalam konsep Imam Abu Hasan al-Asy’ari (Asy’ariyah) dalam akidah, Mazhab Syafi’i dalam fikih dan, Tarekat Syathariyah dalam tasawuf. Beliau memegang teguh paham keagamaan ini. Ia berpesan kepada murid-murid dan jama’ahnya untuk senantiasa istiqamah dalam meyakini dan mengamalkan paham keagamaan yang ia warisi dari guru-gurunya. Sampai sekarang mayoritas ulama Syathariyah yang bersilsilah ke Syekh ‘Aluma memegang sebuah amanah tertulis Syekh ‘Aluma tentang paham dan amaliah keagamaan yang mesti dipegang oleh pengikut (murid) Tarekat Syathariyah.
PENGABDIAN DAN KONTRIBUSI
Mendirikan Surau (Pondok Pesantren)
Setelah mendapatkan ilmu yang memadai, untuk mengembangkan ilmu yang telah dimilikinya Syekh ‘Aluma mendirikan lembaga pendidikan islam yang dikenal dengan istilah surau. Surau yang didirikan oleh Syekh ‘Aluma ini kemudian hari dikenal dengan Surau Syekh ‘Aluma dan Pondok Pesantren Syekh ‘Aluma. Masyarakat dan murid-muridnya sering juga menyebut dengan Surau Koto Tuo. Sistem pendidikan surau di Minangkabau adalah cikal bakal lembaga pendidikan madrasah dan Pondok Pesantren masa kini. Sistem pendidikan yang digunakan di Surau Koto Tuo mempertahankan cara tradisional seperti yang dipakai di Timur Tengah dan di Minangkabau sejak zaman Syekh Burhanuddin, yaitu sistem halaqah. Para murid belajar dengan cara duduk melingkar mengelilingi guru. Tidak ada sistem tingkatan kelas. Hanya ada sistem tingkatan kitab. Artinya, apabila seorang pelajar (santri) selesai mengaji sebuah kitab maka ia akan melanjutkan memepelajari kitab yang tingkatannya di atas kitab yang telah ia pelajari. Di Surau Koto Tuo diajarkan berbagai bidang ilmu keislaman seperti tata bahasa Arab (nawu dan sharaf), tafsir, hadis, ulum al-hadits, balaghah, sejarah nabi dan sahabat (tarikh), manthiq, ushul fiqh, fiqh, aqidah (ilmu kalam) dan tasawuf secara umum dan khusus (Tarekat Syathariyah). Dengan demikian, para santri dikader menjadi ulama yang menguasai ilmu-ilmu zahir (‘ulÅ«m al-syarÄ«’ah) dan ilmu batin (ilmu tasawuf dan tarekat). Dengan kata lain, para santri disiapkan menjadi pendakwah (da’i), ulama syari’at sekaligus ulama tasawuf/ pengembang Tarekat Syathariyah di masyarakat. Tentu saja para santri dibekali dengan kemahiran (skill) berbicara di depan umum (ceramah).
Pendirian Surau Koto Tuo telah menarik banyak remaja untuk berguru dengan Syekh ‘Aluma. Banyak remaja berdatangan ke koto tuo dari berbagai kabupaten di Sumatera Barat bahkan dari provinsi tetangga yaitu provinsi Riau dan provinsi Jambi. Pada masa itu jumlah santri yang belajar di Surau Koto Tuo lebih kurang 300 orang. Ini menunjukkan kebesaran dan ketokohan Syekh ‘Aluma.
Surau Koto Tuo di bawah asuhan telah melahirkan banyak alumni yang kelak menjadi guru umat dan ulama’ terkemuka di daerahnya masing-masing, di antaranya adalah:
Syekh H. Dawamat, Ungku Panjang, VII Koto Sungai Sariak, pengasuh pesantren terkenal dan mursyid Tarekat Syathariyyah terkemuka di Kab. Padang Pariaman;
Syekh H. Isma’il Kiambang, pengasuh pesantren terkenal dan mursyid Tarekat Syathariyyah terkenal di Kab. Padang Pariaman;
Syekh H. Musa, Tk. Sidi, Tan Basa, Tapakih, pengasuh pesantren terkenal dan mursyid Tarekat Syathariyyah terkemuka di Kab. Padang Pariaman;
Syekh Dawat, Tk. Shaliah, (Ungku Shaliah Kiramaik), mursyid Tarekat Syathariyyah terkemuka di Kab. Padang Pariaman yang terkenal dengan banyak karamah;
Tk. Rajo Mangkuto, Tilatang Kamang, Agam;
Tuanku H. Abdul Hadi, Panganak Bukik, Bukittinggi;
Tuanku Mangkuto, Pacuan Kudo, Bukittinggi;
Tuanku Khatib Alam, Batusangkar;
Tuanku Imam, Limo Kaum, Batusangkar;
Tuanku Sati, Sabuak, Padang Panjang;
Tuanku Qadhi Majo Indo, Sabuak, Padang panjang;
Tuanku Labai Marajo, Sabuak, Padang Panjang;
Tuanku Sidi, Andaleh, Padang Panjang;
Tuanku Labai Naro, Sabuak, Padang Panjang;
Tuanku Labai Rangkayo, Sabuak, Padang Panjang;
Tuanku Datuak Kayo, Sabuak, Padang Panjang;
Tuanku Imam, Kubu, Balai Raba’a, Padang Panjang;
Tuanku Imam, Subarang, Padang Panjang;
Dan lain-lain.
Mengembangkan Tasawuf/ Tarekat Syathariyah
Syekh ‘Aluma adalah seorang mursyid Tarekat Syathariyah terkemuka di Minangkabau bahkan beliau dipandang sebagai tokoh terbesar ulama’ Syathariyah abad ke-20 di Minangkabau. Sebagaimana telah disinggung di atas, bahwa para murid (santri) yang belajar di Surau Koto Tuo, oleh Syekh ‘Aluma tidak hanya diajarakan berbagai disiplin ilmu syari’at dengan menggunakan kitab kuning, tetapi juga diajarkan ilmu tasawuf secara umum dan Tarekat Syathariyyah secara khusus. Dengan demikian diharapkan para murid kelak tidak hanya menjadi guru dalam ilmu-ilmu syari’at tetapi juga menjadi mursyid yang mengembangkan Tarekat Syathariyyah. Faktanya, murid-murid syekh ‘aluma telah menjadi pelita agama, da’i yang mengajak umat ke jalan Allah SWT, menjadi guru yang mencerdaskan umat, tempat bertanya masalah agama dan melanjutkan perjuangan Syekh ‘Aluma dalam melakukan kaderisasi ulama dan mengembangkan Tarekat Syathariyyah di daerahnya masing-masing. Berkat perjuangan para muridnya, Tarekat Syathariyah masih berkembang di kalangan masyarakat minang dewasa ini baik yang tinggal di kampung halaman (ranah) maupun di perantauan (beberapa provinsi di Indonesia). Kesuksesan murid-murid beliau dalam mengembangkan Tarekat Syathariyah di Sumatera Barat khususnya, di Indonesia umumnya dapat dilihat dari ramainya jama’ah yang menziarahi makam beliau setiap bulan Rajab dan Sya’ban yang jumlahnya ribuan orang. Setelah wafatnya Syekh ‘Aluma, salah seorang puteranya yang menggantikan kedudukan beliau sebagai mursyid Tarekat Syathariyyah, H. Tuanku Mudo Isma’il mendirikan organisasi ulama’ dan pengikut Tarekat Syathariyyah yang bersilsilah kepada Syekh Burhanuddin Ulakan dengan nama “Jama’ah Syathariyah”.
Syekh ‘Aluma dengan Surau Koto Tuo-nya memainkan peran penting sebagai pusat pengembangan Tarekat Syathariyyah di Minangkabau pada abad ke-20. Dikatakan, setelah peran Ulakan –sebagai pusat pengembangan Tarekat Syathariyyah pertama di Minangkabau- melemah, Surau Koto Tuo tampil sebagai pusat penyebaran tarekat ini pada masanya. Disebabkan peran beliau yang signifikan ini beliau dipandang sebagai tokoh terbesar ulama’ Syathariyah abad ke-20 di Minangkabau.
Menggubah Syair Ma’rifat
Sebagaimana pada zaman klasik sebagian ulama’ sufi juga seorang penyair, Syekh ‘Aluma juga seorang penyair. Ini dibuktikan oleh sebuah karya yang beliau tulis dengan judul syair ma’rifat. Karya tersebut masih dalam bentuk tulisan tangan pada sebuah buku tulis dan belum diterbitkan. Fakta ini menunjukkan ternyata Syekh ‘Aluma juga memiliki jiwa seni. Sya’ir Ma’rifah adalah kumpulan sya’ir yang terdiri dari 57 bait sya’ir. Isi sya’ir tersebut adalah nasehat agama kepada orang-orang beriman, ajaran tasawuf secara umum dan, ajaran Tarekat Syathariyyah secara khusus. Satu hal yang menarik, karya memberi judul karyanya seperti judul sya’ir karya Syekh ‘Abdul Ra’uf al-Fanshuri al-Sinkili. Ini mungkin menunjukkan bahwa beliau terinspirasi dan sangat mencintai leluhur keilmuannya dalam bidang tasawuf/ Tarekat Syathariyyah yaitu Syekh ‘Abdul Ra’uf.
KEPRIBADIAN
Teguh Memegang Prinsip
Syekh Aluma’adalah seorang ulama’ yang teguh memegang prinsip. Buya Ismet Tuanku Mudo menceritakan, ketika Syekh Muhammad Djamil Djambek pulang dari belajarnya di Makkah, beliau mengajak Syekh Aluma’ untuk menggunakan hisab saja dalam menentukan awal bulan hijriah, terutama ketika memasuki bulan Ramadhan dan Syawal. Diketahui bahwa Syekh M. Djamil Djambek adalah seorang yang pakar dalam ilmu falak. Ajakan ini dijawab dengan ringkas oleh Syekh ‘Aluma “Bialah ambo ikuik guru ambo sajo (biarlah saya ikut guru saya saja)”. Maksudnya beliau tetap berpegang dengan ajaran dan pemahaman gurunya yaitu Syekh Uwai Limopuluah bahwa untuk menentukan awal bulan Ramadhan dan Syawal dengan cara ru’yatul hilal (melihat anak bulan pada 29 Sya’ban dan 29 Ramadahn dengan mata kepala), sedangkan untuk menentukan tanggal 29 Sya’ban tersebut adalah dengan menggunakan hisab takwim.
Ta’at Beribadah
Angku Haji Labai Lani yang merupakan pelayan pribadi (khadim) Syekh ‘Aluma menceritakan bagaimana perhatian Syekh ‘Aluma kepada syari’at. Menurutnya, Syekh ‘Aluma adalah seorang ulama’ yang ta’at beribadah. Beliau meriwayatkan, ketika pada usia tuanya, Syekh ‘Aluma mengalami keluhan sakit lutut. Ketika shalat beliau kesulitan untuk berdiri dari sujud. Namun begitu beliau tetap melaksanakan shalat tarawih di bulan ramadhan dengan sempurna. Beliau tidak mau shalat dalam keadaan duduk, walaupun sebenarnya hal itu dibenarkan dalam fiqh: dibenarkan shalat duduk bagi orang yang tidak mampu untuk berdiri dan dibenarkan shalat duduk untuk shalat sunnah. Fakta ini menunjukkan bagaimana seorang ulama’ tasawuf/ mursyid tarekat bahkan telah dipandang sebagai seorang wali, sangat memberi perhatian kepada amal ibadah. Ini perlu diketahui oleh sebagian murid (pengikut) tarekat yang menyangka secara salah bahwa orang yang sudah menjalani jalan tasawuf tidak perlu banyak beribadah.
Bersih dan Rapi
Syekh H. Nashruddin (Buya Ungku Sinaro) menceritakan Syekh ‘Aluma adalah seorang ulama yang suka tampil bersih dan rapi. Walaupun beliau tetap di surau, tidak bepergian, beliau tetap menjaga penampilan. Beliau memakai kain sarung bugis makasar -yang harganya tergolong mahal- dan memakai baju safari dan sepatu. Bahkan, kata Buya Ungku Sinaro, dalam sehari kadang beliau bersalin pakaian sebanyak dua kali. Begitu juga dengan kumis dan jenggot senantiasa beliau cukur, sehingga kelihatan rapi dan indah. Kenyataan ini mematahkan tuduhan sebagian orang yang anti-tasawuf (sufi) yang mengatakan bahwa tasawuf identik dengan kumuh, kotor dan kurang memperhatikan kerapian dan keindahan.
PENGHARGAAN DAN KARAMAH
Syekh ‘Aluma adalah seorang tokoh ‘Ulama terkemuka di Minangkabau. Kebesarannya diakui oleh penguasa zaman kolonial yaitu Pemerintah Belanda. Pengakuan dari pemerintah Belanda dibuktikan oleh penghargaan berupa “Bintang Penghargaan” dari pemerintah Belanda.
Syekh ‘Aluma adalah seorang ‘ulama sufi yang banyak dianugerahi kejadian luar biasa (karamah). Di atas telah disebutkan dua karamah beliau yaitu ketika dalam perjalanan mengaji ke Tilatang Kamang dan perjalanan kembali ke Koto Tuo. Bahkan, menurut Buya Tk Mudo Ismet beliau sudah diberi keistimewaan ketika masih berada dalam kandungan. Diriwayatkan, ibu beliau adalah seorang yang memiliki keahlian dalam pengobatan tradisional (dukun, sekaligus dukun beranak). Ketika sang ibu tidak mengetahui ramuan obat apa yang cocok untuk pasiennya, sang ibu pergi ke belakang terlebih dahulu. Ketika itu jabang bayi yang berada dalam kandungannya seolah-olah memberitahu ramuan obat yang sesuai kepada ibunya. Dengan demikian ketika masih dalam kandungan lagi, sudah ada tanda-tanda bahwa jabang bayi tersebut (Syekh ‘Aluma) akan menjadi ‘ulama besar dan seorang wali Allah. Untuk diketahui Syekh ‘Aluma dikandung ibunya selama dua tahun.
WAFAT
Syekh ‘Aluma wafat pada malam khamis 25/26 Safar 1381/ 10 Agustus 1961 di suraunya (pesantrennya) di Koto Tuo. Kepergiannya meninggalkan duka yang mendalamam bagi umat terutama para murid beliau, pengikut (jama’ah) Tarekat Syathariyah khususnya, masyarakat Sumatera Barat umumnya. Umat memadati komplek Surau Koto Tuo mengungkapkan rasa belasungkawa dan mengantarkan beliau ke tempat peristirahatan terakhir. Tumpah ruahnya umat yang yang datang melayat mencerminkan kebesaran Syekh ‘aluma. Syekh ‘Aluma dimakamkan di sisi kiri (arah selatan) suraunya di Koto Tuo. Setelah kepergiannya kepemimpinan majelis pengajian Tarekat Syathariyah di Surau Koto Tuo diemban oleh salah seorang puteranya yaitu Tuanku Mudo Ismail. Untuk mengenang jasa Syekh ‘Aluma para murid-muridnya melakukan ziarah tahunan ke makamnya pada bulan Rajab dan Sya’ban. Mengingat luasnya jaringan murid-murid Syekh ‘Aluma yang tersebar di berbagai provinsi seperti Sumatera Barat, Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatera Utara, dan beberapa provinsi di pulau Jawa, maka tidak ada kesatuan jadwal ziarah di kalangan murid-muridnya. Seorang guru dalam jaringan murid -atau murid dari murid- Syekh ‘Aluma biasanya mempunyai jadwal ziarah sendiri. Hal ini karena mempertimbangkan kondisi kompleks Surau Koto Tuo. Sebagai gambaran, seorang guru (mursyid) Tarekat Syathariyah biasanya datang ziarah ke Koto Tuo bersama jama’ah lebih kurang 30 bus atau lebih dan beberapa mobil pribadi.
Sumber data:
Wawancara dengan Buya Tuanku Mudo Ismet Ismail pada 10 Safar 1438/ 10 November 2016;
Wawancara dengan khadim (asisten) Syekh ‘Aluma, Bapak H. Lani, Labai Saidi pada 10 Safar 1438/ 10 November 2016;
Cerita yang penulis terima dari gurunya Syekh H. Nashruddin, Tk, Sinaro;
Cerita yang penulis terima dari ayahnya, Buya H. Yunaidi, Tk, Simarajo;
Selesai di tulis di Setu, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur pada hari Khamis, 9 April 2026, jam 10.15.
