Oleh: Ridwan Arif, S.Fil.I, M.I.S, Ph.D, Tuanku Bandaro
ASAL USUL KETURUNAN DAN KELUARGA
Abuya Syekh H. Nashruddin, Tuanku Sinaro dilahirkan di Korong Kampuang Paneh, Nagari Pakandangan, Kecamatan Enam Lingkung, Kabupaten Padang Pariaman dari pasangan Syekh Abdul Razak, Tuanku Mudo (ayah) dan Alif (ibu) pada 30 Juni 1936. Nama kecil beliau ialah Nashruddin. Setelah menyelesaikan pendidikannya di pesantren, ia dianugerahi gelar Tuanku Sinaro. Gelar ‘Sinaro’ diambilkan dari nama penghulu kaumnnya di suku Panyalai (Caniago) yaitu Datuak Sinaro. Beliau lebih akrab dipanggil Buya Haji Kambie Sabatang. Kambie Sabatang adalah nama kampung tanah kelahirannya di mana ia mendirikan pondok pesantren. Buya Ungku Sinaro lahir dari keluarga ulama. Ayahnya, Syekh Abdul Razak, yang popular dengan panggilan Buya Mato Aie atau Inyiak Mato Aie, adalah ulama terkemuka dari Tarekat Syathariyyah di Sumatera Barat terutama di daerah Padang Pariaman. Kakeknya, dari jalur ayah juga seorang ulama yaitu Syekh Shaleh, yang dikenal dengan Ungku Qadhi Pilubang. Neneknya, Tirawi adalah puteri dari Syekh Kamumuan (murid Syekh Aminullah @ Syekh Mato Aie). Ibu dari Tirawi yaitu Maimunah adalah puteri dari Syekh Aminullah yang popular dengan panggilan Syekh Mato Aie.
Buya Ungku Sinaro memiliki banyak saudara, baik seibu-sebapak, sebapak saja atau seibu saja. Di antara beradik-kakak beliau adalah anak pertama. Saudara/ saudari seibu-sebapak beliau ialah H. Razali, Tuanku Sutan dan Nur Aini. Saudari seibu hanya seorang yaitu Jasmani. Saudara-saudari sebapak beliau di antaranya ialah: Amar, Tuanku Sutan; Anshar; Zalkhairi; H. Ashabal Khairi, Tuanku Mudo; Aslidar; Marni; Warna Yuli; Salmidiar; Wasmi; Abdul Rahman; Gustina; Abdul Hadi; Yusra; Azka, Tuanku Imam dan Atqa.
Buya Haji Ungku Sinaro Memiliki dua orang istri yaitu Hajjah Zayyanati asal balai (pasar) Pakandangan dan Hajjah Rahmah Asal Kiambang.
Dari isteri pertama beliau dianugerahi lima orang anak:
Dr. H. Insyafli, M.H.I., Tk. Sutan (terakhir sebagai ketua Pengadilan Tinggi Agama Provinsi Lampung, Bandar Lampung)
H. Sirul Fuad, Dt. Mulie Dirajo (pengusaha)
Akmal (pengusaha)
Zulfikar (Pengusaha)
Zulfahmi, S.Kom., Tk. Mudo (penerus sang ayah sebagai pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum)
Dari isteri kedua memperoleh tiga orang anak:
Mardiyah
Tarmizi (pengusaha)
Mulyadi
RIWAYAT PENDIDIKAN
Sebagaimana kebiasaan anak-anak minang, Buya Ungku Sinaro mendapatkan pendidikan awal dari orang tuanya yaitu belajar membaca al-Qur’an. Pendidikan formalnya ialah Sekolah Rakyat (kini Sekolah Dasar). Terkait hal ini beliau pernah berseloroh, “Saya SD pun tidak tamat”. Lalu pendengar bertanya, “Benar Buya tidak tamat SD?”. “Ya, saya hanya tamat SR (Sekolah Rakyat)” jawabnya sambil tertawa.
Setelah menamatkan pendidikan di SR, beliau diantar oleh ayahnya ke Surau Kabun (sekarang Pondok Pesantren Syekh H. Musa), salah satu pesantren terkenal di pantai barat Minangkabau pada masa itu. Pesantren ini dipimpin oleh seorang ulama Syathariyyah terkemuka di daerah Padang Pariaman karena kealimannya yaitu Syekh H. Musa, Tuanku Sidi. Surau ini berada di kampung Kabun, Tapakih, Kecamatan Ulakan Tapakis. Di surau ini beliau mempelajari berbagai cabang ilmu keislaman. Setelah mengaji di surau ini lebih kurang tujuh tahun, oleh gurunya beliau dianugerahi gelar “Tuanku Sinaro”. Pemberian gelar Tuanku Sinaro menandakan ia dipandang oleh gurunya telah memiliki ilmu agama yang memadai dan karena itu diberi izin (ijazah) untuk menyampaikan dan mengembangkan ilmu yang telah didapatkan kepada masyarakat.
PAHAM KEAGAMAAN
Sebagai seorang ulama Tarekat Syathariyah, dalam pandangan keagamaan Buya Ungku Sinaro mengikuti paham keagamaan guru-guru beliau yang bersilsilah kepada Syekh Burhanuddin Ulakan dan Syekh ‘Abdul Ra’uf al-Fanshuri al-Singkili yaitu mengikuti aliran Ahl Sunnah wal-Jama’ah dalam konsep Imam Abu Hasan al-Asy’ari (Asy’ariyah) dalam akidah, Mazhab Syafi’i dalam fikih dan, Tarekat Syathariyah dalam tasawuf.
PENGABDIAN DAN KONTRIBUSI
Mendirikan Pondok pesantren
Setelah menyelesaikan pendidikan di Pondok Pesantren Surau Kabun Tapakis, Buya Ungku Sinaro pulang ke kampung halaman untuk menyebarkan dan mengembangkan ilmu yang telah didapatkan kepada generasi muda dan masyarakat. Pada waktu itu beliau tidak langsung mendirikan pesantren. Kegiatannya baru terbatas pada kegiatan dakwah dan menyebarkan ilmu agama kepada umat melalui pengajian rutin mingguan di surau dan masjid. Selain itu juga sebagai penceramah pada peringatan hari-hari besar Islam seperti peringatan Isra’-Mi’raj Nabi Muhammad saw.
Pada tahun 1969, adik sepupunya, Buya Zubir, Tuanku Kuniang juga telah berhasil menyelesaikan pendidikan di Surau Kabun, Tapakih. Ketika hendak berangkat pulang, sang guru yaitu Syekh H. Musa menginstruksikan kepada beberapa orang santrinya untuk ikut bersama Buya Zubir, Tuanku Kuniang. Dengan kata lain, sang guru memberi amanah kepada Buya Ungku Kuniang untuk membuka surau (pesantren) baru di kampungnya. Maka ikutlah beberapa orang santri (sebelas orang) dengan Buya Ungku Kuniang ke Kampuang Paneh, Pakandangan.
Di Kampuang Paneh, Buya Ungku Kuniang mengajak dua orang abang sepupunya Buya Ungku Sinaro dan Buya Mansurdin, Tk. Muncak untuk bekerjasama (berkolaborasi) merintis pesantren baru. Tiga orang bersaudara (sepupu) ini mendirikan surau (pondok pesantren) yang berdekatan dengan surau kaum yang sudah lama berdiri yaitu surau kaum Suku Panyalai. Surau kaum ini dikenal dengan nama Surau Kandang. Pondok pesantren yang didirikan diberi nama Pondok Pesantren Darul Ulum. Namun di kalangan masyarakat, pesantren ini lebih akrab dengan nama tradisionalnya yaitu Surau Kandang (tidak berbeda dengan nama surau kaum) atau Surau Kambie Sabatang (Kambie Sabatang adalah nama kampung kecil tempat pesantren berdiri).
Pendirian Pondok Pesantren Darul Ulum mendapatkan sambutan yang baik dari masyarakat. Banyak masyarakat yang datang mengantarkan anak-anak mereka untuk mengaji (belajar) di pesantren ini. Mereka berasal dari berbagai kecamatan di Kabupaten Padang Pariaman bahkan dari kabupaten/ kota lain di Sumatera Barat seperti Kota Padang dan Kabupaten Solok Selatan (Surian).
Sistem pendidikan di Pondok Pesantren Darul Ulum mempertahankan cara tradisional yaitu dengan sistem halaqah. Di pesantren ini diajarkan berbagai bidang ilmu keislaman seperti tata bahasa arab (nahwu dan sharaf), tafsir, hadis, ulum al-hadits, balaghah, sejarah nabi dan sahabat (tarikh), manthiq, ushul fiqh, fiqh, aqidah (ilmu kalam) dan tasawuf secara umum dan khusus (Tarekat Syathariyah). Dengan demikian, para santri dikader menjadi ulama yang menguasai ilmu-ilmu zahir (‘ulÅ«m al-syarÄ«’ah) dan ilmu batin (ilmu tasawuf dan tarekat). Dengan kata lain, para santri disiapkan menjadi pendakwah (da’i), ulama syari’at sekaligus ulama tasawuf/ pengembang Tarekat Syathariyah di masyarakat. Tentu saja para santri dibekali dengan kemahiran (skill) berbicara di depan umum (ceramah). Kemahiran lain yang diajarkan kepada santri adalah pertukangan baik pertukangan bangunan maupun pertukangan kayu (termasuk pertukangan perabot). Kebanyakan alumni pesantren ini memiliki kemahiran pertukangan.
Pada sekitar tahun 1973 Buya Ungku Kuniang Zubir merintis mendirikan pesantren baru dekat rumah istrinya di Toboh Ketek. Sebab itu, Buya Ungku Kuniang sudah tidak bisa lagi aktif dalam kepemimpinan dan mengajar di Pesantren Darul Ulum. Sejak itu Buya Ungku Sinaro bersama Buya Ungku Muncak melanjutkan kepemimpinan di Pesantren Darul Ulum.
Pada tahun 1987 seorang lagi adik sepupu beliau, Muhammad Nur, Tk. Marajo (sekarang sudah bergelar Haji) menyelesaikan pendidikan di Surau Kabun Tapakih. Kepulangannya ke kampung halaman langsung disambut oleh Buya Ungku Sinaro dengan mengajaknya ikut dalam dalam kepemimpinan/ kepengurusan di Pesantren Darul Ulum. Menurut penuturan Ungku Marajo M. Nur, setahun sebelum itu (1986) ia sudah diminta pulang setiap hari Rabu oleh Buya Ungku Sinaro untuk ikut serta sebagai penceramah di pengajian rutin mingguan di Pesantren Darul Ulum. Sejak kepulangan Ungku Marajo M. Nur tersebut (1987), Buya Ungku Sinaro mempercayakan sebagian (lebih kurang sepertiga) jadwal pengajian rutin mingguannya kepada adik sepupunya ini. Sedangkan dua pertiga lainnya dipercayakan kepada Buya Mansur, Tuanku Bandaro dan Buya Abu Zamir, Tk. Panjang.
Begitu juga dengan undangan ceramah peringatan hari besar Islam, jika ada yang mengundang beliau maka beliau mengarahkan orang tersebut ke Ungku Marajo M. Nur.
Pada tahun 2007, karena faktor usia dan kesehatan, kepemimpinan di Pesantren Darul Ulum dilanjutkan oleh putera sulung beliau yaitu Dr. H. Insyafli, M.H.I, Tk. Sutan yang sengaja pindah bekerja sebagai hakim dari Manado ke Pengadilan Tinggi Agama Sumatera Barat, Kota Padang. Beberapa tahun kemudian, kepemimpinan pesantren dilanjutkan oleh putera beliau yang lain, H. Zulfahmi, Tk. Mudo.
Pondok Pesantren Darul Ulum telah melahirkan banyak alumni yang mengabdi di berbagai profesi seperti pimpinan pondok pesantren, pendakwah (da’i), guru umat, guru sekolah/ madrasah, aparatur sipil Negara (ASN), pimpinan lembaga negara, dosen, birokrat, pengusaha, tokoh masyarakat dan lain-lain, di antaranya ialah:
Buya Mansur, Tk. Sutan, guru Tarekat Syathariyah di Nagari Kudu Gantiang, Kecamatan V Koto Timur;
Buya H. Yunaidi, Tk. Simarajo, guru umat di Kecamatan V Koto Kampung Dalam;
Buya Drs. Bustami, Tk. Sidi, asal Nareh, Kota Pariaman, terakhir sebagai guru agama di SMAN 2 Kota Pariaman;
Buya Syafi’i, Tk. Bagindo, guru Tarekat Syathariyah Pauh V, Kota Padang;
Buya Amiruddin, Tk. Bagindo, mantan Qadhi Ulakan dan pendiri Pondok Pesantren Syekh Burhanuddin al-Muhajirin, Sungai Rotan, Kota Pariaman;
Drs. H, Ahmad Yusuf, Tk. Khatib Majolelo, tokoh masyarakat Ulakan di Jakarta;
Drs H. Maswar, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Pariaman (2006-2009); Kepala Bidang Penaiszawa Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sumatera Barat (2012-2020);
H. Musyawir, Tk. Kuniang, pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Istiqamah, Sungai Asam;
Drs. H. Masri Chan, Tk. Maharajo Basa, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Padang Pariaman (2013-2017);
Marlis, Tk. Panjang, guru Tarekat Syathariyah di Minas, Provinsi Riau.
Zamzami, Tk. Mangkuto, guru Tarekat Syathariyah di Panam, Kota Pekanbaru;
Waridul Anwar, Tk. Mudo, guru Tarekat Syathariyah di Kabupaten Tulang Bawang, Lampung;
Nasrul,Hidayat, Tk. Bagindo, guru Tarekat Syathariyah di Rimbo Bujang, Provinsi Jambi
Darmawi, S.Pd, Direktur PT Diva Ikhlas Tour and Travel;
Ridwan Arif, S.Fil.I, M.I.S, Ph.D., Tk. Bandaro, dosen Universitas Paramadina, Jakarta.
Zainal Abidin, S.H., Tk. Sinaro, ketua Bawaslu Kab. Padang Pariaman (2018-2023); ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Padang Pariaman (2023-2028).
Rudi Mukhtar, Tk. Marajo, pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum Surau Aie Dingin, Rimbo Panjang, Riau.
Sebagai Pendakwah (Da’i), Guru Umat dan pengembang Tarekat Syathariyah.
Di samping seorang ‘alim yang mendidik kader ulama di pesantren, Buya Ungku Sinaro juga aktif sebagai seorang da’i/ muballigh di masyarakat. Beliau sering diundang sebagai penceramah pada pengajian yang bersifat insedentil seperti peringatan hari-hari besar Islam: Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw, Peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad saw dan lain-lain. Perjuangan Buya Ungku Sinaro (dan juga ulama sezamannya) dalam berdakwah sungguh luar biasa. Pada masa mudanya (sekitar tahun 1970-an), beliau rela mengayuh sepeda antar kecamatan bahkan puluhan kilometer demi memenuhi undangan masyarakat untuk memberikan ceramah pada peringatan hari besar Islam. Ini karena pada waktu itu kendaraan bermotor masih termasuk barang mewah yang hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu saja.
Selain pengajian umum, beliau juga aktif sebagai guru umat pada pengajian khusus. Pengajian ini diikuti oleh murid-murid beliau (jamaah Tarekat Syathariyah) yang sudah melakukan bai’at. Tentu saja materi pengajian ini lebih ditekankan pada materi pengajian tarekat. Walau bagaimanapun, sebagaimana metode yang digunakan oleh ayah beliau (Syekh Abuya Mato Aie), pada pengajian khusus ini tetap dimulai dari materi ilmu-ilmu zahir seperti akidah, fikih dan akhlak. Pengajian khusus ini biasanya diadakan secara rutin setiap minggu di masing-masing tempat. Di antara jadwal pengajian khusus beliau ialah:
Malam Selasa di Surau Batang Sariak, Kec. Batang Anai;
Malam Rabu di Surau Indarung, Aie Tajun, Kec. Lubuk Alung;
Malam Khamis dan Jum’at Pagi di pesantrennya sendiri, Pesantren Darul ‘Ulum;
Malam Jum’at di Masjid Olo Bangau, Ketaping, Kec. Batang Anai;
Malam Jum’at di Surau Pilubang, Ketaping, Kec. Batang Anai;
Malam Sabtu di Surau Kampung Paneh, Aie Tajun, Kec. Lubuk Alung;
Sabtu pagi di Pondok Pesantren Luhur Surau Mato Aie;
Surau Kampung Ladang Pilubang, Ketaping, Kec. Batang Anai;
Surau Banda Gadang, Ketaping, Kec. Batang Anai;
Surau Tanjung Basung, Kec. Batang Anai;
Surau Ketaping Ujung, Ketaping, Kec. Batang Anai;
Buya H. Ungku Sinaro aktif dalam kegiatan dakwah dan ta’lim tidak hanya di Sumatera Barat tetapi juga di perantauan. Pada masa mudanya beliau sering memenuhi undangan ceramah dari jama'ahnya (murid-muridnya) yang berdomisili di Jakarta dan sekitarnya.
Melalui pengajian pengajian khusus ini dan melalui para santri-santrinya Buya Ungku Sinaro telah memainkan peran penting dalam pengembangan Tarekat Syathariyah di Kabupaten Padang Pariaman khususnya, di Sumatera Barat umumnya, melanjutkan perjuangan guru-gurunya. Melalui para muridnya, Buya Ungku Sinaro juga berperan penting dalam mengembangkan Tarekat Syathariyah di ranah dan rantau yaitu beberapa kabupaten di Sumatera Barat seperti Kabupaten Padang Pariaman, Kota Padang, Kabupaten Solok Selatan, beberapa kabupaten/kota di Provinsi Riau, Provinsi Jambi dan wilayah Jabodetabek. Di kawasan Jabodetabek, terdapat beberapa pusat pengajian Tarekat Syathariah di bawah binaan beliau seperti di Klender, Jakarta Timur; Kemayoran Jakarta Pusat; Kampung Baru, Jakarta Barat; Kota Bekasi, dan Tangerang. Bahkan ada kelompok jam’ah yang sudah mendirikan surau seperti di Tangerang. Untuk menjadi narasumber di beberapa pusat pengajian di kawasan Jabodetabek ini, beliau mengutus beberapa orang adik sepupunya secara bergantian seperti Firdaus, Tk. Sidi; H. Arifin, Tk. Bagindo; H. Ali Yusri, Tk. Sutan; dan H. Muhammad Nur, Tk. Marajo.
Menjadi Mufti Nagari
Setelah wafatnya sang ayah yaitu Syekh Abuya Mato Aie yang menjabat sebagai Mufti Nagari Pakandangan, jabatan mufti jatuh ke tangannya. Beliau menjabat jabatan mufi bukan karena faktor keturunan, tetapi beliau layak menyandang jabatan tersebut. Menurut pandangan ulama se-Nagari Pakandangan pada masa itu, beliaulah yang yang dipandang layak untuk mengemban amanah tersebut. Dengan kata lain terpilihnya beliau sebagai mufti nagari lebih karena faktor senioritas dan kealiman dalam ilmu agama. Karena faktor usia dan kesehatan, pada tahun 2008, beliau melepaskan jabatan ini dan menunjuk adik sepupunya, Syekh. H. Zubir, Tk. Kuniang sebagai pengganti.
D. KE’ALIMAN DAN KEPRIBADIAN/ KARAKTER
Buya Ungku Sinaro adalah sedikit di antara ulama Syathariyah yang ‘alim dalam berbagai cabang keilmuan Islam baik ilmu alat (nahwu, sharaf, ‘ulum al-hadis, mantiq, balaghah, ushul fiqh) maupun ilmu-ilmu inti keislaman seperti tafsir, hadis, fiqh, aqidah dan tasawuf. Beliau sangat menguasai kitab kuning yang memuat berbagai keilmuan tersebut. Kealiman beliau dalam berbagai bidang ilmu keislaman nampaknya diwarisi dari sang guru yaitu Syekh H. Musa, Tk. Sidi Basa yang dikenal sebagai ‘alim terkemuka dari kalangan ulama Syathariyah Minangkabau pada masanya. Berkat kealimannya, Buya Ungku Sinaro mampu mengajarkan berbagai cabang ilmu keislaman tersebut kepada para muridnya dari kitab tingkat yang paling dasar sampai ke kitab tingkat paling tinggi. Dengan demikian walaupun beliau seorang mursyid Tarekat Syathariah, beliau menekankan kepada para muridnya untuk menguasai ilmu-ilmu syari’at (‘ulum al-zahir), bukan hanya ilmu tasawuf.
Keistimewaan lain yang dimiliki oleh Buya Ungku Sinaro ialah kepiawaiannya dalam berdakwah (memberikan ceramah). Sangat jarang ditemui di kalangan ulama yang memiliki kemampuan yang setara antara menguasai pemahaman kitab kuning dan kepiawaian dalam memberikan ceramah (berdakwah). Dalam konteks dakwah, Buya Ungku Sinaro adalah seorang da’i berbakat. Pada masanya ia dipandang sebagai salah seorang pendakwah terkemuka (istilah sekarang da’i kondang) di daerah Padang Pariaman khususnya. Dalam berdakwah, Buya Ungku Sinaro sangat lihai menarik perhatian jama’ah. Di samping materi yang bersifat serius, ia menyelipkan joke-joke lucu (humor) yang segar sekadar membangunkan mata yang mulai mengantuk. Materi pengajiannya jelas dan tegas dan mudah dimengerti oleh pendengar.
Buya Ungku Sinaro memiliki jiwa kepemimpinan yang baik, suka mengayomi guru-guru yang di bawahnya atau yuniornya, memberikan mereka kesempatan untuk berkembang dan tidak jarang Beliau mengalah demi untuk berkembangnya generasi ulama di bawahnya. Beliau tidak merasa tersaingi oleh generasi di bawahnya, malahan beliau mempromosikan dan merekomendasikan mereka kepada masyarakat. Ini menunjukkan bagaimana perhatian Beliau tentang pentingnya kaderisasi.
Kepribadian Buya Ungku Sinaro berikutnya ialah rajin bekerja dan menghargai waktu, baik sebagai petani di sawah atau sebagai tukang. Banyak pekerjaan pembangunan rumah di rumah isteri pertamanya di Lubuak Gosan, Kampung Paneh dan; rumah isteri keduanya di Kiambang; serta gedung pesantrennya dikerjakannya sendiri dengan dibantu oleh para santri. Menurut penuturan putera sulung beliau, Buya Dr. H. Insyafli, banyak pekerjaan pembangunan rumahnya di Lubuk Gosan dikerjakannya sendiri termasuk membuat perabot rumah seperti lemari pakaian, lemari hias, tempat tidur, kursi dan lain-lain. Ini membuktikan bahwa Buya Ungku Sinaro juga memiliki keahlian (skill) dalam ilmu pertukangan, baik tukang kayu maupun tukang beton. “Pada masa kecil saya ikut membantu Buya membuat bata untuk pembangunan rumah”, kenang Buya Dr. Insyafli. Sebagai salah seorang santrinya, penulis menyaksikan sendiri bagaimana beliau setiap hari aktif dalam pekerjaan pembangunan gedung pesantrennya. Biasanya beliau menyediakan waktu untuk pekerjaan tersebut setelah shalat zuhur sampai waktu ‘ashar (hari aktif kegiatan belajar mengajar di pesantren) dan satu hari penuh ketika hari libur kegiatan belajar mengajar (hari Khamis).
Dalam hal pertanian, beliau pernah bercerita, pada masa mudanya ia aktif sebagai petani. Ia memiliki sawah padi dekat rumahnya. Menurutnya, pada pagi hari, setelah shalat Subuh ia sudah berangkat ke sawah. Ia bekerja di sawah sampai jam 9.00 pagi. Setelah itu ia mandi dan berangkat ke pesantren untuk mengajar. Menjadi pengasuh/ guru pesantren tradisional menuntut beliau untuk memiliki usaha sendiri. Ini karena pesantren tradisional di Minangkabau umumnya tidak memungut iyuran pendidikan (SPP) kepada para santri, karena itu guru tidak mendapatkan gaji. Namun seiring berjalannya waktu, dengan bertambahnya jumlah pengikut (murid-murid) beliau, Allah telah beri beliau kecukupan bahkan kelebihan dalam bidang keuangan. Selama hayatnya beliau telah menunaikan ibadah haji sebanyak lima kali yang mana satu kali untuk diri sendiri, yang lainnya sebagai badal haji untuk kedua orangtua dan kakek-neneknya.
Sifat rajin dan menghargai waktu adalah dua sifat positif. Dua sifat ini juga mencerminkan aktivisme. Sifat/ kepribadian Buya Ungku sinaro ini mematahkan tuduhan sebagian pengkritik tasawuf mengatakan tasawuf identik dengan sikap pasif (pasivisme dan pemalas).
Kepribadian Buya Ungku Sinaro lainnya yang patut diteladani oleh generasi sekarang ialah Beliau tidak suka konflik dan mencintai perdamaian. Beliau tidak pernah memancing perdebatan dengan ulama lain, tapi jika ada yang memancing beliau untuk berdebat, tentu akan dilayaninya.
Kepribadian Buya Ungku Sinaro lainnya yang tak kalah pentingnya ialah disiplin. Sebagai seorang guru yang mendidik dan mengajar santri, ia senantiasa berusaha untuk tetap hadir mengajar. Jika ia berhalangan ia menunjuk wakil yang menggantikannya dalam mengajar. Di antara murid-murid Beliau yang pernah menjadi wakilnya dalam mengajar ialah: Syekh H. Manshurdin, Tk. Muncak; Waridul Anwar, Tk. Mudo; Dr. H. Insyafli, Tk. Sutan; H. Muhammad Nur, Tk. Marajo; Andi Umri, Tk. Kuniang; Ridwan Arif, Ph.D, Tk. Bandaro.
Kepribadian berikutnya dari Syekh Buya Ungku Sinaro ialah rajin membaca. Dengan kata lain, salah satu hobinya ialah membaca. Pada masa-masa senggangnya, ia gunakan untuk membaca. Sebagai seorang guru yang mengajar santri, Beliau tentu perlu membaca (muthala’ah) materi yang akan diajarakan kepada santri. Sebagai seorang pendakwah, Beliau perlu banyak membaca sebagai bekal dalam menyampaikan dakwah. Sebagai seorang ulama (guru umat) dan mufti, Beliau mesti banyak membaca agar ia mampu menjawab pertanyaan umat serta tidak salah dalam memberikan fatwa. Pada sore hari menjelang masuknya waktu Maghrib, penulis sering menyaksikan beliau membaca kitab di teras lantai dua gedung utama pesantrennya.
Kepribadian berikutnya dari Buya Ungku Sinaro ialah teguh memegang prinsip (teguh pendirian) dan tegas. Kepribadian ini jelas terlihat ketika beliau mempertahankan ajaran dan amalan-amalan (‘amaliyah) kaum Syathariyah dari serangan aliran lain (terutama kaum modernis). Walaupun ia seorang yang humoris, namun ketika mempertahankan hal-hal yang prinsip sifat tegasnya tidak bisa ditawar. Dalam hal mempertahankan prinsip tidak ada kata kompromi dalam kamus hidupnya.
Kepribadian lainnya dari Buya Ungku Sinaro ialah senantiasa tampil bersih dan rapi. Dengan kata lain Beliau termasuk tokoh ulama yang menjaga penampilan. Pakaian yang bersih dan rapi berpadu dengan keindahan batin dalam dirinya membuat Buya Ungku Sinaro memiliki kharisma dan wibawa tersendiri. Bukan hanya penampilan diri tetapi juga rumah dan komplek pondok pesantrennya senantiasa bersih dan indah. Baik bangunan rumah maupun gedung pesantrennya senantisaa direnovasi dan diperindah secara berkala. Kadang-kadang ia mendatangi kawasan belakang asrama pesantrennya untuk mengecek kebersihannya. Jika terlihat sampah, langsung ia sampaikan ke salah seorang santri untuk membersihkannya. Fakta ini meruntuhkan anggapan sebagian orang yang membayangkan pesantren identik dengan hal yang kumuh dan kotor.
Kepribadian Buya Ungku sinaro yang tidak kalah menariknya ialah humoris. Sebagaimana telah disinggung di atas, Buya Ungku Sinaro ialah seorang da’i kondang yang sangat piawai dalam menyampaikan materi dakwah. Salah satu faktor kesuksesannya dalam berdakwah ialah kreativitasnya dalam membuat joke-joke segar (humor) dalam setiap ceramahnya. Bukan hanya dalam ceramah pada acara pengajian dengan masyarakat, bahkan dengan murid-muridnya (para tuanku) dalam pengajian alumni (kajian kitab tasawuf al-Hikam) yang dilaksanakan sebulan sekali di pesantrennya, ia juga sering menyelipkan humor. Memiliki selera humor mendatangkan manfaat tersendiri seperti mencairkan suasana, menghilangkan kebosanan dan menarik audiens untuk mengikuti pengajian sampai akhir. Penulis menyaksikan, dalam pengajian alumni beliau memperlakukan murid-muridnya bagaikan sahabat.
KETERLIBATAN DI DUNIA POLITIK DAN HUBUNGAN DENGAN PEMERINTAH
Hubungan dengan pemerintah misalnya dengan Bupati atau Gubernur, bisa dikatakan datar-datar saja, tidak terlalu dekat juga tidak terlalu berjarak. Yang sering terjadi adalah para pejabat tersebut yang datang ke pesantrennya untuk silaturrahmi. Dapat di katakan Beliau tidak pernah mendatangi para Pejabat baik ke kantor atau ke rumah mereka. Ini menunjukkan betapa Buya menjaga marwah dan martabat ulama. Secara tidak langsung beliau ingin menunjukkan bahwa ulama harus menjaga jarak dengan penguasa dan tidak boleh merendah kepada penguasa.
Terkait dukungan politik, Buya Ungku Sinaro mengikuti pilihan politik ayahn sekaligus gurunya, Syekh Abuya Mato Aie. Sebagaimana Syekh Abuya Mato Aie pernah mendukung Partai Nahdlatul Ulama (Partai NU) dan kemudian pada tahun 1977 beralih mendukung Golongan Karya (setelah reformasi berganti nama menjadi Partai Golongan Karya) sampai akhir hayatnya, begitu juga dukungan politik Beliau dan tokoh ulama lainnya yang di bawah bimbingan Syekh Abuya Mato Aie. Lahirnya era reformasi menyebabkan lahirnya partai-partai baru bagaikan cendawan tumbuh di musim hujan. Para ulama di bawah bimbingan Syekh Abuya Mato Aie berkumpul di Surau Mato Aie untuk menentukan arah dukungan politik. Pada rapat tersebut Buya Buya Zubir Ungku Kuniang mengusulkan agar para jama’ah pengikut Abuya Mato Aie tetap setia mendukung Golongan Karya (Golkar). Ia mengemukakan argumen, selama ini para wakil rakyat dari Golkar mampu dan berjasa melindungi jama’ah Tarekat Syathariyah di Sumatera Barat dalam mengamalkan ajaran (amaliyah) yang mereka yakini. Usul Buya Ungku Kuniang tersebut diterima oleh guru-guru yang hadir. Dengan demikian pengikut (jama’ah) Tarekat Syathariyah Padang Pariaman khususnya tetap mendukung Partai Golkar.
Di antara pejabat pemerintah yang pernah mengunjungi beliau ialah:
Ir. H. Nasrul Syahrun, sebagai Bupati Kabupaten Padang Pariaman (1994-1998);
H. Muslim Kasim, S.E., M.M., Akt., Bupati Kab. Padang Pariaman dua periode yaitu 2000-2005 dan 2005-2010 dan Wakil Gubernur Sumatera Barat periode 2010-2015
Drs. H. Hasan Basri Durin, sebagai Gubernur Sumatera Barat (1987-1997);
Eri Zulfian, S.Pt, S.H., M.M, sebagai ketua DPRD Kabupaten Padang Pariaman (2009-2014);
Jenderal TNI (Purn.) Dr. H. Wiranto, mantan Panglima TNI dan pendiri Partai Hati Nurani Rakyat (HANURA).
PESAN, NASEHAT DAN WASIAT KEPADA ANAK-ANAK/ MURID-MURID
Diantara pesan yang sering disampaikan Buya Ungku Sinaro kepada para muridnya ialah:
Pegang teguh dan genggam erat ilmu dan pemahaman keagamaan yang diterima dari guru.
Senantiasa ikhlas dalam berdakwah, jangan mengharapkan imbalan.
Jaga persatuan, jangan saling mendahului. Ibarat kereta api, biarkan gerbong yang di depan tetap di depan, jangan gerbong yang di belakang ingin mendahului. Hal itu bisa menyebabkan terjadinya tabrakan.
Masing-masing orang sudah ada bagiannya masing-masing dan tidak akan pernah tertukar. Oleh karena itu terimalah yang menjadi bagian kita, jangan mengganggu orang lain.
Makanlah rezeki yang halal saja, perbaiki akhlak dalam berhubungan dengan sesame manusia.
Seimbangkan antara mencari kehidupan dunia dan mempersiapkan bekal untuk akhirat.
WAFAT
Buya Ungku Sinaro wafat pada hari Sabtu, 6 Sya’ban 1439/ 20 April 2018 di rumahnya, di Lubuak Gosan, Kampung Paneh Nagari Pakandangan dalam usia kurang lebih 82 tahun. Umat telah kehilangan seorang tokoh ulama kharismatik dan multi talenta yang sukar dicari gantinya. Kepergiannya meninggalkan duka yang mendalam kepada umat baik ulama, pejabat, tokoh masyarakat dan para murid (jama’ahnya) khususnya jama’ah Tarekat Syathariyah Padang Pariaman. Ketokohannya serta kecintaan para murid, jama’ah dan umat tercermin dengan ramainya pelayat yang datang pada hari wafatnya. Beliau dimakamkan di komplek pesantrennya, Pondok Pesantren Darul Ulum, Kampung Paneh, Nagari Pakandangan.
Kepemimpinan di pesantren serta majelis pengajian tasawuf (Tarekat Syathariyah) dilanjutkan oleh salah seorang puteranya, H. Zulfahmi, Tk. Mudo. Untuk mengenang jasanya, murid-muridnya menetapkan ziarah tahunan ke makamnya pada setiap hari Sabtu, minggu pertama bulan Sya’ban.
Sumber data:
Wawancara dengan Dedi Edwar, SE, MM, Dt. Panduko Sirajo pada 14 Desember 2016;
Wawancara dengan Buya Dr. H. Insyafli, M.H, Tk. Sutan pada 13 Juni 2025;
Wawancara dengan Buya H. Suhaili, Tk. Mudo pada tahun 2017 dan 5 Juli 2025;
Wawancara dengan Buya H. Muhammad Nur, Tk. Marajo pada 1 April 2026;
Pengalaman dan cerita-cerita yang didengar langsung oleh penulis dari Buya Ungku Sinaro sepanjang penulis belajar (nyantri) di Pondok Pesantren Darul Ulum, Kampung Paneh (1994-2000).
Selesai ditulis di Setu, Cipayung, Jakarta Timur pada Rabu, 1 April 2026 jam 15.55.