![]() |
Oleh: Duski Samad
STP#80.10042026.
Khutbah Masjid Agung Nurul Iman Padang
Di zaman ketika kata-kata bergerak lebih cepat dari pikiran, dan opini melesat tanpa sempat diuji kebenarannya, manusia seakan memasuki ruang publik yang riuh tetapi miskin kedalaman. Mimbar dakwah, forum akademik, media sosial, hingga panggung politik dipenuhi suara. Namun tidak semua suara menghadirkan makna, dan tidak semua kata membawa kebaikan.
Di tengah situasi itu, Al-Qur’an menghadirkan satu ukuran yang tegas sekaligus elegan: “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, beramal saleh, dan berkata: sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”
— QS. Al-Qur'an Surah Fussilat ayat 33
Ayat ini bukan sekadar pujian normatif, melainkan standar etik peradaban. Ia mengajarkan bahwa kualitas manusia tidak diukur dari seberapa banyak ia berbicara, tetapi dari arah, isi, dan tanggung jawab atas setiap kata yang diucapkan. Di sinilah letak pentingnya adab—yakni kesadaran moral yang menuntun lisan agar tetap berada dalam koridor kebenaran dan kemaslahatan.
Dakwah: Mengajak dengan Hikmah, Bukan Memaksa
Dalam tradisi keilmuan Islam, sebagaimana tercermin dalam tafsir klasik seperti Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Al-Qurtubi, ayat ini dipahami sebagai pujian tertinggi bagi mereka yang menyeru manusia kepada Allah dengan ketulusan dan keselarasan antara kata dan perbuatan. Dakwah tidak berhenti pada retorika, tetapi menjelma menjadi teladan hidup.
Al-Qur’an secara eksplisit memberi pedoman: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.” QS. Al-Qur'an Surah An-Nahl ayat 125
Namun dalam praktik kontemporer, dakwah sering kali terjebak pada formalisme dan simbolisme. Kebenaran disampaikan dengan nada tinggi, tetapi miskin kelembutan. Perbedaan disikapi dengan kecurigaan, bahkan permusuhan. Dakwah yang seharusnya menjadi jalan pencerahan berubah menjadi arena klaim kebenaran.
Padahal, esensi dakwah dalam Al-Qur’an adalah mengajak, bukan memaksa; mencerahkan, bukan menghakimi; merangkul, bukan memukul. Kekuatan dakwah bukan pada kerasnya suara, tetapi pada kedalaman hikmah dan keteladanan akhlak. Seorang da’i bukan sekadar penyampai pesan, melainkan representasi dari pesan itu sendiri.
Kritik: Antara Keberanian dan Kehormatan
Kritik adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan sosial. Ia adalah mekanisme koreksi yang menjaga agar kekuasaan tidak menyimpang, dan masyarakat tidak kehilangan arah. Dalam Islam, kritik bahkan merupakan bagian dari amar ma’ruf nahi munkar.
Namun persoalan yang muncul hari ini bukan ketiadaan kritik, melainkan hilangnya adab dalam mengkritik. Kritik yang seharusnya menjadi sarana perbaikan justru berubah menjadi serangan personal, penyebaran prasangka, bahkan fitnah yang merusak kehormatan.
Al-Qur’an memberikan pedoman yang sangat mendalam: “Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.”
— QS. Al-Qur'an Surah Taha ayat 44
Ayat ini ditujukan kepada Nabi Musa saat menghadapi Fir’aun—simbol kekuasaan zalim. Jika kepada Fir’aun saja diperintahkan berkata lembut, maka kepada sesama manusia, terlebih sesama muslim, tidak ada alasan untuk berkata kasar.
Dalam perspektif “aḥsanu qawlan”, kritik harus memenuhi tiga prinsip utama: berorientasi pada perbaikan, berbasis kejujuran dan keilmuan, serta menjaga martabat manusia. Kritik yang kehilangan adab bukan hanya merusak objek yang dikritik, tetapi juga merendahkan kualitas moral pelakunya. Sebaliknya, kritik yang beradab akan melahirkan kepercayaan, membuka ruang dialog, dan memperkuat peradaban.
Kompetisi Politik: Ujian Terbesar Adab Lisan
Jika dakwah adalah panggilan moral, dan kritik adalah mekanisme kontrol sosial, maka politik adalah arena ujian paling nyata bagi integritas kata dan tindakan.
Dalam realitas, kompetisi politik sering kali kehilangan arah etik. Kebenaran dikaburkan oleh kepentingan, fakta dipelintir menjadi propaganda, dan perbedaan dimanipulasi menjadi konflik. Politik tidak lagi menjadi sarana memperjuangkan kemaslahatan, tetapi berubah menjadi pertarungan tanpa batas.
Al-Qur’an menghadirkan model kepemimpinan yang jelas melalui kisah Nabi Yusuf: "Jadikanlah aku pengelola perbendaharaan negeri; sesungguhnya aku adalah orang yang menjaga (amanah) lagi berilmu.” QS. Al-Qur'an Surah Yusuf ayat 55.
Ayat ini menegaskan bahwa kepemimpinan bukan soal ambisi, tetapi amanah (ḥafīẓ) dan kompetensi (‘alÄ«m). Seorang aktor politik yang berada dalam koridor “aḥsanu qawlan” adalah mereka yang tidak menghalalkan kebohongan demi kemenangan, tidak memecah belah masyarakat demi dukungan, dan tidak mengorbankan nilai demi kekuasaan.
Keberhasilan politik tidak hanya diukur dari hasil, tetapi dari cara dan proses yang ditempuh. Kemenangan tanpa adab adalah kekalahan moral yang tertunda.
Krisis Kata dan Tantangan Peradaban
Kita sedang menghadapi apa yang dapat disebut sebagai krisis adab dalam komunikasi publik. Kata-kata kehilangan kedalaman makna, bahasa kehilangan etika, dan komunikasi kehilangan arah moral. Di tengah kebisingan itu, kebenaran sering tenggelam oleh suara yang paling keras, bukan yang paling benar.
Dalam konteks Indonesia, yang dibangun di atas fondasi keberagaman dan nilai Pancasila, krisis adab ini menjadi ancaman serius bagi kohesi sosial. Ketika dakwah kehilangan kelembutan, kritik kehilangan etika, dan politik kehilangan moral, maka yang terancam bukan hanya individu, tetapi ketahanan peradaban bangsa.
Di sinilah pentingnya menghidupkan kembali nilai “aḥsanu qawlan”—sebagai etika komunikasi yang tidak hanya benar secara teologis, tetapi juga relevan secara sosial dan kebangsaan.
Penutup: Mengembalikan Martabat Lisan
Pada akhirnya, Al-Qur’an tidak hanya mengajarkan manusia untuk berbicara, tetapi juga mengajarkan bagaimana bertanggung jawab atas setiap kata. Lisan adalah cermin iman, dan kata adalah representasi dari kualitas batin.
Pertanyaan Al-Qur’an itu tetap relevan hingga hari ini: siapakah yang terbaik perkataannya?
Jawabannya bukan pada mereka yang paling banyak berbicara, tetapi pada mereka yang mengarahkan kata kepada kebaikan, menyelaraskan kata dengan perbuatan, dan menjaga kata dengan adab serta tanggung jawab. “Ahsanu qawlan” adalah puncak kemuliaan lisan—ketika kata menjadi cahaya yang menuntun, bukan api yang membakar. DS.
