![]() |
| Halaqah mingguan di Pondok Pesantren Syekh Muhammad Yatim, khusus mengkaji beliau itu dan sosialiasi Ensiklopedia Tuanku dan Warisan Syekh Burhanuddin. |
Oleh: Duski Samad
STP#95.17042026
“Maminteh batang anyuik”—sebuah ungkapan majaz dalam bahasa Minangkabau yang sarat makna. Maminteh berarti menjemput, menjaga, atau mengupayakan kembali sesuatu yang hampir hilang. Sementara batang anyuik adalah kayu atau benda berharga yang hanyut terbawa arus.
Ungkapan ini bukan sekadar kiasan. Ia adalah cermin dari sebuah kegelisahan sekaligus tekad: bagaimana merawat kembali warisan yang hampir tenggelam dalam arus zaman.
Dalam konteks inilah, ikhtiar Yayasan Islamic Centre Syekh Burhanuddin menghadirkan karya besar Ensiklopedia Tuanku dan Warisan Syekh Burhanuddin Ulakan menemukan relevansinya. Ia bukan hanya proyek penulisan, tetapi gerakan kebudayaan—usaha untuk menjemput kembali batang-batang sejarah yang hanyut, mengangkatnya ke permukaan, dan menegakkan kembali maknanya dalam kesadaran kolektif umat.
Nama Syekh Burhanuddin Ulakan bukanlah nama yang asing di Minangkabau. Sejak lama, ia telah diabadikan dalam lembaga pendidikan seperti Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Syekh Burhanuddin yang berdiri sejak 8 Mei 1978. Namun, pengenalan nama tidak selalu berbanding lurus dengan pemahaman yang utuh terhadap warisan keilmuan dan jaringan sanad yang beliau tinggalkan.
Dalam lintasan sejarah, Syekh Burhanuddin Ulakan—yang wafat pada 1111 Hijriah—menjadi salah satu poros penting Islamisasi Minangkabau. Dari surau-surau sederhana, beliau membangun jaringan keilmuan yang tidak hanya melahirkan murid, tetapi melahirkan peradaban. Jaringan ini terus berlanjut hingga masa Tuanku Nan Tuo, ulama besar yang menjadi salah satu figur sentral sebelum munculnya gerakan Paderi.
Namun sejarah sering kali ditulis dengan seleksi yang ketat—dan terkadang bias. Narasi besar tentang Islam di Minangkabau lebih sering dimulai dari Paderi, dilanjutkan dengan PERTI, dinamika Kaum Tuo dan Kaum Mudo, hingga gerakan modern seperti Muhammadiyah dan Tarbiyah. Sementara itu, fase panjang yang menjadi jembatan antara generasi awal Syekh Burhanuddin dan kebangkitan abad ke-20 sering kali luput dari perhatian.
Di sinilah sosok Syekh Muhammad Yatim Tuanku Suat—yang dikenal sebagai Tuanku Mudiak Padang—menjadi sangat penting.
Beliau bukan sekadar ulama lokal, tetapi mata rantai terakhir yang dapat dijejaki secara jelas dalam kesinambungan sanad keilmuan Syekh Burhanuddin Ulakan. Dari beliau, lahir generasi ulama awal abad ke-20 yang menyebar ke berbagai wilayah: Sumatera Barat, Jambi, Riau, bahkan hingga negeri-negeri jiran.
Nama-nama seperti Tuanku Saliah Keramat, Tuanku Tawaf, Tuanku Salif, Tuanku Musa, serta para ulama yang memimpin surau mangaji duduk dan pondok pesantren di berbagai nagari adalah bukti hidup dari kesinambungan itu.
Mereka tidak hanya mewarisi ilmu, tetapi juga tradisi.
Tradisi mangaji duduk, badikea, sistem khalifah dan silsilah dalam tarekat Syattariyah—semua itu pernah menjadi denyut kehidupan keagamaan Minangkabau. Selama lebih dari satu abad, tradisi ini membentuk karakter umat: sederhana, bersanad, beradab, dan berakar kuat pada nilai spiritual.
Namun, arus modernisasi dan perubahan sosial yang cepat membuat banyak dari tradisi itu mulai memudar. Ia tidak hilang sepenuhnya, tetapi seperti batang yang hanyut—masih ada, tetapi menjauh dari pusat kesadaran.
Dalam kondisi seperti itu, sosialisasi ensiklopedia ini bukan sekadar kegiatan ilmiah. Ia adalah bagian dari gerakan maminteh batang anyuik—menjemput kembali yang hampir hilang.
Di Pondok Pesantren Syekh Muhammad Yatim di Tandikek Patamuan, kegiatan mangaji ini menjadi simbol dari pertemuan antara masa lalu dan masa kini. Di tempat yang menyimpan jejak spiritual dan intelektual itu, narasi tentang sanad, silsilah, dan warisan ulama kembali dihidupkan.
Cerita-cerita tentang Syekh Muhammad Yatim—termasuk kisah-kisah karamah yang hidup dalam ingatan murid dan pengikutnya—bukan sekadar legenda. Ia adalah bagian dari cara masyarakat memaknai kedalaman spiritual seorang ulama. Kisah tentang suara pengajian yang terdengar di surau saat beliau berada di Makkah, misalnya, mencerminkan keyakinan akan keberkahan ilmu yang tidak terikat ruang dan waktu.
Lebih dari itu, terdapat pula tujuh wasiat beliau yang hingga kini tetap hidup dalam praktik keagamaan di kalangan ulama tarekat, tuanku mangaji duduk, dan pesantren. Wasiat itu bukan hanya nasihat, tetapi pedoman hidup yang menjaga kesinambungan nilai dan tradisi.
Semua ini menunjukkan bahwa warisan ulama tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya menunggu untuk dijemput kembali, dipahami ulang, dan dihidupkan dalam konteks zaman yang baru.
Maminteh batang anyuik bukan berarti kembali ke masa lalu secara utuh, tetapi mengambil nilai-nilai yang relevan untuk menjawab tantangan masa kini. Dalam dunia yang serba cepat dan sering kali kehilangan akar, warisan seperti ini justru menjadi penyeimbang—memberi arah, memberi makna, dan menjaga identitas.
Karena itu, Ensiklopedia Tuanku dan Warisan Syekh Burhanuddin Ulakan bukan hanya buku. Ia adalah jembatan antara generasi, antara tradisi dan modernitas, antara sejarah dan masa depan.
Dan upaya ini, sesungguhnya, baru saja dimulai.
Wabillahi taufiq wal hidayah.
