![]() |
Oleh: Duski Samad
Pengasuh Grouop WA Majelis Syekh dan Tuanku Bersanad
Menjaga Sanad, Mengangkat Marwah, Menyambung Peradaban dari Ulakan ke Dunia Digital
Di Minangkabau, Islam tidak hadir sebagai sekadar ajaran yang dibaca, tetapi sebagai warisan yang dijaga dan diteruskan. Ia hidup dalam denyut surau, dalam zikir para salik, dalam pengajian yang tak mengenal lelah, dan terutama dalam sanad—mata rantai ilmu yang menghubungkan murid dengan guru, guru dengan guru sebelumnya, hingga bersambung kepada Rasulullah ï·º.
Dari rahim tradisi itulah lahir para ulama yang disebut Syekh dan Tuanku—bukan sekadar gelar kehormatan, tetapi simbol otoritas keilmuan, kedalaman spiritual, dan tanggung jawab sosial. Mereka adalah penjaga ilmu, pembimbing umat, dan penentu arah peradaban.
Semua itu bermula dari satu titik yang tak pernah lekang dari sejarah:
warisan besar Syekh Burhanuddin Ulakan.
Dari Ulakan, ilmu tidak hanya disampaikan, tetapi disambungkan. Sanad menjadi ruh yang menjaga agar ilmu tidak terputus, tidak menyimpang, dan tidak kehilangan keberkahan. Karena itu para ulama menegaskan:
> الإسناد من الدين، ولولا الإسناد لقال من شاء ما شاء
“Sanad adalah bagian dari agama. Tanpa sanad, siapa saja bisa berkata sesukanya.”
Dalam tradisi Minangkabau, sanad tidak hanya menjaga ilmu, tetapi juga menjaga harmoni antara agama dan budaya. Dari sanalah lahir falsafah besar:
Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah
Sebuah prinsip yang memastikan bahwa adat tidak liar tanpa syariat, dan syariat tidak kering tanpa konteks sosial. Islam membimbing adat, dan adat menghidupkan Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Namun zaman terus berubah. Dunia bergerak cepat. Ruang-ruang pertemuan ulama tidak lagi hanya berada di surau, tetapi juga di layar-layar kecil di tangan kita. Arus informasi datang tanpa batas, tanpa filter, bahkan sering tanpa sanad.
Dalam situasi itulah lahir sebuah kesadaran kolektif: bahwa sanad harus tetap hidup, meskipun medium telah berubah.
Maka sejak 28 Oktober 2023, dibentuklah Majelis Syekh dan Tuanku Bersanad, yang kemudian diaktualisasikan dalam bentuk Group WhatsApp sebagai sebuah majlis digital. Hingga hari ini, dengan anggota mencapai 583 orang, group ini diasuh sebagai ruang bersama untuk menjaga, menguatkan, dan mengangkat marwah serta martabat Syekh dan Tuanku.
Group ini bukan sekadar tempat bertukar pesan. Ia adalah ruang peradaban—tempat ilmu disampaikan, nilai dijaga, dan adab dipraktikkan.
Di dalamnya, para anggota tidak hanya bersilaturahim, tetapi juga menyambung ruh perjuangan ulama. Mereka datang dari latar yang beragam, tetapi dipersatukan oleh satu hal: sanad dan tanggung jawab keumatan.
Dari ruang yang sederhana ini, lahir kerja besar yang tidak sederhana. Sebuah karya monumental berhasil diselesaikan:
“Ensiklopedia Tuanku dan Warisan Syekh Burhanuddin”
Karya ini bukan sekadar buku. Ia adalah peta peradaban, yang mendokumentasikan jejak ulama, jaringan sanad, dan warisan keilmuan Minangkabau. Ia menjadi jembatan antara generasi lama dan generasi baru, antara tradisi dan masa depan.
InsyaAllah, karya ini akan diluncurkan pada 15 Juni, oleh Menteri Koordinator Pemberdayaan Republik Indonesia, di Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Syekh Burhanuddin Pariaman.
Momentum ini bukan hanya peluncuran buku, tetapi penegasan bahwa sanad masih hidup, ulama masih ada, dan peradaban masih bergerak.
Majelis ini dibangun di atas niat yang jernih.
Ia menjadi wadah silaturahim para penggerak umat yang berakar pada spiritualitas dan kultural Minangkabau dalam bingkai Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.
Ia menjadi ruang untuk mengaktualisasikan peran Syekh dan Tuanku bersanad sebagai public figure keumatan—tokoh yang tidak hanya dihormati, tetapi juga menentukan arah dan kualitas peradaban.
Ia juga menjadi ruang pembelajaran bersama, agar setiap anggota lebih produktif, lebih edukatif, dan lebih kontributif dalam menghadirkan konten yang mencerahkan umat dan bangsa.
Namun di atas semua itu, majelis ini juga mengajarkan satu hal yang sering kita abaikan di era digital: adab dalam berkomunikasi.
Karena sesungguhnya, setiap kata yang kita tulis tidak pernah kosong dari makna. Dalam perspektif ilmiah dan sosial, percakapan digital mencerminkan kualitas diri seseorang—cara berpikirnya, kedalaman ilmunya, dan kematangan akhlaknya.
Maka benar adanya ungkapan yang kini menjadi pengingat bersama:
“Chatmu adalah dirimu.”
Apa yang kita tulis adalah cermin diri kita.
Apa yang kita bagikan adalah kualitas ilmu dan adab kita.
Oleh karena itu, menjadi anggota majelis ini bukan hanya soal kehadiran, tetapi soal tanggung jawab. Tanggung jawab untuk menjaga lisan, meskipun dalam bentuk tulisan. Tanggung jawab untuk menjaga marwah ulama, meskipun dalam ruang digital.
Majelis Syekh dan Tuanku Bersanad hari ini bukan hanya menjaga masa lalu, tetapi juga menyiapkan masa depan. Ia menghubungkan surau dengan dunia digital, menghidupkan sanad dalam ruang virtual, dan memastikan bahwa Islam tetap hadir sebagai rahmat di tengah perubahan zaman.
Warisan Syekh Burhanuddin Ulakan bukan untuk dikenang semata, tetapi untuk dilanjutkan. Sanad bukan sekadar kebanggaan, tetapi amanah.
Dan majelis ini adalah salah satu jalan untuk menjaga amanah itu tetap hidup—agar Islam di Minangkabau tetap kokoh:
bersanad dalam ilmu, beradab dalam dakwah, dan berperadaban dalam kehidupan.ds.
