![]() |
Oleh: Duski Samad
Wakil Ketua Umum Pimpinan Pusat PERTI
Menjelang satu abad perjalanannya, Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI) tidak lagi sekadar berdiri di titik nostalgia sejarah, tetapi berada di simpang strategis masa depan. Seratus tahun bukan hanya angka, melainkan penegasan: apakah PERTI akan menjadi penjaga tradisi yang pasif, atau penggerak peradaban yang aktif.
PERTI lahir dari surau—ruang sederhana yang melahirkan manusia besar. Dari sana, tradisi ilmu tumbuh, lalu berwujud dalam Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI), sebuah sistem pendidikan yang memadukan kedalaman ilmu agama, pembinaan akhlak, dan tanggung jawab sosial. Tradisi itu tersambung melalui sanad keilmuan. Di tangan para ulama, ilmu bukan sekadar pengetahuan, tetapi amanah yang harus dipertanggungjawabkan.
Lahirnya MTI pada 1928 bukan hanya perubahan bentuk pendidikan dari surau ke madrasah, tetapi perubahan paradigma: dari pengajian personal menuju sistem pendidikan yang terorganisasi. Dari sinilah PERTI membangun fondasi peradaban—melahirkan ulama, guru, dan pemimpin umat yang hidup bersama masyarakat, membimbing, mengayomi, dan menggerakkan.
Namun zaman terus berubah. Dunia bergerak cepat dengan teknologi, globalisasi, dan pergeseran nilai. Otoritas keagamaan tidak lagi hanya berada di mimbar surau, tetapi juga di ruang digital yang terbuka tanpa batas. Di tengah arus ini, PERTI tidak cukup hanya bertahan. Ia harus bangkit—bukan dengan meninggalkan tradisi, tetapi dengan menghidupkannya dalam wajah baru yang relevan.
Kebangkitan itu harus bertumpu pada visi yang kokoh: pendidikan, dakwah, dan sosial sebagai pilar peradaban.
Dalam bidang pendidikan, PERTI memiliki mandat besar untuk mencetak ulama yang tafaqquh fiddin sekaligus penggerak umat. Al-Qur’an menegaskan bahwa hanya ulama yang benar-benar takut kepada Allah (QS. Al-Fathir: 28), bahwa harus ada kelompok yang mendalami agama untuk membimbing masyarakat (QS. At-Taubah: 122), dan bahwa setiap ilmu akan dimintai pertanggungjawaban (QS. Al-A’raf: 6). Ini berarti pendidikan MTI tidak boleh berhenti pada penguasaan kitab, tetapi harus melahirkan ulama yang sadar tanggung jawab, berintegritas, dan mampu memimpin umat.
Dalam bidang dakwah, PERTI berdiri pada prinsip menjaga umat agar tetap berada di jalan yang benar. Pesan Al-Qur’an dalam QS. Ali Imran ayat 100 menjadi pengingat bahwa dakwah bukan sekadar mengajak, tetapi juga menjaga arah umat dari penyimpangan. Dakwah PERTI harus tampil moderat, santun, dan bijaksana—menghindari ekstremisme sekaligus tidak larut dalam relativisme.
Dalam bidang sosial, PERTI mengemban amanah besar untuk membangun solidaritas umat. Prinsip ta’awanu ‘alal birri wat taqwa menegaskan bahwa kehidupan beragama tidak bisa dilepaskan dari kepedulian sosial. PERTI harus hadir dalam pemberdayaan ekonomi, penguatan wakaf, pelayanan umat, dan menjaga harmoni masyarakat. Di sinilah Islam tampil sebagai rahmat, bukan sekadar ajaran.
Namun di balik potensi besar itu, pendidikan MTI menghadapi tantangan serius. Perubahan orientasi masyarakat yang semakin pragmatis, kelembagaan yang belum sepenuhnya kuat, kurikulum yang belum adaptif, serta keterlambatan digitalisasi membuat sebagian MTI mengalami stagnasi. Bahkan, dalam beberapa kasus, tampak seolah-olah “tenggelam” di tengah arus modernitas.
Padahal yang sesungguhnya terjadi bukanlah hilangnya nilai, tetapi ketertinggalan dalam pengelolaan nilai. Ruh MTI tetap hidup—sanad tetap terjaga, kitab tetap diajarkan, dan adab tetap ditanamkan. Yang perlu diperbarui adalah sistem, manajemen, dan pendekatan terhadap zaman.
Karena itu, kebangkitan PERTI menuju satu abad harus dimulai dari revitalisasi pendidikan. MTI harus direposisi sebagai madrasah peradaban—tempat lahirnya ulama yang menguasai kitab sekaligus memahami realitas. Kitab kuning tetap menjadi fondasi, tetapi harus diperkaya dengan ilmu sosial, literasi digital, bahasa asing, kepemimpinan, dan kemampuan berdakwah global.
Langkah strategis perlu dilakukan: pemetaan nasional MTI, standarisasi kurikulum ke-Perti-an, kaderisasi guru dan Tuanku muda, digitalisasi surau dan madrasah, serta revitalisasi wakaf pendidikan. Pendidikan PERTI harus masuk ke era baru—era di mana tradisi dan teknologi berjalan beriringan.
Kebangkitan ini juga menuntut regenerasi. Generasi muda harus disiapkan sebagai pewaris sanad sekaligus pelanjut peradaban. Mereka harus diberi ruang, dibimbing, dan dipercaya. Tanpa kader, organisasi akan berhenti; dengan kader, peradaban akan terus hidup.
Menjelang satu abad, PERTI memiliki semua modal untuk bangkit: tradisi keilmuan yang kuat, jaringan pendidikan yang luas, legitimasi sosial yang kokoh, dan nilai spiritual yang dalam. Yang dibutuhkan adalah kesadaran kolektif dan keberanian untuk bergerak bersama.
Akhirnya, satu abad PERTI bukan sekadar perayaan, tetapi momentum kebangkitan. Dari surau yang sederhana menuju dunia yang luas, PERTI melangkah dengan keyakinan:
bahwa pendidikan yang melahirkan ulama, dakwah yang menjaga umat, dan solidaritas sosial yang menguatkan kehidupan akan membangun peradaban yang beriman, berakhlak, dan berkemajuan.
