![]() |
Mudiak Padang 1868 M
Malam itu Mudiak Padang terasa lebih dingin dari malam-malam sebelumnya. Sehabis makan malam, Karimah yang sedang hamil tua, sengaja menghampiri suaminya, Alhakam yang sedang menyeduh kopi sehabis makan. Mereka bicara santai dan datar saja, namun tentu bicara masa depan anak dalam kandungannya, menjadi "hayalan" mereka berdua, sebelum tidur malam.
Siang, mereka jarang bisa bicara empat mata. Kesibukan mereka berdua mengolah sawah dan ladang, sepertinya menjadikan malam sebagai waktu yang asyik untuk bercerita dan berkisah. Berkisah tentang perasaian bertani yang nyaris tiap hari bergelut dengan sawah dan ladang. Karimah terkenal di Tandikek Mudiak Padang itu sebagai orang kaya akan pusako. Sejak dari Surau Mudiak Padang hingga ke jembatan Lareh Nan Panjang, itu sawah dan ladang yang diwarisi Karimah.
Dalam pusako dia pula berdiri Masjid Raya Mudiak Padang, yang kini berubah nama menjadi Masjid Raya Katik Sangko. Masjid ini terkenal sebagai pusat pendidikan lokal, anak pribumi.
1868 itu, Karimah melahirkan anak yang diberi nama Muhammad Yatim. Dalam perkembangannya, Muhammad Yatim ini anak satu-satunya pasangan Alhakam dan Karimah ini. Dalam banyak penelusuran, tak ditemukan bulan dan tanggal kelahiran ulama besar yang resminya tersebut dengan "Syekh Muhammad Yatim Mudiak Padang Tuanku Ampalu" ini. Di kemudian hari, masyarakat mencatat, beliau lahir 1868. Familiar ceritanya, bahwa di Muhammad Yatim ini, si Upiak iyo si Buyuang iyo, anak surang mande batujuah. Pintak buliah kandak balaku. Sebab, Karimah dan Alhakam terkenal keluarga kaya, punya puako yang luas. Sayang, di zaman itu, Pemerintahan Kolonial Belanda belum membangun pendidikan di Tandikek Mudiak Padang.
Masa Kanak-kanak
Masa kanak-kanak, Muhammad Yatim sama dengan kebanyakan kanak-kanak di Mudiak Padang itu. Senang bermain di banyak tempat, suka hilir mudik, mandi di sungai. Pada era 1870-an di Tandikek Mudiak Padang (kini bagian dari Nagari Tandikek, Kabupaten Padang Pariaman), pusat pendidikan utama bagi masyarakat setempat adalah sistem pendidikan tradisional berbasis agama yang berpusat di Mesjid Raya Katik Sangko Mudiak Padang. Masa kanak-kanak itu, Muhammad Yatim banyak menghabiskan waktunya di masjid ini.
Pada periode tersebut, Pemerintah Kolonial Hindia Belanda baru mulai memperluas jaringan sekolah sekuler (sekolah nagari) ke wilayah luar Padang, termasuk Padang Pariaman, namun mayoritas penduduk masih mengandalkan lembaga pendidikan lokal. Surau Mudiak Padang merupakan lembaga pendidikan tertua dan utama di Tandikek Mudiak Padang. Surau ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pengajaran agama Islam, pembacaan naskah kuno (manuskrip), dan adat Minangkabau.
Menjadi tempat penyimpanan naskah-naskah kuno seperti teks Al-Quran dan manuskrip keagamaan lainnya yang digunakan dalam proses belajar-mengajar tradisional pada abad ke-19.
Secara umum di Sumatera Barat, termasuk wilayah Padang Pariaman, perkembangan sekolah formal pada era 1870-an ditandai dengan: Sekolah Nagari (Volksschool): Pemerintah kolonial mulai memperkenalkan sekolah-sekolah dasar yang menggunakan bahasa Melayu dan tulisan Latin. Sekolah ini biasanya didirikan atas inisiatif pejabat pribumi (Tuanku Laras atau Penghulu) bekerja sama dengan Belanda. Mulai 1870, sekolah-sekolah sekuler ini mengalami perbaikan kualitas untuk mencetak tenaga administratif atau pegawai Pemerintah Kolonial.
Meskipun sekolah modern mulai muncul di beberapa titik di Padang Pariaman sejak 1854, pengaruh pendidikan berbasis surau di Tandikek Mudiak Padang tetap menjadi yang paling dominan bagi penduduk lokal pada 1870-an, sebelum maraknya sekolah formal di awal abad ke-20. Surau Mudiak Padang yang kelak, masa yang cukup jauh ke mukanya, Surau Mudiak Padang disepakati untuk berubah nama menjadi Masjid Raya Katik Sangko. Umumnya, anak-anak Tandikek Mudiak Padang belajar di sini. Muhammad Yatim berguru ke Malan Tuanku Bandaro. Banyak ulama yang jadi guru di Surau Mudiak Padang, tetapi Muhammad Yatim diserahkan oleh orangtuanya ke Gutuo Malan ini. Masyarakat Mudiak Padang umumnya menyapa Malan ini dengan sapaan akrab, Gutuo.
Termasuk anak Muhammad Yatim pun menyapa Malan dengan sapaan Gutuo. Sehingga akrab dengan Gutuo Malan. Dengan Gutuo Malan ini banyak anak-anak mengaji, siang dan malam. Di Surau Mudiak Padang tak hanya mengaji Qur'an. Ada banyak macamnya yang dikaji di surau itu. Termasuk mengaji adat istiadat Minangkabau. Kelak di kemudian hari, Surau Mudiak Padang terkenal sebagai "sarangnya" ulama. Terkenal petatah-petitih ulama di Mudiak Padang, batang di Batukalang, pancang di Ampalu, camin taruih di Pariaman.
Referensi:
1. Wawancara dengan Buya Syofyan Marzuki Tuanku Bandaro, Selasa 21 April 2026 di Puncuang Anam, Tandikek
2. Halaqah Syekh Muhammad Yatim, Jumat 7 April 2026 di Pondok Pesantren Syekh Muhammad Yatim, Tandikek
3. https://www.kompasiana.com/adtuankumudo0168/5f4e05d33b8dd03cc8069e72/cerita-buya-tuanku-shaliah-lubuak-pandan-berguru-kepada-banyak-ulama-hebat
4. http://tuankuadamanhuri.blogspot.com/2014/04/keteladanan-sy
ekh-muhammad-yatim-nyaris.html
