![]() |
| Prof. Duski Samad, Ahmad Damanhuri dan Armaidi Tanjung memfinalkan rencana buku Ensiklopedia Tuanku dan Warisan Syekh Burhanuddin memuat 60 riwayat tokoh ulama. |
Ensiklopedia Tuanku dan Warisan Syekh Burhanuddin itu disepakati dan diputuskan memuat riwayat 60 tokoh ulama. Bukunya tebal mencapai 600 halaman lebih. Pekerjaan menulis ini akan terus berlanjut, mengingat masih banyak yang belum kami tulis.
Tapi kami tidak menjadikan buku itu edisi satu, dua dan seterusnya. Mungkin tema besar pada buku berikutnya, kita ganti, namun substansinya sama dengan buku yang akan diterbitkan ini.
Dari pengkajian yang sudah dilakukan dalam waktu yang tidak terlalu lama ini, betapa warisan Syekh Burhanuddin itu menjadi luas biasa. Pergerakan dan dinamika tuanku dulu di tengah lingkungan lokalnya, menjadi inspirasi tersendiri.
Banyak hikmah, pelajaran dan nilai yang kadang-kadang lupa kita, kalau para tuanku dulu itu, betul-betul memposisikan dirinya sebagai "pelayanan umat".
Tentunya kisah dan cerita mengandung hikmah ini, patut diabadikan. Kerja menulis adalah kerja keabadian. Bagi Prof. Duski Samad Tuanku Mudo, menulis adalah melepaskan rasa candu. Sebagai guru besar ilmu tasawuf, menulis sudah menjadi ibadah oleh "Pakar Syekh Burhanuddin" ini.
Makanya, untuk menulis dan menyusun buku yang setebal itu, bagi Ketua Yayasan Islamic Center Syekh Burhanuddin dan sejumlah timnya, tak pakai waktu yang lama. Ya, karena tadi. Menulis adalah ibadah. Tulisan Ketua Dewan Pakar PWI Sumatera Barat ini tentang Syekh Burhanuddin dan ulama dulu, bejibun banyaknya. Banyak, berserak di berbagai media, dan kembali dipermak, dan dionggokkan dalam Ensiklopedia Tuanku dan Warisan Syekh Burhanuddin ini.
Ya, karena prinsip "memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik" (Arab: Al-Muhafazhatu 'ala al-Qadim al-Salih wa al-Akhdhu bi al-Jadid al-Ashlah) adalah kaidah fikih yang menekankan keseimbangan antara melestarikan nilai-nilai luhur budaya/agama dengan mengadopsi inovasi teknologi atau pendekatan modern yang lebih bermanfaat. Pendekatan ini memastikan keberlanjutan tradisi tanpa menutup diri dari kemajuan zaman.
Syekh Burhanuddin Ulakan (1606 - 1699 M) adalah ulama sufi dan penyebar Islam versi Syattariyah yang berpengaruh di Minangkabau, Sumatera Barat.
Pionir Dakwah Islam: Syekh Burhanuddin memperkenalkan dan mengembangkan ajaran Islam di Minangkabau pada abad ke-17. Ia berhasil mengislamisasi sistem, budaya, dan tradisi Minangkabau melalui pendekatan sufistik dan pengintegrasian nilai-nilai Islam dengan adat lokal.
Pendiri Surau dan Pusat Pendidikan: Ia mendirikan surau di Tanjung Medan, Ulakan, sebagai pusat pendidikan dan penyebaran ajaran Islam. Surau ini menjadi tempat belajar ilmu agama, musyawarah, dan kegiatan sosial lainnya.
Pengembang Tarekat Syattariyah: Syekh Burhanuddin mempelajari dan mengembangkan Tarekat Syattariyah, sebuah tarekat sufi yang menekankan penyucian diri dan kedekatan dengan Allah SWT. Ia mengajarkan berbagai disiplin ilmu keislaman, termasuk tasawuf, fikih, dan tafsir.
Pemimpin Spiritual: Ia menjadi pemimpin spiritual bagi masyarakat Minangkabau dan memiliki pengaruh besar dalam perkembangan Islam di wilayah tersebut. Ajaran sufistiknya yang menekankan cinta kepada Allah dan kesederhanaan hidup masih dipelajari dan diamalkan hingga saat ini.
Pengintegrasian Adat dan Agama: Syekh Burhanuddin berhasil mengintegrasikan nilai-nilai Islam dengan adat Minangkabau, seperti yang tercermin dalam konsep "Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah". Ini membantu memperkuat pondasi Islam di Minangkabau dan menciptakan harmoni antara agama dan budaya lokal.
Islamisasi di Minangkabau memiliki beberapa dampak signifikan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat.
1. Perubahan Sistem Sosial dan Budaya: Islam membawa perubahan pada struktur sosial dan budaya Minangkabau, terutama dalam hal adat dan tradisi. Adat Minangkabau yang awalnya sangat dipengaruhi oleh animisme dan Hinduisme, kemudian banyak diwarnai dengan nilai-nilai Islam.
2. Pengembangan Pendidikan dan Keilmuan: Islamisasi membawa perkembangan signifikan dalam bidang pendidikan dan keilmuan di Minangkabau. Banyak pondok pesantren dan lembaga pendidikan Islam didirikan, yang menjadi pusat penyebaran ilmu pengetahuan dan agama.
3. Pengaruh Arsitektur dan Seni: Arsitektur dan seni di Minangkabau juga terpengaruh oleh Islam, seperti terlihat dalam desain masjid-masjid dan bangunan lainnya yang menggunakan motif-motif Islami.
4. Peran Ulama dalam Masyarakat: Ulama memainkan peran penting dalam proses Islamisasi dan menjadi pemimpin spiritual serta intelektual di masyarakat. Mereka tidak hanya mengajarkan ilmu agama tetapi juga berperan dalam menjaga tradisi dan nilai-nilai Islam.
5. Penguatan Identitas Islam: Islamisasi memperkuat identitas Islam di Minangkabau, yang tercermin dalam praktik keagamaan dan perayaan hari-hari besar Islam. Masyarakat Minangkabau dikenal dengan kuatnya identitas Islam mereka yang tercermin dalam ungkapan "adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah" yang menunjukkan keterkaitan erat antara adat dan agama.
6. Perubahan dalam Hukum dan Pemerintahan: Islam juga membawa perubahan dalam sistem hukum dan pemerintahan di Minangkabau, dengan penerapan hukum Islam (syariah) dalam kehidupan sehari-hari.
Dampak-dampak ini menunjukkan bagaimana Islamisasi membawa perubahan luas dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat Minangkabau.
Penulis Ensiklopedia Tuanku dan Warisan Syekh Burhanuddin Ulakan adalah Duski Samad, seorang Guru Besar UIN Imam Bonjol Padang. Buku ensiklopedia ini disusun bersama tim penulis lainnya, termasuk Dr. Ridwan Arif Tuanku Bandaro, Damanhuri, Syahrul Mubarak, Armaidi Tanjung. Ensiklopedia ini bertujuan mendokumentasikan sanad keilmuan ulama pewaris Syekh Burhanuddin secara ilmiah dan historis.
