![]() |
Oleh: Duski Samad
STP@series55. 27032026
Khutbah Masjid Nurul Ilmi Unand Limau Manis
Taqwa sering dipahami sebagai capaian spiritual. Seolah-olah setelah Ramadan seseorang telah memperoleh “sertifikat kelulusan” sebagai pribadi bertaqwa. Padahal dalam perspektif Al-Qur’an, hadis, dan pandangan ulama, taqwa bukanlah garis akhir, tetapi sebuah perjalanan panjang yang harus terus dijaga.
Taqwa bukan status.
Taqwa adalah disiplin.
Ia bukan gelar yang bisa disematkan, tetapi karakter yang harus dipelihara. Ia bukan pengakuan sosial, tetapi komitmen moral antara hamba dengan Tuhannya.
Al-Qur’an sendiri tidak pernah menggambarkan taqwa sebagai keadaan yang selesai, tetapi sebagai proses menjaga diri agar tetap berada dalam jalan kebenaran. Imam Al-Ghazali menyebut taqwa sebagai kemampuan menjaga diri dari segala hal yang menjauhkan manusia dari Allah. Artinya, inti taqwa bukan hanya melakukan kebaikan, tetapi menjaga kebaikan agar tidak rusak.
Taqwa Harus Dijaga, Bukan Hanya Dicapai
Allah memberikan perumpamaan moral yang sangat kuat dalam Al-Qur’an: "Dan janganlah kamu seperti perempuan yang menguraikan kembali benang yang telah dipintalnya dengan kuat."
(QS. An-Nahl: 92)
Ayat ini adalah kritik tajam terhadap manusia yang merusak sendiri bangunan moral yang telah ia dirikan. Tafsir klasik menjelaskan bahwa ini adalah peringatan agar manusia tidak membatalkan amal dengan perilaku yang bertentangan dengan nilai yang ia bangun.
Maknanya sangat kontekstual dengan kehidupan modern. Jangan sampai seseorang:
rajin beribadah tetapi merusak akhlak
membangun kepercayaan tetapi mengkhianatinya
dikenal baik tetapi bertindak sebaliknya
memulai kebaikan tetapi tidak menjaganya
Inilah yang dapat disebut sebagai runtuhnya tenunan taqwa.
Rasulullah SAW memberikan ukuran yang sangat jelas tentang kualitas amal:
"Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara terus menerus walaupun sedikit."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini mengajarkan bahwa ukuran utama dalam Islam bukan spektakulernya amal, tetapi konsistensi moralnya.
Dalam kajian psikologi Islam, ini berkaitan dengan konsep self control dan moral consistency, yaitu kemampuan menjaga perilaku tetap selaras dengan nilai yang diyakini. Banyak orang gagal bukan karena tidak tahu yang benar, tetapi karena tidak mampu menjaga diri ketika godaan datang.
Karena itu para ulama sering mengingatkan:
Kehebatan bukan pada memulai kebaikan, tetapi pada menjaga kebaikan itu.
Taqwa Harus Melahirkan Energi Kehidupan
Taqwa dalam Islam tidak pernah dimaksudkan menjadikan manusia pasif. Justru taqwa yang benar melahirkan etos kerja, produktivitas, dan tanggung jawab sosial.
Allah SWT berfirman:
"Maka apabila engkau telah selesai dari satu urusan, tetaplah bekerja keras untuk urusan yang lain." (QS. Al-Insyirah: 7)
Ayat ini adalah fondasi etos kerja Islam. Orang bertaqwa tidak berhenti setelah satu amal. Ia terus bergerak dari satu kebaikan ke kebaikan berikutnya. Dari amanah ke amanah berikutnya. Dari perbaikan diri menuju perbaikan masyarakat.
Ibnu Qayyim Al-Jauziyah menjelaskan bahwa di antara tanda diterimanya amal adalah munculnya amal berikutnya. Artinya, taqwa sejati selalu menghasilkan progres moral.
Jika ibadah tidak melahirkan:
kejujuran dalam pekerjaan
tanggung jawab dalam jabatan
kepedulian sosial
etos kerja yang baik
maka mungkin yang tumbuh baru semangat ritual, belum kesadaran spiritual.
Taqwa Bukan Klaim, Tetapi Konsistensi
Di era media sosial, citra kesalehan bisa dibangun dengan mudah. Simbol religius bisa ditampilkan. Narasi kebaikan bisa disampaikan. Namun Al-Qur’an memberikan peringatan penting:
"Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Allah lebih mengetahui siapa yang bertaqwa."
(QS. An-Najm: 32)
Ayat ini mengajarkan bahwa taqwa bukan klaim, tetapi kualitas batin yang terlihat dari konsistensi perilaku.
Para ulama tasawuf bahkan mengatakan bahwa salah satu tanda taqwa adalah tidak merasa diri bertaqwa.
Hasan Al-Basri pernah berkata bahwa seorang mukmin selalu menggabungkan antara amal dan rasa takut amal itu tidak diterima. Sedangkan orang yang lalai sering menggabungkan kesalahan dengan rasa aman.
Ini menunjukkan bahwa orang yang benar-benar bertaqwa biasanya lebih sibuk memperbaiki dirinya daripada menilai orang lain.
Karena itu sertifikat taqwa tidak diukur dari:
gelar akademik
jabatan sosial
popularitas dakwah
simbol keagamaan
Tetapi terlihat dari:
kejujuran ketika tidak diawasi, amanah ketika dipercaya, adil ketika berkuasa, rendah hati ketika dihormati
Taqwa Adalah Mujahadah Sepanjang Hayat
Pada akhirnya taqwa adalah perjuangan batin yang tidak pernah selesai. Ia membutuhkan muhasabah (evaluasi diri), tazkiyah (pembersihan jiwa), ilmu (agar tidak tersesat), lingkungan baik (agar tidak tergelincir), dan keikhlasan (agar tidak rusak oleh riya).
Allah SWT menegaskan:
"Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, pasti Kami tunjukkan jalan Kami."
(QS. Al-Ankabut: 69)
Ayat ini menunjukkan bahwa jalan taqwa adalah jalan mujahadah, jalan kesungguhan, bukan jalan kenyamanan.
Karena itu para ulama mengatakan: Istiqamah lebih berat daripada memulai.
Memulai kebaikan sering lahir dari semangat. Menjaga kebaikan membutuhkan kedewasaan spiritual.
Penutup: Taqwa adalah Kompas Kehidupan
Yang perlu kita sadari adalah bahwa taqwa bukan tentang siapa yang paling terlihat saleh, tetapi siapa yang paling sungguh-sungguh menjaga dirinya dari merusak nilai yang ia yakini.
Taqwa bukan nostalgia Ramadan.
Taqwa adalah komitmen setelah Ramadan.
Taqwa bukan tentang bagaimana kita terlihat di hadapan manusia.
Tetapi bagaimana kita dinilai oleh Allah.
Karena itu hakikatnya:
Taqwa bukan sertifikat yang digantung di dinding kehidupan.
Taqwa adalah kompas yang menuntun arah kehidupan.
Orang bertaqwa bukan orang yang merasa sudah sampai, tetapi orang yang terus berjalan, terus memperbaiki diri, terus menjaga amanah, dan terus bermuhasabah,
agar tidak menjadi seperti benang yang telah kuat dipintal, lalu diuraikan kembali oleh tangannya sendiri.
Sebab pada akhirnya, taqwa bukan tentang pernah menjadi baik, tetapi tentang kesungguhan untuk tetap baik sampai akhir hayat.ds.
