![]() |
Oleh: Duski Samad
surautuankuprofessor#
series34. 17032026.
Kerja besar Ramadhan yang tinggal menghitung hari tentu sudah bisa dilihat dan dirasakannya, satu di antaranya kesadaran diri yang begitu terbatas dan banyak kelemahan.
Kajian diakhir Ramadhan ini mengingatkan diri dan kita semua untuk tetap focus dan menyiapkan mentalitas dan ruhaniyah menjadi hamba yang sadar, tawadhuk, tidak sok suci dan memeremehkan siapapun.
Ramadhan adalah bulan pendidikan ruhani. Ia bukan sekadar latihan menahan lapar dan dahaga, tetapi latihan menundukkan ego, membersihkan hati, dan memperbaiki akhlak. Karena itu, ukuran keberhasilan Ramadhan bukan pada banyaknya ibadah yang terlihat, tetapi pada perubahan moral yang dirasakan.
Al-Qur’an telah memberikan peringatan yang sangat halus namun tegas: artinya.."Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapa yang bertakwa.”
(QS. An-Najm: 32)
Ayat ini sesungguhnya adalah alat evaluasi Ramadhan. Apakah puasa kita melahirkan kerendahan hati atau justru kesombongan spiritual?
Ramadhan adalah madrasah kerendahan hati
Tujuan utama puasa dijelaskan Allah dalam Al-Qur’an: “Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)
Taqwa bukan simbol kesalehan yang dipamerkan. Taqwa adalah kualitas batin yang tercermin dalam:
kejujuran
kesabaran
empati sosial
kemampuan menahan diri
kerendahan hati
Jika setelah Ramadhan seseorang justru:
merasa paling benar,
mudah menyalahkan orang lain, merasa paling islami
merendahkan kelompok lain
Maka boleh jadi puasanya baru sampai pada menahan lapar, belum sampai pada mendidik jiwa.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menjelaskan bahwa puasa memiliki tingkatan. Ada puasa orang biasa yang hanya menahan makan dan minum. Ada puasa orang khusus yang menjaga anggota badan dari dosa. Dan ada puasa tingkat tertinggi, yaitu puasa yang membersihkan hati dari penyakit seperti riya’, dengki, dan ujub.
Merasa paling suci justru tanda puasa belum sampai pada maqam tertinggi itu.
Ramadhan dan pengendalian ego
Rasulullah ï·º mengingatkan: “Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya.”
(HR. Bukhari)
Hadis ini menegaskan bahwa esensi puasa adalah perbaikan karakter. Puasa yang berhasil akan melahirkan manusia yang:
lebih sabar
lebih lembut
lebih jujur
lebih peduli
Bukan manusia yang:
lebih keras
lebih mudah marah
lebih suka menghakimi
Karena itu, Ramadhan sejatinya adalah latihan mengalahkan diri sendiri, bukan mengalahkan orang lain.
Evaluasi manfaat Ramadhan
Secara spiritual dan psikologis, keberhasilan Ramadhan dapat dilihat dari beberapa indikator sederhana:
Pertama, hati menjadi lebih bersih. Dendam berkurang, iri menurun, dan keinginan menyakiti orang lain melemah.
Kedua, jiwa lebih terlatih. Orang yang berhasil puasanya lebih mampu mengendalikan emosi dan tidak reaktif dalam konflik.
Ketiga, hubungan dengan Allah semakin dekat. Ibadah bukan lagi beban, tetapi kebutuhan.
Keempat, akhlak sosial membaik. Lebih menghargai perbedaan, tidak mudah memvonis, dan lebih suka membangun daripada merusak.
Kelima, kesadaran moral meningkat. Takut berbuat zalim, takut mengambil yang bukan haknya, dan takut merugikan masyarakat.
Jika lima hal ini tidak muncul, maka Ramadhan perlu dievaluasi, bukan ibadahnya yang disalahkan, tetapi cara kita menjalaninya yang perlu diperbaiki.
Ramadhan sebagai benteng kerusakan moral
Jika nilai Ramadhan benar-benar hidup dalam diri seseorang, maka ia akan menjadi benteng dari berbagai penyakit sosial:
korupsi
manipulasi
politik kotor
kekerasan sosial
kerusakan moral
Karena puasa melatih apa yang dalam psikologi modern disebut self control atau pengendalian diri. Kemampuan menahan diri inilah yang menjadi fondasi peradaban maju.
Bangsa yang kuat bukan hanya bangsa yang cerdas, tetapi bangsa yang memiliki disiplin moral.
Dan puasa adalah sekolah disiplin moral itu.
Bahaya kesombongan spiritual. Ulama tasawuf mengingatkan bahwa penyakit paling berbahaya bukan dosa orang awam, tetapi kesombongan orang yang merasa sudah baik.
Penyakit itu bernama ujub.
Yaitu: merasa amalnya besar, merasa dirinya lebih baik, merasa lebih suci
Padahal Rasulullah ï·º mengingatkan bahwa yang paling selamat justru orang yang selalu merasa perlu memperbaiki diri.
Dalam tradisi kearifan Minangkabau dikenal petuah: Nan baik budi, nan indah baso.Kemuliaan bukan pada klaim, tetapi pada akhlak.
Penutup
Ramadhan seharusnya membuat kita lebih banyak bercermin daripada menilai orang lain.
Ramadhan seharusnya membuat kita lebih banyak memperbaiki diri daripada mengkritik orang lain.
Ramadhan seharusnya membuat kita lebih banyak berdoa daripada merasa sudah sempurna.
Karena tanda Ramadhan berhasil sangat sederhana:
Jika sebelum Ramadhan kita mudah marah, setelahnya kita lebih sabar.
Jika sebelum Ramadhan kita keras, setelahnya kita lebih lembut.
Jika sebelum Ramadhan kita merasa benar, setelahnya kita lebih bijak.
Jika sebelum Ramadhan kita merasa suci, setelahnya kita merasa masih banyak kekurangan.
Karena sesungguhnya orang yang berhasil dididik Ramadhan bukan yang merasa paling suci, tetapi yang paling sadar bahwa dirinya masih harus terus memperbaiki diri.
Dan mungkin ukuran paling jujur dari Ramadhan bukan berapa banyak ibadah yang kita lakukan, tetapi berapa banyak ego yang berhasil kita turunkan.
Sebab Ramadhan yang berhasil tidak melahirkan kesombongan spiritual, tetapi melahirkan manusia yang lebih tawadhu’, lebih bijak, dan lebih berakhlak.
Itulah manusia yang tidak merasa paling suci, tetapi terus berusaha menjadi lebih baik di hadapan Allah.ds.17032026.
