![]() |
Oleh: Duski Samad
Taushiyah Buka Bersama Penyintas Bencana Huntara Koto Tangah Padang 13 Maret 2026
Hidup ini sesungguhnya adalah rangkaian peristiwa yang terus berganti. Tidak ada manusia yang selamanya berada dalam kesenangan, dan tidak ada pula yang selamanya berada dalam kesusahan. Allah telah menetapkan hukum kehidupan bahwa waktu dan keadaan akan terus berputar.
Allah menegaskan dalam Al-Qur’an:
"Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia."
(QS. Ali Imran: 140)
Ayat ini mengajarkan satu hal penting: musibah bukan akhir kehidupan, tetapi bagian dari perjalanan kehidupan.
Hari ini kita mungkin berada di huntara, dalam keterbatasan tempat tinggal, dalam suasana yang berbeda dari kehidupan sebelumnya. Tetapi boleh jadi, di balik keadaan ini Allah sedang mendidik hati kita, menguatkan jiwa kita, dan mempererat persaudaraan kita.
Dalam menghadapi pergiliran hidup ini, setidaknya ada tiga sikap utama yang harus menjadi pegangan seorang mukmin.
Pertama adalah sabar, yaitu menerima ketentuan Allah dengan hati yang teguh. Sabar bukan berarti menyerah tanpa usaha. Sabar adalah kekuatan batin untuk tetap berdiri walaupun keadaan mengguncang. Sabar adalah kemampuan untuk tetap percaya bahwa rencana Allah selalu lebih baik daripada rencana manusia.
Rasulullah SAW mengajarkan bahwa orang beriman itu istimewa. Ketika mendapat nikmat ia bersyukur, ketika mendapat ujian ia bersabar. Artinya dalam keadaan apa pun, orang beriman tetap berada dalam kebaikan.
Kedua adalah sadar, yaitu kesediaan untuk melakukan muhasabah atau introspeksi diri. Setiap musibah mengandung pesan. Bukan untuk saling menyalahkan, bukan untuk mencari siapa yang paling bertanggung jawab, tetapi untuk bertanya kepada diri sendiri: apa yang harus kita perbaiki setelah peristiwa ini?
Musibah sering menjadi cara Allah untuk melembutkan hati manusia yang mungkin selama ini terlalu sibuk dengan urusan dunia. Musibah sering menjadi jalan agar manusia kembali mendekat kepada Allah dengan doa yang lebih khusyuk, dengan hati yang lebih bersih, dan dengan kepedulian sosial yang lebih kuat.
Ketiga adalah syukur, yaitu kemampuan melihat nikmat Allah walaupun dalam keadaan sulit. Kita mungkin kehilangan rumah, tetapi jangan sampai kita merasa kehilangan segalanya. Karena masih banyak nikmat yang Allah tinggalkan bersama kita: umur yang masih diberikan, kesehatan yang masih dijaga, keluarga yang masih bersama, serta bantuan dari banyak pihak yang peduli.
Syukur bukan karena hidup selalu mudah. Syukur adalah kemampuan melihat cahaya harapan di tengah gelapnya ujian.
Bapak dan ibu yang dimuliakan Allah,
Dalam perspektif keimanan, bencana yang terjadi dalam kehidupan manusia dapat dipahami dalam beberapa bentuk. Ada musibah sebagai ketetapan Allah dalam hukum alam kehidupan. Ada bala sebagai ujian agar manusia menjadi lebih kuat. Ada fitnah sebagai ujian keimanan apakah manusia tetap teguh atau justru menyerah. Dan ada juga peringatan agar manusia lebih bijak dalam memperlakukan alam dan kehidupan sosialnya.
Karena itu, yang paling penting bukan hanya bertanya mengapa musibah ini terjadi, tetapi juga bertanya apa yang harus kita pelajari dari musibah ini.
Musibah seharusnya melahirkan tiga kekuatan baru: kekuatan iman, kekuatan mental, dan kekuatan solidaritas.
Di huntara ini kita belajar bahwa kekayaan sejati bukan hanya rumah yang besar, tetapi hati yang saling menguatkan.
Di sini kita belajar bahwa yang paling mahal bukan harta, tetapi kepedulian.
Dan di sini kita belajar bahwa yang paling penting bukan apa yang kita miliki, tetapi siapa yang tetap bersama kita ketika kita kehilangan.
Karena itu jangan sampai musibah ini meruntuhkan harapan kita. Jangan sampai ujian ini mematikan semangat kita. Jangan sampai kesulitan ini membuat kita merasa sendirian.
Karena sesungguhnya Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya.
Allah berjanji:
"Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan."
(QS. Al-Insyirah: 6)
Ayat ini tidak mengatakan kemudahan datang setelah kesulitan. Tetapi kemudahan itu hadir bersama kesulitan. Artinya di tengah keadaan sulit ini pun Allah sudah menyiapkan jalan kemudahan, walaupun mungkin belum sepenuhnya kita lihat.
Akhirnya, mari kita jadikan musibah ini sebagai titik bangkit, bukan titik jatuh. Mari kita jadikan ujian ini sebagai penguat iman, bukan pelemah harapan. Mari kita jadikan pengalaman ini sebagai pelajaran kehidupan yang membuat kita lebih kuat, lebih sabar, dan lebih dekat kepada Allah.
Yakinlah:
Musibah tidak datang untuk menghancurkan kita, tetapi untuk menguatkan kita.
Kehilangan bukan akhir kehidupan, tetapi awal dari cara Allah memberi dengan cara yang berbeda.
Dan selama iman masih ada di dada, selama doa masih terangkat ke langit, selama kita masih saling menguatkan,
maka harapan itu tetap ada.
Semoga Allah mengganti setiap kesedihan dengan ketabahan, setiap kehilangan dengan keberkahan, dan setiap ujian dengan kemuliaan hidup di masa depan.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
