![]() |
| Ali Bakri Tuanku Khalifah silaturrahmi dengan sejumlah ulama dan tokoh masyarakat di Tiram Ulakan. |
Padang Pariaman, -- Ali Bakri Tuanku Khalifah tak banyak waktunya di Sungai Gimba Ulakan. Dia terkenal sebagai tuanku yang merantau. Tapi, pengaruhnya di Sungai Gimba Ulakan, luar biasa sekali. Tak salah beliau dijadikan khalifah oleh masyarakat.
Dalam catatan dan dokumen penting, dari Syekh Burhanuddin itu, Ali Bakri Tuanku Khalifah ini baru generasi ketujuh yang menerima ijazah atau khalifah langsung dari Karimun Tuanku Sutan. Pertama Syekh Burhanuddin. Dari Syekh Burhanuddin diturunkan ke Syekh Idris Khatib Majolelo.
Dari Syekh Idris Khatib Majolelo diturunkan ke Syekh Tibarau, dari Syekh Tibarau diturunkan ke Syekh Tuanku Patah, dari Syekh Tuanku Patah diturunkan ke Syekh Hasan Tuanku Sutan, dari Syekh Hasan Tuanku Sutan diturunkan ke Syekh Karimun Tuanku Sutan, dan dari Syekh Karimun Tuanku Sutan diturunkan ke Ali Bakri Tuanku Khalifah.
Ali Bakri Tuanku Khalifah adalah ulama moderat, punya pengalaman pendidikan yang lengkap tentang kajian tasawuf dan umum, menjadikan khalifah yang disandangnya bertambah luas dan berkembang dengan perdebatan yang jelas dan menarik untuk dikaji.
Ali Bakri Tuanku Khalifah, tua belum tapi muda sudah terlampau. Dijadikan khalifah tidak serta-merta. Punya sanad dan menyimpan sejarah panjang pergerakan Syekh Burhanuddin dulunya mengencangkan Syattariyah itu sendiri.
Kharisma Ali Bakri Tuanku Khalifah, sepertinya berbanding lurus dengan Syekh Tibarau. Banyak yang menyebut seperti demikian, karena memang masyarakat menguasai sejarah dan dinamika pergerakan Tarekat Syattariyah yang dibawa oleh Syekh Burhanuddin.
Syekh Tibarau di Ulakan, Padang Pariaman, sering kali muncul dalam konteks tradisi keagamaan dan sejarah penyebaran Islam di wilayah tersebut, terutama yang berkaitan dengan ajaran Tarekat Syattariyah yang dipelopori oleh Syekh Burhanuddin Ulakan.
Tokoh Keagamaan Lokal
Syekh Tibarau dikenal sebagai salah satu tokoh atau ulama yang dihormati di wilayah Ulakan. Namanya sering disebut dalam prosesi adat dan keagamaan, seperti Mauludul Syarafal Anam di Nagari Sungai Gimba Ulakan, di mana beliau atau garis keturunannya memiliki peran dalam urutan pembacaan doa dan zikir.
Kaitan dengan Syekh Burhanuddin
Ulakan sendiri merupakan pusat perkembangan Islam di Minangkabau yang dipelopori oleh Syekh Burhanuddin Ulakan pada abad ke-17. Syekh Tibarau kemungkinan besar adalah salah satu penerus, murid, atau khalifah dalam silsilah keilmuan Tarekat Syattariyah di daerah itu.
Tradisi dan Ziarah
Sebagaimana ulama besar lainnya di Ulakan, tokoh-tokoh seperti Syekh Tibarau menjadi bagian dari tradisi Basapa (bersafar), yaitu ritual ziarah ke makam para guru dan ulama yang dilakukan oleh masyarakat setelah bulan Muharram.
Syekh Tibarau ini juga mashur di Calau, Kabupaten Sijunjung. Syekh Abdul Wahab yang mendirikan Surau Tinggi di Calau, merupakan ulama besar yang berguru langsung dengan Syekh Tibarau ini.
Dengan hadir dan dihadirkannya Ali Bakri Tuanku Khalifah sebagai Khalifah ketujuh Syekh Burhanuddin, menjadikan kembali kekuatan Sungai Gimba Ulakan sebagai awal mula Syekh Burhanuddin itu berkembang pesat di Minangkabau. Meneguhkan bahwa Syekh Burhanuddin dan Syattariyah itu awalnya dari Sungai Gimba Ulakan.
Belakangan, secara formal Ali Bakri Tuanku Khalifah dikukuhkan di Masjid Raya Syekh Madinah Sungai Gimba Ulakan itu sebagai Ketua Umum Jemaah Syattariyah Kabupaten Padang Pariaman.
Dikukuhkan oleh Buya Ismet Ismael, Ketua Umum Jemaah Syattariyah Pusat.
