![]() |
سُلَّمٌ رُوحِيٌّ فِي خَوَاتِيمِ آيَاتِ الصِّيَامِ
Renungan atas Surah Al-Baqarah (183–187)
Bismillāhirrahmānirrahīm
Jika direnungi secara mendalam, penutup setiap ayat puasa dalam Al-Qur'an—khususnya pada Surah Al-Baqarah ayat 183–187—membentuk sebuah manhaj tarbiyah yang runtut dan mendalam. Ia bukan sekadar kalimat penutup, melainkan tahapan pembentukan jiwa seorang mukmin dari awal hingga akhir.
1. Tahap Pertama: Pengendalian Diri.
لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ —
“Agar kalian bertakwa” (QS. Al-Baqarah: 183)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.”
Puasa sejak awal diarahkan pada pembentukan takwa. Ia melatih muraqabah: meninggalkan yang halal dalam kesunyian demi Allah. Dari sini lahir kesadaran bahwa meninggalkan yang haram menjadi lebih layak dan lebih mungkin. Inilah pijakan pertama perjalanan ruhani.
2. Tahap Kedua: Kesadaran dan Ilmu.
إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ —
“Jika kalian mengetahui” (QS. Al-Baqarah: 184)
وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
“Dan berpuasa itu lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui.”
Puasa menuntut pemahaman. Kebaikannya tidak selalu kasat mata, tetapi dapat ditangkap oleh orang yang mau berpikir. Lapar dipahami sebagai sarana, bukan tujuan. Kesulitan sementara dipandang sebagai jalan menuju kekuatan ruhani.
3. Tahap Ketiga: Lahirnya Syukur.
لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ —
“Agar kalian bersyukur” (QS. Al-Baqarah: 185)
وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Dan agar kalian menyempurnakan bilangannya, dan agar kalian mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya, dan agar kalian bersyukur.”
Setelah menjalani puasa, jiwa menjadi lembut. Nikmat yang dahulu biasa kini terasa berharga. Syukur tidak berhenti pada lisan, tetapi terwujud dalam perubahan cara memandang nikmat dan memanfaatkan waktu.
4. Tahap Keempat: Kelurusan dan Kedewasaan Iman.
لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ —
“Agar mereka memperoleh kelurusan” (QS. Al-Baqarah: 186)
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ … فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat… Maka hendaklah mereka memenuhi perintah-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka memperoleh kelurusan.”
Di tengah pembahasan puasa, Allah menempatkan ayat doa. Puasa menghidupkan doa, dan doa meluruskan arah hidup.
Rasyad adalah kematangan spiritual: tidak bingung arah dan tidak dikuasai nafsu.
5. Tahap Kelima: Takwa yang Matang.
لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ — “
Agar kalian bertakwa” (QS. Al-Baqarah: 187)
تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا … كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ
“Itulah batas-batas Allah, maka janganlah kalian mendekatinya…
Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka bertakwa.”
Rangkaian ini ditutup dengan takwa kembali. Jika di awal ia adalah tujuan, maka di akhir ia menjadi buah. Takwa yang lahir setelah melewati lapar, doa, syukur, dan penjagaan diri adalah takwa yang hidup dan teruji.
Rangkaian Tarbiyah Puasa:
1. Takwa sebagai tujuan awal.
2. Ilmu dan kesadaran.
3. Syukur.
4. Rasyad (kelurusan hidup).
5. Takwa yang matang sebagai hasil akhir.
Puasa dimulai dengan perintah dan diakhiri dengan pembentukan karakter. Ia tidak sekadar menahan diri, tetapi membentuk manusia.
Wallāhu a'lam
Pariaman, Rabu, 7 Ramadhan 1447 H / 25 Februari 2027 M
Zulkifli Zakaria
