![]() |
مجلس الحديث النبويّ الشريف
MAJELIS KAJIAN HADITS BERSAMA ZULKIFLI ZAKARIA
DI RUMAH SAKIT TAMAR MEDICAL CENTRE (TMC)
Jl. Basuki Rahmat No.1 Pariaman
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
Bahasan Hadits Pengetahuan Ghaib dan Batas Pengetahuan Manusia
Rabu, 16 Sya’ban 1447 H / 4 Februari 2026 M
Teks Hadits:
4001 - حَدَّثَنَا عَلِيٌّ، حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ المُفَضَّلِ، حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ ذَكْوَانَ، عَنِ الرُّبَيِّعِ بِنْتِ مُعَوِّذٍ، قَالَتْ: دَخَلَ عَلَيَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَدَاةَ بُنِيَ عَلَيَّ، فَجَلَسَ عَلَى فِرَاشِي كَمَجْلِسِكَ مِنِّي، وَجُوَيْرِيَاتٌ يَضْرِبْنَ بِالدُّفِّ، يَنْدُبْنَ مَنْ قُتِلَ مِنْ آبَائِهِنَّ يَوْمَ بَدْرٍ، حَتَّى قَالَتْ جَارِيَةٌ: وَفِينَا نَبِيٌّ يَعْلَمُ مَا فِي غَدٍ. فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لاَ تَقُولِي هَكَذَا وَقُولِي مَا كُنْتِ تَقُولِينَ»
Telah menceritakan kepada kami ‘Ali, telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Al-Mufadhdhal, telah menceritakan kepada kami Khalid bin Dzakwan, dari Ar-Rubayyi‘ binti Mu‘awwidz radhiyallāhu ‘anha, ia berkata:
“Nabi shallallāhu ‘alaihi wasallam masuk menemuiku pada pagi hari setelah aku digauli (yakni setelah pernikahanku). Beliau duduk di atas tempat tidurku seperti dudukmu dariku (yakni dekat denganku). Saat itu ada beberapa gadis kecil yang menabuh rebana sambil meratapi orang-orang dari ayah mereka yang terbunuh pada Perang Badar. Hingga salah seorang gadis berkata,
َفِينَا نَبِيٌّ يَعْلَمُ مَا فِي غَدٍ
‘Di tengah kami ada seorang Nabi yang mengetahui apa yang akan terjadi esok hari.’
Maka Nabi shallallāhu ‘alaihi wasallam bersabda:
«لاَ تَقُولِي هَكَذَا وَقُولِي مَا كُنْتِ تَقُولِينَ»
‘Janganlah engkau berkata demikian. Katakanlah apa yang tadi engkau ucapkan (sebelumnya).’”
(HR. Al-Bukhārī, no. 4001)
Pelajaran dari Hadits ini:
Hadits ini merupakan salah satu landasan penting dalam bab tauhid, khususnya dalam menetapkan bahwa ilmu ghaib adalah kekhususan Allah subhānahu wata’āla. Hadits ini menunjukkan kehati-hatian Nabi shallallāhu ‘alaihi wasallam dalam menjaga kemurnian tauhid. Beliau segera meluruskan ucapan yang mengandung unsur ghuluw, meskipun diucapkan oleh seorang anak kecil dalam suasana kegembiraan.
Nabi sendiri diperintah mengatakan “Aku tidak mengetahui ghaib.”
Menariknya dalam hadits ini, Nabi shallallāhu ‘alaihi wasallam tidak berkata: “Aku memang tidak mengetahui ghaib.” Namun beliau cukup berkata: “Janganlah engkau berkata demikian.” Para ulama menjelaskan — ini adalah metode sadd adz-dzari’ah (menutup pintu kesyirikan sejak awal).
Allah subhānahu wata’āla berfirman:
{قُلْ لَا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلَا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلَا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَى إِلَيَّ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الْأَعْمَى وَالْبَصِيرُ أَفَلَا تَتَفَكَّرُونَ (50)
“Katakanlah (wahai Muhammad): Aku tidak mengatakan kepada kalian bahwa di sisiku terdapat perbendaharaan Allah, dan aku tidak mengetahui perkara ghaib, serta aku tidak mengatakan kepada kalian bahwa aku adalah malaikat. Aku hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah: Apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat? Tidakkah kalian berpikir?”
(QS. Al-An’am: 50)
Ibnu Katsīr rahimahullāh menjelaskan:
“(Dan aku tidak mengetahui perkara ghaib) yakni aku tidak mengatakan bahwa aku mengetahui perkara ghaib. Sesungguhnya hal itu termasuk ilmu Allah ‘Azza wa Jalla. Aku tidak diberi pengetahuan darinya kecuali apa yang Allah perlihatkan kepadaku. (Serta aku tidak mengatakan kepada kalian bahwa aku adalah malaikat) yakni aku tidak mengaku bahwa diriku malaikat. Aku hanyalah seorang manusia dari kalangan manusia, yang diberi wahyu oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Dengan wahyu itu Dia memuliakanku dan melimpahkan nikmat kepadaku. Oleh karena itu Dia berfirman: “Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku,” maksudnya: aku tidak menyimpang darinya walau sejengkal pun, bahkan tidak kurang dari itu."
(Tafsir Ibnu Katsir, terbitan Al-Maktabah Al-Islamiyah Kairo, 3/281)
Allāh subhānahu wata'ālā berfirman:
{عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا (26) إِلَّا مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا (27)}
“(Dia adalah) Yang Maha Mengetahui perkara ghaib, maka Dia tidak menampakkan kepada siapa pun tentang perkara ghaib-Nya itu, kecuali kepada rasul yang Dia ridhai. Maka sesungguhnya Dia menempatkan penjaga-penjaga (malaikat) di depan dan di belakangnya.” (QS. Al-Jinn: 26-27)
Ahlus Sunnah menetapkan bahwa Nabi shallallāhu ‘alaihi wasallam tidak mengetahui perkara ghaib secara mutlak tanpa wahyu, melainkan hanya mengetahui sebagian darinya melalui pemberitahuan Allah. Ayat ini sekaligus membantah keyakinan sebagian manusia yang menisbatkan ilmu ghaib kepada para wali, dukun, atau peramal.
Ini membedakan antara:
• Sifat rububiyyah → mengetahui ghaib secara mutlak.
• Sifat kerasulan → diberi tahu sebagian ghaib.
Hadits ini merupakan dalil terang bahwa:
• Nabi shallallāhu ‘alaihi wasallam tidak mengetahui perkara ghaib secara mutlak tanpa wahyu.
• Ilmu ghaib adalah hak Allah semata.
• Rasul hanya mengetahui apa yang Allah wahyukan.
• Ghuluw terhadap Nabi adalah penyimpangan aqidah.
Ini adalah aqidah Ahlus Sunnah wal Jama‘ah: menetapkan tanpa berlebihan dan menafikan tanpa meremehkan.
Mencintai Nabi bukan dengan mengangkat beliau ke derajat ketuhanan, tetapi dengan mengikuti sunnahnya dan menjaga kemurnian tauhid.
Tauhid tidak hanya dijaga dalam ibadah, tetapi juga dalam ucapan dan keyakinan. Banyak penyimpangan dalam sejarah Islam bermula dari kalimat pujian yang berlebihan, hingga akhirnya mengangkat manusia ke derajat yang tidak Allah berikan kepadanya.
Karena itu, mencintai Nabi shallallāhu ‘alaihi wasallam bukan dengan menisbatkan sifat-sifat ketuhanan kepada beliau, tetapi dengan ittiba’, menghidupkan sunnah, dan menjaga kemurnian tauhid.
Wallāhu a‘lam.
