![]() |
Oleh: Duski Samad
Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Imam Bonjol Padang
Beita viral di media mainstrem dan medsos tentang anak Sekolah Dasar di NTT yang bunuh diri alasan miskin. Pertanyaannya mengapa kegembiraan dan kebahagian anak?
Bagi anak, kegembiraan bukanlah kemewahan emosional, melainkan kebutuhan dasar perkembangan. Ia adalah bahasa pertama kebahagiaan—cara anak mengenal dunia sebagai tempat yang aman, ramah, dan layak dihuni. Ketika seorang anak tertawa, bermain, dan merasa diterima, sesungguhnya ia sedang membangun fondasi kejiwaan yang akan menopangnya sepanjang hidup.
Kegembiraan anak berbeda dari kegembiraan orang dewasa. Ia tidak bergantung pada harta, prestasi, atau status, melainkan pada pengalaman sederhana: bermain tanpa takut, didengar tanpa dihakimi, dan dicintai tanpa syarat. Dari sinilah tumbuh rasa aman (sense of safety)—prasyarat utama kesehatan mental anak.
Secara psikologis, kegembiraan berfungsi sebagai penanda bahwa kebutuhan emosional anak terpenuhi. Anak yang gembira merasa dirinya berharga. Ia belajar bahwa dunia merespons kehadirannya dengan positif. Ini menumbuhkan kepercayaan diri, rasa ingin tahu, dan keberanian mencoba. Sebaliknya, ketika kegembiraan dirampas—oleh kemiskinan ekstrem, kekerasan, pengabaian, atau rasa malu—anak mulai memaknai dunia sebagai tempat yang dingin dan mengancam.
Dalam Islam, kegembiraan anak memiliki kedudukan mulia. Nabi tidak mematikan tawa anak, tidak menegur permainan mereka sebagai kesia-siaan. Bahkan, kegembiraan yang lahir dari bermain dan kasih sayang dipandang sebagai bagian dari rahmat dan fitrah. Anak diciptakan dengan naluri bermain karena melalui itulah ia belajar, menata emosi, dan mengenal batas. Maka memelihara kegembiraan anak sejatinya adalah menjaga fitrah kemanusiaan.
Kegembiraan juga berfungsi sebagai pelindung psikologis. Anak yang memiliki ruang untuk gembira—di rumah, di sekolah, dan di lingkungan—lebih tahan menghadapi tekanan hidup. Ia punya memori positif yang menjadi “penyangga” saat kelak berhadapan dengan kesulitan. Tanpa kegembiraan, anak kehilangan energi batin untuk berharap.
Yang paling penting, kegembiraan memberi anak alasan untuk hidup. Ia menanamkan pesan sederhana namun menentukan: hidup ini layak dijalani. Ketika pesan ini gagal sampai—ketika anak justru merasa dirinya beban karena miskin atau berbeda—yang runtuh bukan sekadar suasana hati, tetapi makna hidup itu sendiri.
Karena itu, kegembiraan anak bukan urusan sepele, apalagi sekadar hiburan. Ia adalah tanggung jawab moral keluarga, sekolah, masyarakat, dan negara. Menyediakan ruang bermain yang aman, relasi yang penuh empati, pendidikan yang memuliakan, dan perlindungan sosial yang adil—semuanya adalah cara konkret menjaga kegembiraan anak.
Singkatnya, kegembiraan adalah pintu pertama kebahagiaan anak. Jika pintu ini tertutup, kebahagiaan sulit masuk. Dan jika sebuah masyarakat gagal menjaga kegembiraan anak-anaknya, sesungguhnya ia sedang menyiapkan masa depan yang rapuh—secara psikologis, sosial, dan moral.
GEMBIRA DAN BAHAGIA
Kegembiraan dan kebahagiaan sering terdengar serupa di telinga kita. Keduanya dipuji, dicari, dan dijadikan tujuan hidup. Namun tragedi seorang anak Sekolah Dasar di Nusa Tenggara Timur yang mengakhiri hidupnya karena alasan kemiskinan memaksa kita berhenti sejenak dan bertanya: apakah yang selama ini kita kejar benar-benar kebahagiaan, atau hanya kegembiraan semu yang gagal melindungi yang paling rapuh?
Dalam kehidupan modern, kegembiraan kerap hadir lewat hal-hal yang cepat dan kasat mata: hiburan, perayaan, pencapaian, dan pengakuan sosial. Ia datang sebentar, lalu pergi. Islam menyebutnya farah—rasa senang yang boleh saja hadir, tetapi berbahaya jika menjadi tujuan akhir. Al-Qur’an mengingatkan, kegembiraan yang tercerabut dari nilai dapat menjelma kesombongan dan kelalaian.
Sebaliknya, kebahagiaan dalam Islam—sa‘ādah—lahir dari ketenangan batin, rasa aman, dan hidup yang bermakna. Ia tidak selalu riuh, tidak selalu tampak, tetapi kokoh. Orang bisa hidup sederhana namun bahagia, dan sebaliknya hidup berlimpah tetapi gelisah. Kebahagiaan, dalam pandangan Islam, bertaut erat dengan iman, syukur, sabar, dan keadilan sosial. Karena itu, kebahagiaan bukan sekadar urusan pribadi, melainkan amanah kolektif.
Di sinilah tragedi anak NTT itu menjadi sangat menyakitkan. Seorang anak, pada usia ketika dunia seharusnya terasa aman dan penuh kemungkinan, justru sampai pada kesimpulan bahwa hidupnya tidak layak dijalani. Ini bukan sekadar soal kemiskinan materi. Ini adalah kemiskinan makna dan rasa aman.
Psikologi modern memberi bahasa ilmiah untuk memahami luka ini. Para psikolog membedakan antara kesenangan jangka pendek dan kesejahteraan psikologis yang mendalam. Kesenangan—pleasure—mirip dengan kegembiraan: bergantung pada kondisi luar dan cepat menguap. Sementara kesejahteraan psikologis bertumpu pada hal-hal yang lebih mendasar: merasa berharga, diterima, punya tujuan, dan percaya bahwa hidup masih bisa diusahakan.
Carol Ryff menyebut kebahagiaan sejati lahir dari penerimaan diri, relasi yang hangat, tujuan hidup, dan kemampuan mengelola lingkungan. Martin Seligman menegaskan hal serupa: manusia tidak cukup hanya “merasa senang”, tetapi perlu merasa hidupnya bermakna. Tanpa makna, kesenangan berubah rapuh.
Pada anak-anak, persoalan ini jauh lebih genting. Dalam teori perkembangan Erik Erikson, anak usia Sekolah Dasar berada pada fase membangun rasa mampu dan berharga. Ia belajar menjawab pertanyaan yang sederhana tapi menentukan: “Apakah saya berguna?” Jika lingkungan memberi dukungan, anak tumbuh percaya diri. Jika tidak, ia terperosok pada rasa rendah diri.
Kemiskinan yang dialami anak NTT itu bukan hanya kekurangan ekonomi. Ia tampaknya telah dimaknai sebagai kehinaan eksistensial. Dalam kondisi seperti ini, psikologi mengenal gejala hopelessness—hilangnya harapan—dan learned helplessness, istilah yang diperkenalkan oleh **Martin Seligman dan Lyn Abramson, ketika seseorang meyakini bahwa apa pun yang ia lakukan tidak akan mengubah nasibnya. Bukan karena ia malas atau lemah, tetapi karena berulang kali berhadapan dengan tembok yang tak memberi celah.
Anak itu, besar kemungkinan, tidak sedang ingin mati. Ia ingin bebas dari rasa sakit yang tak ia pahami dan tak mampu ia jelaskan. Ketika tak ada orang dewasa yang mendengar, memeluk, dan meyakinkan bahwa hidupnya berharga, keputusasaan mengambil alih.
Di titik inilah Islam dan psikologi bertemu dengan sangat jujur. Keduanya sepakat: kebahagiaan sejati tidak lahir dari kemewahan, melainkan dari rasa diterima dan dilindungi. Syukur dalam Islam sejalan dengan kemampuan psikologis untuk memaknai hidup. Sabar beririsan dengan ketahanan mental. Dzikir dan doa bekerja seperti mindfulness, menenangkan jiwa. Tetapi semua itu runtuh bila keadilan sosial absen.
Tragedi ini juga menelanjangi ironi besar masyarakat kita. Di ruang publik, kita merayakan kegembiraan: festival, slogan kemajuan, angka-angka pertumbuhan. Namun di sudut-sudut sunyi, ada anak-anak yang merasa hidupnya tak penting. Kegembiraan simbolik berjalan, kebahagiaan substantif tertinggal.
Dalam Islam, menjaga jiwa (ḥifẓ al-nafs) adalah tujuan utama syariat. Dalam psikologi, melindungi kesehatan mental anak adalah fondasi masa depan bangsa. Maka setiap kematian seperti ini bukan sekadar duka keluarga, tetapi utang moral peradaban.
Tragedi anak SD di NTT mengajarkan satu hal yang pahit namun penting: kebahagiaan anak bukan urusan privat, melainkan cermin paling jujur dari kemanusiaan kita bersama. Jika seorang anak sampai merasa hidupnya tidak layak dijalani karena miskin, maka yang gagal bukan anak itu—yang gagal adalah kita.
Islam memanggil nurani kolektif. Psikologi memperingatkan dengan bahasa ilmu. Keduanya menuntut satu sikap yang sama: berhenti menormalkan penderitaan anak miskin, dan mulai membangun kebahagiaan yang benar-benar melindungi yang paling lemah.santikahoteldepok. 05022026.
