![]() |
مجلس الحديث النبويّ الشريف
MAJELIS KAJIAN HADITS BERSAMA ZULKIFLI ZAKARIA
DI RUMAH SAKIT TAMAR MEDICAL CENTRE (TMC)
Jl. Basuki Rahmat No.1 Pariaman
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
Bahasan Hadits Aqidah tentang Jin
Rabu, 18 Rajab 1447 H / 7 Januari 2026 M
Teks Hadits:
124 - (2229) حَدَّثَنَا حَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ الْحُلْوَانِيُّ، وَعَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ، قَالَ حَسَنٌ: حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ، وَقَالَ عَبْدٌ: حَدَّثَنِي يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ سَعْدٍ، حَدَّثَنَا أَبِي، عَنْ صَالِحٍ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، حَدَّثَنِي عَلِيُّ بْنُ حُسَيْنٍ، أَنَّ عَبْدَ اللهِ بْنَ عَبَّاسٍ، قَالَ: أَخْبَرَنِي رَجُلٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ الْأَنْصَارِ، أَنَّهُمْ بَيْنَمَا هُمْ جُلُوسٌ لَيْلَةً مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رُمِيَ بِنَجْمٍ فَاسْتَنَارَ، فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَاذَا كُنْتُمْ تَقُولُونَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ، إِذَا رُمِيَ بِمِثْلِ هَذَا؟» قَالُوا: اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، كُنَّا نَقُولُ وُلِدَ اللَّيْلَةَ رَجُلٌ عَظِيمٌ، وَمَاتَ رَجُلٌ عَظِيمٌ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «فَإِنَّهَا لَا يُرْمَى بِهَا لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ، وَلَكِنْ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى اسْمُهُ، إِذَا قَضَى أَمْرًا سَبَّحَ حَمَلَةُ الْعَرْشِ، ثُمَّ سَبَّحَ أَهْلُ السَّمَاءِ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، حَتَّى يَبْلُغَ التَّسْبِيحُ أَهْلَ هَذِهِ السَّمَاءِ الدُّنْيَا» ثُمَّ قَالَ: " الَّذِينَ يَلُونَ حَمَلَةَ الْعَرْشِ لِحَمَلَةِ الْعَرْشِ: مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ؟ فَيُخْبِرُونَهُمْ مَاذَا قَالَ: قَالَ فَيَسْتَخْبِرُ بَعْضُ أَهْلِ السَّمَاوَاتِ بَعْضًا، حَتَّى يَبْلُغَ الْخَبَرُ هَذِهِ السَّمَاءَ الدُّنْيَا، فَتَخْطَفُ الْجِنُّ السَّمْعَ فَيَقْذِفُونَ إِلَى أَوْلِيَائِهِمْ، وَيُرْمَوْنَ بِهِ، فَمَا جَاءُوا بِهِ عَلَى وَجْهِهِ فَهُوَ حَقٌّ، وَلَكِنَّهُمْ يَقْرِفُونَ فِيهِ وَيَزِيدُونَ "
Telah menceritakan kepada kami Hasan bin ‘Ali al-Hulwānī dan ‘Abd bin Ḥumaid. Hasan berkata: telah menceritakan kepada kami Ya‘qūb. Dan ‘Abd berkata: telah menceritakan kepadaku Ya‘qūb bin Ibrāhīm bin Sa‘d. Ia berkata: telah menceritakan kepada kami ayahku, dari Shāliḥ, dari Ibnu Syihāb, ia berkata: telah menceritakan kepadaku ‘Ali bin Ḥusain, bahwa ‘Abdullāh bin ‘Abbās radhiyallāhu ‘anhuma berkata:
Telah mengabarkan kepadaku seorang lelaki dari kalangan sahabat Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam dari kaum Anshār, bahwa mereka suatu malam sedang duduk bersama Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam, lalu tampak nyala api (syihāb) di langit seperti bintang yang meluncur dan bercahaya. Maka Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«مَاذَا كُنْتُمْ تَقُولُونَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ، إِذَا رُمِيَ بِمِثْلِ هَذَا؟»
“Apa yang dahulu kalian katakan pada masa jahiliah apabila terjadi lemparan seperti ini?”
Mereka menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Dahulu kami mengatakan: pada malam ini telah lahir seorang lelaki besar, dan telah meninggal seorang lelaki besar.”
Maka Rasulullah shalallāhu ‘alaihi wasallam bersabda:
«فَإِنَّهَا لَا يُرْمَى بِهَا لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ، وَلَكِنْ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى اسْمُهُ، إِذَا قَضَى أَمْرًا سَبَّحَ حَمَلَةُ الْعَرْشِ، ثُمَّ سَبَّحَ أَهْلُ السَّمَاءِ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، حَتَّى يَبْلُغَ التَّسْبِيحُ أَهْلَ هَذِهِ السَّمَاءِ الدُّنْيَا»
“Sesungguhnya lemparan itu tidaklah terjadi karena kematian seseorang dan tidak pula karena kelahirannya. Akan tetapi, Rabb kita—Mahaberkah dan Mahatinggi nama-Nya—apabila Dia menetapkan suatu perkara, para malaikat pemikul ‘Arsy bertasbih. Kemudian penduduk langit yang berada setelah mereka ikut bertasbih, hingga tasbih itu sampai kepada penduduk langit dunia ini.”
Kemudian beliau bersabda:
" الَّذِينَ يَلُونَ حَمَلَةَ الْعَرْشِ لِحَمَلَةِ الْعَرْشِ: مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ؟ فَيُخْبِرُونَهُمْ مَاذَا قَالَ: قَالَ فَيَسْتَخْبِرُ بَعْضُ أَهْلِ السَّمَاوَاتِ بَعْضًا، حَتَّى يَبْلُغَ الْخَبَرُ هَذِهِ السَّمَاءَ الدُّنْيَا، فَتَخْطَفُ الْجِنُّ السَّمْعَ فَيَقْذِفُونَ إِلَى أَوْلِيَائِهِمْ، وَيُرْمَوْنَ بِهِ، فَمَا جَاءُوا بِهِ عَلَى وَجْهِهِ فَهُوَ حَقٌّ، وَلَكِنَّهُمْ يَقْرِفُونَ فِيهِ وَيَزِيدُونَ "
“Para malaikat yang berada setelah para pemikul ‘Arsy bertanya kepada para pemikul ‘Arsy: ‘Apa yang difirmankan oleh Rabb kalian?’ Maka mereka memberitahukan apa yang telah difirmankan. Lalu sebagian penghuni langit bertanya kepada sebagian yang lain, hingga berita itu sampai ke langit dunia. Maka jin-jin mencuri dengar lalu melemparkannya kepada para wali mereka, yakni sekutu dan pengikut dekat mereka dari kalangan dukun dan peramal, sementara mereka dilempari dengan syihāb. Apa yang mereka sampaikan sesuai dengan aslinya adalah benar, tetapi mereka mencampurinya dengan kedustaan dan menambahkan padanya.”
(HR. Muslim, no. 2229)
Pelajaran dari Hadits ini:
Hadits ini menjelaskan hakikat fenomena syihāb di langit serta membantah keyakinan jahiliah yang mengaitkannya dengan kelahiran atau kematian orang-orang besar. Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallam menegaskan bahwa peristiwa tersebut tidak berkaitan dengan takdir manusia, melainkan bagian dari penjagaan langit dari pencurian berita oleh jin.
Hal ini ditegaskan oleh Allah subhānahu wata’ālā ketika memberitakan pengakuan kalangan Jin:
{وَأَنَّا لَمَسْنَا السَّمَاءَ فَوَجَدْنَاهَا مُلِئَتْ حَرَسًا شَدِيدًا وَشُهُبًا (8) وَأَنَّا كُنَّا نَقْعُدُ مِنْهَا مَقَاعِدَ لِلسَّمْعِ فَمَنْ يَسْتَمِعِ الْآنَ يَجِدْ لَهُ شِهَابًا رَصَدًا (9)} [الجن: 8، 9]
“Dan sesungguhnya kami telah mencoba (mendekati) langit, lalu kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api. Dan sesungguhnya kami dahulu biasa duduk di sana pada tempat-tempat untuk mendengar; maka barang siapa sekarang mencoba mendengar, niscaya ia akan mendapati panah api yang mengintainya.”
(QS.Al-Jinn: 8-9)
Sebelum diutusnya Nabi shallallāhu ‘alaihi wasallam, jin-jin biasa mencuri dengar berita dari langit. Setelah diutusnya beliau, penjagaan langit diperketat dengan syihāb, sehingga mereka tidak lagi leluasa melakukan pencurian dengar sebagaimana sebelumnya.
Apabila Allah Ta‘ala menetapkan suatu perkara, para malaikat pemikul ‘Arsy bertasbih. Tasbih itu kemudian berlanjut dari langit ke langit hingga sampai ke langit dunia. Para malaikat saling bertanya tentang apa yang difirmankan oleh Rabb mereka, hingga berita itu sampai ke para malaikat di langit dunia.
Jin-jin berusaha mencuri dengar berita tersebut, lalu menyampaikannya kepada para sekutu mereka dari kalangan dukun dan peramal. Namun mereka tidak dibiarkan begitu saja, melainkan dikejar dan dilempari dengan syihāb.
Jika jin berhasil menyampaikan berita itu sebagaimana adanya, maka berita tersebut benar. Akan tetapi mereka selalu mencampurkannya dengan kebohongan dan tambahan-tambahan batil.
Hadits ini menunjukkan bahwa klaim para dukun dan peramal tentang ilmu gaib adalah dusta dan tidak dapat dipercaya. Ilmu gaib adalah hak mutlak Allah Ta‘ala. Para malaikat pun tidak mengetahui sesuatu kecuali apa yang Allah Ta‘ala beritahukan kepada mereka. Jin tidak memiliki akses bebas terhadap berita langit.
Allah subhānahu wata’ālā menafikan pengetahuan ghaib dari selainnya secara total dalam firman-Nya:
{قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ (65)}
“Katakanlah: Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara gaib selain Allah; dan mereka tidak mengetahui kapan mereka akan dibangkitkan.”
(QS. An-Naml: 65)
Dalam hadits ini terdapat:
• Penegasan bahwa ilmu gaib hanya milik Allah Ta‘ala.
• Bantahan terhadap keyakinan jahiliah dan praktik perdukunan.
• Penjelasan tentang sebab munculnya klaim ilmu gaib para dukun.
• Dalil bahwa meminta pertolongan dan membenarkan informasi jin merupakan kesesatan akidah.
• Salah satu tanda kebenaran kenabian Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallam.
Dengan demikian, hadits ini bersama ayat-ayat Al-Qur’an yang menguatkannya memberikan gambaran yang sangat jelas tentang hakikat alam gaib menurut ajaran Islam. Bahwa langit dijaga dengan ketetapan Allah Ta‘ala, jin tidak memiliki akses bebas terhadap berita gaib, dan setiap klaim ilmu gaib yang bersumber dari dukun, peramal, atau jin adalah kebatilan yang tercampur kebohongan. Seorang muslim dituntut untuk membersihkan akidahnya dari seluruh bentuk ketergantungan kepada selain Allah, baik dalam bentuk keyakinan, permintaan pertolongan, maupun pembenaran terhadap informasi yang tidak bersumber dari wahyu.
Aqidah yang lurus akan menumbuhkan ketenangan hati, tawakal yang benar, dan keyakinan bahwa segala urusan berada sepenuhnya di tangan Allah Ta‘ala semata.
Semoga Allah menjaga kita di atas tauhid yang murni hingga akhir hayat.
Wallāhu a‘lam.
