![]() |
لَيْسَ إِنْقَاذًا عَادِيًّا: شَهَادَةُ الْعِلْمِ بَعْدَ شَهَادَةِ الْمَوْقِفِ
Bismillāhirraḥmānirraḥīm
Kisah Rayyān Al-‘Asīrī yang berlari menyambut jatuhnya seorang jemaah di Masjid al-Haram telah mengetuk banyak hati. Ia bukan hanya menyentuh sisi kemanusiaan, tetapi juga menggugah kesadaran iman. Namun, sebuah peristiwa akan menjadi lebih utuh ketika ia tidak hanya dibaca dengan emosi, tetapi juga ditimbang dengan ilmu.
Beberapa hari setelah kejadian itu viral, tepatnya pada 31 Desember 2025, beredar sebuah rekaman yang memuat tanggapan salah seorang ulama besar Ahlus Sunnah, Abdurrazzāq bin Abdil Muhsin Al-Abbād Al-Badr hafizhahullāh. Beliau tidak memulai dengan pujian, tidak pula dengan sensasi. Sebaliknya, beliau mengajak umat untuk melihat peristiwa ini dari sudut pandang akidah, dosa besar, dan rahmat Allah yang terbuka di Tanah Haram.
Apa yang disampaikan Syaikh al-Badr menjadi pelengkap penting atas kisah Rayyān. Jika sebelumnya kita menyaksikan kesaksian perbuatan, maka di sini kita mendengar kesaksian ilmu.
Berikut komentar Syaikh al-Badr hafizhahullah, disalin dengan cermat, beserta terjemahannya.
إِنْقَاذُ رَجُلٍ مِنَ الْمَوْتِ فِي الْحَرَمِ الْمَكِّيِّ: تَعْلِيقُ الشَّيْخِ عَبْدِ الرَّزَّاقِ الْبَدْرِ.
وَلَعَلَّهُ يَعْنِي يُنَاسِبُ أَنْ أُشِيرَ إِلَى حَادِثَةٍ،
هِيَ حَدِيثُ السَّاعَةِ الآنَ، كُلُّ النَّاسِ الآنَ يَتَحَدَّثُونَ فِيهَا،
وَهِيَ قِصَّةُ الرَّجُلِ فِي مَكَّةَ قَبْلَ أَيَّامٍ قَلِيلَةٍ، أَلْقَى
بِنَفْسِهِ مِنَ الدَّوْرِ الْعُلْوِيِّ فِي الْحَرَمِ.
وَأَحَدُ الْجُنُودِ – مَعْذِرَةً أَحْيَانًا –
أَحَدُ الْجُنُودِ،
يَعْنِي خَاطَرَ بِنَفْسِهِ وَتَلَقَّاهُ بِيَدِهِ، وَهَذِهِ مُخَاطَرَةٌ
عَظِيمَةٌ جِدًّا،
فَتَلَقَّاهُ بِيَدِهِ، وَكَانَ سَبَبًا
بِأَمْرِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى لِنَجَاتِهِ مِنْ هَلَاكٍ،
لَيْسَ كَكُلِّ هَلَاكٍ.
لَيْسَ كَهَلَاكِ رَجُلٍ تَعَرَّضَ لِحَرِيقٍ، أَوْ رَجُلٍ تَعَرَّضَ لِغَرَقٍ،
أَوْ رَجُلٍ تَعَرَّضَ لِسَبُعٍ،
لَا،
يَعْنِي كَانَ سَبَبًا لِنَجَاتِهِ مِنْهَا، لَكِنْ لَيْسَ كَكُلِّ هَلَاكٍ.
هَذَا الْهَلَاكُ الَّذِي أَعْنِيهِ هُوَ قَتْلُ الْإِنْسَانِ نَفْسَهُ،
قَتْلُ الْإِنْسَانِ نَفْسَهُ هَذَا مِنَ الْمُوبِقَاتِ،
هَذَا مِنَ الْمُوبِقَاتِ،
يَعْنِي رَجُلٌ يَلْقَى اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَاتِلًا لِنَفْسِهِ،
هَذَا مِنَ الْمُوبِقَاتِ.
وَالْبَيْتُ الْحَرَامُ،
الْبَيْتُ الْحَرَامُ،
مَكَانٌ لِمَاذَا؟
لِخَلَاصِ النَّاسِ مِنَ الْهُمُومِ، وَمِنَ الْغُمُومِ، وَمِنَ الْأَحْزَانِ،
وَمِنْ كَمْ وَكَمْ، كَمْ مِنْ مَشَاكِلِ الدُّنْيَا
انْتَهَتْ عِنْدَ الْكَعْبَةِ، إِي وَاللَّهِ.
كَمْ مِنْ مَشَاكِلِ الدُّنْيَا وَأَمْرَاضِهَا وَهُمُومِهَا
وَأَسْقَامِهَا انْتَهَتْ عِنْدَ الْكَعْبَةِ،
يُقْبِلُ الْإِنْسَانُ عَلَى اللَّهِ وَيَبْكِي وَيَتَضَرَّعُ إِلَى اللَّهِ،
فَتَنْتَهِي،
انْتَهَتْ أَمْرَاضٌ، وَانْتَهَتْ هُمُومٌ، وَانْتَهَتْ غُمُومٌ.
إِذَا كَانَ الرَّجُلُ
بِهِ هَمٌّ، أَوْ بِهِ – يَعْنِي – أَشْيَاءُ تُؤْلِمُهُ،
يُقْبِلُ عَلَى اللَّهِ، يَبْكِي بَيْنَ يَدَيْهِ عِنْدَ بَيْتِهِ،
فَيَزُولُ عَنْهُ وَيَنْزَاحُ كُلُّ شَيْءٍ.
فَأَلْقَى بِنَفْسِهِ، وَهَذَا الإِلْقَاءُ بِالنَّفْسِ
مِنْ عَظَائِمِ الذُّنُوبِ،
جَاءَ فِي صَحِيحِ الْبُخَارِيِّ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ
عَنْ نَبِيِّنَا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:
« مَنْ تَرَدَّى مِنْ جَبَلٍ،
أَوْ أَلْقَى نَفْسَهُ مِنْ عِمَارَةٍ، أَوْ مِنْ مَكَانٍ عَالٍ،
فَقَتَلَ نَفْسَهُ،
فَهُوَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ يَتَرَدَّى فِيهَا،
خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا.
وَمَنْ تَحَسَّى سُمًّا فَقَتَلَ نَفْسَهُ،
فَسُمُّهُ فِي يَدِهِ يَتَحَسَّاهُ
فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا.
وَمَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِحَدِيدَةٍ،
فَحَدِيدَتُهُ فِي يَدِهِ يَجَأُ بِهَا بَطْنَهُ
فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا "
فَهَذَا الْجُرْمُ لَيْسَ هَيِّنًا.
وَاللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ كَتَبَ لِذَلِكَ الرَّجُلِ
خَلَاصًا مِنْ أَمْرٍ عَظِيمٍ جِدًّا،
فَأَقُولُ: لَيْسَ الْإِحْيَاءُ هُنَا كَأَيِّ إِحْيَاءٍ،
لَيْسَ كَأَيِّ إِحْيَاءٍ،
لَيْسَ مِثْلَ شَخْصٍ فِي غَرَقٍ،
أَوْ فِي حَرَاقٍ، أَوْ فِي غَيْرِ ذَلِكَ،
فَإِنَّ هَذَا يُرْجَى أَنْ يَكُونَ شَهِيدًا،
وَأَنْ يُكْتَبَ مِنَ الشُّهَدَاءِ، كَمَا دَلَّتْ عَلَى ذَلِكَ النُّصُوصُ.
لَكِنْ هَذَا هَلَاكٌ فِي مُوبِقَةٍ عَظِيمَةٍ،
فَالْخَلَاصُ هُنَا بَابٌ آخَرُ عَظِيمٌ جِدًّا،
يَعْنِي خَلَّصَهُ مِنْ مَوْتٍ،
وَخَلَّصَهُ مِنْ هَذِهِ الْكَبِيرَةِ الْعَظِيمَةِ الْمُوبِقَةِ الْمُهْلِكَةِ.
وَهَذَا الَّذِي كُتِبَتْ لَهُ هَذِهِ النَّجَاةُ،
نَسْأَلُ اللَّهَ أَنْ يُفَرِّجَ هَمَّهُ،
وَأَنْ يُصْلِحَ قَلْبَهُ،
وَأَنْ يَكْتُبَ لَهُ
حَيَاةً عَامِرَةً بِالْإِيمَانِ،
وَأَنْ يُفَرِّجَ هَمَّ
كُلِّ مَهْمُومٍ.
وَالْحَقِيقَةُ:
أَحُثُّ عَلَى الدُّعَاءِ لِهَذَا الْجُنْدِيِّ وَأَمْثَالِهِ،
لِأَنَّهُ مِنْ حَقِّنَا عَلَيْهِمْ أَنْ نَدْعُوَ لَهُمْ.
Terjemahan bahasa Indonesia:
Penyelamatan Seorang Pria dari Kematian di Masjidil Haram: Tanggapan Syaikh ‘Abdurrazzaq al-Badr
Barangkali memang tepat bila saya menyinggung sebuah peristiwa yang saat ini menjadi pembicaraan hangat; semua orang kini membicarakannya. Peristiwa itu adalah kisah seorang pria di Makkah beberapa hari yang lalu, yang melemparkan dirinya dari lantai atas di Masjidil Haram.
Salah seorang prajurit—maaf, kadang saya terhenti—ya, salah seorang prajurit, telah mempertaruhkan nyawanya. Ia menangkap orang itu dengan tangannya sendiri, dan ini merupakan risiko yang sangat besar. Ia menahannya dengan tangannya, dan dengan izin Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā, ia menjadi sebab keselamatan orang tersebut dari suatu kebinasaan—namun bukan kebinasaan biasa.
Bukan seperti kebinasaan seseorang yang tertimpa kebakaran, atau tenggelam, atau diterkam binatang buas.
Tidak. Ia memang menjadi sebab keselamatannya, tetapi bukan dari kebinasaan yang biasa.
Kebinasaan yang saya maksud di sini adalah seseorang membunuh dirinya sendiri. Membunuh diri sendiri termasuk dosa-dosa besar yang membinasakan (al-mūbiqāt). Ini termasuk dosa besar yang membinasakan, yakni seseorang menghadap Allah ‘Azza wa Jalla dalam keadaan sebagai pembunuh terhadap dirinya sendiri. Ini termasuk dosa-dosa besar yang membinasakan.
Adapun Baitullah al-Haram—Masjidil Haram—adalah tempat untuk apa? Untuk terbebasnya manusia dari kegelisahan, kesedihan, dan duka; dan betapa banyak, betapa banyak masalah dunia yang berakhir di sisi Ka‘bah, demi Allah.
Betapa banyak persoalan dunia, penyakit-penyakitnya, kegelisahan, dan penderitaannya yang berakhir di sisi Ka‘bah.
Seseorang datang menghadap Allah, menangis, merendahkan diri kepada Allah, lalu semuanya berakhir. Penyakit-penyakit berakhir, kegelisahan berakhir, dan kesedihan pun berakhir. Apabila seseorang diliputi kegelisahan, atau ditimpa sesuatu yang menyakitkannya, ia menghadap Allah, menangis di hadapan-Nya di rumah-Nya; maka semua itu akan sirna dan lenyap darinya.
Namun orang ini justru melemparkan dirinya. Tindakan melemparkan diri sendiri ini termasuk dosa-dosa yang sangat besar.
Dalam Shahih al-Bukhari, dari hadits Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, dari Nabi kita shallallāhu 'alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Barang siapa menjatuhkan dirinya dari gunung, atau melemparkan dirinya dari bangunan, atau dari tempat yang tinggi, lalu ia membunuh dirinya sendiri, maka ia berada di neraka Jahanam, terus-menerus terjatuh di dalamnya, kekal dan abadi selama-lamanya.
Dan barang siapa meminum racun lalu membunuh dirinya, maka racunnya berada di tangannya dan ia meneguknya di neraka Jahanam, kekal dan abadi selama-lamanya.
Dan barang siapa membunuh dirinya dengan besi, maka besinya berada di tangannya, ia tusukkan ke perutnya di neraka Jahanam, kekal dan abadi selama-lamanya.”
Maka kejahatan ini bukanlah perkara ringan.
Namun Allah ‘Azza wa Jalla telah menuliskan bagi pria tersebut keselamatan dari perkara yang sangat besar.
Karena itu saya katakan: upaya penyelamatan yang diberikan di sini bukanlah seperti penyelamatan pada umumnya. Bukan seperti seseorang yang selamat dari tenggelam, atau kebakaran, atau selainnya.
Sebab orang yang meninggal dalam keadaan seperti itu masih diharapkan menjadi syahid dan dicatat sebagai orang-orang yang mati syahid, sebagaimana ditunjukkan oleh nash-nash.
Akan tetapi, ini adalah kebinasaan dalam dosa besar yang membinasakan.
Maka keselamatan di sini merupakan pintu lain yang sangat agung. Artinya, ia diselamatkan dari kematian, dan diselamatkan pula dari dosa besar yang agung, membinasakan, dan menghancurkan.
Orang yang telah dituliskan baginya keselamatan ini, kita memohon kepada Allah agar melapangkan kegelisahannya, memperbaiki hatinya, dan menuliskan baginya kehidupan yang dipenuhi dengan iman.
Dan semoga Allah melapangkan kegelisahan setiap orang yang sedang dilanda kesusahan.
Sebenarnya, saya mengajak untuk mendoakan prajurit ini dan orang-orang sepertinya, karena termasuk hak mereka atas kita adalah agar kita mendoakan mereka.
Sekian salinan dari YouTube.
Penutup Lanjutan
Jika kisah Rayyān Al-‘Asīrī mengajarkan kita tentang keberanian dan keikhlasan dalam menjaga amanah, maka komentar Syaikh al-Badr mengajarkan kita tentang kedalaman makna di balik peristiwa itu. Bahwa yang diselamatkan bukan hanya sebuah tubuh dari jatuh, tetapi juga sebuah jiwa dari dosa besar yang membinasakan.
Di Masjid al-Haram, tempat manusia seharusnya kembali kepada Allah, keputusasaan tidak selayaknya berakhir dengan kehancuran diri. Dan di sanalah Allah menampakkan rahmat-Nya, melalui tangan seorang penjaga yang berlari, dan melalui ilmu seorang ulama yang menuntun makna.
Semoga Allah menerima amal mereka semua, memperbaiki hati orang yang diselamatkan, dan menjadikan kisah ini cahaya bagi siapa pun yang membacanya.
Āmīn.
Pariaman, Sabtu, 14 Rajab 1447 H / 3 Januari 2026 M
Zulkifli Zakaria
