![]() |
مجلس الحديث النبويّ الشريف
MAJELIS KAJIAN HADITS BERSAMA ZULKIFLI ZAKARIA
DI RUMAH SAKIT TAMAR MEDICAL CENTRE (TMC)
Jl. Basuki Rahmat No.1 Pariaman
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
Bahasan Hadits Aqidah tentang Jin
Rabu, 11 Rajab 1447 H / 31 Desember 2025 M
Teks Hadits:
67 - (2717) حَدَّثَنِي حَجَّاجُ بْنُ الشَّاعِرِ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ عَمْرٍو أَبُو مَعْمَرٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ، حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ، حَدَّثَنِي ابْنُ بُرَيْدَةَ، عَنْ يَحْيَى بْنِ يَعْمَرَ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، كَانَ يَقُولُ: «اللهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ، وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ، وَبِكَ خَاصَمْتُ، اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَنْ تُضِلَّنِي، أَنْتَ الْحَيُّ الَّذِي لَا يَمُوتُ، وَالْجِنُّ وَالْإِنْسُ يَمُوتُونَ»
Telah menceritakan kepadaku Hajjāj bin Asy-Syā‘ir, telah menceritakan kepada kami ‘Abdullāh bin ‘Amr Abū Ma‘mar, telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Wārits, telah menceritakan kepada kami Al-Ḥusain, telah menceritakan kepadaku Ibnu Buraidah, dari Yaḥyā bin Ya‘mar, dari Ibnu ‘Abbās radhiyallāhu ‘anhumā, bahwa Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallam biasa mengucapkan:
«اللهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ، وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ، وَبِكَ خَاصَمْتُ، اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَنْ تُضِلَّنِي، أَنْتَ الْحَيُّ الَّذِي لَا يَمُوتُ، وَالْجِنُّ وَالْإِنْسُ يَمُوتُونَ»
“Ya Allah, kepada-Mu aku berserah diri, dengan-Mu aku beriman, kepada-Mu aku bertawakal, dan kepada-Mu aku kembali (bertaubat). Dengan-Mu aku berdebat (membela kebenaran). Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan keagungan-Mu—tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau—agar Engkau tidak menyesatkanku. Engkau adalah Yang Maha Hidup yang tidak akan mati, sedangkan jin dan manusia pasti mati.”
(HR. Muslim, no. 2717)
Pelajaran dari Hadits ini:
Hadits ini menunjukkan kedudukan doa sebagai inti ibadah, sebagaimana sabda Nabi shallallāhu ‘alaihi wasallam: “Doa adalah ibadah.”
Allah subhānahu wata’ālā memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk senantiasa berdoa, dan Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallam adalah teladan paling sempurna dalam pengamalan dan pengajarannya. Beliau bersungguh-sungguh dalam doa, baik dalam lafaz, makna, maupun tauhid yang dikandungnya.
Dalam hadits ini, Ibnu ‘Abbās radhiyallāhu ‘anhumā meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallam biasa berdoa dengan doa yang mengandung penegasan tauhid, penghambaan, dan penafian segala bentuk ketergantungan selain kepada Allah.
Ucapan beliau shallallāhu ‘alaihi wasallam:
“اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ”
“Ya Allah, kepada-Mu aku berserah diri”
Maknanya adalah penyerahan diri secara total, tunduk, patuh, dan merendahkan diri kepada Allah semata. Ini adalah hakikat Islam, yaitu kepatuhan lahir dan batin kepada perintah-Nya.
“وَبِكَ آمَنْتُ”
“dan dengan-Mu aku beriman”
Yakni pembenaran dan pengakuan yang disertai keyakinan terhadap Allah subhānahu wata’ālā, serta terhadap seluruh kabar, perintah, dan larangan-Nya.
Inilah hakikat iman, sebagaimana firman-Nya:
﴿آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ﴾
“Rasul telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari Rabb-nya, demikian pula orang-orang yang beriman.”
(QS. al-Baqarah: 285)
“وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ”
Artinya: aku bersandar dan menyerahkan seluruh urusanku kepada-Mu, karena aku tidak memiliki kuasa mendatangkan manfaat maupun menolak mudarat kecuali dengan izin-Mu.
“وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ”
Inabah adalah kembali kepada Allah dengan ketaatan, taubat, kerendahan, dan pengakuan akan kelemahan diri.
﴿وَأَنِيبُوا إِلَىٰ رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ﴾
“Kembalilah kepada Rabb kalian dan berserah dirilah kepada-Nya.”
(QS. az-Zumar: 54)
Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallam memohon perlindungan dengan ‘izzah (keagungan dan kekuasaan) Allah, disertai penegasan tauhid “lā ilāha illā anta”, agar tidak disesatkan. Artinya: tidak dijadikan bagi siapa pun jalan untuk menyesatkannya, sehingga ia berpaling dari jalan yang lurus.
Allah berfirman:
﴿مَن يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِي وَمَن يُضْلِلْ فَلَن تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُّرْشِدًا)
“Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, dialah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa yang disesatkan-Nya, maka engkau tidak akan mendapatkan baginya pelindung dan pemberi petunjuk.”
(QS. Al-Kahfi: 17)
Puncak doa ini adalah pernyataan agung:
“أَنْتَ الْحَيُّ الَّذِي لَا يَمُوتُ”
“Engkau adalah Dzat Yang Maha Hidup yang tidak akan mati.”
Ini adalah penyucian Allah dari sifat mati dan fana, karena kematian adalah sifat kekurangan, sedangkan Allah Maha Sempurna.
﴿وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ﴾
“Bertawakallah kepada Yang Maha Hidup yang tidak akan mati.”
(QS. Al-Furqān: 58)
Lalu Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallam menegaskan:
“وَالْجِنُّ وَالْإِنسُ يَمُوتُونَ”
“Sedangkan jin dan manusia pasti mati.”
Ini merupakan penegasan eksplisit bahwa jin, meskipun makhluk gaib dan berakal, tetap makhluk yang fana dan akan mati, sebagaimana manusia. Hal ini selaras dengan firman Allah:
﴿كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ﴾
“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan yang tetap kekal hanyalah wajah Rabb-mu yang memiliki keagungan dan kemuliaan.”
(QS. Ar-Raḥmān: 26–27)
Dan firman-Nya:
﴿كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ﴾
“Setiap jiwa pasti merasakan kematian.”
(QS. Āli ‘Imrān: 185)
Ayat ini mencakup seluruh makhluk bernyawa, baik dari kalangan manusia, jin, maupun selain keduanya.
Penyebutan “jin dan manusia mati” di akhir doa mengandung hikmah besar, yaitu:
• Menegaskan bahwa kehidupan hakiki dan abadi hanyalah milik Allah.
• Membatalkan keyakinan batil yang mengagungkan jin atau menjadikannya tempat bergantung.
• Menanamkan tauhid murni bahwa hanya Allah yang layak dimohon, diharap, dan disembah, karena Dia Maha Hidup dan tidak akan pernah mati.
Siapa yang memiliki kesempurnaan hidup dan kekekalan seperti ini, maka tidak pantas seorang hamba berdoa kepada selain-Nya, dan tidak layak berharap kecuali kepada-Nya.
Kesimpulan Aqidah
Hadits ini menjadi dalil yang jelas dan tegas menurut Ahlus Sunnah wal Jamā‘ah bahwa:
1. Jin adalah makhluk hidup yang akan mati, bukan makhluk abadi.
2. Sifat hidup sempurna dan kekal hanya milik Allah.
3. Tauhid dalam doa menuntut pemutusan ketergantungan dari seluruh makhluk, termasuk jin.
Wallāhu a‘lam.
