![]() |
Oleh: Jemmy Ibnu Suardi Tuanku Sidi
Dalam tulisan ini, penulis mencoba menjelaskan tentang penggunaan kisah dialog dengan kaum Dahriyyah sebagaimana ditemukan dalam kitab-kitab kalam Sunni, salah satunya dalam kitab _Fath al-Majid_ karya Syaikh Nawawi al-Bantani, sekaligus menunjukan Salah Fikir sebagian orang yang menolaknya semata-mata karena ketiadaan sanad.
Artikel ini menegaskan bahwa penolakan tersebut bersumber dari kekeliruan epistemologis atau Salah Fikir, yakni mencampuradukkan standar validasi ilmu hadis dengan metode argumentasi rasional. Selain itu, tulisan ini juga meluruskan kesalahpahaman atau Salah Fikir terhadap metodologi Ibn Taymiyah yang kerap dijadikan legitimasi untuk menolak kisah-kisah rasional dalam aqidah.
Kisah dialog antara seorang tokoh Islam dengan kaum Dahriyyah sering dijumpai dalam literatur kalam Sunni. Kisah semacam ini digunakan sebagai sarana pedagogis untuk menjelaskan prinsip-prinsip dasar tauhid, terutama dalam menegaskan kemustahilan alam berdiri tanpa sebab. Namun, dalam sebagian wacana kontemporer, kisah tersebut ditolak dengan alasan tidak memiliki sanad, lalu dianggap lemah bahkan menyesatkan secara metodologis.
Tulisan ini berangkat dari tesis bahwa kritik tersebut tidak hanya keliru, tetapi juga berpotensi merusak bangunan epistemologi ilmu Islam. Penolakan kisah dahriyyah karena tidak bersanad menunjukkan ketidakmampuan pembaca dalam membedakan domain ilmu, serta Salah Fikir dalam memahami tradisi rasional dalam Ahlus Sunnah.
Sanad merupakan instrumen utama dalam ilmu hadis karena hadis berfungsi menyampaikan laporan historis tentang ucapan, perbuatan, dan persetujuan Nabi Muhammad. Oleh karena itu, keabsahan hadis bergantung pada keandalan transmisi. Namun, tidak semua pengetahuan dalam Islam beroperasi dalam kerangka transmisi historis.
Para ulama usul fiqh dan kalam sejak awal telah membedakan antara dalil naqli dan dalil aqli. Al-Imam al-Haramayn al-Juwayni menegaskan dalam _al-Irshad_ bahwa kewajiban mengenal Allah dapat ditetapkan melalui akal sebelum datangnya wahyu. Al-Ghazali dalam _al-Iqtisad fi al-I‘tiqad_ juga menjelaskan bahwa akal memiliki peran mendasar dalam menetapkan prinsip tauhid, sementara wahyu berfungsi sebagai petunjuk dan penyempurna.
Dengan demikian, menuntut sanad pada kisah rasional adalah kesalahan kategoris. Kisah dahriyyah tidak dimaksudkan sebagai hadis, tidak pula diklaim sebagai peristiwa sejarah yang mengikat, melainkan sebagai ilustrasi rasional. Validitasnya diukur dari koherensi logika dan kesesuaiannya dengan prinsip tauhid, bukan dari rantai periwayatan.
Dalam tradisi kalam Sunni, kisah dialog memiliki fungsi didaktik. Al-Baqillani, al-Juwayni, al-Ghazali, dan Fakhr al-Din al-Razi menggunakan ilustrasi, analogi, dan dialog hipotetis untuk memudahkan pemahaman konsep abstrak. Metode ini tidak pernah dipahami sebagai pemalsuan sejarah, melainkan sebagai cara menyederhanakan hujjah aqli.
Kisah dialog dengan kaum Dahriyyah berfungsi menyingkap kontradiksi internal pandangan yang menafikan sebab pertama. Ia memaksa lawan menerima implikasi logis dari pengakuannya sendiri, sebuah metode yang dikenal sebagai _ilzam jadali._ Selama natijah argumennya sahih dan tidak bertentangan dengan _nash qat‘i,_ maka metode ini diterima dalam Ahlus Sunnah.
Salah Fikir si Penolak Kisah
Penolakan kisah dahriyyah karena tidak bersanad menunjukkan tiga kekeliruan berpikir. Pertama, reduksi seluruh kebenaran agama pada format hadis. Ini bertentangan dengan bangunan ilmu Islam yang sejak awal bersifat multidisipliner.
Kedua, ahistorisme. Seandainya standar sanad diterapkan secara mutlak pada seluruh argumentasi aqidah, maka sebagian besar literatur kalam Sunni harus ditolak. Fakta bahwa kitab-kitab tersebut diajarkan selama berabad-abad menunjukkan adanya konsensus implisit atas legitimasi metode rasional.
Ketiga, inkonsistensi metodologis. Banyak penolak kisah dahriyyah tetap menerima analogi dan argumen rasional dalam konteks lain, selama sesuai dengan preferensi mazhabnya. Ini menunjukkan bahwa problemnya bukan sanad, melainkan selektivitas ideologis.
Ibn Taymiyah sering dijadikan rujukan untuk menolak kisah rasional dalam aqidah. Namun, pembacaan yang cermat terhadap karyanya yakni _Dar’ Ta‘arud al-‘Aql wa al-Naql_ karya Ibn Taymiyah, menunjukkan bahwa ia menggunakan analogi rasional dan _ilzam jadali_ secara luas untuk membantah kaum filosof, Jahmiyyah, dan penolak Tuhan. Dalam banyak bagian, ia membangun argumen panjang tanpa bersandar pada hadis bersanad, karena ia sedang bekerja di wilayah rasional.
Dengan demikian, menjadikan Ibn Taymiyah sebagai dalih untuk menolak kisah dahriyyah karena tidak bersanad adalah kesalahan serius. Jika Ibn Taymiyah menolak argumen rasional tanpa sanad, maka setengah dari isi kitab _Ibn Taymiyah Dar’ Ta‘arud_ harus dibuang.
Kisah dialog dengan kaum Dahriyyah dalam kitab-kitab kalam Sunni merupakan instrumen rasional yang sah secara epistemologis. Penolakannya dengan alasan ketiadaan sanad bersumber dari kesalahan memahami domain ilmu dan sejarah intelektual Islam. Lebih jauh, Salah Fikir tersebut gagal membaca metodologi Ibn Taymiyah secara utuh dan cenderung menggunakan namanya sebagai slogan, bukan sebagai kerangka berpikir. Pembelaan terhadap kisah dahriyyah bukanlah pembelaan terhadap satu mazhab kalam semata, melainkan pembelaan terhadap konsistensi epistemologi Islam yang mengakui peran akal dan wahyu secara proporsional.
Tandikat, 4 Januari 2025
Jemmy Ibnu Suardi Tuanku Sidi
