![]() |
الْنَّصُّ أَوْلَى مِنَ الذَّوْقِ
Bismillāhirraḥmānirraḥīm
Beberapa hari ini saya menyimak sebuah ceramah di YouTube yang disampaikan oleh Muhammad Nuruddin, membahas hadits tentang ayah Nabi shallallahu alaihi wasallam. Saya menontonnya dengan tenang, bahkan berulang. Namun saya memilih tidak serta-merta menuliskan kritik.
Dalam urusan agama, diam sebelum menulis sering kali lebih selamat daripada cepat berbicara. Sebab kritik ilmiah bukan lahir dari kegelisahan rasa, tetapi tetapi dari komitmen kepada nash dan amanah ilmiah.
Tulisan ini bukan bantahan personal, bukan pula upaya merendahkan siapa pun. Ia hanyalah catatan seorang penuntut ilmu yang ingin menjaga cara berpikir agar tetap berada di atas manhaj salaf.
Pembahasan tentang orang tua Nabi shallallahu alaihi wasallam sejatinya bukan hal baru. Para ulama Ahlus Sunnah sejak dahulu telah membahasnya dengan adil dan proporsional. Namun di zaman media sosial, cara memahami agama sering kali bergeser. Bukan lagi bertanya bagaimana generasi awal memahami nash, tetapi bagaimana agar nash terasa nyaman di hati pendengar.
Di sinilah kegelisahan itu muncul. Ketika penjelasan agama lebih diarahkan untuk menenangkan rasa, sementara kaidah ilmiah dan manhaj salaf dikesampingkan, maka persoalannya tidak lagi bersifat pribadi, tetapi metodologis. Yang dipertaruhkan bukan satu kesimpulan, melainkan cara kita memperlakukan wahyu.
Hadits yang Menjadi Poros
Sebuah hadits shahih dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata:
أَنَّ رَجُلًا قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَيْنَ أَبِي؟ قَالَ: «فِي النَّارِ»، فَلَمَّا قَفَّى دَعَاهُ، فَقَالَ: «إِنَّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النَّارِ»
“Sesungguhnya seorang laki-laki bertanya, ‘Wahai Rasulullah, di mana ayahku?’
Beliau menjawab,
«فِي النَّارِ»
‘Di neraka.’
Ketika orang itu berpaling, Nabi memanggilnya kembali dan bersabda,
«إِنَّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النَّارِ»
‘Sesungguhnya ayahku dan ayahmu berada di neraka.’”
(HR. Muslim, no. 203)
Kutipan penjelasan Imam An-Nawawī rahimahullāh:
“Di dalam hadis ini terdapat penegasan bahwa siapa saja yang mati di atas kekufuran maka ia berada di dalam neraka, dan kedekatannya dengan kerabat yang mulia tidak akan memberikan manfaat baginya. Dan di dalamnya pula terdapat penjelasan bahwa siapa saja yang mati pada masa fatrah dalam keadaan mengikuti apa yang dianut oleh bangsa Arab berupa penyembahan berhala, maka ia termasuk penghuni neraka. Ini bukanlah bentuk pemberian hukuman sebelum sampainya dakwah, sebab mereka itu telah sampai kepada mereka dakwah Nabi Ibrahim dan selainnya dari para nabi—shalawat dan salam Allah Ta‘ala atas mereka.
Dan sabda Nabi shallallāhu ‘alaihi wasallam: ‘Sesungguhnya ayahku dan ayahmu berada di neraka’ merupakan bagian dari akhlak mulia dalam berinteraksi, yakni dalam rangka menghibur (orang yang diajak bicara) dengan menunjukkan adanya kesamaan dalam musibah.”
(Syarh Shahīh Muslim, terbitan Ad-Dar al-‘Alamiyah Kairo, th. 1440 H – 2019 H, 2/100-101)
Inilah nash yang menjadi poros pembahasan. Ia kita letakkan secara utuh, tidak dipotong, tidak dipilih sebagiannya, dan tidak didahului oleh penilaian rasa. Sebab dalam manhaj salaf, wahyu didengar terlebih dahulu, baru kemudian dipahami.
Para ulama salaf sering mengingatkan bahwa tidak semua perkara ghaib diperintahkan untuk dikejar penjelasannya. Ada hal-hal yang Allah bukakan dengan nash yang jelas, dan ada pula yang Allah tutup hikmahnya dari akal manusia. Sikap seorang mukmin bukanlah memaksa wahyu agar sesuai dengan rasa, tetapi menundukkan rasa agar selaras dengan wahyu. Di sinilah letak adab ilmu: mengetahui batas, lalu berhenti.
Ayat Al-Qur’an yang Sering Dijadikan Sandaran
Allah subhanahu wata’ala berfirman:
{مَنِ اهْتَدَى فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ وَمَنْ ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولًا (15)} [الإسراء: 15]
“Barang siapa mendapat petunjuk, maka sesungguhnya ia mendapat petunjuk bagi (kebaikan) dirinya sendiri. Dan barang siapa sesat, maka sesungguhnya kesesatannya itu (merugikan) dirinya sendiri. Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan Kami tidak akan mengazab (suatu kaum), sampai Kami mengutus seorang rasul.”
(QS. Al-Isra’: 15)
Ayat ini benar, agung, dan menjadi dasar keadilan Allah. Tidak ada seorang pun dari Ahlus Sunnah yang meragukannya. Namun para ulama salaf juga mengajarkan kaidah yang lurus: dalil umum tidak membatalkan dalil khusus, tetapi dalil khusus menjelaskan dan mengkhususkan dalil umum.
Imam Asy-Syafi’ī rahimahullāh mengatakan:
“Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallam adalah seorang yang berbahasa Arab dan tinggal di negeri Arab. Maka beliau kadang menyampaikan suatu ucapan secara umum dan benar-benar bermaksud umum, dan terkadang menyampaikan ucapan yang tampaknya umum namun sebenarnya bermaksud khusus, sebagaimana telah aku jelaskan kepadamu dalam Kitabullah dan Sunnah Rasulullah sebelumnya.”
(Ar-Risālah, Maktabah al-Halabī Mesir, th. 1357 H – 1940 M, hal. 105)
Karena itu, hadits shahih yang khusus tidak boleh disingkirkan hanya karena rasa tidak nyaman, atau karena ingin menyelaraskannya dengan pemahaman tertentu tanpa dalil pengkhususan yang sah.
Dalam usul Ahlus Sunnah, perkara aqidah dibangun di atas nash yang qath‘i atau shahih, bukan di atas kemungkinan bahasa atau rasa keberatan. Karena itu, zhahir hadits diterima selama tidak ada dalil yang sah untuk memalingkannya.
Antara Rasa, Bahasa, dan Manhaj
Sebagian orang berusaha menakwil lafaz ab dalam hadits ini dengan makna selain ayah kandung. Secara bahasa, kemungkinan itu memang ada. Namun manhaj salaf tidak membangun akidah di atas kemungkinan bahasa, melainkan di atas makna zhahir nash sebagaimana dipahami oleh generasi awal umat ini.
Cinta kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak dibuktikan dengan mengubah makna sabdanya, tetapi dengan tunduk kepada apa yang beliau sampaikan, lalu menyerahkan perkara yang tidak kita ketahui sepenuhnya kepada Allah subhanahu wata’ala.
Tidak semua yang menenangkan hati itu benar, dan tidak semua yang terasa pahit itu keliru.
Tidak semua pertanyaan harus dijawab dengan penjelasan panjang. Sebagian cukup dijawab dengan iman dan ketundukan. Dan tidak semua kebenaran terasa ringan, tetapi justru di situlah nilai ujian keimanan.
Penutup dan Doa
Dalam agama ini, keselamatan bukan terletak pada kelihaian menakwil, tetapi pada kejujuran mengikuti wahyu. Salaf mengajarkan kita untuk berhenti di batas nash, menjaga adab, dan tidak mendahulukan rasa di atas sabda Nabi.
Do’a:
اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ،
وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ،
وَلَا تَجْعَلْ أَهْوَاءَنَا حَاكِمَةً عَلَى نُصُوصِكَ.
Teks Latin:
Allāhumma arinā al-ḥaqqa ḥaqqan warzuqnā ittibā‘ah,
wa arinā al-bāthila bāthilan warzuqnā ijtinābah,
wa lā taj‘al ahwā’anā ḥākimatan ‘alā nushūshik.
Terjemahan:
“Ya Allah, perlihatkanlah kepada kami kebenaran sebagai kebenaran dan karuniakan kepada kami kemampuan untuk mengikutinya.
Perlihatkanlah kepada kami kebatilan sebagai kebatilan dan karuniakan kepada kami kemampuan untuk menjauhinya.
Dan jangan Engkau jadikan hawa nafsu kami menguasai dan menghakimi nash-nash-Mu.”
Pariaman, Kamis, 19 Rajab 1447 H / 8 Januari 2026 M
Zulkifli Zakaria
