![]() |
| Wirid Syekh Abdullah Aminuddin Tuanku Shaliah, Buya Lubuk Pandan setiap 13 Rajab di Ulakan, komplek makam Syekh Burhanuddin. |
Syekh Abdullah Aminuddin Tuanku Shaliah (1908–1996) adalah seorang ulama terkemuka dari Lubuk Pandan, Padang Pariaman, Sumatera Barat. Ia dikenal luas sebagai pendiri Pondok Pesantren Madrasatul 'Ulum Lubuk Pandan yang didirikan pada tahun 1940.
Berikut adalah poin-poin penting mengenai biografi dan kiprah beliau:
Kelahiran & Keluarga: Lahir di Jambak, Nagari Pakandangan, pada tahun 1908 dari pasangan Syekh Mukaddam dan Hj. Tiambun.
Pendidikan: Beliau menuntut ilmu kepada banyak ulama besar di Minangkabau, di antaranya Syekh Abdurrahman (Tuanku Bintungan Tinggi), Syekh Muhammad Yatim (Ungku Ampalu Tinggi), Syekh Bonta, dan Syekh Muhammad Djamil Jaho.
Gelar & Julukan: Selain gelar Tuanku Shaliah, ia juga dikenal dengan julukan "Tuanku Shaliah Pengka".
Kontribusi:
Mendirikan Madrasatul 'Ulum, sebuah institusi pendidikan yang memiliki hubungan historis erat dengan organisasi Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI).
Dikenal sebagai sosok ulama yang moderat, disiplin, dan istiqamah dalam mengajar.
Wafat: Beliau wafat pada tanggal 19 Jumadil Akhir 1417 H (1996 M). Peringatan wafatnya (haul) rutin dilaksanakan setiap tahun oleh keluarga besar pesantren dan masyarakat setempat.
Kisah hidup dan perjuangannya dalam menuntut serta menyebarkan ilmu agama telah dibukukan dalam karya berjudul Buya H. Abdullah Aminuddin Tuanku Shaliah (1908-1996) Moderat dan Disiplin.
Rutin 13 Rajab ke Ulakan Sejak 1976
Sebagai ulama yang menganut dan mengembangkan Tarekat Syattariyah, Buya Abdullah Aminuddin ini juga membuat wirid khusus di komplek makam Syekh Burhanuddin Ulakan. Beliau membuat wirid khusus itu, setelah banyak permintaan dari murid dan jemaahnya.
Sebelum tahun itu, beliau sudah sering juga ke Ulakan dan ziarah ke tempat lain. Tapi belum menjadi wirid tetap. Artinya, kapan dia mau ziarah, langsung pergi. Kadang dengan jumlah rombongan banyak santri dan jemaah, kadang berombongan juga, tapi tak banyak. Nah, di tahun 1976, di Ulakan beliau mengumumkan secara resmi, bahwa "kita ke Ulakan tiap tanggal 13 Rajab". Makanya, setiap tanggal itu, murid dan jemaahnya tidak pernah terlalu banyak, tidak pula pernah terlalu sedikit.
Yang jelas, siapa yang menjalankan Kepemimpinan Pondok Pesantren Madrasatul 'Ulum Lubuk Pandan, menjadikan tanggal itu sebagai "warih bajawek pusako batarimo". Pimpinan sepertinya oleh wasiat ini dilarang untuk tidak hadir di Ulakan saat waktunya tiba.
Kenapa! Maklum, yang jadi wiridnya adalah tanggal, bukan hari. Sehingga tidak pernah sama harinya ketika menjalankan wirid ke Ulakan itu. Di sini bedanya beliau dengan ulama lain yang juga membuat wirid ke Ulakan itu. Wirid itu dia buat sendiri, tak mengacu kepada wirid gurunya.
Dilakukannya wirid ke Ulakan, kemungkinan beliau pernah berguru ke dua ulama yang tercatat sebagai Khalifah Syekh Burhanuddin, yakni Syekh Bonta dan Syekh Abdurrahman Bintungan Tinggi.
Dengan Syekh Bonta, Abdullah Aminuddin Tuanku Shaliah ini pertama kali mengaji di Tanjung Medan, Surau Gadang yang didirikan oleh Syekh Burhanuddin dulunya. Dari Syekh Bonta, beliau pindah dan melanjutkan mengaji dengan Syekh Abdurrahman Bintungan Tinggi.
Tentu, mengacu pada sanad ini, sangat patut sekali beliau menautkan keilmuan dan keulamaannya setiap sekali setahun di Ulakan.
