![]() |
| H. Iskandar Tuanku Mudo |
Lazim bagi petani, sebelum mengangkut hasil panennya pulang, dikeluarkan dulu "patigoan sawah". Sepertiga dari hasil panen adalah buat yang punya sawah. Penggarap kebagian dua pertiga.
Itu ibaratnya dari haul Muasis Madrasatul 'Ulum yang diadakan Rabu 10 Desember 2025. Haul digelar, bagaikan kita mengeluarkan pertigaan sawah. Guru kita memberikan kaji dan ilmu tanpa syarat. Beliau ikhlas mengajar, mendampingi kita, maka sangat patut kita mensyukuri dengan menghadiahkan kaji ke beliau.
"Guru adalah ibarat jembatan yang akan menghubungkan daerah yang satu dengan daerah lainnya. Bisanya kita tersambung dengan Yang Maha Kuasa, karena guru," kata H. Ja'far Tuanku Imam Mudo, Syaikhul Ma'ad Darul Ulum Padang Magek, Tanah Datar.
Malam itu, sehabis Shalat Isya, Madrasatul 'Ulum Lubuk Pandan memperingati haul Muasis Madrasatul 'Ulum.
1. Haul ke 29 H. Abdullah Aminuddin Tuanku Shaliah yang wafat 1996.
2. Haul ke 31 H. Iskandar Tuanku Mudo yang wafat 1994.
3. Haul H. Buchari Rauf ke 13 yang wafat 2012.
4. Haul H. Marzuki Tuanku Labai Nan Basa ke 5 yang wafat 2020.
5. Haul Hj. Uwai Gadis ke 11 yang wafat 2014.
Lima tokoh ulama itu adalah Muasis Madrasatul 'Ulum. Peringatan haulnya sengaja disatukan, setiap tahun. Tepatnya 19 Jumadil Akhir, mengambil tanggal wafat Syekh Abdullah Aminuddin Tuanku Shaliah.
Muasis berarti pendiri, perintis, dan penggagas bangunan. Termasuk juga perintis bangunan pendidikan di Madrasatul 'Ulum Lubuk Pandan itu sendiri.
Diantara yang lima itu, ternyata H. Iskandar Tuanku Mudo yang duluan wafatnya. Beliau wafat 1994, saat beliau melakukan tugas negara sebagai anggota DPRD Padang Pariaman yang melakukan kunjungan kerja ke Lampung. Tepatnya, beliau wafat 22 September 1994.
Iskandar Tuanku Mudo yang lahir 1929 di Lubuk Pandan adalah anak seorang ulama. Ayahnya Tuanku Kanus yang masyhur dengan sebutan Tuanku Lubuak Pauah. Masa mudanya, Iskandar lama mengaji di Surau Ujuang Kubu atau Pondok Pesantren Dinul Ma'ruf Sungai Durian. Ungku Panjang gurunya.
Beliau seangkatan dengan M. Zen Tuanku Bagindo, H. Basyaruddin, H. Razak Tuanku Mudo dan ulama lainnya. Zaman dia di Ujuang Kubu itu terkenal melahirkan tokoh hebat dan berhasil semua. M. Zen Tuanku Bagindo adalah ulama di Sicincin. Pernah jadi anggota DPRD Padang Pariaman dari PPP, sama dengan Iskandar Tuanku Mudo, terpilih dalam pemilu 1992.
M. Zen Tuanku Bagindo pernah pula jadi Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Padang Pariaman, setelah Iskandar Tuanku Mudo wafat. Ada istilah yang muncul di kalangan ulama kala itu, yakni 1990 an. Antara Iskandar Tuanku Mudo dan M. Zen Tuanku Bagindo ini konco arek lawan kareh. Disebut demikian, kedua ulama ini sama-sama di dewan, tapi beda partai. Sama-sama NU, sempat bersaing dalam Konfercab NU 1994, tapi Iskandar Tuanku Mudo unggul dan menenangkan persaingan itu.
Menang, Iskandar Tuanku Mudo tak pernah mencampakkan lawan dan kawan. Komunikasi dan koordinasinya dengan M. Zen Tuanku Bagindo tetap berjalan dan aktif. Tentu rasa sekampung, yakni 2X11 Enam Lingkung, sama tamatan Surau Ujuang Kubu, menjadi kekuatan tersendiri terbangunnya kemesri di antara dua tokoh ulama ini.
Tapi, sebelum terjun ke dunia politik, Iskandar Tuanku Mudo aktif jadi PNS di lingkungan Kementerian Agama. Terakhir pensiun, beliau pernah jadi Kepala KUA Kecamatan Nan Sabaris, Padang Pariaman. Beliau sama PNS Kemenag dengan Razak TM yang juga kawan beliau, yang sama-sama tokoh ulama dan masyarakat Lubuk Pandan.
Razak TM karena sarjana, sempat beberapa kali jadi Kepala Kemenag di kabupaten dan kota di Sumatera Barat. Juga aktivis NU. Terakhir, pensiun dari Kemenag, Razak TM sama dengan M. Zen Tuanku Bagindo yang aktif di PKB, partai yang didirikan oleh PBNU.
Hanya Buya Basyaruddin yang aktif di Surau Ujuang Kubu. Beliau menjalankan proses belajar mengajar sepeninggal Ungku Panjang yang wafat di Mekkah. Basyaruddin juga ulama asli Kampung Guci Lubuk Pandan, sekampung dengan Iskandar Tuanku Mudo.
Menurut Pimpinan Madrasatul 'Ulum Lubuk Pandan, Buya Marulis Tuanku Mudo, Iskandar Tuanku Mudo sudah aktif di pesantren ini sejak 1975. "Waktu itu beliau sibuk dengan urusan luar. Bila ada keperluan ke luar, itu Iskandar Tuanku Mudo yang mangakok. Sesekali juga mengajar bersama Buya Abdullah Aminuddin Tuanku Shaliah," cerita Marulis Tuanku Mudo.
Sebagai orang Lubuk Pandan, sepertinya Iskandar Tuanku Mudo ini tamat mengaji di Ujuang Kubu, langsung merapat ke Madrasatul 'Ulum. Sembari menghidupkan Surau Lubuak Pauah, peninggalan ayahnya. Bahkan, surau ini tercatat juga sebagai bagian dari asrama anak siak Lubuk Pandan.
Iskandar Tuanku Mudo lebih sibuk di luar sana, karena beliau seorang PNS di lingkungan Kementerian Agama yang kala itu masyhur dengan sebutan Depag.
Pensiun dari pegawai, tak juga Iskandar Tuanku Mudo bisa full waktunya di pondok. Sesekali ada waktunya dari pagi sampai sore di pondok. Habis mengajar, siangnya beliau di kantor pondok. Membereskan administrasi, sekalian membuat surat. Atau selesai mengajar, beliau bekerja, menyelesaikan pembangunan lokal yang sedang terbengkalai.
Bagi Iskandar Tuanku Mudo, tak kenal dengan waktu yang terbuang percuma. Tak siang tidak malam, beliau punya banyak kegiatan. Baginya, agenda yang terencana dalam kepalanya, sepertinya harus selesai dan tuntas.
Sukses di eksekutif, bekerja di lingkungan Kemenag, Iskandar Tuanku Mudo beralih ke legislatif. Beliau setelah pensiun aktif di Golkar. Pemilu 1992 mengantarkannya jadi wakil rakyat dari partai berlambang pohon beringin itu. Namun, mengajar dan memimpin Pondok Pesantren Madrasatul 'Ulum tidak dia tinggalkan. Dia tetap jadi pimpinan, yang setiap pagi sehabis Subuh menghadapi anak siak yang sedang di kelas "marapulai kaji".
Madrasatul 'Ulum dan Politik Kebangsaan
Madrasatul 'Ulum Lubuk Pandan sepertinya dari awal punya tokoh politik. Tercatat, Buya Buchari Rauf dan Iskandar Tuanku Mudo, adalah dua muasis pesantren ini yang aktif dan kuat jaringan politiknya. Termasuk Buya Abdullah Aminuddin Tuanku Shaliah, sang pendiri pondok, adalah tokoh ulama yang konsen dengan politik Perti.
Hanya saja, secara eksplisit di pondok itu tidak dipelajari pendidikan politik. Tetapi dengan alami, bibit-bibit politik yang dilakoni para muasis itu terpatri dengan kuat di lingkungan pesantren yang dimulai sejak 1940 itu. Iskandar Tuanku Mudo setelah jadi anggota dewan, terpilih jadi Ketua PCNU Padang Pariaman.
Beliau terpilih memimpin NU bukan ditunjuk. Melainkan melalui proses dan mekanisme yang cukup kuat persaingannya. Tahun 1994 konferensi NU digelar. Helatnya dua hari di Gedung Saiyo Sakato, milik Pemkab Padang Pariaman di Pariaman. Tapi Iskandar Tuanku Mudo dan timnya menyiapkan kegiatan itu, sebulan lamanya.
Afredison menyebutkan, Iskandar Tuanku Mudo itu sosok pemimpin yang gigih. Kegigihannya itu, membuat keberhasilan. Kegigihan beliau, Bupati Padang Pariaman Nasrul Syahrun setelah terpilih diangkutnya berkunjung ke Lubuk Pandan. Beliau sangat menghargai dan menghormati senior. "Saya termasuk santri yang diorbitkan oleh beliau dulunya. Saat konferensi NU, saya paling sering mendampingi beliau, menuruti sejumlah ulama senior, menyiapkan agenda konferensi," kata Afredison, Ketua Komisi IV DPRD Padang Pariaman ini.
"Dalam belajar di lokal pesantren, Iskandar Tuanku Mudo ini lebih menekankan pada potensi santri. Contoh, santri yang satu bertanya atau melontarkan pertanyaan saat mengaji, Iskandar Tuanku Mudo menjawabnya dengan minta santri lain yang sama mengaji dengan beliau hari itu menyelesaikan pertanyaan itu," ungkapnya.
Di sinilah terjadi diskusi panjang, dialog terbuka. Kadang jadi perdebatan yang sengit. Dengan cara seperti itu, terasa pengembangan kaji lebih luas dan melebar jauh. Santri terasa mandiri, dan memang disiapkan kelak santri itu lebih pada kemandirian.
Pelajaran kemandirian ini, sangat ditekankan Iskandar Tuanku Mudo. Beliau sendiri yang menerapkan dengan praktek. "Contoh dalam membangun lokal atau asrama santri. Beliau lebih mendorong santri yang mengerjakan. Sementara, upah tukang yang tersedia dialihkannya untuk beli bahan bangunan yang tidak bisa dibuat," ujar Afredison, Ketua DPC PKB Padang Pariaman ini.
Begitu juga rumahnya di Balai Satu Lubuk Pandan, banyak dia yang mengerjakan. Dia tidak berprofesi tukang bangunan, tapi mampu membuat bangunan. Ternyata, konsep mandiri ini yang menjadi dasar Iskandar Tuanku Mudo. Begitu juga ketika bergaul di tengah masyarakat, beliau terlihat mandiri, punya pendirian yang kuat dalam kemajuan masyarakat.
Zaman Iskandar Tuanku Mudo aktif di politik berakhir. Seiring berakhirnya kehidupan dia di dunia ini. Pasca reformasi, tokoh politik kembali hadir di lingkungan Madrasatul 'Ulum. Adalah Afredison yang terpilih jadi anggota DPRD Padang Pariaman dari PKB pada 2019 dan Asrizal Malin Sinaro yang terpilih juga tahun itu jadi anggota DPRD Kabupaten Agam dari PKS. Saat ini, Afredison dan Asrizal memasuki periode kedua di DPRD daerahnya.
Kepustakaan:
1. Buya H. Abdullah Aminuddin Tuangku Shaliah (1908-1996) Moderat dan Disiplin.
2. Wawancara dan diskusi dengan Marulis Tuanku Mudo, 16 April 2025
3. Wawancara dengan Afredison, 5 Januari 2026.
